11 Desember 2016 | Puisi | 577 hits

Sajak-Sajak Bernando J Sujibto

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Pohon Zaitun

di sebuah bukit pantai, kota Amos
reruntuhan waktu menua pada dinding batu
Hellenic dan sesembahan untuk Athena

aku menemuimu Pohon Zaitun, seperti bisikan ayat suci
daun ringkih dicacah matahari dan angin berhembus keras
aku tertunduk pada sebidang altar, sumber doa-doa berkibar
tak ada yang mengabarkan kesunyian dari pantai Mediterania
tentang matahari pagi yang menyapa lancip daun-daun Zaitun
sebelum burung-burung camar berebutan di atas gelombang
memancarkan cahaya seribu warna ke sebuah pantai yang fana
laut ini seperti lekukan mimpi yang tak pernah punya akhir
saling direbut dan ditaklukkan oleh tentara-tentara Tuhan
di seberang kiri, mereka terus awas nyalang mata perang
bau mesiu, pekik dan tangis para bayi membelah semesta
di seberang kanan, mereka melambaikan tangan, sambil
berbisik “selamat tinggal, reruntuhan. Kami abadikan
di ruang kenangan, tempat kami saling menyapa.”

aku kini berada lurus ke Selat Gibraltar, pintu Laut Mediterania
di mana matahari akan tenggelam. Untuk sejenak, tak perlu
menafsir bayangan pada tubuh. Karena malam akan menuntun
pada satu cahaya di ujung doa….

Bukit Amos, Agustus 2015


Perang Çanakkale

sebuah kuburan masal, tulang-belulang para pejuang
darah ratusan ribu tentara menjadi sumbu sebuah pesta
pada suatu pagi nanti….

“Perang adalah peristiwa ingatan pada mitos yang dikenang
siapa yang tekun mencatat, mereka akan dinobat pemenang
menjadi cerita-cerita kepahlawanan kepada anak cucu sejarah
seperti baru kemarin tanah ini dibakar demi perebutan kehormatan
ia tidak pernah kelihatan, tetapi nyeri tersimpan dalam benak
sebelum membusuk ia harus dikobarkan meminta persembahan
dari situ kehormatan kembali dipuja, menjadi mitos selanjutnya
sampai aku terbaring di sini, sebagai anak mitos yang sama.
Masihkah kau ingat yang baru saja menepuk punggungnya
mereka akan menunngumu di ujang sana, dengan aroma sama
tetapi skenario cerita-cerita yang berbeda. Selamat engkau telah
menjumpai masa depan anak-anak cucumu  di tanah yang
menyimpang tulang-belulang ini….”

aku berdiri setelah mengusap batu-batu nisan di jidatku
laut dan pantai di ujung sana telah menyambutku
kembali mencatat kisah-kisah lama…

Çanakkale, 2014


Keterasingan Ini
Kutanggung sebagai Kutukan

Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
antara jarak derak daun gugur
dan tanah yang menyimpan akar
aku telah sempurna tersandera liar
terlempar dari tanah kelahiran
lorong-lorong tak menyimpan batas
merayakan pesta demi pesta kepergian
menuju entah
o pesona yang menyiksa

Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
bersama orang-orang lupa jalan pulang
tersesat pada selembar alamat benderang

Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
ke mana aku pergi kapan aku pulang
kenangan menyergapku sebagai tamu
di sebuah rumah di mana aku pernah lahir
ia menjadi situs-situs tua, mitos-mitos kehadiran
aku mencatat nama-nama terkelupas di dinding kayu
para tentangga memanggil akrab namaku
mereka memeluk hangat sebagai saudara
tapi aku harus berkenalan lagi satu per satu
mengeja nama-nama mereka satu per satu
aku menjadi turis di tengah-tengah mereka
dari jendela sawah-sawah padi mekar
sebuah dunia baru tua renta

Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
ibu datang menghidangkan sarapan
—sebuah panorama pagi
menatapku penuh awas dan curiga
aroma waktu kanak-kanak lenyap begitu saja
menjadi tamu-tamu baru yang saling meringkus
ingatan dan masa silamku sendiri
mendaraskan nama-nama asing
tetapi ibuku terus merangkulku
menutup mataku dari jin-jin nakal
hingga benar-benar sadar
aku hanya seorang kelana
tersandera kenangan
tanah kelahiran!

