05 Desember 2016 | Puisi | 906 hits

Puisi-puisi Narudin

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

API ATAU CAHAYA

Tuhan cahaya langit dan bumi
Tuhan gulita langit dan bumi

Penutup-Mu Cahaya atau Api
Tersingkap, terbakar kami

Tiada mimpi
Tiada arti

Tak ada penciptaan
Segala telah dibinasakan

Tuhan cahaya langit dan bumi
Tuhan gulita langit dan bumi

Abadi kepunyaan-Mu
Kami keabadian kedua-Mu

Tamasya kami di dunia tak berguna
Perhentian kami begitu jauh terlupa

Tuhan cahaya langit dan bumi
Tuhan gulita langit dan bumi

Sepasang nasib tak berubah
Sebelum semua musnah

Setelah seluruh terbilang sudah.


AKU, KAU

Kau ialah aku yang tak bosan menatap
Kesunyian bukan tiruan, di balik angan,
Ialah kabut bagai derap kuda di ujung jalan
Pengetahuan.

Aku ialah kau simpul cinta, ikatan rindu,
Menjerat bayang di atas meja tak
Berlantai, jadi tawa yang pecah bagai
Buih, jadi sedih yang retak bagai kabut.

Aku ialah kau. Kau ialah aku. Setubuh, se-ruh,
Tuhan tak sempat berkeluh.


KELAK

Kelak kau akan tahu ke mana langit hendak
Bersandar, ketika jurang-jurang cinta berkejaran
Dari ruang kosong ke kosong ruang, yang kau kira
Pentas seni hidup yang gagal.

Kelak akan kau tahu bumi tempat kuberpijak
Lenyap ke dasar mimpi paling nyata, sebelum
Kaki kananku menapakinya sebagai alamat
Niat tulus, seperti getar di luar tubuh yang
Diredakan picingan mata yang berdoa selamat:

Salam untuk hidup yang mati,
Salam untuk mati yang hidup.


KEPADA CINTA

I.
Berapa kali aku runtuh, roboh,
Seakan gagal penciptaan dunia berkali-kali
Bila tak ada kabar darimu, hai Kekasih Hati!

II.
Matahari kulihat mata kananmu, rembulan
Tampak mata kirimu, lengkung biru langit ialah
Ramping pinggulmu saat kuraba yang tiada.
Bentang daratan ialah tubuhmu telentang,
Telanjang, menjelma gunung-gunung menjulang,
Bebukit berbaris memanjang, aroma rumput
Tersabit, sepanjang jalanan mimpi yang ingin
Kusebut tanda kenangan, berkelok-kelok peluh
Wangimu serupa anak sungai bermuara di
Bumi hampa hayatku.

III.
Apakah kesedihan masih disebut
Kesedihan jika tak pernah ada kegembiraan?
Inilah laut airmataku, samudra pilu alam
Persinggahanku, menangkapmu seringan
Cakrawala, mendekapmu khayalan surgawi.

IV.
Berapa kali aku runtuh, roboh, bagai
Ledakan kabut-kabut awal semesta luar,
Menjangkau akhir cerita, tanpa tokoh
Tercinta, dirimu, ya, dirimu, segala sedap
Pandang mataku, segala derau nyawaku, segala
Cahaya letihku, berembus ke hutan-hutan,
Sabana-sabana berkarang, menuju pulau
Demi pulau tanpa perahu ingatan, musnahlah
Pelabuhan, tinggal sekedip sinar gemintang,
Tenggelam di kedalaman palung rindu, berkobar,
Yang kaubisikkan amat perlahan,
Kepada cinta.


NYANYIAN BURUNG HANTU

Apa Engkau bulan, yang
Kugumamkan kala petang
Lalu Kau menghindar
Hilang dalam mimpi berpendar
Sebelum Subuh, sebelum doa
Mencapai batas langit dunia
Saat Kau turun dengan caramu
Demi sunyi abadimu
Yang kutemukan di bumi
Demi nasib yang gaib
Berputar di sekelilingmu, di sini
Kuraba urat leherku yang raib
Pada sekian kekalahan
Pada sumpah setelah kematian
Untuk menguji tawa duka
Untuk mengerti segala sia-sia
Tidak, aku tak takut dosa,
Ampunan melampaui salah dan lupa,
Kehendak yang tak tertebak,
Saat bayi-bayi pikiran merangkak
Sekarat, katamu, di bawah cahaya
Cecak menafsirkan lampu agung,
Kenapa terang bertukar gulita
Kala sumbu hidup-matimu tersambung.


RATAPAN CINTA 2

Itukah dirimu, pijar sinar di belakang kerumunan mega demi mega? Itukah dirimu, desir risau di antara terbangnya binatang bersayap berbondong-bondong? Itukah dirimu, desis tipis gerimis di genting-genting yang menua sebelum ajalnya datang? Itukah dirimu, gerak rumpun sambil lalu beratap langit kelabu? Itukah dirimu, bayang mungil yang berjinjit di bawah teduh pohon melati yang harum tubuhmu melampauinya? Itukah dirimu, kelebat mimpi di ruang-ruang gaib dadaku yang rata serta dadamu yang sukar rata saat mencipta dunia baru? Itukah dirimu, siluet malu-malu lagi diam-diam tanpa salam lirih seraya terus-menerus membinasakanku dengan ucapan: “Hai Pemanis Hidupku, izinkan aku bercinta denganmu malam ini. Hanya ini malam karena esok ialah kenangan, sementara kemarin sekadar harapan.”


RATAPAN CINTA 3

Dalam riak-riak air laut, di tepi pantai, anak cahaya mengerjap, berlarian mencari seluruh ingatan yang tersembelih, dalam cengkeram angin senjakala, melukai yang hampa, menggetarkan ujung-ujung gaun hitammu, hingga memamerkan bentuk menawan ragamu, pesona lekuk-lekuk daging perempuan muda termurni, terindah, tiada tanding, tiada banding, lalu kau dekap tubuhku, kehangatan bersatu, aku api menyala, kau minyak duniawi, terbakar tanpa jejak, ini bibirku, katamu, lebih kenyal dan lebih lengket daripada getah karet baru disadap, sedap nian sungguh meresap, ini mataku, katamu, binar kesementaraan yang diabadikan, berselubung hasrat sekaligus gejolak kerinduan berakar, menyerap madu cintamu, semanis urat-urat lidahmu yang basah, tapi sering lupa berzikir, air matamu jatuh di bahuku, air mataku luruh di tempat tak bertempat, dan kemudian kau berangkat, meninggalkan ribuan ciuman, pelukan, dan percintaan demi menembus batas-batas alam sagir dan alam kabir dan yang tak boleh diumpamakan, kini, aku menjadi dirimu bagai bunyi derit pintu.


HARI KURBAN

Leher anakmu yang mulus
Dengan urat-urat duniawi,
Jika kau sembelih, maka angin berembus,
Darah menyembur menutupi
Tubuh langit dan dadamu,
Yang dulu kaubusungkan
Di depan patung-patung yang pandai diam itu,
Menyihir butiran pasir gurun menjadi kegelapan.
“Tidak, Ayahku. Ini aku, Ismail,
Anakmu, sembelihanmu. Penggallah
Tenggorokanku, ambil
Pisau bercahaya mataharimu,
Karena aku hanya hamba, pasrah
Kepada ketentuan takdir
Yang haram dipikir-pikir,
Karena dunia sekadar panggung gelisah
Tanpa para pemain,
Kecuali kita
Yang acap kali berucap amin
Dalam doa sederhana.”
“Tidak, Anakku. Aku Ibrahim, penakluk api kalbumu,
Kan kusembelih gunung, lautan, awan, langit dan segala
Tumpuan kaki fana kita,
Kaki yang berjalan di luar kendalimu.
Ini kapakku, mana kekerasan kepalamu?
Telah kuhancurkan berhala-berhala,
Telah kuleburkan gemintang itu,
Matahari, dan bulan purnama.
Demi masa, demi ingatan ter-racuni,
Demi ketidaktahuan abadi,
Demi yang tak terampuni,
Demi air mata tiada arti
Mana lehermu, leher biri-biri
Mirip manusia atau leher manusia
Mirip biri-biri
Yang kau duga tersesat?”
Serahkan, Ismail, Ibrahim, dirimu,
Hai kalian semua, sebelum habis seluruh cahaya,
Seluruh gulita,
Atas nama Yang Dituju
Sungguh kan kusembelih
Neraka tempat asyik-masyuk meletih
Surga tempat meratap dukacarita
Dan tentu leher busuk keimananmu, hai kau,
Durjana!


PUISI TERAKHIR 1

Matamu, ya, matamu,
Apa jadinya tanpa matamu:
Kemilau cahaya antara
Dunia dan setelahnya.

Bibirmu, ya, bibirmu,
Apa jadinya tanpa bibirmu:
Segala makna terbungkam
Di kedalamanmu aku tenggelam—

Langkah-langkah kakiku tersaruk-saruk
Di hutan-hutan kerinduan,
Dalam hujan kepedihan aku terpuruk
Oleh sekejap dinginnya kenangan—

O, napasku, napasku,
Yang mengembuskan api cinta,
Terbakar sudah ladang-ladangku,
Sedang, di taman, setangkai bunga terus mengiba.

Jalan demi jalan untuk dibayang,
Yang baru dimulai,
Aku musafir yang mencari
Tempat bersandar di bawah debar gemintang.

Arah angin tiada lagi guna,
Kompas di tangan telah kubuang,
Agar kutempuh rimba asmara
Di udara suaramu, aku melayang-layang.

Ternyata hijrahku demi sebuah nama,
Tuhan jangan berduka, tanganku menengadah,
Ampunan apa yang patut kuminta…
Hujan musnah; malam resah.


PERGI DAN PULANG

Ia yang pergi tadi pagi tak pernah tahu bahwa yang akan terjadi telah lebih dulu pergi sebelum ia benar-benar pergi. Dan ia yang telah pulang malam ini tak pernah tahu bahwa kepulangannya telah lebih dulu pulang sebelum ia dipulangkan. Sedang, ia yang tak pergi dan tak pulang tak pernah tahu kapan ia pergi dan kapan ia dapat pulang dengan selamat, sentosa, dan sejahtera, bahkan tak pernah tahu ada kata “pergi” dan kata “pulang”. Dan bahkan yang menulis ini tak pernah tahu kapan ia akan pergi dan akan pulang. Bukankah pulang merupakan pergi yang baru?


NARUDIN


NarudinLahir di Subang, Jawa Barat. Seorang Duta Bahasa Berprestasi 2015 Jawa Barat. Lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, 2006. Pernah mengajar di Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA), Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU), Jakarta, ARS International School, dan UPI, Bandung. Tulisannya berupa puisi, cerpen, esai, dan terjemahan dimuat di Horison, Basis, Jurnal Sajak, Kompas, Riau Pos, Metro Riau, Rakyat Sumbar, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, koran Madura, Berita Kota Kendari, Sastra Digital, Radar Indo, dan lain-lain. Puisi-puisinya dimuat juga dalam beberapa antologi. Buku puisi tunggalnya adalah Aku dan Tuhan (Garudhawaca, 2013) dan Gemuruh Ombak (Garudhawaca, 2015). Buku kritik sastranya adalah Analisis Modern Buku Puisi dan Puisi (Sarbi, 2015). Buku kumpulan cerpennya berjudul Matahari Hitam Belinda (Garudhawaca, 2014). Narudin juga menerjemahkan puisi dan cerpen dari dan ke bahasa Inggris.

Bergabung dan ikuti social media NARUDIN