Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Daun di Musim Gugur

Daun itu jatuh seperti airmata
yang luruh tanpa kehendak pohon
tak diacuhkan matahari yang tak pernah peduli
pada asa yang terus berguguran tanpa henti
mungkin ini hanya kepasrahan
pada kemurungan senja
di sudut malam yang panjang

Di manakah cinta akan berlabuh?
Sedang kapal-kapal berlayar ke negeri luka
yang terus menyisakan tangis
di dahan-dahan kering yang berserakan
mengurai kenangan dari daun-daun di musim yang patah.

 


Yang Tak Lagi Sama

Senja mengayun perlahan
Seperti kerapuhan pada dahan-dahan
Pohon yang terus kekeringan
Bahkan untuk merajut harapan
Pada bola mata yang selalu terbayang kenangan

Hatiku meraba dan terus merasa
Bahwa senjaku tak lagi sama
Membekas dalam bayangan masa
Yang aku tak tahu kembali ke mana
Mungkinkah ini pelarian hati akan cinta?

Di hatiku ada rindu pada matahari
Yang tenggelam sembunyi-sembunyi
Di balik mata yang memandang sunyi
Tak lagi mampu mendapati
Satu sosok penjaga rinai hati

Ini hanya sebuah surat dari hati yang tergugu
Kepada senjaku
Yang tak pernah sama seperti dulu.

 


Bunga Luka dan Airmata

Ada luka bekas semalam
yang menangis di daun-daun
membasahi kelopak pagi
sedang ia masih tersenyum
dengan kabut menyelimuti tiap rekahan mulut

hingga airmata itu terus menggumpal
menyeringai kaku seperti sunyi di sudut-sudut malam
mungkin asa tak pernah berhenti mencari
harapan yang menari di antara langit-langit kepala

Mengapa cinta selalu berlumur duka?
dan bunga itu terus membusuk dalam dada
bersama darah yang terus mengucur di hatinya.

 


Seraup Pagi Bersama Ayah

Masih kulihat letih itu
Di antara untaian doa yang tergugu
Bersama keringat dalam ikhtiar cinta yang tak pernah berlalu
Demi semua nafkah yang menunggu

Seraup pagi bersama ayah
Tak usah kenal lelah
Sedang matahari masih cerah
Dan air mata bunda masih terbuai dalam sujud yang selalu basah

Tangan rentanya terus menyapa
Keluhnya tak pernah menatap mata
Kegigihannya selalu membumbui asa
Hanya demi anak-anak mendapatkan apa yang layak untuk mereka

Matahari masih membakar
Semangatnya tentu juga berkobar
Tak peduli tubuh sudah tua melingkar
Asal anak-anak dan istri tidak merasa lapar

Hari semakin senja
Setidaknya itu di matanya
Yang terlalu penat untuk merasa
Sedang jiwanya belum puas untuk terus berjuang saja

Kulihat ayah masih ingin memandang
Pada senja yang selalu mengundang
Masa tuanya sudah datang
Namun ia tetap berdiam seperti bunga di padang

Seraup pagi bersama ayah
Kau tak ingin berhenti sejenakkah?
Tubuhmu terlalu banyak bekerja sudah
Namun engkau masih enggan tanpa pasrah

Ayah ingin terus berjuang
Katanya di setiap malam yang panjang.

 


Dia Adalah Wanita

Dia
Adalah wanita
Yang dikecewakan takdir
Dan terampas hangatnya
Oleh kebekuan airmata

Dia
Adalah wanita
Yang bersemu merah
Namun menghitam
Seiring cintanya yang meluka

Dia
Adalah wanita
Yang bersandar rikuh
Pada bahu-bahu pohon yang rapuh
Di mana ada kekuatan berduka di sana

Dia
Adalah wanita
Yang matanya dialiri sungai-sungai
Tangisan ikan-ikan

Dia
Adalah wanita
Yang di dadanya menggelendot mungil
Dan mendapati hati meretak
Seiring waktu yang mengejek

Entah

Dia
Adalah wanita
Yang selalu takut
Jika permata kecilnya bertanya
Dari mana awan hitam tempat hujan abadi ini berasal?

 


Qatrunnada Hulwah adalah nama pena Nurul Hikmah. Lahir di Banjarmasin, 21 November 1999. Siswi SMAN 1 Sungai Tabuk, Jl. Gerilya, Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan.