23 Juli 2016 | Kaki Langit - Puisi | 717 hits

Puisi-Puisi M Ibrahim

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

PEREMPUAN HUJAN

Lewat nyalang matamu
Tasbih matahari memulangkan pagi
Lewat aroma tubuhmu
Februari memuntahkan hujan
Di sini, upacara kerinduan kulayarkan
Sesudah api mengajari sepi.

2014

 


SANDAL JEPIT

Tanpa kehendak
Kami dilahirkan berpasangan
Bercak-bercak warna di tubuh kami
Warna yang terkadang tidak kami sukai
        Tahu-tahu...
Kami merindukan gerak bukan dari tubuh sendiri
Gerak dalam hidup sebagai bukti bahwa kami memang serasi.

2014

 


UPACARA SEBUAH NAMA (ACC)

Aina     

Di pojok april aku temukan namamu yang ramai
Di dalam kamar aku mengeja namamu penuh damai.

2014

 


KEPADA PUISI AKU TITIPKAN

Kepada puisi aku titipkan segala dunia
                                                                       Karena setiap dunia keadaannya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala benda
                                                                       Karena setiap benda ukurannya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala hari
                                                                       Karena setiap hari bergantinya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala malam
                                                                       Karena setiap malam petangnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala tanah
                                                                       Karena setiap tanah tanamannya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala air
                                                                       Karena setiap air sejuknya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala api
                                                                       Karena setiap api panasnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala dingin
                                                                       Karena setiap dingin gigilnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala wajah
                                                                       Karena setiap wajah bentuknya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala mata
                                                                       Karena setiap mata melihatnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala tangan
                                                                       Karena setiap tangan geraknya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala telinga
                                                                       Karena setiap telinga mendengarnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala kaki
                                                                       Karena setiap kaki melangkahnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala fikiran
                                                                       Karena setiap fikiran jalannya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala hati
                                                                       Karena setiap hati niatnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala nadi
                                                                       Karena setiap nadi denyutnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala nyawa
                                                                       Karena nyawa bertahannya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala gerak
                                                                       Karena setiap gerak lakonnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala suara
                                                                       Karena setiap suara pesannya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala suka
                                                                       Karena setiap suka usahanya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala derita
                                                                       Karena setiap derita rasanya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala cerita
                                                                       Karena setiap cerita maknanya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segala doa
                                                                       Karena setiap doa inginnya tak sama
Kepada puisi aku titipkan segalanya
                                                                       Karena segalanya tak mesti aku punya

2014

 


JALAN YANG BERLARI

Pria selalu punya cara untuk menghadapi luka

Aina, dunia begitu pintar memilih warna yang cocok untuk semua benda. Ada hijau, merah, biru, ungu, hitam, kuning, putih, coklat yang berlainan tugasnya. Aku baru bisa menyadari itu di kota kita, Aina, setelah malam kehilangan petangnya. Membuat syair-syair rindu semakin nakal saja mencari jalannya. Aina, kita masih meyakini bahwa Tuhan begitu pintar untuk selalu bersembunyi, barangkali karena itulah aku lebih suka memilih menulis puisi untuk sekedar menikmati dunia yang berwarna dan begitu pula berwarni.

Lubangsa Selatan, Januari 2014

 


NABILI

Nabili, setiap hari kau mengajari aku untuk selalu mesra dengan kemarahanku sendiri, sedang memandang wajahmu sama halnya dengan membaca kalimat-kalimat puisi yang tak mampu aku tafsirkan, dan setelah mengenalmu aku baru menyadari bahwa pahit dan manis bukan hanya terletak dalam secangkir kopi, nabili.

2014

 


NARASI BUKIT PAYUDAN

Kami hidup dalam lingkaran bukit, bukit payudan yang menenteramkan. Kami tidur bersama batu-batu hampar, pohon-pohon kaktus, semak-semak belukar. Semuanya, mengakar dalam tubuh kami. Kami tidak lupa menitipkan hujan pada akar pepohon. Akar yang sabar menjaga tanah kami agar tanah tidak kerontang bila kemarau datang. Dibiarkannya, daun-daun menjuntai leluasa memainkan dahan. Menghijaulah segala pandang, suburkan segala harapan. Tetapi keindahan alam belum menyelamatkan kami dari kemelaratan hidup. Kami dipaksa merenovasi Bali: mencintai yang bukan tempat kelahiran sendiri. berangkatlah kami setelah mengenal kutuk. Kutuk yang diberikan tuan kami sendiri. Tuan yang hanya mengenal manipulasi serta korupsi dalam melindungi kami.

2014

 


PELARIAN

Ayo, liarkan pelarianmu secepat mungkin, seliar angin topan di musim kemarau, angin yang sepenuhnya melupakan arah pulang, rantaukan keliaranmu pada dadar daun, pelepah nyiur atau pada apa saja yang mampu kau bawa, semoga keliaran itu tidak sempat mengantarmu pada kesimpulan: bahwa kesetiaan angin bukan hanya pada satu musim.

