05 Desember 2016 | Puisi | 577 hits

Puisi-puisi M. Fauzi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

KUNANG-KUNANG DI LADANG TEMBAKAU

di sinilah, kita hisap waktu, melihat ladang tembakau diserbu belalang. kakinya betanduk dan bebulu_
          putih-coklat. mata-biru. tajam dan barbar. seperti hujan api, kerikil api, batu api, lumpur api; anakanak ikan mati di situ. seperti pangonong1  kehilangan masalalu. seperti raung asap menghisap waktu di situ_
                          dan tanah tak lagi berbahasa ibu. regas tanah, sepatu bot, dan seorang mandor membawa bahasa kunang-kunang di situ. bahasa dengan aroma kamboja. sedang rumah tak memiliki tanah. dan seekor kupu membakar kemenyan dari masasilam. dekat perigi, tanggul. dan wajah wanita tua membawa batubatu nisan. wow, nama mereka melumpur di atas batu kapur.

sedang kaki petani pecah seperti garis merah; akar-kar2  seperti jalu ayam. terbakar dibawa mantra hujan di tepi-tepi jalan, dan kau terpanggang di situ. seperti trenggiling memutarmutar dan memanggil nama yang lain di kepalamu_
          besipsap3 dan melahap ladang jagung milik ibu dan bapakku.
dan senja surup di kaki mereka. dan tak ada surga di bawahnya. dan matahari surup seperti maut di dada meraka
                          : ada deru traktor,  bubuk mesiu, papan iklan, dan sepatu dalam box nion; namanama makin asing membawa lotion. tubuhmu penuh lemak, ucapku! dan tak ada keringat garam di situ.

peristiwa apakah yang mereka tanam. di garis tangan ada api, bebatu, pistol dan sepatu; tikai dan dendam, angka dan kematian, jagung dan pizza, dan ice cream vanila meleleh di mata mereka_
          jalan apakah yang mereka simpan. tak angin, tak air, tak tanah, tak cuaca. kacakaca hujan pecah di mata mereka. seperti nemmor kara4 membakar ladang tembakau, hutan dan perkampungan_
                          di pintu, di jendela, ruang tamu, kamar mandi ada kota impreium menyalib kulit mereka. licin dan bacin. dan tak ada asin garam di situ.

wow, wajah anakanak membawa televisi di situ. seperti telenovela membuka halaman baru; wortel, wastafel, susu, coklat, ladai dan selai di kulai dalam uap cuaca. pucat dan masai. tak ada petak umpet di situ. dan tak ada asin garam di tangan bunda.

sedang di luar, gerimis berjatuhan dari lengan mereka. naik ke punggung. punggung yang dirajah pikulan timba; neraca dan pemiskinan_
          seperti lukaluka ladang tembakau bertikai dengan hujan. seperti cakram menggenggam bawang dan kedelai, jagung dan padi, diangkut hewan berkaki sembilan_

                          dan gembur tanah melaplap tubuh mereka; darah seketika, kejam seketika, pisau seketika, pedang seketika, cambuk seketika, pistol seketika, bom seketika, rampas seketika, waktu seketika, hangus seketika, tumpas seketika, senyap seketika, seketika jarum jam menusuk jantung mereka sampai geluncar garam membuat tanggul, tambak dari pecahan lengan ibu bapakku.

senja hendak surup dalam regas tanah, dan ladang tembakau diserbu kunangkunang.

hujan. hujan!

Sumenep, 15 Oktober 2012

1 alat pembajak sawah yang diletakkan di punggung sapi
2 mencakar-cakar
3 berlalu lalang
4 kemarau panjang


MALAM BERLARUNG DALAM WAKTU

sayang, 18 sudah sampai, sedang malam berlarung dalam waktu: jarum jam di kamar membelah tubuhmu sampai biru dan aku temukan sepotong bulan di kedalaman matamu. ada ikan besisik berenang di sana. belaut bersama gemuruh gelombang. jalanjalan bekabut mencipta seribu kelok di jantungmu. coklat hitam, sayang. coklat legam. coklat besungut. coklat darah dan merah seperti eskrim meleleh dari perutmu, sayang.

di sini aku menunggu waktu sampai aku tak ingat lagi namaku. dan waktu tak sekejam rindu. 18 sudah sampai, kupukupu membawa namamu sampai gerimis memekarkan bunga di hatimu.

kita pun menunggu gugur bulan pada batas tanah. maut bediri dekat pintu seperti api pada batas berahi. hujan datang. hujan bepulang sampai rindu menjemputmu seperti matahari di layar tv membawa sebungkus roti, bunda. di meja makan seribu kunangkunang hijrah ke rambutmu seperti pita merah tumpah di situ. wajahmu, hidungmu merah, bibirmu merah, lehermu merah, aku terka arah dan cuaca di matamu.

di sana aku temukan peta jalan pulang untukku.

Sumenep, 1 Januari 2013


7.23 SEHABIS MENUNGGUMU

7.23 aku menunggumu, sayang. tangis anakku sehabis bunda mengerang-mengedan. antara sakit dan bahagia.

7.23 istriku, di rumah sakit ini, aku teteskan air mata saat kau merasa sakit tak kepalang.

wahnan ala wahnin. wahnan ala wahnin. wahnan ala wahnin. dadaku sesak seperti ada besi berkarat

di tenggorokanku. sesak yang entah. luka yang entah. bahagia yang entah. bingung yang entah. aku diserbu rasa takut yang mengabut di runcing kuku dan waktu.

 
istriku, penantian ini hanyalah tuhan yang tahu. doa apa yang tak kubaca saat kau miring ke kanan ke kiri. Sakitmu, sayang, aku tak mampu membaca, seperti warna kematian jadi bayang di atas awan pikirku.

7.23 istri dan anakku. 7 juni 2014 istri dan anakku dokter, perawat, bidan, ibu, mbak indri, dinding warna krem, dan infus yang ngukus. kau pun mengedan dalam sandaran. tangis itu, sayangku, mengalahkan amuk deru dan mesiu.

7.23 anakku, kau buka mata, dan dunia lebih dingin dari tangismu. lebih gelap dari kulitmu. lebih kejam dari waktu.

7.23 sayang, genap sudah. Tuhan!

Sampang, 7 Juni 2014


DI DEPAN PINTU RUANG KENANGA

__buat Nabil Anakku

nabil anakku, pada sabtu kau lihat dunia dengan tangis yang tak kutahu maknanya. seperti hujan di musim kemarau aku dan bundamu menunggumu bersama waktu. lelah pun tak lelah. capek pun tak capek. ngantuk pun tak ngantuk. ada yang lebih kuat dari semuanya. entah apa aku pun tak tahu,

nabil anakku, 9 juni aku pergi ke ujung timur. menuai padi di antara ladang-ladang yang dipenuhi bunga yang bertuliskan namamu.
pada siang bundamu berkabar bahwa tubuhmu panas. demam katanya. aku pun tak tahu maknanya, lantaran aku dan bundamu baru saja menjadi ibu dan ayah. tak memiliki pengalaman merawat anak, hanya kasih sayang yang tumpah dan kita pun tak tahu makna dan caranya.

nabil anakku, bersama maghrib aku pun tiba, kau pun di luar pintu, menatap langit-langit rumah dengan senyum dan tangismu. aku cium pipimu anakku, halus dan lembut, meski demammu belum reda dan membuat aku dan bundamu semakin tidak tahu maknanya.

nabil anakku, bersama maghrib pula kau dibawa menyusuri kota bahari, bersama bang aan dan mbak indri. sekali lagi aku dan bundamu semakin tak mengerti.

nabil anakku, kau lahir di sini kau pun kembali ke sini, melawan rasa panas di bawah sinar fototerapi, dalam ruang inkubator ruang kenanga. nabil anakku, kau menahan rasa sakit dan infus yang menembus bulu halus dikulitmu. sendiri dan sendiri anakku. aku dan bundamu semakin tak mengerti apa maknanya.

nabil anakku, aku dan bundamu diserimpung rasa cemas dan waswas di tengah ketidakmengertian menjadi ibu dan bapak. aku dan bundamu semakin jauh menerawang mengenang keadaanmu dan geluncar air mata mengasini wajah kami.

