23 Juli 2016 | Puisi | 1691 hits

Puisi-puisi Sulaiman Djaya

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Sebelum Hujan Jadi Kalender Basah

Sebelum hujan jadi kalender-kalender basah
di matamu kubayangkan pohon-pohon dan cuaca
saling berbagi rahasia
senja yang tak lagi belia

Aku pandangi dinding malam
dari jendela kaca
bersama seneon lampu kamar
ketika dingin mencuri

bintang-bintang di galaksi
dan di meja lembab
maut pun menulis puisi.
Barangkali kau akan berpikir

waktu sebenarnya
adalah apa yang membuat kita
menjadi lebih akrab
pada segala yang tak terduga.

Aku pernah bertanya ‘di manakah Tuhan berada’
ketika firman-firman suci diubah jadi senjata?
Namun segera aku jadi bosan
kepada mereka yang tertipu majelis-majelis

di abad ini. Sayang, kutulis puisi ini,
ketika kita mencintai kebenaran
dari segala kebetulan
yang justru acapkali membuat kita heran.

Kemarin, ketika gerimis
seperti kasidah para darwis, aku teringat
bagaimana kau membacakanku sekomposisi larik
tentang hidup yang jadi indah

karena selalu mempermainkan kita
dengan hasrat dan teka-teki
yang membuat kita marah atau bergairah
entah karena apa?

Dan di Desember yang kesekian kali ini,
barangkali, di esok nanti
kita akan lagi-lagi menulis puisi
dari keluguan atau gairah yang tak kita mengerti.

2015

 


Jazz & Kopi

Gerimis Desember datang lagi:
gerimis yang mendayung sepi
sampan-sampan hidup dalam diri.

Tak ada burung terbang
di atas pematang-pematang lengang.
Sepanjang angin berhembus

senja seperti seorang kekasih
yang merana. Hari dan waktu
kubayangkan seumpama

padang bunga-bunga.
Dapatkah seseorang menggambar
mautnya seperti jalanan basah

yang kulihat dari jendela.
Di dalam kamar, jarum-jarum jam
dan segelas kopi panas

seperti saling menafsir
cuaca dingin. Ingin kutulis lagi
puisi cinta yang kesekian

meski kata-kata telah lelah
dan kalimat tak selamanya
jadi amsal dan perumpamaan.

Kunikmati saja segelas kopi hitamku
bersama secanggung komposisi jazz
berharap hidup tak lagi seperti biasa.

2015

 


Pintu Rumah

Kamu lihat, sayang, hujan datang
di Desember yang rindang
dan beberapa burung terbang
seperti nasib yang kita terka.

Matahari pergi
bersama senja yang dicuri.
Betapa tenang sungai
seperti kematian yang lelap.

Bagaimana mungkin kau pahami cinta,
duh sayang, jika tak kau mengerti
fungsi sebaris kata.
Kesedihan dan kegembiraan sama saja

Bagi kalimat yang tak jadi sajak.
Antara jalan dan jembatan,
kabut jadi semesta yang damai
bagi sepasang mata yang terbakar.

Pohon-pohon bermunajat kesunyian
dan sebagaimana kau tahu,
tak ada mata uang
untuk membeli hidup

dan anugerah
yang datang tiba-tiba.
Kita senantiasa akan punya alasan
untuk menerima

apa yang tak kita tahu
dan esok kita kembali
membuka lagi pintu-pintu
yang kau sebut waktu.

2015

 


Tango Ballad

 

November baru saja pergi, Icah,
bersama lebat hujan pagi tadi
yang mencuri kata
dari sebuah sajak.

Lembab jalan seperti kematian
yang tak juga lekas beranjak
sementara daun-daun basah
seperti cinta yang tabah.

Kemarin, ketika senja dirundung gerimis,
sempat terpikir menulis puisi
tentang waktu di dua matamu
menasbihkan rindu.

Aku tahu, Icah, hidup bukan sekedar
perumpamaan dalam kalimat dan paragraf
entah jadi matsnawi atau rubayyat.
Barangkali kegembiraan kita, duh Icah,

adalah saat kita tak pernah tahu
kapan kita jadi ragu atau bahagia.
Saat kita tiba-tiba terpesona
pada hal-hal yang biasa.

2015

 


Kalender November

Di sini gerimis adalah puisi
dan lagu rindu di dalam hati.
Barangkali mendung
adalah lembab senja
yang menerka sepotong cahaya

di sepasang matamu.
Masih kukenang perbincangan malam kita
sembari meramal masa depan
dan menjumlah angka-angka.

Sungguh katakan padaku, Pran,
bagaimana aku harus jatuh cinta
pada sore dan lanskap cuaca
yang kau terjemahkan dalam sajak
dan jejak-jejak hujan

yang jadi melankolia
pada secangkir kopi hitam.
Mengapa nasib seperti pencuri
yang pandai bersembunyi?

Sungguh, di sini, Pran, kuumpamakan
jalanan basah dan sendu dedaunan
seperti sebuah hikayat
yang tak lagi punya amsal
bagi bisu berputarnya jarum-jarum jam.

2015

 


SULAIMAN DJAYA

Lahir di Serang, Banten 1 Januari 1978. Tulisan dan puisinya pernah dimuat di Koran Tempo, Horison, Indo Pos, Media Indonesia, majalah Trust, majalah AND, majalah sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, majalah Banten Muda, tabloid Cikal,tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya dimuat dalam beberapa antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ, 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara, 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi, 2012), Tifa Nusantara 2 (Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara di Tangerang, Banten, 2015), dan lain-lain.