05 Desember 2016 | Puisi | 1332 hits

Puisi-puisi Tengsoe Tjahjono

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

MORNING PLAZA

Apa yang kamu pahami tentang pagi kecuali cahaya matahari
dan kesibukan di dapur, di jalan-jalan. Adakah kamu mengerti
udara yang kau hirup dari nafas daun-daun
diam-diam kau ambil ketika pohon-pohon itu tertidur
Hanya pohon-pohon itu tak pernah merasa kehilangan
karena paru-parunya selalu dipenuhi udara, semakin kamu hirup
semakin berlimpah bilik-bilik di penjuru rumahnya

Apa yang kamu pahami tentang pagi kecuali burung-burung bernyanyi
tetes embun di ujung daun, puisi-puisi romantis masa remaja. Adakah kamu tahu
dari mana air segar yang menegakkan rumputan. Dari mata air. Mata air
yang mengalir dari gunung. Gunung yang merebah di lembah-lembah. Lembah
yang tengadah di bawah langit. Langit yang membentang seluas cakrawala.
Cakrawala yang begitu rapuh yang sekali tiup runtuh. Dan kamu lalu kembali
menjadi debu, partikel-partikel galaksi yang tak bisa dibaca sekalipun di bawah
lensa mikroskup

Apa yang kamu pahami tentang pagi kecuali jendela yang dibuka, korden warna
bunga, gemericik air dari pancuran dan sungai. Adakah kamu pahami tempat
angin berasal dan berumah, tempat manusia datang dan harus kembali. Tentu bukan
dari rahim, sebab rahim punya tubuh, tubuh punya hidup, dan hidup tak mengenal
lahir dan mati. Ia abadi.

Maka, ucapkan syukur ketika pagi tiba.
Hidup yang abadi tak pernah meninggalkanmu
Sendiri.

Seoul, 21 Oktober 2015


COTTAGE GARDEN

Pada tangga menuju pintu kutinggalkan sepasang sepatu supaya
mereka berbincang tentang jejak yang telah mereka lalui. Ah, tapak
itu menyisakan bau tanah, dingin embun, dan rumput segar,
sepatu kiri mulai berkata-kata dalam kalimat sederhana

Sepatu kanan matanya terpejam, membiarkan hatinya mengembara
menikmati getar angin yang mengirimkan serenada daun dan bunga,
meletakkan tubuh dalam ayunan. Seperti pasangan kekasih
mereka pun saling menjaga

Jendela lalu kubuka, ingin kudengar perbincangan mereka yang jujur
dan apa adanya. Bukankah bunga itu berwarna kuning, tanya sepatu
kiri. Aku ingin menyebutnya warna mimpi, jawab sepatu kanan. Lalu
mereka diam, membiarkan lanskap memenuhi jantung

Di cerobong dapur, mimpi mereka membubung selayaknya asap
menciptakan hujan di bukit jauh

Seoul, 18 Oktober 2015


SAYAP

Suatu ketika kulihat sepasang sayap menumbuh di punggungmu. Sayap putih keperakan. “Ini musim semi, saat yang bagus untuk sebuah perjalanan,” katamu. Tentu, kau pun terbang. Bukan seperti kupu-kupu atau capung atau burung. Sebab sayapmu putih keperakan meninggalkan jejak irisan di angkasa abu-abu.

Sayapmu lembut tetapi sekaligus perkasa, nyaris tak terindra namun sangat berdaya. Setiap kepaknya menyemprotkan kilau perak yang tajam, menancap di setiap jantung yang tinggal. “Ohoi, ke Pulau Jeju aku menerbang,” serumu timbul-tenggelam di laut awan. Tak bisa kugambarkan unsur kupu-kupu atau capung atau burung, kecuali sayap di punggungmu.