nabil anakku, aku dan bundamu bersepakat akan kuat, meski air mata kami tiba-tiba saja, anakku, menetes tanpa sengaja di kursi deret rumah sakit dan musolla, sehabis menjengukmu. meski aku tak tahu keadaanmu, dan aku hanya bisa bertanya pada bundamu "bagaimana keadaanmu?" dan bundamu menjawab dengan senyum meringis yang tak kumengerti maknanya.

nabil anakku, aku dan bundamu adalah hatimu. adalah hatimu yang sampai saat ini masih menunggumu dengan cemas di pintu rumah sakit ruang kenanga.

Sampang, 10 Juni 2014


NABIL YANG SAREYANG

kau masih di sana anakku, dalam ruang kenanga tempat kau menghangatkan tubuhmu. malam selasa seperti luka bagiku dan ibumu. tak ada apa dan siapa, tiba-tiba saja kau, anakku.

nabil yang sareyang, 7 juni kau buka mata seperti anak puisi susuri sepi bersama tangis yang tak kumengerti. orhan pamuk begitu raedu bertutur padaku. aku dan ibumu entah memanggil apa kepadamu. soekarno sebelum itu. soeharto dan habibi juga memilih juni anakku.

sedang di luar, hujan hujatan, sinis, mengecam antara pendukung revolusi mental dan mantan jenderal berebut ingin jadi nomor satu di negerimu. negeri yang dipenuhi jejaring korupsi, century, ketidakadilan, freeport, lumpur lapindo dan kasus yang tak pernah tuntas dan tidak diketahui muaranya. kemiskinan di mana-mana dan mereka bicara tentang itu menggebu-gebu juga dipenuhi debu. macan asia atau singa asia.

dan luka masih saja luka seperti jarum infus menembus kulitmu.

kenapa kau memilih juni anakku. juni tempat para pemimpin bangsa ini dilahirkan, meski ada juga yang terlantar dan jadi tukang jagal.

nabil yang sareyang, malam selasa adalah malam bersejarah,

stasiun tv menyiarkan debat kandidat, sedang kau tergeletak menahan rasa sakit yang cekat dalam panas.

aku dan ibumu melihat kau anakku seperti melihat hati kami dipanggang di atas tungku pembakaran.

sedang di luar mereka masih saja saling hujat dan menikam. kata-kata yang jauh dari berkata. bahasa yang jauh dari berbahasa. bangsa yang jauh dari berbangsa. negara yang jauh dari bernegara. dan tak ada bahasa puisi di situ, anakku

nabil anakku, kau yang sareyang menantang sakit dan panas. bardan wasalaman. bardan wasalaman. bardan wasalaman. seperti ibrahim menggigil dalam tungku api penguasa bengis dan lalim.
sendiri dan sendiri, anakku.

aku dan ibumu berharap kepadamu.

Sampang, 11 Juni 2014


HUJAN LUCUT DI KACA JENDELA

aku cemaskan kepulanganmu
seperti rindu yang membawa cakar kupukupu_ terbang

telentang membawa segaris catatan; kemerdekaan atas kehendak siapa?
dentang jam riuh karnaval. anakanak berbaris dalam ringis. ada senja dalam kerut keningnya. seperti buntalan mantra gerenyap dada_ garuda

kakikaki berjalu—bergerak mengibas sesak dan pilu
di mata ibu jalanjalan menggenangkan kenangan, dalam dan semakin runyam seperti cabai dan kedelai seperti padi dan jagung seperti harga membuat luka di tubuh_ kita

kemerdekaan ini kehendak siapa?

