24 Juli 2017 | Puisi | 1025 hits

Puisi-puisi Gustu Sasih - Juli 2017

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

biloq songkang

ini biloq songkang
tanah lampau yang tua oleh mantra: mantra dewa mangku, mantra pedanda, mantra ibu-ibu yang dicintai anak-anaknya

ini biloq songkang
tanah samsara
di bawah naungan batara sasak
batara patrilineal yang tidak makan babi, seperti kekasihnya: kakiang togog (lelaki yang pernah menghunus si srimpag yang sakti di medan siat)

bertemu gustu di ranjok selatan sore-sore, katanya: “aku bicara biloq songkang, bukan soal sejarah yang akbar semisal ampenan, bukan soal zaman keemasan tempo dulu, bukan sebuah usaha rekomendasi isi buku-buku, bukan pula modus supaya mereka datang foto-foto di hari minggu. biloq songkang hanya ingatan. hanya jejak. memorabilia. jalan hening. sebuah alamat pulang yang tak bersimpang macam-macam. sebuah tanah kelahiran tanpa huru-hara psikologis yang kronis.”

ini biloq songkang

belajar kubaca kembali bunyi dan suara, tanda-tanda, nama-nama, gambar-gambar, suasana, cuaca, juga sejumlah peristiwa yang hilang, bau dupa dan bunga, bau janur, bau tuak, bau rumput maq bolang, bau tai sapi, bau tai babi, bau asap dapur, bau peluh, bau tubuh dibakar manusia yadnya, dst

ini biloq songkang
punya kiblat bernama guliang
di bukit timur yang jauh
tanpa stalaktit. tanpa stalagmit
asal-muasal pawisik
yang berisik

2017

 

Keterangan:

biloq songkang: tempat kelahiran penulis (sebatas wilayah RT) di dusun lilir barat, desa mambalan, kecamatan gunungsari, lombok barat
kakiang togog: kakek penulis
srimpag: nama sebuah keris yang pernah dimilik oleh kakek penulis
ranjok selatan: desa tempat tinggal penulis
maq bolang: nama sebuah/sepetak kebun di dekat biloq songkang
manusia yadnya: bagian dari panca yadnya dalam kepercayaan umat hindu
guliang: nama sebuah goa di atas bukit, yang dijadikan sebagai tempat persembahyangan oleh umat hindu


rantai babi

di gunungsari ini
aku kira tak ada rantai babi, seperti yang pernah dimadahkan kiki sulistyo di sepanjang pagesangan-bakarti
nguik babi ada
di belakang suami                          
di belakang istri
tak jauh dari tempat duduk tuan guru mengajar ngaji

babi buta melompat ke dalam joko, singgah ke bambang, tiba di salwa, nyemplung ke gustu
dengusnya birahi masa kini!
dengusnya tanda lahir, tanda sihir, tanda haus, tanda lapar, tanda petang, tanda sepi, tanda lupa, tanda luka, tanda kawin, tanda kelamin, tanda talak, tanda kalah, tanda jadah
dengan selembar malam yang dicuri dari mimpiku, ditutupinya gunungsari: tempat tinggalku, yang dikira ayam bakar sebelum subuh

rantai api
rantai babi
panjang
berpilin
dibelitkan di sekujur gunungsari
erat
diikat
serumit dendam yang tak pernah tidur dalam diriku

2017


sisa malam di bintaro

di bintaro yang lurus, sisa malam masih ada, bercampur debu dan angin pantai dari barat
tak ada yang melihat, tak ada yang hirau, selain gustu
malam yang tak panjang, yang lahir dari lupa
malam yang dihuni maling dari timur laut dan tenggara
“dari utara, pernah kami buang sebotol teh di marka ini,” katanya
gustu tak berdoa bagi maling-maling yang ia akrabi
gustu tak ingin ada kesedihan terawat baik layaknya kenangan akan malam lampau yang menyenangkan
sebab tak ada tukang hibur yangdialamatkan ke dirinya
deru kendaraan di kejauhan, tak juga tiba, hanya bikin sepi tambah panjang berekor-ekor
siang yang redup, yang didatangkan matahari dari timur, tak cukup bisa jadi teman intim bagi gustu
ke selatan,
ia sendiri,
meronta di depan tuhan
“maling tak berumur panjang, tuhan. kenapa malam tak dihuni nabi saja!”

2017

 


dari luar biloq songkang

yang mendera ke luar biloq songkang: siluet tua berumur 9 tahun
di timur laut
dari gunungsari
dari ranjok selatan
dari gustu sasih
di situ, rindu menggenang, serupa cinta gadis belasan tahun
rindu yang tua
dan tak letih
setebal jarak pandang kau-aku
yang lahir dari dingin
yang melompat dari ingin
dari gunungsari ke mataram, jalan-jalan, lari-lari kecil
sendiri
kedinginan
tapi ia tak nyangkut pada spanduk, tak nempel pada logo-logo hotel, tak tergerus arus kendaraan, tak terpotong-potong di sejumlah videotron pinggir jalan
“sebab rindu bukan perempuan yang mudah dibanjiri angan,” kata gustu

yang mendera
ke dalam aku
di gunungsari
di ranjok selatan
di sosok gustu
: siluet tua berumur 9 tahun
di timur laut yang jauh

2017


Gustu Sasih lahir tahun 1988 di dusun Lilir, desa Mambalan, kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Menulis puisi secara otodidak sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berawal dari ketertarikannya pada potongan-potongan puisi yang banyak ia temukan dalam lembar soal-soal ujian. Puisi-puisinya telah diumumkan di sejumlah media cetak (jurnal, majalah, koran, dan buletin) dan online. Juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi konkret berjudul Puisi 2 Dimensi (Januari 2015). Oleh Korrie Layun Rampan, puisi dalam kumpulan ini dikutip sebagai contoh dalam 2 buku terbarunya: Puisi Baru Indonesia dan Puisi Konkret Haiku Puisi Mbling. Sebelum meninggal, Korrie Layun Rampan mengatakan kedua naskah buku tersebut sudah diterima oleh penerbit; sayangnya, setelah Beliau berpulang, penulis tidak tahu perkembangannya.