27 Juli 2017 | Puisi | 244 hits

Puisi Muhammad Alamsyah - Juli 2017

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

ADAM

Merangkai masa lalu berdebu
Jadilah intan bermutu manikam
Tuhan mengutuk jiwa jadi  Adam
Membungai mimpi mendulang jingga
Larilah jika kau  sanggup berlari !
Tapi aku kira tidak
Karena langkah rindumu tersimpan di ujung kukuku

Maros, 23 April 2015

AIR  HITAM

Air hitam itu, pada telaga merenung bayang, cermin langit,
Ludah sukma diayun – ayun ilusi mimpi

Air hitam itu, ditulisnya peradaban pada akar – akar teratai berpucuk,
Mendayuh  terapung, terambing dicubiti siang,
malu menegur asin pada garamnya air mata awan

Air hitam itu, dilukisnya jiwa yang tenang, bisu, tetapi keruh padanya, pilu,
mengaduhlah pada ketitir yang itari lengkung dunia, bertengger pada reranting kilat badai

Air hitam itu, warna rindu, menabur cinta pada dinginnya temaram,
meredam benci yang di tepi rerumputannya bersandar seribu duka mengapit

Air hitam itu, sketsa para lelaki yang ditelanjangi kebodahan semalam,
potret bangkai tersembunyi di dasar palung terdalam, bau comberan

Air hitam itu, bentang selimut panjang bagi kelara yang meninggalkan rumpun barisan
di  tengah persaingan  menjilat kasih sayang mentari

Air hitam itu, dipan bagi kelaras gugur di tengah subuh

Air hitam itu, neraka galagasi terjatuh dari Jaring-jaringnya yang curam

Air hitam itu, kopi basi diteguk para pejantan dari arah negeri yang mati suri,
jadi tinja, hidangan plankton - plankton  kerdil

Air hitam itu, adalah air mata air
Hitam pada air

Maros, 26 Mei 2017

BIAR

Ha… ha…ha...gh
Kulihat rindu di matamu mengemis senada denting -  denting kecapi
Lidahmu meludahkan neraka,
kidung- kidung munafik merobek jala –jala kupingku ditenun tabah

Kuharap cacing yang sembunyi  di hatimu,
perlahan mengunyah angkuh bersemedi  di batu - batu batinmu

Sayang
Tak  kau lesapi, sungguhnya bening cermin jiwaku,
padanya bukanlah bayang melainkan rupa keabadian  kasih,
tak berselendang  kafan dari tubuh- tubuh digauli benci

Biar
Sepanjang jalan kita jadi musafir kelana
Saling memaham lewat lekuk angin,
menuliskan makna di daun gugur remuk terpelanting
Pun waktu kan mengejar hidup,
menikamnya dalam ketiadaan harapan dari ilusi roh tentangmu

Makassar, 24 Juni 2017

BIDUAN KAMAR MANDI

Jelita
Merah delima kecupan bibir-bibir hitam
Bau kopi
Sebut saja  Si Sanja
Tegur malam lewat rayuan- rayuan cinta yang basah

Rindunya menggumpal
Jadi awan
Jadi hujan
Jadi  embun
Ikut gugur bersama daun tersungkur
Bertekuklutut di padang –padang asmarah yang binal

Sembunyilah
Di sudut malam kita lebur
Dalam irama tak menjumpai dosa
Biar kita mati
Digigit siluman berkutu dari rambutmu berparas kleopatra di sana

Ah…..
Kau dangdut
Kau gitar yang melodi
Lembut kulit lembu tubuhmu
Siksalah sang kumbang berharap cemas antara bayang-bayang

Aku tamu
Jamu aku secangkir anggur putih
Bersulam rasa mengecup sukma
Indah
Alunan nafasmu kusimpan dalam kapas berjimat

Biduan dalam kamar mandi
Jangan bersiul
Krena itu bukanlah mukjizat bagimu

Maros , 07 Desember 2016

MUHAMMAD ALAMSYAH. lahir di Maros, 17 September 1985. Aktif menulis puisi, cerpen dan  esai. Aktif dalam kegiatan seni- budaya baik skala lokal maupun nasional. Lelaki yang akrab di safa Alam, bergabung dalam beberapa sanggar seni dan bengkel teater serta sanggar lukis di Maros, Sulawesi Selatan. kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni lukis terlupakan. Giat cipta lukisan -lukisan eksperimental yang abstrak dan natural. WA : 085230739973 / Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.