27 Maret 2017 | Puisi | 819 hits

Puisi-puisi Romulus Z.I. Siahaan

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

RINDU TANAH LELUHUR

Tanah leluhur orang-orang Toba
negeri seribu gunung dan lembah
Telah kubuang rindu pada kesiur anginmu
yang membuncah di biru ombak danau
tetapi aku telah terbuang jauh di negeri asing
dari kenangan masa kanak-kanak
Masih terngiang di telinga merdu kicaumu
burung-burung ambaroba sibontar andora
yang berloncatan di pucuk-pucuk bambu
Tetapi aku tidak lagi di sana, ale!
mencangkulkan jiwa di sepetak sawahmu

Tanah Batak negeri leluhur orang Toba
dentang lonceng gereja pagi hari
selalu memecah kesunyianmu
dentang lonceng gereja senja hari
mengusung mataharimu pada kegelapan malam
Tetapi aku telah jauh terbuang di negeri asing
kini aku hanya mencangkuli kebun hatiku
dan menabur air mata di sana
Akankah sepanjang tahun-tahun usia?

Medan,  2016


CINTA-MU

Cinta-Mu telah memberiku sayap
ku terbang.  Melintasi pertengkaran segala cuaca
dan musim.  Hidup seperti rumput
segala kemuliaannya seperti bunga rumput
satu-satu gugur.  Tetapi Engkau tetap untuk selamanya.
Anak-anak manusia lahir dan lenyap terbawa musim.
Tetapi siapakah yang mengingat Engkau?
Cinta-Mu telah memberiku sayap.
Aku terbang.  Melintasi pertengkaran segala cuaca
dan musim.  Menuju pedalaman rumah doa
di antara huruf-huruf kitab tua
mencari diriku yang hilang.  Manusia
Aku hanya debu tanah yang fana.
Cinta-Mu memberi kata jadi satu makna.

Medan, 2016


SETETES EMBUN

Semalaman dalam perjalanan rumput
mimpi mengusung rindu pada debu jalanan
Dingin bebatuan adalah saksi langit
Ketika anak-anak manusia lahir dan mati
Dan musim yang berabad-abad
berlari mengejar garis akhir
melintasi pengulangan titik nol
Rindu sayap-sayap patah menggigil
Menyaksikan rembulan jingga
di antara luruhnya dedaunan mahoni
Tetapi setetes embun pada rumputan
Sujud dalam ribuan syukur
Karena ia mengenal siapa penciptanya.

Medan, 2016


SUARA-MU

Tak sempat kuucap sepatah kata pun
ketika langit menabur gerimis
pada pohonan yang ditinggal angin
sore tadi di tepi jalanan pulang
hanya sekelebat bayangan yang tersisa
memunguti remah-remah takdir
yang tercecer dari pecahan dada

Sore tadi dalam perjalanan pulang
sebelum bayang-bayang menyusut
masih kudengar lamat-lamat suara-Mu
memanggil di antara kerapuhan langit
sejenak kuhentikan langkah
akukah itu yang Engkau panggil?

Bandung, 1996


SECANGKIR TEH HANGAT

Orang orang telah lama berangkat
bergegas melewati jalan-jalan angin
mengejar matahari berabad-abad
melewati pertokoan dan perkantoran
sesekali ditingkahi kepak burung gereja
yang meracau di tiang telepon
dan kota yang tak pernah sabar
selalu mengajarkan siapa kau dan aku
tetapi antara aku dan istriku
sederhana saja hubungannya
secangkir teh hangat di meja kerja.

Medan, 2016


Romulus Z.I Siahaan lahir di Medan, 8 Agustus 1963. Dia adalah seorang pendeta di Gereja Methodis Merdeka Indonesia, dan dosen sejarah gereja di STT Apostolik. Puisi-puisinya terbit di media cetak lokal dan Jakarta. Buku puisi tunggalnya adalah Catatan Perjalanan Beberapa Waktu (1996). Puisi-puisinya dimuatjuga dalam antologi Bumi (1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia (1995), Muara 3 (bersama penyair Malaysia dan Sumatera Utara, diterbitkan USU Press, 2001). Tinggal di Medan, Sumatera Utara.