03 April 2017 | Puisi | 1412 hits

Puisi-puisi M Arfani Budiman

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Wajah Pagi

matahari mulai lagi mencucupi wajah semesta
kepak burung-burung bersalam rindu
pada celah pohon-pohon di bumi
angin yang gigil menyentuh wajah ovalmu
meruapkan aku ke rongga langit
seperti doa seorang ibu

2013


Wajah Pagi 2

matahari kembali merangkul pagi
yang bersiasat pada rindu
pada tempurung waktu
aku terlalu lelah bermimpi buruk
di mana kepal luka begitu dalam
menghantam perasaan
padahal telapak tanganku selalu ingin
menulis namamu pada langit biru
melesatkan doa-doa menembus gurat-gurat
musim yang mencintai sunyi dengan setia

2016


Wajah Bulan

bulan bersandar di bahu malam
matanya mendung menatap tubuhku
bulan mengecup sekujur pohonan
luka meruncing di inti jantungmu
bulan melayang di tungkai mimpi
mengirim aku ke lorong tersunyi

2014


Wajah Langit Senja 1

senja telah luruhkerinduan pun utuh
di dalam keheningan para pejalan
langit semakin pucat
menjelma bayang wajahmu
bersama sisa napas hujan
jemarimu berdarah membingkis
kesedihan yang melulu dipantulkan waktu
menjadi bahasa cinta

2014


Wajah Hujan

sepanjang perjalanan
menuju curamnya waktu
raut bumi ditebas hujan
dingin mengalir ke tubuhku
kenangan di pucuk mahoni
mendekap bulir–bulir kesunyian
abadi

2013


Wajah Hujan 3

hujan kali ini mengingatkanku
pada bayangmu yang menari
dalam luka angin, kekasih
gerimis putih membasahi tanah
doa-doa kulantunkan demi namamu
demi membingkis sepercik matahari
ke redup matamu
yang menyimpan seluruh kerinduan
pada setiap lembar usia

2015


Gugusan Sunyi

malam begitu lindap
dalam kabut duka
disusun musim dalam kelebat warsa
lilin-lilin menyala menyambut percik hujan
meramu getir pada bangunan cahaya
gugusan sunyi mengekalkan pertemuan
di sebuah kota
yang mencumbu kerinduan
dan menaburi waktu dengan jengkal doa-doa

2014


Elegi Sabtu

suatu siang yang kelabu
hujan senantiasa menurunkan
rindunya pada wajah bumi
sementara bayang wajahmu
masih saja menebas jantungku

2016


Lukisan Pagi

matahari melukis sebuah pagi
dengan meloloskan kuasnya
pada kesabaran batu-batu
yang diguyur hujan sepanjang hari
juga pada daun-daun gugur
yang ikhlas meninggalkan rantingnya
sementara tajam matamu masih saja
belum bisa menggambar seluruh
luka dalam kata bagi cinta yang bermekaran
seperi rekah kelopak mawar

2016


Lukisan Senja

: Ardisa Nadilestari
perempuan dengan mata setajam pisau
mengirimkanku luka yang begitu sempurna
tepat ketika gerimis putih memecah kota menjadi kaca
sayap-sayap peri mengumpulkan kesedihannya
dalam cuaca yang muram
hingga seluruh kata menjadi ledakan
yang membinasakan jagat raya

2016


M. Arfani Budiman lahir di Bandung, 6 Januari 1989. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Puisinya dimuat di berbagai media massa dan antologi bersama, antara lain Pikiran Rakyat, Jurnal Nasional, Jawa Pos, Suara Merdeka, Lampung Pos, Riau Pos, Indopos, Metro Riau, Radar Surabaya, Balipos, Radar Tasik, Haluan Padang, dan Horison. Aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Menjuarai berbagai lomba menulis puisi dan baca puisi. Antologi tunggal pertamanya berjudul Pengakuan Bulan (Literat, 2013). Akan segera terbit buku puisi barunya.