Pengukur suhu menunjuk angka 8, angin mengirimkan tusukan dingin. Kau bersayap tembaga, tak tersentuh beku. Di Jeju setiap jejak itulah batu. Awan pun batu-batu. Sayap berkelit di sela-sela, tak mau terjebak kumparan mega. “Rumahku batu. Dinding batu. Pagar batu. Jembatan batu. Bukit batu. Jangan tertawa jika tahu aku pun bernafas batu.”  Pada penjaga Gunung Halla kau titipkan pesanmu. Pesan tentang air hidup yang tidak boleh tercuri dari ladang dan sungai batu.

Batu itu diam sekaligus bicara; dingin sekaligus membakar; keras sekaligus mencumbu. Sayapmu mengepak laju, seolah tahu Tuhan berbisik di kupingmu: jadikan batu mesbah persembahanmu, entah berupa korban bakaran atau tumbuh-tumbuhan. “Ohoi, bukanlah batu itulah aku. Akulah altar persembahanku.” Sayapmu menabrak batu-batu. Berdenting, memercikkan bunga api. Tak teraba, namun terasa

Terowongan lava lapang menganga. Antara sempit dan longgar, entah yang mana. “Izinkanlah aku di jalan-Mu.” Sayapmu merunduk, bulu-bulu kapuk. Ringan melayang. Bertebaran di terowongan, sebelum menyatu kembali di bawah matahari.

Inilah puncak matahari terbit. Memandang lembah, semakin nyata siapa Tuan siapa hamba. Kerucut raksasa memancarkan pijar magma, mulut kawah yang tak pernah diam mengunyah. Ratusan tangga, ribuan tapak, berduyun mencapai bibir. Sayapmu mendesing antara senyap dan bara, antara gelisah dan kata-kata,  antara bisu dan rindu. “Pada kitab suci mana Kau tuliskan nama-Mu.” Ingin segera membaca. Angin menampar tebing. Sayap tak jua terbanting.

Angin mengirimkan gigil pada pusar malam. Aku masih melihat sepasang sayap menumbuh di punggungmu. Hanya di mana terbang, samar kupandang.

Seoul, 25 April 2014


THE GARDEN OF MORNING CALM

Entah kenapa tiba-tiba aku tenggelam, tersedot ke dalam pusaran warna,
dipaku takjub yang luar biasa. Tubuhku lenyap, melayang di antara kelopak bunga,
merayapi badan pohonan, rebah pada partitur daun. Menyanyi

Tentu ini bukan surga, mungkin hanya sepotong mimpi yang tertinggal
ketika aku terjaga dan perlahan membuka jendela. Jembatan di atas sungai
kecil disinggahi jiwa kecil, yang tak henti-henti bertanya tentang siapa
pelukis semesta

Ah, sulit menjelaskan padamu mengenai rasa takjubku pada Pelukis Agung
yang tidak berdiam di puncak gunung, di kelam langit, di dingin batu-batu. Lanskap ini
tak terjadi begitu saja, ada yang lebih besar ketimbang jagad raya

Lihatlah, punggungku bersayap kupu-kupu, terpental
dari kepompong, direndam takjub, dilecut hanyut.
Makin dalam, makin larut.
Lenyap pada hutan bunga-bunga
Penuh kabut

Seoul, 18 Oktober 2015


GWANGAN BRIDGE

Aku membayangkan tubuh yang memanjang, punggung yang terbentang
merapatkan dua daratan, membiarkan kendaraan lalu lalang
Lalu lampu-lampu berpijar, tak seperti kunang-kunang
hanya hati yang selalu berbunga, memuntahkan cahaya

Tentu itu bukan tubuh kita sebab kita selalu menghindari luka
terlebih untuk pejalan yang tak kita kenali alamat dan namanya
Tergores sedikit dalam kerumunan bisa saja kita meradang
mengundang kelahi di bawah debur gelombang

Namun tubuh ini telentang begitu rupa menyediakan dada untuk roda
Aku sangat mengerti ini bukanlah tubuh kita
Sebab tubuh kita selalu disimpan di ranjang, hangat dikemul selimut
Jarang dijerang matahari, tubuh selembut permadani

Ah, hanya pantai-pantai itu bisa menemukan jalan bertemu
Mengirimkan hangat ke masing-masing bibir melalui tubuh yang terlentang
Gedung-gedung yang menjulang tak lagi merasa sepi
Orang-orang selalu lalu-lalang di punggung yang siap terbantai
Abram, di mana kamu simpan pisaumu kini?

