04 Juli 2016 | Puisi | 1391 hits

Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Menikmati Kopi Lampung

segelas kopi mengepul pagi ini
menari dalam gumul kabut
di pucuk gedunggedung
di suatu sudut kota tua
tanpa kau. tiada senyun juga
celotehmu; sebelum laut
melompati dam
memaksaku berenang

kuhirup berkalikali kopi
yang kubawa dari kebun tamong1

seperti juga permah diangkut
para pedagang eropa
beratus tahun silam
ditumpuk bersama rempahrempah

kuhirup tapi bukan lagi
sebagai anak duli
yang meringis di bawah kaki

7-11-2015

1Tamong (bahasa Lampung), berarti paman.

 


Karel Doormanstraat

: bersama Asjone Martin Sikumbang

langit seperti luruh dan kuingin
tangkap kabut putih yang diam
di kelopak mataku. serupa kapas
dingin di tubuh. ada getar meski
tak bisa kuraba maut yang tiba
di jalan karel doorman ini
aku menghimpun kata tapi tak
juga tersusun namaku

betapa sulit menyusun kalimat
dalam gigil ini, selain curiga
dan benci. tanah air yang kurindu
serasa cepat lesap. namanama
kawan menjelma jadi lawan. pisau
tumbuh di manamana, bagai burung
terbang bebas: menajam mata
amat merah. --kau penujum suci
kini jadi penujah. menubuhkan
amarah

silangkata, warna jalan berdarah. kau
menulis pisau dan luka. kuantar perban
membalut dendam, menutup mata
pisau. "jadilah tunanetra. gelap semesta,
benderang di hati!" kalimat itu
sebagai pembuka,

mula meniti. setatap kita. di mata
meluap embun

8 November 2015

 


Paddy Murphy’s, Suatu Malam Berlabuh

hampir saja lupa dari mana aku datang
di kafe ini tak ada lagi salam atau
menanyakan alamat. di mejameja itu
botol bir berdansa. tak ada tanah airmu
di sini, selain lapangan sepakbola
di layar lebar: aroma keju dari tubuh
van kompeni. bau amis alkohol, celoteh
dan teriakan yang tak kupahami
maknanya

aku semakin di negeri jauh, di tanah air
aku juga tersisih. seperti gelasgelas
kosong di bibir meja. bagaikan
periang di pinggir lapangan. betapa pun
ada wasit, kita abaikan pula peluitnya

di kafe paddy murphy's aku jadi eropa
merampas rempah dari sai bumi
namun tiada dalam lembar sejarah!

aku makin kehilangan ladang
dari kekuasaan.

Rtdm, 8 November 2015

 


Denhag di Tengah November

jika kau datang pada november, seperti
ini kota menyambutmu: daundaun gugur
dan berserak di sepanjang jalan, pohon
menyisakan ranting. juga langit tak
permah putih, gerimis menyempurnakan
gigilmu

tapi lonceng dari menara gereja tak akan
alpa mengingatkanmu; Tuhan maha tinggi
dari segala yang ada di bumi. cuma, di
sini, jemaat tak seramai di negaramu
dan tak mesti dijaga aparat

bahkan, sebuah gereja di denhag berubah
jadi ruang pengadilan. yesus mengawasi
dari atas mihrab, dan bunda maria
menimang putranya di dinding kiri -- keduanya
amat setia pada gembalanya -- tiada
prasangka

halo, pasporku tertinggal...

12 November 2015

 


Percakapan dengan Nuh

"aku terlambat," kata waktu pada air yang mengaliri kanal
bagai ular meliuk dari satu tikungan ke lain sudut
namun tak muara di laut, sebab lahirnya dari
awan. lalu waktu memburu di belakang, ingin
menimpukku dengan bandul yang selalu
menggerakkan detik menuju menit dan jam

"begitulah kuciptakan waktu agar kau mencinta
dan membenci. supaya tahu asal maupun
selesai: -- lahir lalu kematian -- demi
semesta," lanjut arloji

pada kanal yang terbentang atau meliuk di tengah kota,
waktu selalu arif. "kalau tak, kujadikan kota
ini seperti masa Nuh," ujarnya

dan tak ingin kubayangkan saat aku di sini,
Nuh berteriak: "naiklah ke perahuku, atau
kau tenggelam dalam kota ini!"

14 November 2015

 


Daun di Depan Pintu

sisa musim gugur
daundaun mengendap
di depan pintu
ingin kembali
ke rahim ibu

di sepotong november
dalam cangkir teh
daundaun jatuh
dari tegukan terakhir

dan kelak, kala salju
jatuh di tubuhmu
aku purapura mati

tak ada lagi kenangan
matahari hilang
kota ini jadi kelam

aku jadi peminta

berlari dan berlari
sepanjang jalan
temaram....

Witte Rozen, 17 November 2015

 


Bertamu di Rumah Sitor

: menjelang setahun wafat Sitor Situmorang

pagi ini, kekasih, aku tak bisa apa
di teras rumah sitor melepas asap
rokok. tapi tak juga mengusir
minus 5 derajat terasa, dan gerimis
yang diantar angin. patung
sitor buatan barbara seperti menemaniku
dengan segelas teh manis dan
rokok. kami bercakap-cakap ihwal
65, bui, dan menetap di paslaan

sitor bercerita mengagumi gadis itali,
meski yang ia kawini putri belanda
atas cintanya: leo yang tampan
namun pandai memasak

di teras rumah sitor, kupandangi
jalan paslaan berkabut. gerimis rinai,
angin tak berkarib. "masuklah, kau
orang asing di sini," sitor seperti
menyilakan aku duduk di ruang tamu
mencicipi bonbon dan grolsch

di ruang tamu, kami berhadapan. sitor
selalu menempati kursi biasa diduduki
layaknya singgasana raja. "aku raja
dari toba, merasa nyaman di belanda."

indonesia bagaikan hutan,
ia menetap di tanah kelahiran istri
sebagai warga yang satu mata ke italia

dan mata lain pada barbara
sedangkan hati ada di toba

 

Toba
Toba
sitor pun istirahat
membawa puisi-puisi

Apeldoorn, 24 November 2015

 


ISBEDY STIAWAN ZS
Lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik yang dipublikasikan di pelbagai media Jakarta dan daerah. Buku puisinya Menuju Kota Lama memenangkan Sayembara Buku Puisi Terbaik Hari Puisi Indonesia (2014) dan kumpulan cerpen Peremouan di Rumah Panggung termasuk 10 buku prosa terbaik versi Khatulistiwa Literary Award (2014). Buku puisinya yang lain, Pagi Lalu Cinta (2015), dan kumpulan puisi islami Perjalanan Sunyi (2015).