05 Desember 2016 | Puisi | 392 hits

Puisi-puisi Jhon FS. Pane

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

EMPAT MUSIM SUNYI

Musim Dingin
Hujan turun menaburkan butiran debu
Hingga segala doa dan sunyi menepi
Mengalirkan rindu yang telah mencandu
Ke batang-batang waktu yang melepuh
dipapar cemburu dingin tak bersalju

Musim Panas
Sungai-sungai rindu telah kering di hatimu
Tak ada yang tersisa di waduk-waduk sunyi
Para pengembara telah melemparkan ribuan bunyi makian
Kepada matahari yang telah membakar cuaca
Kepada mata air yang tak memupus dahaga
Lalu tersisa sunyi yang sama mengalir menggenangi bumi

Musim gugur
Seisi bumi seperti kehilangan suara, diam
Lembar-lembar senja jatuh ke pelupuk mata paling sunyi
Menyusupkan warna kuning gelap sampai ke ujung-ujung daun
Lalu ia gugur melayang seperti melambai
Mengabarkan kisah sepi yang terekam di batang-batang

Musim semi
Lalu ia datang untuk melukiskan garis pucuk-pucuk
Yang mulai tumbuh di tiap reranting waktu
Seolah menggenapi rindu yang tak usai dituntaskan
ketika semua kata-kata telah berubah menjadi batu
Namun sepi kian subur membiak di udara dan semua warna
Cemas dan risau tumbuh serupa cendawan yang memeram bunyi.

Kotabaru, Nopember 2015


PERJALANAN  KEMARAU

ke arah mana lagi harus kususuri kelok sungai ini
‘tuk menambatkan rindu pada riak dan sejuk air
jika yang kutemui cuma batu-batu dan cerita tentang
lukah yang melapuk dan beribu riwayat cemas di hulu sungai

kemaraukah yang telah mengisap habis mata air
sehingga tak ada lagi yang mengalir di sungai ini
bahkan embun pun hanya singgah sesaat
seperti kekasih yang pernah mampir sesaat di hatiku
lalu  kembali pergi entah ke negeri mana

cukupkah dengan gelisah kulengkapi sepi di sungai ini
ataukah aku harus juga berpaling ke arah mata api
lalu ikut membakar hutan sepanjang tepi sungai untuk kita tanami duri
diam, semua menunggu hujan datang
membawa rindu ataukah mengirimkan banjir yang akan
melindas beribu harapan

Kotabaru, September 2015

Keterangan :
Lukah = sejenis alat penangkap ikan tradisional yang terbuat dari bambu

               (khas Kalimantan Selatan).


KEPERGIAN

dari waktu yang terluka
ribuan doa memayung haru kepergian
perkabungan malam tanpa air mata
ketika kehampaan menguap menusuk langit
yang gelisah

ke mana matahari yang gundah
saat belantara pun enggan mengangkat wajah
luka-luka melelehkan  darah
menguapkan senyum, kehangatan dan ketegaran

kita hanya bisa diam
melepas perjalanan yang jauh

2006/2015


KISAH SEBATANG POHON

sebatang pohon yang kokoh tinggi menjulang
adalah sebuah mimpi bagi tunas dan pucuk
yang ingin tumbuh menjangkau puncak langit
adalah embun, rintik hujan dan aroma perkawinan
memupuk gairah malam di lingkar tahun

sebatang pohon berjalan pincang dengan mimpi yang terpasung
mengecam, lewati malam segala badai
sementara musim lepas musim berganti sepanjang tahun
tak kuasa melepas tak kuasa menyingkir
di ujung takdir mata kapak dan deru bunyi gergaji
mata hati mata luka tersungkur di tubuh-tubuh yang pasrah
patah dan rebah

pada sebatang pohon, dibawahnya kulukis keteduhan yang dalam
wangi kesunyian yang membatu
ketika gerimis mulai menitikkan airmata api.

Kotabaru, 2007-2015


DI SINI DULU ADA SEBUAH HUTAN

pada musim yang datang terlambat, hujan luruh
bayang-bayang daun jatuh
di jalan tertinggal jejak beku dari malam yang begitu asing
kudengar suara-suara samar, sebentar datang lalu menghilang
seperti igau, gumam, makian dan desah nafas
ini bunyi ataukah hanya rasa risau yang berlebih

dapat kurasakan aroma tanah meruap seusai hujan
gambar kenangan yang timbul tenggelam,
ada garis merah di antara warna hitam dan putih
dan kenangan masa kanak-kanak yang memeluk gigilku, terasa dingin
aku mengingat, atau tepatnya mencoba mengingat
ya di sini, di sini dulu ada sebuah hutan

di jalan-jalan tertinggal jejak dari kisah masa lalu
dan kita mencoba menebalkannya dalam keterbatasan ingatan
tak ada yang ingat, entah mereka sengaja tak mencatat
mungkin banjir itu telah sempurna menggerus kenangan di tanah ini
hanya ada lubang-lubang, batu-batu dan serakan kerikil
juga ada sisa pepohonan yang terlukis di lingkar tahun yang
semakin kabur

Kotabaru, Nopember 2014


BERTAMU KEPADA SENJA (ACC)

Kaulah senja itu
Yang akan membuka pintu pada ketukan terakhir
Tempat segala lelah menepi usai ziarah
Tempat segala kenangan dan rindu membatu

Pada keruh matamu kau simpan kisah rembulan dan matahari
Yang pernah mengiringi jejak perantauan
Setelah melabuh pelayaran luas
Menempuh malam dan siang
Yang saling berganti

Terkadang aku ingin kembali menggandeng tanganmu
Menyusuri masa kecil
Di jalan-jalan setapak saat embun pagi mendarat
Saat matahari menyinari hari dengan timang dan doa.

Kotabaru, 2010


JHON FS. PANE


JHON FS. PANELahir di Kotabaru, 16 Juni 1975. Puisinya dimuat dalam antologi Seribu Sungai Paris Barantai, AruhSastra Kalimantan Selatan III (2006), Kota, Kita, Antologi Puisi Penyair Kabupaten Kotabaru (2007), Seloka Bisu Batu Benawa, Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII (2011), Jejak Sajak (2012), Puisi Menolak Korupsi Jilid 1 dan 2 (2013), Memo untuk Presiden (2014), Tadarus Rembulan (2013), Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014), dan Memo untuk Wakil Rakyat (2015). Tinggal di Kota Baru, Kalimantan Selatan.

Bergabung dan ikuti social media JHON FS. PANE