Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Ada yang Tak Terlihat

Bagaimana rasanya menjadi coklat matamu
yang rindang dan sejuk bagai hutan hujan
tetapi, adakah aku masih sempat berkhayal
sedangkan kian lama kian pekat cintamu

Seperti yang engkau katakan waktu itu,
tak ada lagi dan tak akan ada
dan ciuman pun menjadi khayalan klise
sebagai tanda dari perpisahan yang sayu

aku memahami gerak getir itu
senyum yang bersedih meninggalkan seberkas rindu
tapi apa lagi? Seperti riak air di hulu
mustahil memungut apa yang jauh dan terlalu

bayangkanlah ada saatnya nanti, ketika rindu
tidak berarti apa-apa di balik tudung dan airmatamu
dan engkau tak mampu melihatku ada di mana
sebab hanya di coklat matamu aku berharap ada.

12 Agustus 2016


Menuju Menyimpang

     a
bagaikan awan tanpa hujan
dan tanda tanya yang terancam rindu
kita berbisik di antara gerak angin

“seberapa jauh jarak yang kau tempuh
untuk menemui sang waktu?”
“Sehasta saja,” jawabmu singkat

    b
Seberapa letih kita akan menunggu
sebuah takdir dalam jejak waktu?
“sejauh rinai rindu yang tak perlu.”

Ketika gerimis perlahan turun ke hatimu
adakah cahaya pelangi tercipta dan tiba-tiba
mengundangmu ke dalam jamuan senja?

25 Agustus 2016


17:00

Di baris sajakku, pantai sore hari adalah debur airmata
yang terasa manis dalam kebisuan cangkirmu

kau petik huruf-huruf angin dan menyusun memorabilia
yang terjun dari khayalan dan hanyut ke arus waktu

sisa dari detik yang tertinggal dari kenangan kita
mengantarmu ke ujung lorong masa laluku

adakah kau tahu birunya hatiku dan bibir yang berkata
yang menyelam menjauhi gelombang cemburu?

bukankah aku pun takut, jarak ini yang tiba-tiba ada
akan membuat kita terpisah dan keabadian pun berlalu

29 Agustus 2016


Seorang Gadis di Terminal

Wajahnya murung dan bimbang
“berapakah harga sebuah sajak, Pak?”
tanyanya kepada kondektur
ketika ia masuk ke dalam bus malam.
Kakaknya yang sakit, ingin sebuah sajak
buat diukir pada dinding kuburnya
“tidak tahu,” balas para peminta-minta
dan gadis itu memandang heran.

Tetapi gadis itu tidak tahu
akan menemui siapa ke kota penyair
apalagi berapa dusta yang ia mesti bawa
untuk nanti dibuatkan kata-kata sihir.
Sepanjang jalan, gadis itu bergumam:
“kata kakekku yang ahli bahasa,
senyum ibuku ini sudah cukup seharusnya
untuk membeli sebuah pabrik kata-kata.”

30 Agustus 2016


Seorang Gadis di Terminal (2)

Sang gadis bertemu denganku
dan dengan senyumnya yang ragu
duduk di hadapan kopi terakhir bulan ini
memaksaku menulis sebait sajak abu-abu

“Tidak, Nona. Sajak adalah kata
yang pergi dari hatiku. Apakah kau
selamanya akan tinggal di sini?”
tunjukku padanya dan sangsi

“Tentu, tak kaulihatkah cokelat mataku?
Tak ada yang lebih manis, tak pernah ada
maka berilah aku satu sajak mazmur
agar menjadi kaligrafi di dinding kubur....”

aku tidak tahu semanis apa kesombongannya
dan betapa aku tidak peduli pada cokelat itu
karena hanya kopi, yang pahit, yang setia
selalu berkata esok adalah kemarin lusa

30 Agustus 2016


UMPAMANYA

Dalam kereta ini, Waktu duduk di sampingmu
sambil menghitung tetes hujan di jendela
ia kenakan arloji dan mulai merasakan rindu

“Ke manakah gerbong ini melaju?” tanya para tawanan
tak ada yang tahu. Waktu duduk di sampingmu
dan melihat tiket yang sudah terlewatkan

bertanyalah sekali lagi, tapi jangan kepada yang lain:
Berapakah perpisahan yang dibutuhkan para tawanan ini
untuk kembali duduk bersama Waktu dan berdampingan?

9 September 2016


Cast away

Di pintu engkau mengetuk
katamu, “ada hujan mau bertandang.”
kembali aku baca catatan cuaca
dan menemukan gurat kepasrahan
membanjiri ramalan rindu

“beri kami airmata senja,”
lirih para penyanyi di selasar waktu.
Mereka datang dari kabut dan awan
menyembunyikan senyum palsu
serta harapan acak tentang suhu udara

Seolah di antara jendela dan langit
terbentang garis tipis bianglala
yang begitu pekat seakan-akan abadi
memberikan kerling kebahagiaan
kita yang terlalu lama terbuai dukalara

22 September 2016


(Alfian Fauzi, paling kanan)
Alfian Fawzi lahir di Pamekasan, 5 Januari 1997. Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Selama nyantri aktif menulis dalam Sanggar Sastra Al-Amien (SSA). Pernah menjadi redaktur Buletin Destinasi, Buletin Sastera, Buletin Aliyah, Buletin Kakbah, dan Majalah Khazanah. Kini dia mahasiswa Fakultas Filsafat UGM.