Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Oleh Sastri Sunarti

A.  Batasan Katrologi

Pembicaraan terhadap karya Pramoedya yang ditulisnya semasa berada di pulau Buru yakni Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1981), dan Rumah Kaca (1986) dan selanjutnya disebut sebagai katrologi mengikuti istilah yang digunakan oleh Apsanti Djokosuyatno (2004) tidak pernah selesai dilakukan. Disebut katrologi karena keempat karya memiliki hubungan yang ketat, keutuhan narasi dan naratif dalam arti;  tokoh, ruang, dan waktu mempunyai kaitan-kaitan yang kuat dan alur disatukan oleh tema yang erat.

Meski sudah banyak tulisan yang membahas katrologi Pramoedya ini, seperti yang pernah ditulis oleh A. Teeuw (1997), Tineke Hellwig (2003), Apsanti Djokosujatno (2004), Sudibyo (2007), Razif Bahari (2007), dan  Carl Niekerk (2011), tetap saja katrologi ini memiliki daya tarik dan menyimpan berbagai kemungkinan yang dapat didedahkan melalui pembacaan yang teliti (close reading). Sebagai teks sastra maka katrologi ini adalah teks yang terbuka. Memiliki beragam kemungkinan penafsiran yang dapat dijelaskan kembali.  Dengan kata lain, menurut Jacques Derrida (1974) bahwa tidak ada penafsiran  definitif terhadap satu teks karena teks tidak mempunyai asal-usul yang pasti, identitas, atau penutup. Alih-alih memberikan sebuah definisi, Derrida menyarankan bahwa sebaiknya membiarkan teks itu tetap terbuka dan tidak buru-buru mengatakan bahwa inilah makna sebenarnya yang tunggal dan ahistoris yang berlaku universal, kapanpun, di mana pun, dan oleh siapanpun.

Sebagai teks yang terbuka, katrologi ini juga dapat dibaca dan ditafsirkan dalam beragam cara  dan memiliki banyak pintu untuk dimasuki. Salah satu pintu masuk itu adalah persoalan multikultur yang menjadi satu tema besar yang muncul dalam katrologi ini. Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan, serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lubis, 2006:174). Multikulturalisme juga berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu. Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk, organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (Parekh, 1997).

Keragaman suku bangsa dan etnis yang menjadi tokoh cerita dalam katrologi Pramoedya adalah representasi  multikulturalisme dan pluralitas masyarakat di Hindia Belanda pada masa itu. Keragaman suku bangsa  itu dapat dilihat dari kehadiran masyarakat pribumi, Tionghoa, Jepang, Indo-Belanda, Perancis, Inggris,  dan Eropa Totok  yang digambarkan dengan konsepsi mereka mengenai dunia, sistem nilai, organisasi sosial, sejarah, dan adat kebiasaan seperti yang disampaikan Parekh (2008) di atas. Mulai dari Bumi Manusia sampai Rumah Kaca, tokoh dari berbagai etnis suku bangsa silih berganti hadir. Penggambaran tokohnya sangat beragam dan berlapis-lapis; mulai dari Nyai Ontosoroh sebagai pribumi yang belajar secara otodidak hingga Minke sebagai pribumi yang terdidik secara Eropa akhirnya menjadi musuh yang harus ditaklukan oleh tuan peradaban Eropa yang memberinya pencerahan dan ilmu pengetahuan. Juga dilematis anak-anak Indo seperti Robert Mellema, Robert Suurhof, dan Annelies merepresentasikan kepribadian yang terbelah dan kegamangan psikologis.

Dua bagian awal katrologi ini menurut Teeuw (1997:248) merupakan balai potret yang mempesona tentang  beragam-ragam manusia di Hindia-Belanda sekitar tahun 1900: Belanda, Indo, Cina, seniman Perancis, pelacur Jepang, dan terutama orang Indonesia dengan tokoh sentral Minke. Dialah yang kita lihat tumbuh dari anak sekolah berlagak berani menjadi pemuda yang diwisuda oleh kesedihan dan kepahitan; dari tunas muda priyayi yang berprivilese menjadi nasionalis yang dianggap berbahaya; dari pengagum buta Eropa sebagai sumber segala ilmu pengetahuan dan hikmah menjadi korban dan pelawan ketidakadilan; dari tukang cerita naif tak terdidik menjadi wartawan yang sadar akan ideologi; dari pemakai bangga bahasa Belanda sebagai alat komunikasi menjadi pencipta bahasa Melayu sebagai alat perlawanan pribumi untuk kebebasan.

Sudibyo (2007:5-6) memandang katrologi Pramoedya ini sebagai novel historis nasionalis karena memenuhi kriteria kontrol, pembentukan diri, dan pemberian bentuk. Ia melihat sejarah dalam katrologi ini tidak dipaksakan sebagai sesuatu yang berasal dari luar melainkan sejarah adalah hasil interpretasi kreatif dari dalam. Bangsa terjajah yang semula ditempatkan dalam periode sejarah awal yang membeku dalam waktu, tempat, atau dalam alam yang tunakala (the realsm of timeless) akhirnya berhak memperoleh akses terhadap temporalitas. Katrologi ini juga memiliki perhatian yang luas terhadap persoalan antarbangsa dan penolakan terhadap lokalitas, etnosentrisme, serta entitas kultural yang sempit sebagaimana diperlihatkan oleh tokoh-tokoh penting dalam cerita seperti Minke, Nyai Ontosoroh, Magda Peters, Miriam dan Sarah de la Croix, Jean Marais, Kommer, Ter Haar, dan bahkan Pangemanann ditampilkan sebagai sosok yang kosmopolitan dengan pendidikan, keluarga, dan pergaulannya yang serba berasal dari budaya Prancis.  

Itulah sebabnya kita tidak bisa memberikan penilaian yang simplistis ketika membaca penokohan dan semangat multikultural dalam katrologi Pram ini. Perlu dilakukan analisis teks yang berbasis kultural dalam mencermati persoalan-persoalan yang disampaikan. Pangemanann misalnya, tidak digambarkan sebagai seorang tokoh yang sama sekali busuk dan jahat ketika berhadapan dengan Minke yang naif dan philogynik. Sebagaimana pernah disampaikan oleh  Teeuw (1997:268) berikut ini:

Sekaligus roman ini tetap manusiawi. Minke dan Pangemanann bukan tokoh hitam putih, pahlawan ideal, dan bangsat yang jahat. Kedua-duanya ada kelemahannya dan sifat-sifat baiknya. Keduanya penyangsi, penuh keraguan. Keduanya tahu mereka gagal, tidak berbuat apa yang seharusnya dibuat dan melakukan yang seharusnya diharamkan. Pangemanann juga lebih bersifat tokoh tragis daripada penjahat. Padanya bukan tak ada kesadaran akan yang baik dan yang jahat, bukan tak ada kemanusian. Tetapi justru orang yang mempunyai niat baik, yang mengakui nilai-nilai moral dalam hidupnya dan yang tetap melihat lawannya sebagai manusia, tak dapat tidak akan musnah kalau ia membaktikan hidupnya pada sistem yang pada hakikatnya salah dan terkutuk.

Teeuw (1997) dalam tulisannya di atas mencoba memberikan pandangan yang seimbang kepada kedua tokoh utama dalam Rumah Kaca ini.  Bukan Pangemann yang sama sekali busuk atau Minke yang sama sekali gagal menjadi tokoh pahlawan dalam novel ini, tetapi sistem yang busuklah yang menjadi penyebab segala kekacauan sosial dalam keseluruhan narasi. Demikian juga Minke sebagai tokoh utama dalam katrologi ini tidak serta merta menjadi nasionalis tulen. Mula-mula ia berjuang melepaskan diri dari kungkungan tradisi priyayi Jawanya dengan menjadi seperti Eropa; berpendidikan Eropa, bicara dalam bahasa Belanda, dan berpakaian sebagaimana orang Eropa, dan menolak adat tradisi raja Jawa yang mengharuskan orang lain duduk merangkak berdatang sembah ke kaki raja. Perkenalan Minke dengan berbagai lapisan masyarakat dan suku bangsa ikut menumbuhkan kesadarannya tentang kesetaraan, kemerdekaan, setelah melihat dan mengetahui kebangkitan bangsa-bangsa di luar Hindia Belanda.  Sebagai sebuah narasi, katrologi ini sangatlah utuh dan kuat jaringan strukturnya meski kadang masih banyak lacune “lubang-lubang” yang ditinggalkan dalam narasi tersebut. Apsanti (2004:192) menjelaskan pula bahwa “lubang-lubang” dalam cerita adalah wajar karena hanya bagian-bagian yang fungsional dalam tataran penceritaan saja yang disajikan dalam cerita. Lubang-lubang justru menguntungkan pembaca karena merupakan kantong-kantong naratif yang bebas untuk diisi oleh imajinasi mereka: ini merupakan kekuatan teks sastra yang memungkinan pembaca mengembangkan imajinasi mereka.

Sebagian besar imajinasi kita disedot pada persoalan masyarakat yang multikultural dalam katrologi Pram ini. Persoalan multikultur ini bermula dari persoalan identitas; Minke yang pribumi priyayi tetapi menyembunyikan nama ayahnya dan memilih menggunakan nama yang diberikan oleh guru Belandanya. Kekuasaan; yang terbatas dan tak terbatas, keliyanan Minke di sekolah HBS; hingga ke posisi biner antara pribumi menghadapi totok/Indo yang semuanya dapat dilihat dalam pendekatan post strukturalisme; yakni suatu pendekatan yang melihat teks tidak semata hanya pada jaringan inti teks belaka melainkan juga membahasnya berdasarkan konteks zaman yang menghasilkan teks, nilai-nilai, gagasan, dan latar budaya pada masa teks itu muncul.          

Di mana-mana memang ada tata tertib. Mengapa yang di sini begini menyakitkan? Sebagai orang Jawa, sebagai siswa, harus berpakaian Jawa: destar, baju tutup, kain batik, dan cakar ayam! Tak boleh beralas kaki. (Jejak Langkah, 1986:8).

Peraturan yang menghinakan seperti yang dialami oleh Minke sebagai pribumi di STOVIA ternyata tidak berlaku pada Indo dan Totok. Ternyata, status sosial  menjadikan Minke sebagai sang liyan (the others) di STOVIA. Termasuk kelompok sosial yang mana Minke dalam komunitas multikultur yang dibicarakan dalam katrologi ini akan dibahas dalam bagian selanjutnya.


B.  Siapa Masyarakat Multikultur dalam Katrologi Pramoedya?

Sebagaimana sudah disinggung di atas, masyarakat multikultur yang disampaikan oleh Pramoedya dalam katrologinya ini sangat kompleks dan berlapis, baik dari segi suku bangsa, status sosial, pekerjaan, pendidikan, keyakinan, kebudayaan, dan sistem sosial yang membentuk masyarakat tersebut. Secara umum terdapat lima golongan sosial masyarakat yang direpresentasikan oleh Pramoedya dalam katrologinya ini. Kelima golongan sosial masyarakat tersebut adalah pribumi, Tionghoa, Indo, Totok, dan bangsa asing lainnya (Jepang, Arab, Afrika Selatan, dan lain-lain). Kelima golongan ini adalah kelompok masyarakat yang banyak dibicarakan dalam katrologi Pram dan merepresentasikan semangat multikultur masyarakat di Hindia Belanda yang sarat dengan persoalan individu, sosial, ekonomi, dan politik. Untuk mengenal masing-masing kelompok itu marilah kita bahas lebih jauh setiap wakil golongan masyarakat yang terdapat dalam katrologi ini.