Seoul, 10 Oktober 2015


ANOMALI MUSIM

Sekarang musim apa, begitu tanyamu melalui email yang kau kirimkan. Lalu kutengok jendela, burung-burung membiarkan matanya layu di batang-batang sakura. Salju telah berlalu melepaskan jaket dan sepatu but di gudang lantai dua, namun di mana daun-daun dan bunga.

Tak ada yang bisa menebak di mana musim berada. Mereka berlalu begitu singkat, lalu sembunyi di alir Han, di benam danau Seokchon, di puncak Namsan, di gentong kimchi yang masam. Hanya burung-burung itu setia menunggu isyarat cuaca

Ketika krisan, tulip dan sakura mekar, nyanyian menghiasi jalan dan taman-taman kota. “Ini musim bunga,” tulisku pada email yang terlambat kukirim. Hanya nyanyian itu tak pernah selesai. Berhenti pada kuplet kedua menjelang refrein. Musim semi menggeram dalam partitur asing. Kupingmu gelisah menafsir

Matahari berkunjung pada saat yang tak terduga, sebelum sempat aku rapikan ranjang dan halaman depan. Rambutku belum tersisir benar, puisi masih berupa coretan tanpa tanda baca. “Ini musim apa, Saudara?” pada cermin aku bertanya.

Pandanglah, aku telanjang. Dalam oven aku dipanggang. Entah, sarapan ini untuk siapa, adonan keringat dan kata-tanya bukan sajian yang membangkitkan selera. Musim gugur atau musim salju entah siapa yang akan bertandang lebih dahulu.

Burung-burung di batang-batang sakura itu hanya meninggalkan bulu-bulu.
Maaf, jangan baca email-ku.

Seoul, 2 Mei 2014


WAJAHKU SERUPA KERTAS DIJEMUR DI DINDING BUKCHEON

wajahku kusediakan di meja. wajah yang selama ini aku biarkan sendiri
lalu kamu mulai menafsirkan umur atau mungkin pergulatan yang tak kurasakan
lagi debamnya. hasilnya menakjubkan: seribu garis gelisah
membentuk parit di pipi

entah kamu mulai dari mana sebab kamu tak pernah bertanya
mungkin dari mata sebab di situ kamu mulai mengenal jiwa
mungkin pula dari rahang karena di situ kamu kenali perang
mungkin juga dari bibir lantaran di sana tersungging ketulusan atau dendam
hasilnya luar biasa: danau muram tanpa dasar

ketika akhirnya kau goreskan rentang rambut, kubayangkan akhir yang lembut
sebab aku menginginkan ujung yang gembira seperti dalam dongeng pengantar tidur
agar dalam setiap mimpi aku bertemu keajaiban dan bidadari
nah, mungkin ada yang salah, kenapa rambutku menjadi sungai kering
tanpa muara tanpa samudra

di tanganmu wajahku serupa kertas dijemur di dinding bukcheon
matahari menjerang dan angin mengipasi
hanya aku tetap tak mengerti mengapa wajah itu menatapku
: inikah wajah yang sengaja kau tinggalkan di bangku taman
lalu dirajang-rajang pisau waktu....

Bukcheon, 20 Maret 2015


TENGSOE TJAHJONO


JHON FS. PANELahir di Jember, 3 Oktober 1958. Penyair yang juga pengajar di Universitas Negeri Surabaya ini sekarang sedang menjadi Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Karya antologi puisinya ialah Yang Bertamu adalah Ilham (2013) dan Felix Mencuci Piring (2015).

Bergabung dan ikuti social media TENGSOE TJAHJONO