23 Juli 2016 | Puisi | 872 hits

Puisi-puisi Fendi Kaconk

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

LAYANG-LAYANG KERTAS

Lalu, pagi membawaku ke sini seperti layang-layang kertas merasakan sisa hujan bersembunyi dari kejaran dingin. Dan ternyata tak ada yang berubah. Pintu keluar dan bercak kenangan yang juga belum semuanya dihisap waktu masih ada.

Sejenak, aku diam diguncang bimbang dan kecemasan belum lepas dari kantung mata. Tak ada jemputan serta kalungan bunga. Tapi, tiap kejadian masih nakal menahan langkahku.

Di satu sudut pendengaran, lagu Ska mengalun riang, mengajakku tersenyum. Dan, tiba-tiba kumiliki energi kecil untuk kembali terbang dari kota ke kota.

"Puluhan orang berbanjar menyiapkan foto kenangan untuk dipajang di dinding sebagai sisa perjalanan. Aku juga. Sebelum nanti taliku putus, melayang lalu hilang."

Stasiun Kota, 21 Maret 2015

 


L O M B A N G

Pantaimu hening nyaris tanpa arus
walau ada sekilas seperti mengalir
di lekukan tipis jalan kecil urat muka
bening terasa, ikan-ikan berkejaran
cahaya matahari di mata memintal
ke dalam diri tempat kita bertamu

Pantaimu hening nyaris tanpa ombak
buih-buih seperti latar pertama lukisan
di dinding kamar kita, di kelambu itu
ada yang bergoyang, seolah itu juga

Gelombang tiba-tiba surut ke dalam
ikan-ikan yang berenang tenang
menunggu pasang memulangkan
cemara udang ke ujung kemarau.

Moncèk, 15-5-2014

 


MELANKOLIA HUJAN

Sebelum kau datang dari gerimis itu
kudapatkan endapan embun dari garam
yang beranjak pelan dari mata pantaimu
lalu kau menetes di atas payung hitam
bersama sekian dingin menyesap bumi

Tiba-tiba aku merasakan perbedaan
saat tak kudengar gelombang, di dadamu 
yang seperti mata buih-buih menyeret
tatap camar yang kemarin melukis awan

Dibingkailah bianglala senja kala itu
yang memeluk sepi, sendiri menari-nari 
yang kini diam menguap di kaca jendela
hingga mati dihisap matahari pagi.

Moncèk, 10-2-2015

 


ORANG TUA BENIH

Jelaslah ia tak mampu menghitung bulu-bulu mata yang rontok tiba-tiba. Pada semaian benih di ladang yang disapu badai --ditidurkan hujan. Ia mengerutkan kening, membayangkan awan, memayungi kesedihan. Anaknya berseragam garuda bermain di belakang rumah, sendirian. Pedagang mainan memanggilnya. "Sini, Nak!”

Air menetes menjadi hujan. Setiap pagi ia ceritakan tembang-tembang lama, macopat dan dongeng dari negeri 1001 malam untuk memberi hidangan pada mulut kecilnya.

"Kecerdasan itu hanya kemampuan mengendalikan tangisan, Anakku!"

Hari demi hari, bulan menyelinap jadi tahun. Angka-angka di buku catatan makin menua dan beruban senja.

Istrinya, menangis di pintu malam. Membuka langit yang diam. Memohon ada kapal terbang jatuh mengguyur tubuh dengan ikan-ikan.

Ladang jagung, kidung burung serta anaknya menjadi pertunjukan yang menguras air mata. Ia diam melihat gubuk tua. Penyangganya yang oleng. Dan, kini ia lupa. Di mana ia pernah menyelipkan surat cintanya di masa muda?

Moncèk, 29-1-2015

 


SEBELUM KESEDIHAN

(Malam menghapus namanya
dan Desember selalu akan berlalu)

Tubuhnya dibungkus lilin yang meleleh seperti prosa liris berbicara air mata dan kematian. Katanya keheningan lebih harum dari ranjang pengantin.

Ia pun mengerti tangis musim semi dan kerontang kemarau yang lebih nakal dari anak-anak yang baru belajar berdiri menyesap tubuh waktu dan menjumlah kehilangan.

Tanahnya tinggal sepetak dan anyir luka di pelipis cuma sesenti dari jarak alisnya. Ia bergumam.

(Kenangan itu tinggal sedepa. Menunggu detik akhir di dentang lonceng yang kau pasang di pergelangan kaki. Dan masa lalu itu seolah buku dan halaman baru.)

Moncèk, 31-12-2014

 


NUNG PEGGA'*)

Takkan lagi kau temukan barisan kupu-kupu di pohon mangas yang mengecup buah yang manis, begitu juga takkan kau temukan nyanyian angin di pohon siwalan. Di sana, kau akan menikmati sejumlah pamflet tentang biji jagung hibrida dan tanah-tanah yang siap dimangsa.

Lalu, apa mungkin kita kembali menceritakan hal-hal yang berbau cinta? Sedang kerinduan sudah tak bisa memilih diksi dari puisi yang mati. Aku juga telah mengubur sejuta risalah pada jejak motor yang tadi melenggang kencang dan aku kembali.

Kembali bertanya pada tebing juga lembah. Di mana kupu-kupu kini berbaris rapi? Seperti dalam upacara besar di negeri ini. Sedang dalam bayanganku serupa arakan menuju pemakaman.

Nadham-nadham pun hilang dikubur janji. Kini hanya menanti hari esok, lusa, juga bulan, tahun dan semua kejadian yang akan dibungkus lebih rapi.

"Nostalgia seperti tampar di leherku," katamu.

Sebuah lintasan dalam pikiran, di jalan-jalan yang pernah membuatku begitu produktif menuliskan namamu.

Moncèk, 22-8-2014

*)Nong Peggek, nama desa di Sumenep, Madura, Jawa Timur.

 


SABDA MUSIM

“Aku berlari dari pucuk daun pisang yang menyulam air mata jadi embun dan kau memalingkan wajahmu, serupa kilatan cahaya yang memindahkan cinta pada taring petir, menunggu guntur untuk membelah tubuhku. Lalu kepingan yang terburai kau namai pengorbanan.”

Kau melukaiku dengan pisau. Goresannya kau sebut di kitab langit dan bumi. Tak saling benci, tapi saling berkelahi. Karena kesepian lebih kejam dari binatang yang malang. Terbaring di dekat ranting yang hampir jatuh ke bumi. Menyusui seluruh nostalgia cahaya, di pusarmu.

"Mencintai ketegasan gelombang. Lautan yang pecah di pasir dan menempel di tubuh karang. Luka mengalirkan tembang buih pada pantai setelah ada yang berteriak. Kapal bocor tanpa pelampung makin jauh, terseret. Kita tergopoh-gopoh menyesalinya lalu sadar seketika ."

(Langit muram dan pecahan gelombang mengelem seluruh perputaran roda jaman. Tak usah tersedu! Secarik kertas putih seumpama wasiat moyang. Kita pulang tanpa baju dan dilahirkan untuk saling melupakan kisah dan tragedi.)

Moncèk, 20-11-2014

 


DI PUISI MUNGKIN KUTULIS BEGINI

Bagai embun ia datang, melalui segenap gelisahnya lalu menyuling kesepian di tepian kesedihanku, dan mereka semua merasakan panas di punggung, dibakar matahari. Ada teriakan kelaparan dari lorong atau di bawah kolong jembatan. Siapa yang meniupkan seruling di tengah petang?

Aku pun menuliskan hal lain: di pasir-pasir pantai, di atas endapan garam. Matahari berbicara sangat rendah di atas kepala nelayan. Diseret, diombang-ambingkan gelombang, lalu akan terdengar sabda angin timur dan barat mengikis pasir pantai yang disebut tempat Tuhan tak menangis, tak tertawa, lalu geramnya hanya berupa buih-buih itu. Senar gitar siapa yang masih siap menjadi Majnun di tengah samudera?

Sebentar saja, aku kepompong lalu menetas jadi kupu-kupu. Setelah tua, sebelum rabun, mataku saksi atas kehilangan harapan mata Rohingya dan tembakan di kepala para pemabuk dan pengedar narkoba.

Di jalanan ini, terompet kematian merampasnya dari bibir suling juga dari denting biola. Sedang tarian para pencari masih alpa membaca langit dan lupa tanggal kelahiran.

Dengan cara bagaimana pendahulu menuliskan puisi di arca dan lempengan prasasti? Si buta sepertiku tak mengenal tanda, hanya desir angin gelombang seperti lilitan ular dan naga yang memecahkan badan.

Tak ada tarian, tak ada lagi lagu, tak ada lagi senyuman. Musik melankolis berhenti di sini, menikmati tangisan, rintihan, keperihan dan nama Tuhan disebut berulang-ulang. Kapan aku akan kauajak terbang dari dunia kekacauan ini?

Moncèk, 20-5-2015

 


FENDI KACONK

Lahir, besar, dan tinggal di Moncèk, Sumenep, Madura. Mengelola Komunitas Kampeng Jerami. Menulis puisi, cerpen, dan esai di beberapa media massa. Dipublikasikan pula dalam beberapa antologi, antara lain Sandal Kumal (2011), Indonesia Titik 13 (2012), Lentera Sastra (2013), Istana Air (2014), Seruni (2014), Hujan Kampoeng Jerami (2014), Memo untuk Presiden (2014), dan Titik Temu (2014). Buku kumpulan puisi tunggalnya, Lembah Kupu-Kupu (2014) dan Tanah Silam (2015).