1.Pribumi

Golongan Pribumi yang paling banyak mendapat sorotan dalam katrologi Pramoedya adalah priyayi  sebagai satu kelompok sosial yang memiliki hak-hak istimewa dalam sistem sosial masyarakat Jawa. Kelompok priyayi juga masih dapat dipersempit dengan priyayi tinggi dan rendah sebagaimana yang dijelaskan oleh Apsanti (2004:124) yang membandingkan antara priyayi dalam novel Umar Kayam dengan priyayi dalam katrologi Pram. Priyayi dalam novel Umar Kayam adalah gambaran priyayi kecil Jawa dalam konteks sosiologis yang istimewa. Pramoedya membeberkan lapisan-lapisan dalam kelompok yang disebut priyayi itu sendiri sehingga kita kemudian mengenal  istilah priyayi rendah dan priyayi kecil seperti yang disebut di atas. Lebih jauh Apsanti menjelaskan batasan priyayi dalam katrologi Pram sebagai berikut

Seperti halnya masyarakat bourgeois di Perancis, masyarakat priyayi Jawa juga mempunyai lapisan-lapisan. Setidaknya ada priyayi besar dan priyayi kecil kalau hendak membandingkan dengan grand bourgeois dan petit bourgeois, dan berbeda pula dengan bourgeois kota dengan bourgeois desa. Katrologi Bumi Manusia, banyak menampilkan priyayi besar atau priyayi tinggi, priyayi-priyayi yang mempunyai jabatan tinggi dalam pemerintahan, sedangkan Para Priyayi (Kayam), menonjolkan priyayi kecil, guru desa, yang lahir dari rakyat kecil, naik menjadi priyayi berkat bantuan dan pendidikan yang diterimanya. Perbedaan itu juga didukung oleh masa yang berbeda: Para Priyayi berlatar waktu tahun 40-an sedangkan Bumi Manusia berlatar abad ke 20. Ada dua puluh tahun kesenjangan waktu. Tentu ada perubahan, paling tidak berkurangnya jumlah priyayi tinggi. Namun banyak hal yang bertahan dalam wacana tentang priyayi, khususnya tentang watak dan perilakunya. Hal-hal yang sekarang tercermin dalam perilaku para pemimpin kita atau mereka yang memegang kekuasaan. (Apsanti, 2004:..)

Priyayi tinggi umumnya berasal dari keluarga Bupati dan memiliki akses pendidikan yang sama dengan penduduk kulit putih di Hindia Belanda. Priyayi rendah terbatas pada golongan pribumi yang memiliki pekerjaan sebagai ambtenaar ‘pegawai pemerintah’ tetapi belum tentu memiliki pendidikan yang tinggi, seperti yang dapat kita temukan pada tokoh Sastrotomo dan putranya Paiman atau Sastrokassier yang masing-masing adalah ayah dan abang Nyai Ontosoroh (Bumi Manusia, hlm.67). Golongan ini sangat sering dioposisikan dengan golongan Indo dan Totok. Terutama dalam hal kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan di tengah masyarakat kolonial di Hindia Belanda.  

Minke adalah tokoh utama dari golongan priyayi tinggi  yang berperan paling banyak dalam katrologi ini. Ia merupakan putra seorang Bupati di kota B. Ia bisa bersekolah ke H.B.S di Surabaya karena status sosialnya sebagai putra priyayi tinggi tersebut. Meski kemudian Minke lebih suka menyembunyikan identitas kepriyayiannya. Berkat status sosial itulah dia dapat mengecap pendidikan tinggi dalam sekolah Belanda dan bergaul jauh melewati garis yang dapat dilalui oleh seorang pribumi yakni menjadi  sahabat di kalangan Indo dan kulit putih seperti Jean Marais, Marten Neijman, Kommer, Tuan Telling, Magda Peters, Miriam dan Sarah de la Croix, hingga bersahabat dengan uan gubernur Jendral Van Heutsz sejak masuk Stovia hingga menjadi redaktur mingguan Medan di  Batavia. Selain Minke, kita menemukan tokoh priyayi tinggi lainnya seperti Ayahanda Minke; Bupati di kota B, Ibunda, Patih di Meester Cornelis, Bupati Serang murid Snouck Hugronje bernama Ahmad, danTuan Wedana Thamrin Tabrani di Mangga Besar.

Keberhasilan Minke menubuhkan Syarikat Priyayi sekali lagi memperlihatkan bahwa katrologi ini adalah cerita tentang kaum priyayi di Hindia Belanda yang menuntut kesetaraan hak dengan dua golongan lainnya di Hindia Belanda. Syarikat itu dinamainya dengan Syarikat Priyayi;  sesuai dengan status sosial mereka dalam hierarki masyarakat di Hindia Belanda pada masa itu. Sebagaimana yang dapat kita perhatikan dalam kutipan di bawah ini.

Dan kita akan namai perkumpulan ini Syarikat Priyayi, karena priyayilah golongan Pribumi paling maju yang paling berpengetahuan. Semua priyayi bisa baca tulis. Setuju, para hadirin? (Jejak Langkah, hlm.187).

Kesuksesannya mendirikan Syarikat Priyayi ini kebalikan dari kegagalannya membantu petani tebu di Tulangan yang memberontak karena mempertahankan hak mereka atas kepemilikan tanah dari jarahan pengusaha pabrik tebu. Janjinya pada kelompok tani seperti Trunodongso untuk menulis kisah perjuangan mereka di surat kabar mengalami kegagalan. Keinginannya untuk memuat perjuangan petani tebu di Tulangan ternyata di tolak mentah-mentah oleh Marten Nijman kepala redaksi harian Soerabajaasch Nieuws van den Dag  (S.N.v.D). Alih-alih memuatnya ia malah dituduh oleh Marteen Nijman sebagai orang yang tidak tahu balas budi terutama kepada mertuanya Tuan Mellema yang juga adalah mantan administratur di perkebunan tebu. Kegagalan itu juga didukung oleh kenyataan bahwa surat kabar Nijman ternyata bisa hidup berkat sokongan dana dari pengusaha gula dan perkebunan tebu. Pemilik modal perkebunan tebu tentu saja tidak ingin berita perjuangan kaum tani yang membangkang itu menarik perhatian dan simpati masyarakat luas di Hindia Belanda.

Jadi Trunodongso namamu. Baik, mari aku bacakan. Aku bacakan dalam Jawa dan ia mengangguk-angguk setiap aku mengakhiri sebuah kalimat. “Tulisan ini nanti, kataku, akan dimuat di Koran. Orang-orang pintar dan besar  di atasan sana semua akan baca. Mungkin juga Tuan Besar Gubernur Jendral, bupati, residen, kontrolir, semua. Semua akan diusut. Mereka akan menjadi tahu: ada seorang petani Trunodongso namanya, sedang hendak diusir dari ladang dan sawahnya dan menerima sewa kurang dari tiga puluh lima sen buat setaip bahu yang disewa oleh pabrik. (Anak Semua Banga hlm.159).

Minke yang selama ini sangat berjarak dengan kehidupan petani seperti menghadapi kenyataan lain tentang bangsanya. Ia menemukan sebuah persoalan yang sama sekali  baru diketahui dalam hidupnya yakni nasib beribu bahkan puluhan ribu petani seperti Trunodongso yang diperlakukan dengan semena-mena oleh hukum kulit putih Hindia Belanda. Di sekolah HBS tempat ia menempa ilmu pengetahuan selama ini ternyata permasalahan kaum tani tidak dibahas dalam mata pelajarannya. Ia menemukan kenyataan pahit mengenai nasib petani tebu seperti Trunodongso yang diperas secara berlapis tidak hanya oleh orang Eropa, tetapi  juga harus menghadapi pribumi seperti, punggawa desa, pangreh praja, dan para priyayi rendah seperti Sastro Kassier.

Kegagalannya membantu Trunodongso dan kaum tani di Tulangan itu akhirnya menimbulkan sebuah kesadaran baru dalam diri Minke bahwa betapa asing dirinya bagi manusia-manusia tani yang nota bene sebangsa dengannya. Dan betapa ia gagal sebagai manusia di hadapan mereka. Untuk itu ia kemudian berkaul dan berjanji pada Trunodongso:

Trunodongso, sekali ini aku gagal. Lain kali kau toh akan jadi tokohku—kau, yang tak tahu menahu tentang zaman modern, tak pernah bersekolah. Tak bisa baca tulis. Melihat oranag bersepatupun gentar, curiga, takut, kuatir! Kau juga, tukang rakit, kau pun akan jadi tokohku. Mungkin pula kau petani yang kehabisan tanah, sekarang mencangkuli air Kali Brantas (Anak Semua Bangsa hlm.234).

Informasi selanjutnya tentang pribumi masih diperoleh dari Minke yang melihat dan berinteraksi langsung dengan mereka ketika berkunjung ke Tulangan. Sekembali dari Tulangan ia mendapat kunjungan tiba-tiba dan diam-diam dari Trunodongso yang melarikan diri setelah terjadinya pemberontakan petani tebu. Keluarga Trunodongso yang dijemputnya di pinggir sungai memandangnya sebagai orang asing karena cara berpakaiannya yang sama sekali tidak mencerminkan sosok pribumi yang mereka kenal yakni berpakaian ala Eropa (pantalon dan kemeja)  dan menggunakan sepatu.

Minke secara lahiriah berkulit gelap tetapi jiwa dan kepribadiannya adalah kulit putih  dan terpelajar. Ia sama sekali berbeda dengan pribumi yang buta huruf, merangkak di hadapan Bupati, dan menolak pertama kali ketika diminta berkaki ayam jika ingin diterima di sekolah Dokter di STOVIA, Batavia. Aturan yang digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda merupakan aturan yang berstandar ganda (double standard). Aturan-aturan yang diterapkan kepada golongan pribumi sangat berbeda dengan aturan yang diterapkan kepada Indo dan kulit putih. Contoh yang paling pahit dirasakan oleh Minke dan Nyai Ontosoroh adalah ketika pengadilan Belanda merenggut kehadiran Annellies dari sisi mereka dan dibawa dengan paksa ke Belanda hingga Annelies menemui ajalnya di negeri ayahnya tersebut (Anak Semua Bangsa hlm. 34).

 Multikulturalisme di dalam katrologi Pram juga dapat dilihat dari wacana kekuasaan yang sangat kuat mengontrol semua aspek kehidupan seorang Minke dalam Rumah Kaca. Peran pengontrol itu dilakukan oleh Pangemanann yang mengikuti secara diam-diam semua sepak terjang Minke dan bahkan atas usulnya pula Minke dihukum buang ke Ambon oleh penguasa di Hindia Belanda. Di dalam masyarakat kolonial hukum harus berjalan dan dipatuhi, agar tercipta ketertiban. Untuk mendapatkan ketertiban umum itu dominasi kekuasaan merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar. Ketidakpatuhan dalam masyarakat yang beragam di Hindia Belanda bisa berujung pada pemberontakan dan kekacauan. Oleh sebab itu, hukum di Hindia Belanda ditegakkan dengan keras terutama kepada pribumi yang paling lemah posisi tawarnya sebagai bangsa terjajah.

Informasi mengenai Nyai Ontorosoh dan masa lalunya, diketahui Minke dari cerita Annelies. Berdasarkan cerita Annelies itu Minke menyusun kembali dan menyampaikan kepada pembaca andaiannya. Teknik penceritaan dari Nyai kepada Annelies dan diteruskan kepada Minke seperti ini memperlihatkan sudut pandang yang berlapis  dan tidak tunggal, seperti yang terlihat pada kutipan novel berikut ini.

Tak dapat dapat aku menahan kecucukanku untuk mengetahui siapa sebenarnya Nyai Ontosoroh yang hebat ini. Beberapa bulan kemudian baru kuketahui dari cerita lisan Annelies tentang ibunya. Setelah kususun kembali cerita itu jadi begini: (Bumi Manusia hlm.50).

