11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 171 hits

Sajak–sajak Khaliq Khamza

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Selagi Mawar Tumbuh

Selagi aku mengeja namamu
Kuntum bunga yang jatuh dari tangkainya
Membawa kilatan rindu yang tumbuh dari senyummu
Ayat-ayat telah kugenggam untuk menafsirkan namamu
Yang kutulis di dinding dan kaligrafi

Ra, selagi mawar tumbuh dari matamu
Akan kutitipkan nama dalam jiwamu
Sebab, kelopak bunga yang mekar di pagi hari
Membawa tetesan puisi
Dari aroma yang melukis bibirmu yang basah

2015


Namamu Kurakit dalam Huruf Hijaiya

Adakah yang lebih mawar dari namamu?
Ketika kapal Nuh melepas sebotol jantung dan setuak bir
Huruf-huruf menerjemahkan namamu ke dalam hijaiya
Dan merakitnya ke dalam alif

Adakah yang lebih mawar dari namamu?
Dalam tepi huruf namumu menjelma mawar
Harum dalam dahaga bahkan pada ruas-ruas tubuhku
Yang kau ubah pada akar yang baru
Untuk hidupku, hidupmu

Adakah yang lebih mawar dari namamu?
Ketika pelayaran membawa hati
Ketika pelayaran membawa jantung
Ketika pelayaran membawa hijaiya pada namamu
Ayat-ayat suci kubacakan di lembar sejarah
Di tunas yang keluar dari rahim ibumu
Lalu, kurakit namamu dalam hijaiyamu

2014


Kami 1

Bagaimanapun kami hanyalah hewan yang berkelana mencari bintik-bintik yang dierami lumpur dan debu-debu. Debu vulkanik abad 20 tetap menetas, berpinak-pinak pada urat nadi yang liar menulis hikayat Rumi, menulis mimpi-mimpinya di jalan-jalan. Di manakah kami yang bertuhan pada batu, dunia, dan besi? Adakah kami dalam catatanmu?

2015


Kami 2

Kami tidak lagi menuggu datangnya hujan. Sawah-sawah yang membengkak dan mengering tanpa aliran air, kini banjir oleh keringat petani.

Setiap pagi kami membangun mimpi di teras-teras matahari sambil berarak-arakan memotong rumput, mencangkul dan menanak nasi. Kami hanya menekuni harapan di antara cita-cita seorang pedalaman yang berharap membalas budi pekerti atau pun janji dari pertapa masa kini. Kami masih menagih janji pada kebiasaan dan ikhtiar di sepanjang tahun.

2015


Aku Mengenalmu

Aku mengenalmu sebagai perempuan bukit
Turun dari ketinggian munuju lembah rawatib
Rambutnya ia kibarkan di pelabuhan tempat para penyair menulis puisi
Di tubuh juntainya ia tulis nama-nama filsuf Yunani
Nama-nama permata yang mengembara ke laut sugawi

(Wahai prempuan yang kukenal di lembah rawatib
Malam ini aku tulis sajak-sajak paling kasih
Kutulis buat engkau dan serpihan hati)

Aku mengenalmu sebagai perempuan bukit
Turun dari ketinggian munuju lembah rawatib
Pada pertemuan keempat aku merengkuhmu
Dalam pelukanku yang hancur
Dalam harapanku yang lebur
Dalam pandanganku yang kabur

Biarkan aku melihatmu tergeletak mati di lembah rawatib
Agar tidak ada orang yang melihatmu, apalagi mencintaimu

Biarkan aku menjadi lelaki yang pertama menulis rakaat februari
di lembah bukit rawatibmu.

18 Agustus 2015


Angin, Dawat, Daun

Angin menyusup lewat celah daun
Menggambar suatu fitrah pada rakaat tahajjudku yang sunyi
Seperti dawat darah mengaliri bagian otot dan persendian

Telah menyatu angin dan daun dalam fatihahku
Mengokohkan rentetan hidup di kala fajar terbenam di leherku
Di kala angin tidak lagi kita sebut nafas pertama sekaligus terahir

Bagi tubuh yang berdawat darah

hu, hu, hu

Adalah tubuh para sufi yang berakar iman dan berbuah ihsan

hu, hu, hu.

22 Agustus 2015


Belum Aku Tanam

: Luka airaes

Belum aku tanam
Mawar dan melati di tanahmu
Bersama kerinduan yang membentur dinding
Bambu yang menjadi pagar di setiap penanaman.

Aku mengukur tanahmu pada tiap-tiap jalan filleroes
Kedalaman yang setiap hari tertutupi daun dan limbah
Lalu, kucoba menanti musim-musim yang tepat aku tanami
Menabur biji pada dadamu, yang sempat aku lukis dari pasir
Laut yang menjadi biru pada hikayat pembajakan
Dan menjadikan tubuhmu sebagai tirai pelaminan sajakku

Maka lihatlah
Belasan tanggal, bulan, dan waktu
Dalam genggamannya mereka bersujud
Menanti pembajakan tanahmu,
Menggulung benang pada setiap musim pancaroba
Merajutnya dengan putik sari tanahmu.

2015


Analogi I

Setiap hari kami hanyalah hewan yang berkelana mencari bintik-bintik yang terdapat pada bulu. Kehitaman begitu pekat memilih arah dimana ia akan menepi pada tubuh kami. Langkah gontai menjajaki pancaroba di perbukitan gunung Semiru. Bulu semakin bertebaran dihempas angin, sebab kami masih belum mengerti tentang bahasa musim, tentang isyarat pemberangkatan dan pengepakan sayap-sayap di atas air.

12-03-2015


Analogi II

Barangkali kami hanyalah burung yang senantiasa mencari makan di malam hari. Tangan-tangan tengadah mencabuti bulu-bulu yang terdapat pada petak-petak Malwa dan Salwa. Kearifan zikir masih jenuh di mata kami. Kami hanya saling menepi, bertutur sapa, memandang kehitaman pada sudut kiri batu di antara bulu-bulu yang berjejeran di tanah. Kami akan terus bertandang ke rumahmu: menangis akan dosa yang kerap kali kami jelajahi.

14 Maret 2015


Afrelia

Bibir pantaimu sungguh jauh dan teramat pekat. Aku cicipi di musim semi. Kita hanya saling menatap dari kejauhan: antara asin dan tawar. Airmata yang menetes di bulan Februari menjadi puncak di pucuk-pucuk bibir Yohanna. Tubuh perempuanku menjadi menggigil. Tenanglah, Afrelia. Februari akan kembali pada sejarah, menutup kembali kematianmu hari ini.

11-3-2015


Parade Sebuah Perjalanan

Berkali-kali kami harus meneguk parau langitmu di antara gurindam yang baru lahir jadi puisi. Kami yang saling menatap satu sama lain di antara perjalanan puisi yang membawa rona kesejukan di mihrahmu, kini seakan sunyi. Maka kami hanya bisa menatap gambar langit, gambar-gambar gunung yang mengeluarkan asap setiap waktu.

Sketsa dalam detak jantung yang kami mimpikan setiap hari seakan membelenggu. Fatamorgana. Lalu, kami mencoba mengevitafkannya pada relung hati agar kesabaran menjadi tiang dan pengokoh iman kami.

2014


Kau Puisi

Setelah ribuan puisi terpatri di ulu hati
Akan kutanam semerbak bunga yang tumbuh dari jantungku
Bersama ribuan puisi yang terkubur di kedalaman jiwa

Adakah belati yang menancap di pundakmu,
setelah namamu menyusup di bait puisi,
dan selembar senyummu yang kutulis pada kaligrafi
Membawa namamu merasuk ke dalam puisi?

Barangkali kau puisi, Ra
Yang terpatri di ulu hati, lalu menyatu.

2014


Khaliq Khamza


Khaliq KhamzaSiswa dan santri SMA Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Aktif di Teater Andalas, Komplotan Sastra, dan Tadarus Puisi.

Bergabung dan ikuti social media Khaliq Khamza