24 April 2017 | Kaki Langit - Puisi | 258 hits

Puisi-puisi Alfian Fawzi

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
Puisi-puisi Muhammad de Putra

17 April 2017 | Kaki Langit - Puisi | 658 hits

Puisi-puisi Muhammad de Putra

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

Asap Riau Tengah Berduka

: Mengenang Masa-masa Kejayaan Kabut Asap

Seperti Bukit Barisan yang tak pernah berhenti berkedip
mencari noktah rimba dan pohon-pohon yang tak bisa bergerak
dan terbakar. Aku pun melihatmu dengan mata telanjang,
menatap dan membawamu pada kusut kabut
seluruh tubuhmu yang elok
yang sama-sama menenggelamkan kita.

Aku tak pernah tahu di mana letak luka
yang mendarat tepat di ujung bukit ini,
di mana kesedihan hanya kegelapan
yang memerahkan mata.

“Aku biarkan kau mengucek kelopak mata.”

Aku bayangkan batang-batang pohon
di perutmu itu mati dan tak bisa tumbuh lagi.
Harimau-harimau Sumatera tak lagi mendiami,
dan di malam hari dalam kesendirian
kau hanya bisa berdoa pada awan-awan.

Engkau akan rapuh, tumbang dan hancur.
Menangis dalam diam,
satu per satu tubuhmu kehilangan keseimbangan
dan terbawa oleh orang-orang.
Senyap, tak ada suara selain patahan-patahan batang,
ranting yang berteriak,
kayu-kaya terpotong dan jatuh,
dan alam terbakar.

“Asaaap.”

Bukit Barisan kini hanya diam
dan berpindah tempat tinggal.
Kau sendirian dan abai.
Aku pun menjauh darimu,
dengan mata merah,
aku tak pernah kembali hingga air matamu
benar-benar menghilangkan semua asap kesedihan ini.

2016


Pulau Tongah dan Ketenggelamannya

Di pulau Tongah, tak ada bintang malam ini. Langit tengah biru padam
dan hujan sedang meneteskan air mata. Doa-doa nelayan tak terkabulkan
saat menghadapi musim penghujan, pulau Tongah tenggelam dan aku
hanya bisa menangis di atas  pohon mangga sambil menangis mencari ayah,
amak dan ikan-ikan yang tenggelam entah di mana.
Pulau Tongah dan rumah hilang tiba-tiba.

2017


Dondang Budak Puisi

datuk, kami budak-budak puisi yang berdondang
di bawah lampion megah
puitislah kata-kata kami
yang tumbuh subur di tepian sungai
tepatnya di samping sampan.

suara kami memenuhi gema
memecah gelas kopi malam hari
hitam kopi pun bersatu, dengan wajah kami
yang samar oleh asap-asap
bekas bakar ikan-ikan sebesar toman,
toman juga memekik
bersatu dengan kami yang berusaha
meleburkan gelas malam.

subuh pun tiba,
entahlah kami berada di mana
kami budak-budak puisi
yang berdondang di tempat sama
namun di sampan yang berbeda
teh mengalir di tenggorokan puisi
ya itulah, kami
budak-budak puisi.

datuk, serentak-rentak berbudak-budak puisi
menatap hijau tepian sungai
mengalir hijau pohon di lubuknya.
tangan kami mengelus-elus kuning surya
bersenandung-bersarung dinamika.

tubuh kami pun beranjak dari tepian sungai
sambil berdondang kami pulang
Tuk beri kami inspirasi kalimat puisi.

kami akan kembali
dengan dondang berikutnya.
2016


Cerita Anak Bakau yang Berkeliaran di Bandar Bakau Dumai

di gerbang Bandar Bakau Dumai,
selalu tercengang mataku.
terbayang serupa pelabuhan
yang menjadi tetangga
dalam keluasan mata
dan bakau menjadi malam
yang berkunang,
ah bukan agas.

kelam terbayang
menjadi bayangan hitam
di permukaan lumpur.
mungkin aku akan terbayang
tentang kapal tua, kapal kayu
yang terapung antara mata
dan ombak yang berpusar di alis.

ke mana ujung bakau ini akan tumpang?
hutan Mangrove tak terkira.
seperti angan yang tak mudah berkeliaran
seperti ular bakau yang tak takut pada garam.

di manakah anak bakau akan tumbuh?
kami ingin tenang
tanpa ada guncangan
sang pantai maha landai
pun yang tak terjumpa satu arus.

tangisan anak bakau
tak reda dalam hati kami yang redam.
pelabuhan dan orang-orang darat
telah menjadi sekutu
untuk mengusir batang kami
yang bercabang antara kaki mereka.

semenjak itu tubuh kami yang kecil,
berusaha menjadi dewasa. menjadi lebih kuat:

jangan lagi lumpur kami
kautumbangkan akar-akar,
kami sempat menjadi korban kerobohan
yang terendam oleh dendam
yang berkobar.

