11 Desember 2016 | Puisi | 1282 hits

Sajak-sajak Irma Agryanti

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Sore

dari seberang,
waktu,
langit bagai mimpi sebuah kota

mata yang silau redup pada lampu
seekor anjing melintasi cahaya

aku berada di tempat tertutup
sebab takut berada di tempat terbuka

hanya sepi
dari jendela

lalu sore.

2015


Malam

adalah ketakutan,
duka luka,
di mana perempuan merasa kesepian

dan malam yang menengok ke dalam dirinya
melihat bulan sabit tua

hening panjang, dengkur panjang
mimpi jauh, aku sendiri
seperti mazmur
yang tersia.

2015


Dalam Pejam

ia rebah seperti pukul tujuh yang menggeser matahari dan kesiur angin ketika hening merambat batang pohon, meski, napas jam serupa arus jernih, kabut yang mendatangi petang

“tapi ada yang lenyap bagai masa kecil dari tubuhku”

ia terpejam, menjauhi seluruh ingatan, juga televisi yang mengecupkan selamat tinggal, lalu jatuh daun kenari, lalu waktu tak kelihatan

2015


Suatu Hari Di Bulan Juni

ia pergi. jalan adalah kesedihan masa lalu, pada tangis, setiap pohon yang melepaskan, ingatan panjang menyakiti dada.
ke tubuhnya, angin mengirim hujan, menunjukkan arah di setiap linangan, perih mata, di sudut, terluka menerima luka.
tapi cuaca tak memiliki prasangka, menempuh sepi demi sepi, dan perempuan yang tak lagi jatuh cinta.
ia pergi. waktu seperti rasa kehilangan, meninggalkan gerimis-gerimis tipis, lebih sunyi dari kenangan, lebih pedih dari nestapa.

2015


Ibu Menjahit Tengah Malam (TAK)

antara ruang dan bising
membuat untuk menciptakan
sebuah pola
lenyap disergap gelap

pada dingin
jarak memaku
aku mendengar ibu
seperti mendengar kesedihan
dalam dirinya, suara mesin terbuka
membentuk garis lurus
dengan telapak tangan kaku

apa yang lebih dekat dari perempuan dan lubang jarum

malam adalah potongan perca
benang yang lepas dari gulungan
putus sejak lama.

2015


Perihal Cuaca Buruk

awan hujan:
dari tubuhnya, hujan serupa pisau
ujung yang menyimpan
lebih dari rasa sakit

hujan angin:
dari jendela, benda-benda jatuh
kesedihan yang panjang dan basah
melepas airmatanya

angin badai:
dari dalam putaran, tak ada yang rampung
untuk ditangisi
kehilangan, seperti repetisi pada angina.

2015


IRMA AGRYANTI


JHON FS. PANELahir di Mataram, Lombok. Karyanya berupa puisi, cerpen dan opini dimuat beberapa media seperti Horison, Kompas, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Indo Pos, Haluan Kepri, Suara Karya, Sinar Harapan, Medan Bisnis, Bali Post, Minggu Pagi, Merapi, Majalah Story, Majalah Sagang, Solo Pos, Joglosemar, Radar Surabaya, Lombok Post, Suara NTB, Koran Kampung. Buku antologi puisi tunggalnya, Requiem Ingatan (2013).  Bergiat di Komunitas Akarpohon, Yogyakarta.

Bergabung dan ikuti social media IRMA AGRYANTI