aku cemaskan kepulanganmu
seperti hujan masalalu adalah hantuhantu yang bergerak di garis batas: teritori—tabun—shirat, rambut, ladang, tembakau, gula, merica, dan
sungai, gunung, pasir, pasar, pulau, dan_ 
ikanikan menyanyikan lagu kemerdekaan rabas denyar gelombang di matamu. jalanjalan menelikung seperti hikayat karnaval dalam buku harian panas dalam lelap. lelap dalam gelap. gelap dalam senyap. senyap nyapcap sederai-derai
batubatu jadi sumur. aku ke dasar. kau ke dangkal_  hutanhutan dibakar sampai rambut kita. tak ada hujan di sini, hanya gerimis mengalirkan huruphurup batu dari matamu

kemerdekaan milik siapa!
tibatiba senja lucut dikaca jendela seperti warna bendera lusuh dalam buku harianku

jantungku dikuruk sebisa bertanduk, lalu tumbuh ilalang dengan lempahan besi logam; darah-nanah mencucurkan bias merah. nyapcap di kaca jendela_
dan cinta seperti martir api, dalam pekat dalam malam dan dalam dendam

aku cemaskan kepulanganmu, dekat daun pintu berwajah ibu. ibu dengan seekor kupu di matanya, terbang dan berpulang dengan wajah dipenuhi ikan kering
dan senja setengah terpanggang lucut di kaca jendela. malam dan dendam!

Sumenep, 17 Agustus 2015


PASIR CARTESIAN

senja surup di atas gunung pasir

perahuperahu bergerak melubangi senyap gelombang_
di pantai ini aku ciumi aroma ikan

yang bergeriap di antara pohon nyiur melambai
jejak kaki, tapak kuda dan para pelancong yang membawa segudang rindu
di matanya. mereka bercakap melubangi renyap dinding perahu
bersandar pada gelombang di dadaku_
dada yang dipenuhi kristal hujan

dan ikanikan berenang di situ. senja berkabar
tentang batubatu malin kundang. ibu: tubuhku. tubuhmu. tubuh dia. tubuh mereka. tubuh pohon. tubuh kuda. tubuh kelapa. tubuh kepala. tubuh tangan. tubuh jejari. tubuh ikan. tubuh pasir. tubuh tanah. tubuh ideologi. tubuh tradisi. tubuh lampau. tubuh datang

lalu kau badai!
badai yang membawa geletak ikan dalam gelombang tv dan rasio_

rasionalisme bakar perahuku. lautku. tubuhku. rumahku. ikanku. pasirku. tembakauku. pasarku. bantalku. kasurku. bajuku. celanaku. ranjangku. lemariku. sandalku. pamanku. bibiku. ponakanku. bapakku. ibuku. istriku.

anakku_
ghun-pagghun1
atawa salbatan wasalbutun2

seperti migrasi hujan melempar tubuhku dalam baskom marmer
ikanikan terkapar di pasar_

dan kita berlarian dengan kaki dicucut pakupaku
cartesian. modernisme batu kapur. batu karang. tanah liat. tanah perigi. tanah lempung
tubuhku dikerubung ulat. otakku gatal dan miyang3_

zum-zuma. zum-zuma. zum-zuma!

senja pulang bersama lukaluka yang bergaram. tubuhku asin kecoklatan. tak ada tembakau di atas pasir, dan_
dalam pasar tempat rempahrempah berwarna merah
seperti wajahmu dipenuhi lotion. licin dan gigil. bulubulu landak menyergap. langit tak turun hujan sore ini

aku lukis namamu di situ
di atas pasir yang menenggelamkan cuaca di garis matamu
bulan bergaram di atas geladak kapal. perahu oleng disergap gelombang
cartesian_

seperti pasir
berganti desau anyir. hompimpa pun tak ada.
zum-zuma. zum-zuma. zum-zuma!

di pinggir laut, anakanak ikan terbakar dilibas gelombang dahsyat
dari barat_
cepat melebihi kilat

senyap seketika. nyapnyap seketika. sepi seketika. jauh seketika. dekat seketika. pecah seketika. hujan seketika. marau seketika. gelap seketika. terang seketika. sedih seketika. tawa seketika. asin seketika. sedap seketika_
seketika redapredap

seperti hujan asap menggenang di mataku. di kotaku. di hutanku_
dan tubuhku dipenuhi gelembung shampoo

seperti senja gugur pada batu
di bawa gelombang hujan
jatuh di beranda rumah dan mejamakan

