10 April 2017 | Puisi | 491 hits

Puisi-puisi Rusdi El Umar

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

MATAMU AROMA HIJAU DAUN

(untuk rembulan yang kisut di sudut malam)

di tepian malam,
saat kicau purnama berdenyar
melambai pada bintang,
memekik salam rindu dan sayang

aku terpenjara,
dalam ingatku padamu,
pada bait-bait tawa berkuntum senyum
di telaga kesiur suara bidadari
bertaut dalam gurindam namamu

bertalu,
napas gurat hidungmu,
memangku jalinan rindu
di dadamu, berpeluk sejuta cinta

rembulan,
bergantung di atas sayap awan
aku terkapar, hilang
di batas kecup gigil mimpi malam!

Madura, 26-1-2017


CAHAYA CINTA

(untuk ibu di samudra rindu)

pada puncak menara kasih,
tautmu membeku, diam dalam rindu

kuikat kata cinta,
pada cahaya langit, berdebur
gelombang laut di samudra cahaya
menepis kilau purnama, membuhul
seribu tangis, rindu ini membasuh luka!

di pelukmu,
kesiap hangat telaga cinta
rengkuhmu selimut beribu purnama

ibu, samudra kasih!
di rahim cinta Tuhan, tengadah
pada rindu yang paling mendada

di atas pusara ini,
aku menghunjam langit,
menabur cintamu di atas doa-doa!

"wahai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu,
dengan rida dan diridai,
masuklah ke dalam kasih-Ku,
masuklah ke dalam surga-Ku!"

Madura, 25-01-2017


NAMAMU BERDERAI

(Memangku Rembulan di Balik Senyuman)

senja bertasbih,
di pucuk rindu aku terkapar
memeluk cabaran nama,
di pelupuk langit, namamu berkalung canda

senyum menghentak,
detak darah lelaki, aku berkobar
membalut laut yang diam,
di altar nurani sepenggal episode
kuikat sekuntum rembulan,
engkau berderai dalam desah yang panjang

di batas senja,
aku menggelar mimpi
tentang sebuah rindu,
karam di teluk hati

aku menggenggam bara janji,
di balik gaunmu,
kurajut sejuta misteri!

Madura, 24-01-2017


MEMELUK HUJAN KEPAGIAN

geriap cahaya mentari, entah!
seketika, gigil hujan menghentak
serunai kidung riak,
meringkuk di batas terintik air mata
sekerat pagi lesap, dalam sunyi
kelopak pagi merintih, terpenggal sepi

senyummu,
purnamaku tergerai, bersimbah
membasuh luka, membalut duka
tarian waktu berdenyar,
berkalung sedih, berselimut mimpi

serpihan rindu pecah,
di telaga sukma, engkau surgaku
kuurai setangkai nama,
untuk sebuah nada di lembar asa

mimpi ini,
pagi masih berkalang senyap!
kurindu derai senyummu!

Madura, 22-1-2017


SEPI-MU KURINDU DI MALAM DURJA

mengering,
serpihan hati terbakar dalam sujud

berjerit dalam senyap,
di relung kelindan kesiur resah
dosa meringkuk di ulu,
mengurai kelimpung petala rindu
berurai air mata, pada-Mu munajat
cinta ini tak bertangkai purnama

kucoba degup nafiri,
meraup debur debar detak-Mu
di persinggahan malam hanyut
membakar dupa, mencabik diri
di dekat-Mu aku jauh!

kuselip silap di beranda sunyi,
gemericik zikir menabuh batu,
lelap di batas mimpi yang kisut

masih,
aku ingin terbakar,
pada munajat cinta!

ya, Robb!

Madura, 20-1-2017


HANYUT DI MATAMU

kuhela napas,
tinggal satu-satu, mengikat tatap
di balik lanskap langit

cakrawala menghitung hari,
di ceruk matamu yang landai
rebah tarian kedipmu,
merasuk dalam lingkaran hati

di sudut cahaya, matamu memendar rindu
cercah kerlip bintang,
bernuansa di pinggan sekabut riak

di matamu,
aku merajut kecup bebunga!

Madura, 20-1-2017


Rusdi El Umar lahir dan besar di Kota Sumenep, Madura. Suka membaca dan menulis sejak duduk di bangku SMP. Hingga kemudian mencoba lebih menekuni dunia menulis di awal tahun 2013. Menulis beberapa buku antologi, baik cerpen, puisi, maupun artikel. Juga sebuah novelet anak-anak. Karya-karyanya: Menjadi Guru Kreatif, Aplikatif, dan Menyenangkan (2013), Menghujat Tuhan (2015), Keluarga Sumekar, Tadarus Kerinduan (Antologi Puisi) (2015), Rahasia Cinta Awet Muda (Memahami Pasangan Agar Bahagia) (2013), Saatnya Benda Berperan (Antologi Cerpen) (2013), Dreamland of Fantasy (Antologi Cerpen) (2013), Jelaga (Antologi Puisi) (2013), Moment Indahnya Kebersamaan (Antologi Cerpen) (2012), Senandung Zikir Sang Pendosa (Antologi Cerpen), (2013), Ramadan: Semesta Merindu (Antologi Puisi ) (2013), dan Bunga Karang (Antologi Cerpen ) (2013). Saat ini penulis menjadi tenaga pengajar aktif di SMPN 1 pulau Masalembu, Sumenep.