11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 631 hits

Puisi-puisi Ahmad Fauzi

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Tragis

Tangis pilu membelah sunyi
Kamboja putih menaburkan duka
Pada aroma tanah menyeruak
Rombongan insan berbusana hitam,
Larut dalam bela sungkawa
Air mata turut meninggalkan luka
Sebongkah nisan berdiri angkuh
Di atas jasad yang  kian rapuh

Perkabungan sakral...
Kabut nelangsa...

Kerumunan pergi
Tertinggal seorang gadis kecil
Tertunduk duka di atas pusara
Airmatanya menghitami bianglala
Jerit kerasnya membelah buana
Menangisi jasad yang teronggok tak bernyawa

Banjarmasin, 1 Februari 2015


Serbuk-serbuk Kenangan

Membentuk rasa
Meremuk ingatan
Memupuk tanya
Menumpuk kerinduan

Banjarmasin, 9 Mei 2015


Malam

Kuseduh malam, kuseduh
Kutuang dalam cangkir kaca doaku
Mengepul panasnya, mengepul
Membubung harum membelai kalbu

Banjarmasin, 9 Mei 2015


No. 1

Serabut doa yang tengah kuanyam, hanya untuk-Mu kupersembahkan.

Banjarmasin, 15 Mei 2015


Mawar Hitam

Rimbun, mawar hitam
Anggun, dalam jambangan

Manis
Merekah
Menawan
Berduri!

Ah, tahu aku di mana busuknya!

Banjarmasin, 4 Maret 2015


Pentas 2

       Sekarang    tersungging

   sebaris   senyummu      Lalu    

                       kau                     

  seri            ngaikan           taring

    setajam    c a k a r          kuku

        K e t i k a          w a j a h

          mu  menyatu bersama

              t                       o

                    p  e  n  g 

                       i  t u

Banjarmasin, 14 Maret 2015


Roman

Kau tanamkan cinta
Pada remah bebatu
Sehingga tumbuhlah
Secuil tunas layu

Banjarmasin,  22 Maret 2015


Dialog Duka (atau Luka?)

Dan desah angin membimbing tangismu ke gendang telingaku. Dalam duka yang mencabik-cabik yang terluka dalam dirimu. Siluet air matamu berkelebat dalam lautan luka, hingga tangismu tercerai-berai seketika.

Biarkan aku menangis...
Biarkan aku terisak...
Seorang
pun tiada yang peduli!

Tak lelahkah kau berkelana, walau kau tahu kau tetap terjebak dalam belantara duka? Telah kau sadari, cintamu bagai malam hilang rembulan.  Kini air matamu masih merobek celah, membentuk oase fatamorgana.

Sungguh, sesak amarah dalam dadaku kian menyayat, serupa duka dan jera yang masih menggema dalam dinding jiwaku yang rapuh....

Cintamu padam, hilang ditelan kabut dusta yang datang membayang-bayang.  Jeram di matamu kian deras dalam bendungan debu kemarau yang ringkih. Menyisakan cahaya samar yang menghalangi pandangmu,  sebagai aurora kelabu.

Mustahil aku bisa memadukan tangisku dalam riuhnya  hujan, di tengah tandusnya kemarau panjang. Membiarkan wajahku terbelenggu untaian airmata, tertimpa sengat sang surya....

Dirimu terpaku dalam intaian mata jarum pencabik luka, meratapi sesal sepanjang jalan. Dirimu berlalu, menggapai bayangmu. Matamu masih sembap biru, dan berurai mutiara semu....

Banjarmasin, 25 Februari 2015


Perjalanan Waktu

aku berlari di jalan waktu
       di sini waktu pekat melekat melumuriku
              mendekap erat tubuhku
                     dengan tiap detiknya jarum jam berjatuh-guguran bersama peluhku
                            menusuk menghunjam rute takdirku
                                   di sini jalanan hening bergeming
di sisiku:   akh, . . . lampu! 
                                              akh, . . . rambu!

        trotoar itu membeku bisu diselimuti debu kelabu
dan redup lampu terus meremang memejam diredam kelam
          juga rambu yang diam memendam makna pedoman
                   Nur:  yang kucari
                           Nur: kan kucari.  Nur,  kemari!
                                    Nur!!! Nur!!!  “kau yang kemari!” Nur bilang

kelam kelabu lampu rambu: setapak kecil di jalan waktu
         Nur kucari, untuk bekal perjalananku
                 aku masih berlari mencari
                        seperti mentari yang memendar gusar diredam kelam
                                dengan tiap detiknya jarum jam berjatuh-guguran dari tubuhku
                                       menerkam-terjang rute takdirku

                --menuju stasiun, di mana kereta Tuhan menjemputku--

kubuka pintu dengan nafas memburu
        di ambang pintu, kudengar jeritan memanggilku
                 di belakang, tampak kenangan berdiri terpaku,
                          sendu...
                                   sambil melambaikan masa lalu...

Banjarmasin, 15 Mei 2015


Doa

Dalam
Oh, rasa yang apa?
Ada terasa

          D.
                     O.
                                 A.

Dengan kedua belah tangan ini
Oleh-oleh hati
Aku kirim kepada-Mu

                                D .
                     O.
          A.

Dikaulah Yang Maha Tinggi
Orang macam aku ini...
Apalah daya, selain memohon... meminta...

                       d.
                                  o.
                                            a.

DOA!

Banjarmasin, Lupa-Mei-2015


Tahajud

  krik...                krik...
          krik...   tik  tik  tik  krik....
     tik     tik  krik...   krik...    tik
         tik     tik      tik      tik
tik     kringngngng.....        kringngngng.....   krik...
                  kringngngng.....     kring,  klak!
     ugh....       mmmm....    z z z z
                                                z z z z
                                               z z z
                                            z z
                                                 z.....

Banjarmasin, 15 Mei 2015


Gerimis Dinihari

Gerimis dinihari
menjamah helai rambut bidadari
merajutnya menjadi selimut
yang dingin
dan gigil

Gerimis dinihari
menikam tajam lebam bumi
menggenangi duka
dengan petala kabut
membasuh nyeri

Gerimis dinihari
mengetuk lirih kalbuku
berkata:
“akulah sang mendung
yang pecah berjuta luka
menjelma kelambu hujan
dan bumikah tempat kembaliku?”

Gerimis dinihari
berhenti mengaduh luka
menjelma genangan kering
pada tengah hari
pergi
jauh
tinggi
ke langit
kembali....

Banjarmasin, 18 Mei 2015


Sesak

Beribu benalu bisu membelenggu lagu sendumu

Banjarmasin, 16 Mei 2015


Ahmad Fauzi


JHON FS. PANELahir di Banjarmasin, 28 Juni 1999. Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Bergabung dan ikuti social media Ahmad Fauzi