Sumenep, 30 September 2015

1 tetap saja

2 tidak karuan

3 gatal disekujur


KITA ORANG

kita orang duduk pada malam di meja makan. hujan ucapan kita orang. happy birthday to you kita orang. seperti musik mengerat jantungmu_

kita orang bergerak bersama, menyanyi bersama kita orang_

seperti kita orang dalam dangdut koplo atau pop yang dikoplokan kita orang
tubuh kita orang bergetar, bergetas kita orang. kursikursi menelan sepi. bungabunga sepi. minuman sepi. uraturat sepi. pikiran sepi, kita orang_

dan demokrasi tumpah dalam secangkir kopi. huruphurupnya jadi api, jadi bara dan menjalar di sekujur kenangan. bukubuku tak hendak batu  kita orang. kesejahteraan milik kita orang. berhentilah di sini. pada meja, pada kursi, pada waktu, pada detak, pada cakap, pada kalam, pada perjamuan kita orang.
sejarah hidup dilipat  kita orang_

usia tak dapat diterka kita orang seperti asap rokok yang bergelombang lalu hilang_

kita orang. ah, kau!
di meja makan segalanya beradu kita orang: ikanikan, kuah, nasi, piring, sendok, garpu, capcay, cenge, kangkung, mentimun, wortel, jus, dan_

gelak tawa dalam secangkir teh yang bergeluncar pada tubuh kita orang.
seperti ritual jamuan makan malam, seperti rindu menjarah tubuhmu, kita orang
kau berlagu kita orang, suaramu parau dan tubuhmu meresap dalam gelas batu. kita orang tenggelam dalam minuman seteguk kita orang, dan kita orang seperti mimpi membangun rumah bersama, berbagi sedih kita orang, berbagi bahagia kita orang_

kita orang menari dalam langkah sepi
malam disulut malam, kita orang. bingar kita orang. lampu diskotik kita orang, menyulut detak jantung kita orang_

secepatcepat. sekilatkilat!

“wer tak kewerkewer, tak kewerkewer, tak kewerkewer ehjem”!
“wer tak kewerkewer, tak kewerkewer, tak kewerkewer ehjem”!
“wer tak kewerkewer, tak kewerkewer, tak kewerkewer ehjem”!

kita orang berjingkrak, melingkarlingkar dalam lagu tanpa notasi. happy birthday wajah. happy birthday kulit. happy birthday tangan. happy birthday kaki. happy birthday perut. happy birthday mata. happy birthday hidung. happy birthday jemari. happy birthday poripori. happy birthday kuping. happy birthday akal. happy birthday jiwa. happy birthday jantung. happy birthday hati happy birth...! ceplos_

telur, tepung tumbuh di rambut kita orang, fery

“usia kita orang bertambah, amal kita orang seharusnya bertambah,” ucap kita orang.

pelan-pelahan kita orang tenggelam ditelan kabut asap
malam dan malam kita orang!

Sumenep, 5 Oktober 2015


FAUZI


JHON FS. PANELahir di Sumenep, 4 Juli 1978. Alumni Pondok Pesantren Mathlabul Ulum, Jambu, Sumenep, dan STKIP PGRI Sumenep (S1), serta Universitas Muhammadiyah Surabaya (S2). Sekarang menjabat sebagai Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Sumenep, dan Sekretaris Said Abdullah Institute. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media, antara lain Radar Madura, Horison, Kidung, Suluk, Media Indonesia, Jurnal Nasional,  dan Surabaya Post.  Dimuat pula dalam beberapa antologi, antara lain Manifesto Illusionisme (2009), Telegram Bulan Juli (2009), Pelayaran Bunga (2007), Pesta Penyair (2010), Memo untuk Presiden (2014), dan Pulang Kampung (2014). Puisinya yang berjudul “Migrasi Sabun Mandi”, masuk dalam buku 80 Sajak Puncak Sejarah Sastra Indonesia, karya Korrie Layun Rampan (2014). Diundang dalam Temu Sastra Nusantara di Lampung (2010). Buku puisinya antara lain Tak Ada Luka yang Lebih Sederhana (2011). Opini-opininya sering dimuat di Koran Madura.

Bergabung dan ikuti social media M. Fauzi