lumpur kami tak lagi suci
batang kami tak lagi suci
akar kami tak lagi suci
akankah kami juga suci?

sepasang moyang kami
yang tak pernah kaubiarkan kokoh,
tengah sakit dan sebentar lagi akan mati.
terjerembab antara lumpur kering.
keharuan yang tak bisa dibendung
oleh hanya menjatuhkan daun-daun.
menjadilah mereka bakau
yang terapung di tepi pantai. semakin hari,
semakin terapunglah mereka ke tengah laut.
bertabrak kapal tua dan kapal kayu.

teman-teman kecilku
di bawa oleh orang-orang darat entah kemana.
heeei laut kautahu mereka di bawa kemana?
tunjukkan padaku,
agar akar bercabangku akan melukai kaki mereka.

sahabatku juga terluka,
akarnya dipotong saat melihat ayahnya dirobohkan.

Ibu, kakak, dan adikku
terlebih lagi lebih berduka,
mereka saling melukai hati,
melukai tubuh sendiri.

Kami anak-anak bakau
yang bermuasal dan tumbuh
di Bandar Bakau Dumai ini telah bercerita.
Kami menunggu langit
akan membunuh kami satu per satu.
Kami sangat ingin berkeliaran
seperti anak-anak Sekolah Alam
yang telah jauh merasa bahagia.

Inilah cerita kami.
Datanglah! Datang ke Bandar Bakau Dumai.
Cabutlah akar kami satu per satu.
Hingga suatu ketika agas dan lumpur
akan mengutuk kalian menjadi
anak-anak bakau yang segera tumbang.

2016


Muhammad de Putra lahir 25 Mei 2001. Siswa SMPN 6 Siak Hulu. Memenangkan beberapa lomba, di antaranya: Juara 1 Lomba Menulis Puisi pada Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN) di Jakarta (2016), finalis sekaligus pemenang 3 Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia di Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI) di Jakarta (2016), juara 1 Lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia, dan Juara 1 Lomba Menulis Puisi se-Indonesia dengan tema “Cinta Tanah Air” (2016). Karya-karyanya dimuat di laman Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Lampung Post, Lombok Pos, Radar Surabaya, Tribun Jabar, Batam Pos, Solo Pos, Singgalang, Medan Bisnis, BASABASI.CO, Haluan, Sumut Pos, Majalah Kanal, Rakyat Sumbar, Apajake.com, Tanjung Pinang Pos, Metro Riau, Xpresi Riau Pos, Literasi.co.id, NusantaraNews.co, Tribun Bali, Koran Riau, Tribun Sumsel, Radar Banyuwangi, Koran Madura, Posmetro Prabu, Majalah Kanal, Buletin Jejak, Read Zone.co, Xpresi Magazine, Riau Realita, Tetas Kata, Sayap Kata, Detak Pekanbaru dan Sudut Aksara. Puisinya juga dimuat dalam banyak antologi Merantau Malam, Pasie Karam, Pada Mula Hidup yang Lama, 1550 MDPL, Negeri Awan (Negeri Poci 7), Tera Kota, Melankolia Surat Kematian, Secangkir Sajak Surgawi, Teruntuk Pak Polis, Mengunduh Ikan-ikan di Tubuh Ayah, dll. Diundang pada acara sastra Silaturahmi Penyair Sumbar-Riau pada Malam Puisi Tahun Baru (2015). Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit: Kepompong dalam Botol (Penerbit Meja Tamu, 2016), Kumpulan Cerpennya yang telah terbit: Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan (Pena House, 2016). Buku kumpulan puisi tunggalnya yang ke-3: Hikayat Anak-anak Pendosa (2016).
Khaliq Khamza

11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 484 hits

Sajak–sajak Khaliq Khamza

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
Habib Safillah Akbariski

11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 507 hits

Puisi-puisi Habib Safillah Akbariski

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
Puisi-puisi Ahmad Fauzi

11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 435 hits

Puisi-puisi Ahmad Fauzi

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
Sajak-sajak Abdul Warits

11 Desember 2016 | Kaki Langit - Puisi | 408 hits

Sajak-sajak Abdul Warits

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

23 Juli 2016 | Kaki Langit - Puisi | 697 hits

Puisi-Puisi Qatrunnada Hulwah

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

23 Juli 2016 | Kaki Langit - Puisi | 1074 hits

Puisi-Puisi Nabila Cahyawati Santosa

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

 

23 Juli 2016 | Kaki Langit - Puisi | 761 hits

Puisi-Puisi M Ibrahim

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

 

22 Juli 2016 | Kaki Langit - Puisi | 999 hits

Puisi-Puisi Habib Safillah Akbariski

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang