Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Mengejar Senja

Dirimu hadir bersama senja, di sebuah bibir pantai, di suatu tempat. Barangkali rindulah yang membawamu kemari, mengantongi rona wajah paling indah dengan senja melekat sempurna dan cahaya mematri sepanjang petang. Kita duduk berdua, memandang ombak tak henti berkelana hingga memecah lelah pada pandangan kita. Angin bersiul begitu rendah di antara celah pohon-pohon kelapa, seakan bahagia dari jawaban kerinduan. Aku begitu gugup memulai kata, sedang dari tadi buih asin laut terus meminta kita bersuara, namun senja tak henti-henti menatap kita dari balik mega yang liar, sementara dari balik punggung lautan ufuk tak sabar meminta kita pulang. Kita terlalu lama saling lupa, walau sesekali rindu memanggil masa lalu. Aku telanjur mematah-matahkannya, tak bersisa. Hingga perlahan dirimu hilang bersama senja, dan hanya menyisakan kesedihan belaka. Aku tak pernah berkata, tak lagi berkata. Sebab, diriku pun hilang bersama ombak, mengejar senja untuk membawamu kembali….

Pangkalpinang, 10 Juli 2015


Rindu, Rumah

Aku pulang di suatu senja yang terbuang, kembali berpijak pada masa lalu yang terkenang, mengambang dalam bayang yang sempurna mengharukan segala rasa. Rumah ini masih seperti dulu, dalam rindu yang menggangguku setiap malam di perantauan. Aku lupa kata pulang, namun rindu akhirnya membawaku kembali, bersama usia yang terbuang dan patahan kenangan yang menyambut mesra kehadiran. Aku menatap inci demi inci rumah ini, sesak oleh kesunyian dan serpihan kisah kepedihan masa silam.

Aku datang di suatu senja yang terbuang. Kulihat sosok bayangan anak berlarian mengitari rumah ini.

Seperti diriku, masa lalu selalu jadi hal liar untuk datang. Seketika ombak mulai memecahkan pengembaraannya pada kedua retina. Hujan turun deras sekali, dan langit mulai menghitamkan mega yang kelam menggumpalkan kesedihan. Rumah ini terlalu sulit untuk dilupakan dengan segala potongan kenangan, walau selalu ada serpihan kesedihan….

Pemali, 14 Agustus 2015


Sajak Cinta untuk Alin 1

Maafkan aku, Alin. Terlalu jauh aku menerbangkan sayap cintamu, hingga akhirnya patah di suatu senja yang basah. Aku tak dapat berbuat apa-apa, ketika dirimu memilih diam dalam selubung kesedihan, menjaga sepi seharian.

Pemali, 12 September 2015


Sajak Kematian

Purnama. Dosa-dosa bagai belati merangkum ranum kesedihan hati. Dan aku diam-diam menyeka diriku sendiri. Merasakan kematian yang bertamu begitu dekat. Tak ada yang kutinggalkan di senja tadi, selain kesedihan, dosa, dan kenangan yang terbuang. Kini diriku terlalu larut dalam diam, menelan malam sendirian. Meminum darah sendiri dalam sekali teguk derita diri….

Pemali, 12 September 2015


Sayap Rindu

Ketika rindu mulai membentangkan sayap-sayap terluas pada malam yang memancarkan pendar rembulan bak kesepian di langit kelam, ada yang mencurahkan sekelebat doa dari tiap kata. “Kita hanya hamba-Nya, ternista.” Namun kening tak pernah alpa mencintai bumi. Dan tangan meminta seraya muka tengadah, sekejap airmata meninggalkan jejak kesedihan dan penyesalan di muara pipi ini. Dosa begitu liar meninggalkan kesakitan. Sukma selalu meraungkan penyesalan terdalam, hingga malam terus datang dan memanen jiwa kelelahan. Barangkali tak lama Tuhan mengunjungi bumi sekedar hadir pada umat-Nya yang meminta, sementara kita terlalu sibuk berpetualang, membelah malam pada mimpi dan pualam….

Pangkalpinang, 5 Juli 2015


Aku Terlalu Lama

Terlalu lama aku mencintaimu dalam diam, dalam kasih yang terlalu dalam mencengkeram hati. Terlalu lama aku diam membisu dari segala kata, hingga hujan turun membasahi bumi, menghilangkan segala jejak dan meniadakan segalanya.

Pemali, 4 Agustus 2015

Habib Safillah Akbariski, lahir di Bandung, 10 Juni 1999. Siswa SMAN 1 Pemali, Jl. Soetomo No. 1, Sungai Liat, Bangka, Bangka Belitung.


Habib Safillah Akbariski


Habib Safillah AkbariskiLahir di Bandung, 10 Juni 1999. Siswa SMAN 1 Pemali, Jl. Soetomo No. 1, Sungai Liat, Bangka, Bangka Belitung.

Bergabung dan ikuti social media Habib Safillah Akbariski