22 Juli 2017 | Puisi | 663 hits

Puisi A.Rahim Eltara - Juli 2017

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

POHON INSANIAH

Buah yang lebat,di sana
Kata-kata telah ranum
Serupa anggur manis
Dituangkan dari gelas nurani
Di teguk sang penikmat. Tanpa ia ragu
Menyingkap konotasi diksi-diksi
Menggiurkan jiwa yang sunyi

Betapa lebat dan rindang
Pohon insaniah yang ahimsyah
Berumah kata-kata yang puitis
Bernas dari pori-pori imajinasi
Kalbu terang purnama
Cahaya hati
Tak mati

Sumbawa, 20160502


SAJAK SEPASANG KUCING

Sepasang kucing di kegelapan
Mengasah taring dengan dingin
Sambil mengeong-ngeong memanggil, matanya
Seperti bintang kejora, menangkap bayang
Sunyi sang betina, berguling-guling di atas sejuk embun
Kelamin basah oleh musim
Meraung-raung suara malam
Tapi bukan mengelabui Nuh.

Sumbawa,20160801


NYANYIAN ANGIN

Ada kepak kerinduan
menari-nari di ruang matamu
ingin aku lelap sejenak di bawah ketiak ranting
meniupkan ruh pada mimpi-mimpi
menuju fajar yang lahir dari janin ufuk
seperti kelahiran ombak,yang lahir dari lautku
tanpa lengking dan air mata
hanya gelora di dada
pantai yang selalu setia menunggu.

Kau dengar desah di puncak malam
mengalir dari napasku yang mawar
yang bersenggama di ranjang ilalang
rimbun mengerang, seperti ditikam kerinduan
kucumbui biru laut, lidah ombak terkulum deru
tanpa ada yang meminta melepas yang paling basah
di ceruk karang

Akulah yang menebar harum
sanggulku terurai, melilit seluruh tubuh yang perahu
layar mengembang, berdenyut serupa jantung
kemudi melepas riak menuju dermaga
derit cadik dan tiang tak memilih diam
karena aku tak pernah menemukan peraduan

Engkaukah yang selalu mengintip ku di jendela
kala menitipkan sejuk pada cuaca kamar
di antara erang dan gelepar
seperti beling-beling kaca melukai luka
pada rindu paling madu.

Sumbawa,20161003


SEMEDI

Tiada lagi rintih seribu nisan
Setelah malam menjadi arsyi zikir
Mengalir ke hulu napas yang sembahyang
Mennyimak titah langit yang begitu tebu
Kuteguk selaksa sejuk kalimat tauhid
Jiwa begitu telaga mengamini hening
Cahaya gugur serupa bunga kamboja
Berkilau di sekujur tubuh kuburan

Derit pintu langit yang samudra
Malam tafakkur dalam zikir
Tiada terdengar desah aksara berlafaz
Ranjang alam yang lelap, tak ada mimpi di sana
Pengakuan merajai jiwa, raga terbakar cahaya
Seperti matahari itu telah dilahap malam, hangus
bersama segenggam dosa
Lalu kualirkan doa ke tahta langit, berharap air mata
tak sia-sia terkucur di pucuk iman

Di hulu hati, aksara beranak pinak
Mengeja sebongkah sunyi menjadi sebaris mantera
Dalam jiwa yang semedi sediam batu
Lidah makin kehilangan keluh untuk mengaduh
Karena engkaulah samudra ilham yang kutuju
Biar bersenyawa dengan rahman dan rahimmu
dalam fakirku

Sumbawa, 20161106

 


A. Rahim Eltara ,lahir di Sumbawa 16 Oktober.

Karya dalam bentuk puisi terpublikasi diberbagai media massa baik daerah maupun pusat seperti Majah Taruna Jakarta, Suara Guru Jakarta, Karya Bhakti Denpasar, Mimbar Masyarakat Banjarmasin, Buletin Sanggar Sastra Mataram (SSM), Tabloid Rungan Sumbawa (Terbitan Jakarta), Majalah Bulan Buntar Sumbawa (Terbitan Yogyakarta ) , Harian Gaung Sumbawa, Sumbawa Ekspres, Senda Sambava LOH Sumbawa.

Dalam bentuk antologi bersama dan tunggal:

1. Antologi Sastra Kepulauan,Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (1999)
2. Nuansa Tata Warna Batin ,Yayasan Dewi Saraswati Mataram (2002)
3. Dari Orkestra Cinta Hingga Pesta Cahaya, Ombak Yogyakarta (2008)
4. Antologi Kepak Sayap Rasa  (tunggal), Kendi Aksara Yogyakarta (2011)
5. Bulan Tuhan,Sembilan Mutiara Publishing Trenggalek (2013)
6. Habis Gelap Terbitlah Puisi, Forum Sastra Surakarta(2013)
7. Metamorfosis, Teras Budaya (2014)
8. Cinta Magenta, Teras Budaya Jakarta (2015)
9. Untuk Jantung Perempuan ,Diandra Kreatif Yogyakarta (2015)
10.Cemara Cinta , Teras Budaya (2015)
11.Menyemai Ingat Menuai Hormat, 2015
12.Palagan Sastra ,Teras Budaya (2015-2016)
13.Setelah 67 Tahun di Karet, Diandra Kreatif Yogyakarta (2016)
14.Blencong,DM3 Kail,2016
15.Petala,DM3 Kail,2016

Kini aktif dalam Forum Penyair dan Apresiasi Sastra Sumbawa ( FPASS ),dan anggota aktif Dapur Sastra Jakarta (DSJ)