Turki, 2013/2015


Di Çanakkale

kuseret tubuhku dari Timur ke Barat, mencari garis batas
di mana akan kubelah tubuhku sebagai persembahan mitos
di sebuah selat kecil menamai keagungan, menciptakan kudus
demi sesembahan untuk gala dinner, tubuh mulus dilukis halus
maha kecantikan yang berakhir getas di atas ranjang. Di sini
aku datang dengan setumpuk mimpi buruk, peradaban yang dijilat
ribuan orang Timur, si Sifus baru yang terpesona haru Tanah Biru

separuh tubuhku kulayarkan ke Timur, membusuk bersama sejarah
gong kebesaran ditabuh menyambut para pendosa jatuh ke bumi
menemui Hector yang terkapar demi kehormatan pada sebuah perang
mereka saling merangkul dan bercumbu, lalu bertikai, lalu bersatu
ke perih darah jerit tangis, adakah tubuhku butuh seorang Nabi baru?

aku melanjutkan perjalanan dengan separuh tubuhku yang terbelah
ke lahan gandum, taman bunga matahari dan kebun-kebun anggur
malam nanti tanah ini akan menjadi kuburanku bersama Achilles
melanjutkan Kisah 1001 Malam dari mimpi Aladdin dan Mahabrata
hingga ia dan arwah suci Hector menziarahiku, tubuhnya sendiri
yang kini dilipat tanah.

selamatkah aku, Helen, demi nama kekuasaan pada lapis kecantikanmu?

Çanakkale, 2014


Menunggu Matahari Pulang di Hierapolis

aku sendiri menunggu
matahari pulang di hierapolis
ke kolam mata air, di lubuk taman
sebuah kastil menyala, menyapa aku
yang lahir dari ritmis gerimis masa lalu
aku memilih tersesat di jalan-jalan pulang
apakah kembali atau pergi adalah jalang
menyaksikan orang-orang melangkah
tenggelam dan hilang di tengah jalan
pandangku yang rabun

dari dekat, di antara percik air kapur
di dasar mata air batu-batu menyala
derap pasukan perang berkuda
menyambut malam yang jatuh
sebagai anak jadah
bulan tak sedang indah
menyusut di sudut altar

di permukaan taman yang putih
aku menyaksikan peri-peri menari
menggandeng tangan para permaisuri
bersama gemerincing air berseri-seri
ini malam sebuah pesta untuk sengketa
prosesi menyambut para pemenang
dan mengenang yang pernah mengisi
linimasa peradaban di lorong berkapur ini

dari atas bukit genderang ditabuh bertalu-talu
pasukan perang, kuda-kuda terbaik dikirim
ke medan perseteruan, ke tengah sunyi yang raib
malam makin dingin, pesta lamat-lamat hilang
aku melangkah, jejak-jejak mereka terus menyala
keberanian tak pernah dikubur
sengketa di jalan kapur, ke puncak kastil
pungguk batu dan sejarah saling menampar

Turki, 2015


BERNANDO J. SUJIBTO


JHON FS. PANEPuisinya tersiar di mana-mana. Juga di beberapa antologi bersama: Kampung dalam Diri (Penyair Lima Kota, 2008), Puisi Menolak Lupa (Obsesi Press, 2010), Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga, 2010), Suluk Mataram (Galang Press, 2011), dan Migrasi Batu Prabanca (Penyair Muda Teater ESKA Yogyakarta, 2013). Sedang menyelesaikan kuliah pascasarjana bidang sosiologi di Konya, Turki.

Bergabung dan ikuti social media BERNANDO J. SUJIBTO