11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 369 hits

Sajak-sajak Abdul Warits

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Reinkarnasi Matamu

: Hayati

Di lautan ini, matamu jumpalitan di antara deru gelombang yang menghantam karang-karang. Sesekali disaksikan ikan-ikan yang berkeliaran di antara lokan-lokan. Lalu, desir angin dari selatan menghambur ke binar matamu, menjelma debit-debit rindu pada nanar mataku. Kemudian, meluaplah airmataku dari muara rasa yang dulu kupelihara dalam do’a-do’a, membentangkan rapal mantra asmara dalam gemuruh dada.

Matamu yang teduh menaungi diriku dari terik matahari di pantai ini. Sepanjang petualanganku menyisir tepi-tepi hatimu dengan asa yang semakin binasa. Berharap, aku bisa melintasi duri-duri yang malang-melintang di jalanmu, tempatmu mengalirkan darah beku ke jantungku, setelah bercak-bercak luka meleleh tanpa kendali. Dari derai-derai airmata yang membanjir ke teluk pelupuk, aku dan engkau bagai sepasang angsa yang menelan nelangsa ketika musim pancaroba.

Di lautan ini, harus kukubur debur waktu bersama ambigu yang masih candu. Biar perahu-perahu bermuatan kenangan berlayar membawa siluet matamu, lindap di sanubari paling berseri-seri.

Annuqayah, 2015  


Bukit Lancaran (1)

: Hayati

Di sini, pelan-pelan kuhirup udara dari tetesan embun yang berjatuhan di atas rerumputan. Segar. Orang-orang tampak binar, berlari menaiki jalan tanjakan. Amboi, kulihat gadis-gadis melantunkan simfoni lagu-lagu rindu pada hatiku. Engkau di antara sekian bunga-bunga bermekaran di jantungku. Harum, menyeruak dalam mantraku untuk kusematkan sebagai do’a pada matahari. Supaya semburat sinarnya menyinari pelupuk mataku saban hari. Lalu, membias bianglala ketika hujan airmata melanda kita.

Bukit lancaran, 2015  


Bukit Lancaran (2)

: Hayati

Di sana. Di nanar matamu. Aku memandang pepohonan menghijau. Tepat di hatimu, semak belukar rimbun dengan dedaunan hingga menutup pandangan mataku. Aku tersesat di antara dua lembah curam di jantungmu. Entah, ke mana aku akan berlari mengejar kijang-kijang yang menggelinjang di balik dadamu. Sementara, aku selalu diburu ketakutan-ketakutan ketika akan memasuki hutanmu yang penuh rerumputan. Biarpun, teduh mataku selalu menginginkan wajahmu mengintai dari helai-helai tangkai kerinduan.

Bukit lancaran, 2015  


Bukit Lancaran (3)

: Hayati

Di situ. Di lembah jantungmu. Aku mengarahkan semburat matahari ke urat-urat yang kekar, melilit di hatimu. Biarpun, lambaian dedaunan menghalangi cahayanya menembus mata hatimu. Untung saja, sudah kupersiapkan bianglala dengan beraneka warna sebelum mendung tiba-tiba murung dan menjatuhkan derai-derai hujan yang berkepanjangan. Entah, ketika deras, barangkali mataair airmataku akan mengaliri sungai-sungai. Lalu, terbuang ke selokan.

Bila tetesan embun masih mengalun di rumpun-rumpun rerumputan, masihlah hatiku sejuk memeluk jantungmu. Semata aku ingin berlindung dari ceracau burung di dahan-dahan. Dan terik sinar yang memancar dari gusar asa, menenun segala rasa pada halimun matamu. Sekalipun singgah di lembah jantungmu, aku musti menaiki pelataran yang memanjang. Sementara, di samping kiri-kanan jalan, kudengarkan kegaduhan derik-derik jangkrik. Namun, pelan-pelan aku hiraukan dengan berlari menghampiri sunyi.

Annuqayah, 2015


Debit Rindu

: Hayati

Yang membanjir di lumbung jantungku
Adalah kidung suara manjamu, gadisku
Menderu-deru menghantam temaram hatiku
Dari gendang telinga paling bisu

Bila kembali kudengar suaramu
Sembilu mematung di ujung waktu

Yang mengalir di binar mataku
Adalah liar wajahmu yang berpacu
Menghantar nanar di luar dugaku
Sekalipun jejakmu berlayar pada dangkal asaku

Sekali saja aku berenang di riak airmatamu
Aku tenggelam di antara bayang-bayangmu

Ah, alangkah sumringah desah nafasku
Ketika menghempas nostalgia di kelopak matamu
Menggelinjang ketegangan tatapan
Menjelma cumbu paling tenang

Annuqayah, 2015 


Kemarau di Hatimu

Entah, harus kutafsir berapa lama kemarau panjang yang mengeringkan reranting di dahan pepohonan. Tak seperti dulu, matamu yang rindang di hatiku. Airmata mengalir begitu deras dari desah nafasmu. Membasahi akar-akar rindu di jantungku. Hingga arus sembilu menggiringku dalam syahdu yang kian candu. Setelah cerita suka-cita pernah aku bawa dari hilir ke muara rasa.

Aku tidak mengerti pada segala musim yang bermukim di lubuk hatimu. Kadangkala, ketika hujan menerpa membuat pelupuk mata lapuk atau sejuk seketika bila musim pancaroba bertandang tiba-tiba pada jantungmu. Seperti risau yang selalu kubayangkan dalam pikiran. Kacau, dalam cengkraman merana yang terus melanda.

Bila kemarau di hatimu masih gersang dan kering-kerontang, tak apalah sediakan aku sebilah cangkul yang tajam. Biarkan saja aku menanam melati dan mawar selaku petani yang punya nyali tinggi untuk menghidupi bumi. Agar aku bisa nikmati duri juga asri hatimu yang berliku.

Annuqayah, 2015 


Pertarungan Pelaut

Sekalipun kesiur ombak setinggi tombak, kami bisa menggerayangi badai-badai yang menggelinjang di antara terumbu karang. Selagi kapal perompak bernavigasi bersama khidir dari laut utara ke selatan. Kendati majapahit tak mampu menahan pahit air laut dari maut yang memagut kirana nusantara. Seperti Pram, kami ingin melawan angin-angin yang merangsang bulu kuduk kami untuk menyerang dingin malam hari.

Biarpun dengan birahi yang nisbi, kami bisa membangunkan mimpi anak-anak dan istri. Sambil sesekali memerangi rindu di rahim ibu. Karena bukan rindu yang kami cari, melainkan mutiara airmata ketika sesuap nasi tidak berhasil kami bawa pada anak-anak kami yang berpangku tangan di balik bilik menunggu kiriman jum’at pagi.

Annuqayah, 2015


Hikayat Pagi

Bunda, bagaimana kabarmu pagi ini? Mungkinkah engkau ceria atau bahagia? Barangkali engkau yang mutiara di antara rintik rayu embun juga daun dengan klorofil warna-warni di belantara, di antara bebunga jiwa yang retak, seamsal cerita petak luka peladang mimpi. semuanya terbajak di hati, ketika sunyi harus kusiram sendiri pada sahara asmara. Sebab, akulah pemendam luka dalam semai sepi perjalanan fana. Walau pasir mendesir perih ke sepasang lembab cuaca mataku seusai angin pucat meniupnya ke rimba kalbu.

Selagi masih pagi, aku akan tetap menyalakan denyar fajar ke ceruk dadamu. Kendati engkau matahari yang berarti pada bumi sebelum redup serta telungkup di siang membahana. Aku tak menduga sebelumnya, ada mendung batu di jantungmu yang merobohkan penjara tangisku ke dalam sel airmata.

Jika memang harus siap angkat kaki, aku tiarap, demi harapmu pada kekasihmu yang abadi. Betapa  naif rasanya, mencintai kekasih dengan prahara paksa, monolog kisah Nurbaya.

Annuqayah, 2015


Selepas Aku Membeli Kanvas

Selepas aku membeli kanvas
Akan kulukis paras wajahmu yang sayu
Pada selembar kertas berwarna putih abu-abu
Sejernih hatimu ketika bermanja di depan mataku
Menghiasi setiap detik detak jantungku yang kelabu

Selepas aku membeli kanvas
Akan kuukir kerlip cahaya matamu di hamparan batu-batu
Agar semuanya tak tergilas oleh waktu
Dari hujan airmata yang pernah melunturkan rinduku
Menyelami segala hambur asa di altar jiwa
Ketika tatapan mataku terpaku memandagmu

Selepas aku membeli kanvas
Akan kupajang gemulai tubuhmu di dinding rumahku
Biar orang tahu, aku mencintaimu bermahar rindu
Dengan semayam di kamar yang menikam-nikam gemetar
Setiap kali matamu terpancang di jendela
Melewati pematang yang gersang di mata hatiku .


Risalah Purnama I

            :Queen Qee

Bagaimana kabarmu malam ini, Bunda? Sudah lama aku tidak menjumpai cahayamu di balik jendela. Entah, perihal apa lagi yang akan engkau redupkan pada bumiku. Seusai peristiwa yang menerangi setiap langkah matahari menuju peraduan senja. Sungguh cahayamu menyala di langit hatiku. Kendati siang tetap bertandang dengan garang dalam jiwaku. Ataukah engkau akan meyemburatkan gerhana pada rotasi yang dijalani matahari bersama waktumu saban hari.

Bukankah engkau ingat, malam itu engkau sembunyi di antara awan-awan yang menghitam di langit kelam. Tiada dusta, aku sengaja ingin mengintipmu dari celah batu-batu dengan kepalan angin yang akan kudesirkan untuk mengusir mendung di hatiku juga hatimu. Agar ronamu masih secerah bianglala dalam cekung cakrawala, antara pagiku dan malammu yang menjadi titik temu fatamorgana.

Maka biarkan, Bunda. Cahayamu menyatu di jalanku yang berliku, walaupun semusim rindu merayu tubuhmu yang rapuh dengan deru waktu.

Annuqayah, 2015


Risalah Purnama II

            : Queen Qee

Dengan adanya malam yang menyimpan gemerlap bintang dari sekian kegelapan, Kuukir purnama di wajahmu yang merambat remang ke poros bumiku. Kendati jalan pulang seusai petualang sudah terang oleh sinar kunang-kunang yang melapangkan jalan pertigaan berkelok di puncak pematang. Karena riwayat purnama sudah  selesai aku siasati untuk merangkul purnama baru di jantung waktu.

Demi malammu yang meluruhkan subuhku dengan teduh. Kurangkum fajar di nanar matamu sebagai terang cahaya yang akan berpijar menuntaskan arang di tubuhku. Menjelma matahari yang memendar elegi bumi pada rotasi yang melintasi gersang hari.

Jika suatu saat nanti matahari akan meredup karena polusi udara pagi hari, jangan biarkan embun mengalun gerimis di pucuk daun. Supaya senja tak meretas luka di ujung cakrawala. Oleh sebab itu, berbanggalah pada bianglala yang menenun hari dengan sulam warna-warni.

Annuqayah, 2015


Peristiwa Sepanjang Bentang Waktu 24 Jam

_Pagi

Di kotaku pagi ini, kekasih. Mendung berarak dari fajar yang susup ke jantung matahari, menyapa pagi dengan dengkur kilat yang menjilat dari ufuk cakrawala ke ubun-ubun kepala. Sementara aku di sini, menerjemah embun yang mengalun keras di atas dedaunan kerontang, juga mengamati engkau, dari sekian reranting yang membanting dari pepohonan yang tumbang sepanjang jalanan.

Di kotaku pagi ini, kekasih. Serupa siluet wajahmu yang murung kala kidung asmaraku tembangkan tempo hari  ke ceruk dadamu. Agar jantungmu tak kelu lafazkan asmaku dalam detak untuk memanggilmu dari jauh waktu. Semakin retak hanya untuk sekadar melumat rindu yang menderu dalam kalbu.

_Siang

Aku rangkum rekah senyum ke bibirmu yang ranum. Karena engkau adalah oknum yang dipenjara dalam hatiku. Sama sekali tiada kata yang pantas aku tuntaskan untuk mengadili airmata kita yang sama-sama jatuh dari pelupuk cakrawala. Karena tak ada yang setia selain terik matahari yang menaungi diri dari semburat pancaran pagi hari. Sebab dirimu mempertaruhkan harga diri setengah mati, di antara riuh tepuk tangan orang-orang yang menyuarakan mimpi dalam imajinasi. Sepertinya aku adalah pahlawan yang kesiangan menjemput seorang putri di atas rel kereta api, berlalu pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali dalam titian yang yang memuai.

_Sore

Dari ufuk timur ke ujung barat, kita merakit mimpi lewat rotasi, tidak akan ada aral yang menghalangi perjalanan matahari selama bumi setia berputar, memutar waktu di porosnya sendiri, karena surya yang kita tata semata-mata hanya yojana antara cakrawala, bumiku dan langitmu yang menjadi titik asteroid. Namun begitu, kita tak pernah sadar burung yang hinggap di dahan pepohonan telah bubar, meninggalkan keramaian, menyisakan kenangan, dan kembali ke sangkarnya, tempat yang dianggapnya paling tepat untuk bertukar kasih juga sayang sebelum lelap senja benar-benar raib, tertelan oleh hari ke puncak maghrib yang sepi.

_Malam

Hari mulai malam, kekasih. Petang merambat kelam. Di matamu purnama menyala sebagai satu-satunya cahaya yang menerangi mata hati, kelopak mata sepanjang hari, siang, sore, dan malam hari. Tetapi tak pernah kekal di jantung waktu, karena denyarnya remang-remang purnama di kala  siang bertandang. Tidak dengan malam ini, kekasih. Kau sempurna dalam temaram sinar kunang-kunang meski sejauh mata memandang kerlip bintang tak sebanding dengan kerling yang memancar dari permukaan rembulan, membias nanar lalu pudar pada daun lontar yang melambai demi melepas kepergianmu ke langit malam sebagai bidadari yang menjelma, menemani kunang-kunang terbang.


Abdul Warits


Abdul WaritsLahir di Grujugan, Gapura, Sumenep, 7 Maret 1997. Siswa MA Tahfidh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Penyisir Sastra Iksabad (Persi).

Bergabung dan ikuti social media Abdul Warits