Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Mengirim Surat

Aku telah menelusuri lorong-lorong beraroma beku yang kau sebut hati itu. Menyeduh panas dengan bait-bait yang bagimu tak pernah genap. Takdir selalu tersurat, katamu. Dan takdir kita adalah temu yang bernafaskan sekat.

Itu tak masalah, bagiku.
            : aku akan menyurati takdir.

 


Belajar

Lewat sayup-sayup rahasiamu, kau akan belajar mencintai segalanya. Kau akan mencintai petir, getir, juga setangkai bunga kamboja yang menua di sela-sela kisut rumahmu. Kau akan merayakan sakit, mensyukuri sedih, dan gempita menyambut oditur yang membawa surat berstempel takdir.

Kau akan mencintai kematian.

 


Menjadi Perspektif

Surat cinta boleh ditulis oleh jari di deretan tuts-tuts piano yang kehilangan nada
Surat cinta boleh ditulis oleh bahasa yang setia mengkhianati aksara
Surat cinta boleh ditulis oleh arah yang kehilangan peta
Surat cinta boleh ditulis oleh penyair yang tidak bisa membedakan tinta dengan airmata
Surat cinta boleh ditulis oleh hati yang tidak pernah merasakan cinta

Maka dari itu, aku ingin menjadi surat cinta.
Tidak. Aku ingin menjadi perspektif.

 


Saksi Mata

Kata laut tadi pagi, kau menjelma saksi buta pembunuhan seorang nahkoda. Tragis, nahkoda mati dengan senyum setengah tangis. Ditemukan guratan luka di lehernya, berwarna merah, dengan pemandangan musim gugur yang kau suka. Tak ditemukan barang bukti apa pun, hanya bayang-bayangmu yang tak tanggal walau matahari telah menenggelamkan diri.
Aneh.
Apa kau tahu siapa pelakunya?

 


Kepada Abadi

Aku ingin melabuhkan lekuk-lekuk lapukmu,
di dasar pagi yang kalah perang.
Aku ingin melarungkan kutukan ayat-ayat tuamu,
di dalam takbir yang gelisah.
Aku ingin menjelma entinem tanpa majasmu,
di headline surat kabar yang kehabisan tinta.
Aku ingin menghidupkan kematianmu,
di tangkai teratai yang membenci air.

 


Aku Tidak Pernah

Aku tidak pernah mengajarimu menangis
Aku hanya tidak bilang, mata pisau adalah tabu,
              apalagi untuk hatimu yang ragu.
Aku tidak pernah mengajarimu menangis
Aku hanya tidak bilang, berhati-hatilah dengan duri,
              ikan-ikan kini tak tahu diri.
Aku tidak pernah mengajarimu menangis
Aku hanya tidak bilang, membunuh bayang-bayang
              sama sulitnya dengan menolak kenangan.
Aku tidak pernah mengajarimu menangis
Aku hanya tidak bilang, jangan terlalu lama memelihara sepi,
              bahkan hati sekokoh baja itu bisa teriris.

 


Nabila Cahyawati Santosa, alumnus SMP Negeri 6 Yogyakarta, dan kini siswi SMA Negeri 9 Yogyakarta, Jalan Sagan 1, Yogyakarta. Puisi- puisinya bisa dilihat di blognya: nblcs.blogspot.com.