05 Desember 2016 | Puisi | 653 hits

Sajak-sajak Timur Budi Raja

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

1981

matamu diasini laut
sebilah doa teduh lumut
digenapi ranum semangka kuning sigar
cintamu mekar merebak denyar

di pucuk garam berdaun gunung dan lembu
kembang layar segala bimbang bertumbuh
berangkatlah berangkat, kekasihku
sebab matamu terjaga dalam tidurku.

2010-2014


Mengira Sapardi

ia mengira-ngira, apakah langit berwarna kecoklat-coklatan saat malam hari lepas dari jam yang menggantung di tangkai pintu. ia suka mengira-ngira, apakah langit berwarna kecoklat-coklatan saat malam hari lepas dari jam yang menggantung di tangkai pintumu itu akan memutuskan tangis hujan yang lurus-lurus saja tidak ke kanan tidak ke kiri tidak merujuk pada angin seperti biasanya sebelum subuh tiba nanti.

ia suka mengira-ngira, apakah hujan yang lurus-lurus saja tidak ke kanan tidak ke kiri tidak merujuk pada angin itu akan membawa suara anak sungai ke telingamu, hingga malam yang panjang tak ada dalam raungmu.

hingga sepi tak ada, ia masih mengira-ngira. hingga sepi tak ada, ia semakin sendirian cuma.

2012-2014


Tujuh Tipografi Tahun

1/
kau cuma perlu menatap dan memberi waktu yang sedikit untuk matahari yang terbenam, karena kepada suara aku jatuh dan tertidur. karena tangis yang lucu adalah sebuah kota buta.

2/
kita cuma pelancong, dinda. di ranjang tempat stasiun-stasiun tumbuh, tanganmu dan tanganku tak bertemu. kota, nama lain dari rute panjang setiap perburuan.

3/
aku menggenggam tanganmu melalui semua tahun. aku menggenggam semua tahun melalui tanganmu. di batas, pedih merambat pada setiap kata.

4/
jeremia, suara dari kamarmu. suara yang melepas sia segala, menyeberangi ketuk jam, memasuki jembatan pulang. tekuk, tekuklah tubuh ini. padamu.

5/
ia tak mau menangis ketika malam mengirim suara stasiun. rautnya yang nakal membayangkan tidurmu. jam berayun dari ngilu ke ngilu, membangun kota di lengannya. lengan yang pernah memberi lampu pada masa kanaknya.

6/
ingatan, adalah batu di kota tanpa cahaya. kalung-kalung waktu pada namamu, pada namaku, menjadi lonceng bagi malam yang mau berhenti sebagai malam.
“kau ingin pergi dari kenangan?” tanyamu.
“adakah yang lebih diam dari rindu pukul sembilan?” balasku.

7/
ketika linang lampu jatuh ke tengah remang, debar arloji melambat, menunggu waktu mencederaimu. kau tahu mengapa bulan suka menggumam malam-malam tentang kenangan, janji pisau yang ingin sekali melukaimu?

2012-2013


Ambunten

apa yang kau rindukan dari pantai selain ombaknya?
apa yang kita kenang dari laut, kecuali pantang surut gelombangnya?
lalu kami memberi nama untuk setiap degup,
sedang engkau memberi tanda kepada segala risau yang tak mau surup.

malam di bawah langit jangkung,
saya lihat cahaya, menuruni punggungmu.
bilamana besok bulan tertidur, hanya gema.
kau tak dapat melihatnya.

2015


Cermin

ia bayangkan sebuah kehidupan di dalam cermin
ia ingin hidup di dalam cermin, biar tak dikenalnya
nama-nama kemurungan yang sama

ia ingin hidup di dalam cermin, biar tak ada sakit
dan tak ada suara, bilamana teriaknya abadi.

2015


TIMUR BUDI RAJA


JHON FS. PANELahir di Kotabaru, 16 Juni 1975. Puisinya dimuat dalam antologi Seribu Sungai Paris Barantai, AruhSastra Kalimantan Selatan III (2006), Kota, Kita, Antologi Puisi Penyair Kabupaten Kotabaru (2007), Seloka Bisu Batu Benawa, Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII (2011), Jejak Sajak (2012), Puisi Menolak Korupsi Jilid 1 dan 2 (2013), Memo untuk Presiden (2014), Tadarus Rembulan (2013), Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014), dan Memo untuk Wakil Rakyat (2015). Tinggal di Kota Baru, Kalimantan Selatan.

Bergabung dan ikuti social media TIMUR BUDI RAJA