2014

 


IKHTIAR

Bisakah kita berjalan seirama bukan dalam bait-bait puisi saja, Aina. Setelah kita mencipta banyak kesibukan sendiri-sendiri, tanpa kemungkinan-kemungkinan. Masihkah ingin kita seutuh dahulu, Aina? Sewaktu kau hanya ingin mengenal namaku dalam menyusun nama-nama. Bekal sebelum bertemu, katamu. Bila bertemu kau tidak pernah melewatkan namaku dalam kalimat-kalimat sapaanmu waktu itu. Wajahmu begitu lugu dalam pandang. Sementara aku di sini, sengaja memasukkan namamu paling depan dalam barisan-barisan ingatan. Biar setelah itu, rindu tidak mudah aku layarkan pada lain perempuan.

2014

 


BIARKAN

—Untuk penghuni rumah puisi, blok­b/05

Biarkan, biarkan kami hidup dalam anggapan kegilaanmu. Dan pada setiap rusuk waktu kami akan bertafakur pada anggapan kegilaan itu, sambil berdiam khusuk menertawakan kewarasanmu sendiri yang tidak mampu kau hargai. Kami berbunga hidup, penuh dengan anggapan kegilaan, kegilaan yang mampu kami tafsirkan pada setiap jengkal nafas. Maka bersiaplah menikmati kegilaan kami pada puisi

2014

 


SEMAR MESEM

Layumitu ha’illah. Mari kita goreng mantra-mantra pengasih, aduk bersama air liur anak yatim, sebelum lelaki melafalkan dusta dalam menawarkan cinta pada setiap wanita. Sebelum kegilaan sulaikha benar-benar tercipta untuk kedua kalinya.

Tak ada tanda yang dapat kubaca! Setelah januari tirakatkan rahsianya pada penghujung kalender, bulan desember. Kau bilang, kembang semar mesem bermekaran di bulan ini. Kembang semar mesem tumbuh bukan pada sembarang bulan, bukan  pada sembarang pekarangan, bukan juga pada sembarang gagang. Harumnya, seharum gairah penganten pertama. Bermekaran tanpa kuncup, tanpa selaput.

Mantra apa yang paling licik ketimbang mantra pengasih, kekasih? Hujan memang telah lama menyalami rukuk tetumbuhan di halaman rumah. Tetapi alamat bunga itu belum aku ketahui. Maka dengan bismillah kucari, karena bisaku cuma mencari. Mencari letak kembang semar mesem mulai dari tempat yang biasa aku tempati. Tapi yang dicari tak kutemukan. Aku membolak-balik meja. Tak ada. Aku banting toples, cangkir, piring, semua perabot dapur. Tak ada.

Tak ada mantra yang tepat kuucap? Aku lelah dalam pencarian sendiri, lelah aku mencari celah yang mampu mengajarkan tidak kalah atau menyerah pada kelelahan sendiri. Aih, celah kelelahan membangun bukit kembang yang kucari. Aku potong batangnya, aku titipkan kelelahanku pada keharumannya. Kunfayakun serbuk kembang semar mesem aku tanam tepat di jantungmu. Berharap di penghujung cerita kita, kembang semar mesem bermekaran sebagaimana biasa. Bermekaran seperti apa yang kuminta. Bermekaran dalam bahasa.

2014 

 


MENULIS PUISI

Barangkali kau tidak perlu mengerti kenapa aku mesti memilih menulis puisi, Kekasih. Aku hanya lebih suka menulis puisi, meski puisi tidak begitu aku pahami. Barangkali kita tidak perlu benar­benar mengerti tentang puisi, Kekasih. Puisi hanyalah kata­kata yang tidak pernah memilih siapa pembaca yang mesti menikmati. Aku pun tergila­gila menulis puisi sesekali meyakini ada yang berarti dari puisi meski tidak kita pahami.

2014

 


PASONGSONGAN

—Maniro Af

Entah, berapa kali sudah  januari mengingatkan kita pada sebuah pertempuran kenangan. Di mana menginap di rumahmu serasa mendiamkan imaji dalam puisi. Sesekali malam menuntun kita menjelma burung gagak jantan yang menguber mangsa dalam angan. Aku menangkap nama-nama nakal yang belum aku kenal. Kotamu, kota riuh yang alami, mengingatkanku pada sejarah penciptaan sebuah puisi.

2015

 


PANGKALAN IKAN

Pasongsongan

“Perahu dicipta bukan hanya untuk melaut saja”. Niat kami suatu waktu sebelum membuat perahu. Bila angin selatan benar-benar datang, dialah angin yang mengajari kami berbagi maut dengan ikan. Dan sewaktu matahari setinggi tiang, ikan-ikan terbang di kening perempuan.

Di kota persimpangan ini, tidak ada yang berubah semenjak kepulangan kami dari sekolah. Kibar sarung kami berbaur amis ikan. Dan dari kejauhan asin laut, kami lebih dulu mengakrabi Tuhan. Membawa perahu-perahu dengan tawakkal sepi di pangkalan. segala wudu kami  menepi dalam badan.

: Sembahyang.

2015

 


M Ibrahim, ketua OSIS SMK Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, priode 2014-2015. Bergiat di Lesehan Sastra Annuqayah.