Kerasnya persaingan untuk mendapatkan jabatan sebagai kasir di perkebunan tebu Tulangan, Sidoarjo, memaksa Sastrotomo sebagai priyayi rendah untuk menyerahkan anak gadisnya Sanikem yang berumur 14 tahun kepada Tuan Herman Mellema untuk dijadikan gundik. Pada usia 14 tahun ia dipaksa secara tiba-tiba menjadi gundik Tuan Besar Herman Mellema; lalu bertransformasi menjadi Nyai Buitenzorg yang dieja kemudian oleh lidah pribumi sebagai  Ontosoroh.  Ayahnya bernama Sastrotomo dan abangnya bernama Paiman dan kemudian berganti nama menjadi  Sastro Kassier. Infromasi itu juga mencakup gambaran awal pertemuannya dengan Tuan Herman Mellema yang mengajarinya cara merawat gigi, mandi menggunakan sabun, dan memakai sandal pertama kali yang ternyata besar di kakinya yang kecil. Tuan Mellema juga mengajarinya membaca, menulis, berhitung, dan berbicara dalam bahasa Belanda. Nyai yang sejatinya adalah murid yang cerdas segera menangkap semua pelajaran itu dengan baik.

 Ia kemudian belajar secara otodidak ketika Tuan Mellema mulai mengalami kegilaan. Ia rajin membaca buku-buku perpustakaan koleksi Tuan Mellema, belajar menjalankan borderij ‘perusahaan’ susu di Wonokromo, mengatur keuangan perusahaan, memberi seragam kepada pegawainya meski dengan blacu putih, dan menerapkan sistem kenaikan upah berbasis kinerja pegawai, memiliki garasi untuk transportasi pabrik dan kendaraan pribadinya dan memiliki lahan seluas 180 hektar  yang mencakup rumah, pabrik, ladang, perkampungan bagi pegawai, dan hutan pertaniannya. Ia mendidik anak-anaknya dengan disiplin yang keras serta selalu menjaga penampilannya sebagai wanita pengusaha dan majikan yang disegani di hadapan pegawai dan lelaki  lain sebagaimana yang digambarkan Minke kepada pembaca andaiannya berikut ini:

Sebetulnya aku malu mengakui, tapi memang inilah untuk pertama kali aku memperhatikan mertuaku. Sendirian tidak di dekat Annelies, tak ada Annelies, kejelitiaannya muncul secara wajar. Dan ia sama sekali tak dapat dikatakan ‘tua’. Pipinya belum lagi berubah, masih penuh. Pada sudut-sudut matanya tiada cakar ayam. Sebagai usahawati ia selalu dalam keadaan bersolek. Rambutnya selalu mengkilat dan wiron pada kainnya tak pernah berhamburan. Dari samping ia mirip Annelies, hanya kurang putih dan tidak bangir. Alisnya tebal dan lebat yang membikin pandang matanya terasa angker. (Anak Semua Bangsa hlm.110).    

Nyai Ontosoroh mewakili gambaran sebagai mother goddess ‘Dewi Ibu” (Jung dalam Stevens, 2006: 207-273) sebuah imaji Ibu yang muncul dalam berbagai mitologi dari berbagai penjuru dunia, khususnya India. Kepercayaan-kepercayaan yang paling tua di dunia yang masih bersifat agraris berpijak pada konsep Dewi Ibu yang dilihat Jung sebagai satu sosok yang memiliki fungsi dan sifat yang bertolak belakang yakni kesuburan sekaligus kematian (Durga dan Umayi dalam kepercayan Hindu).  Dalam kebudayaan Jawa, konsep Dewi ibu muncul dalam sosok Dewi Sri atau dewi padi (kesuburan). Nyai Ontosoroh dengan pabrik susunya di Wonokromo juga menyiratkan kesuburan dan kemakmuran bagi orang-orang yang berada di bawah perlindungan sayapnya. Sedangkan Niekerk (2011:90) menanggapi ketokohan Nyai Ontosoroh dalam katrologi Pramoedya ini sebagai simpati pengarang terhadap realitas dan dilema yang dihadapi oleh Nyai di tengah masyarakat kolonial Hindia Belanda.

The sympathy of the author lies clearly with the nyai and the dilemmas she faces.29 The importance of the tradition of the nyai narrative for Pramoedya in his Buru Quartet is thematic: All of these texts articulate an interest in gender as a means to come to a critical assessment of colonial politics. Furthermore, they promote the idea of the “modern” as a philosophical principle and as part of a humanistic legacy that defends the right of people to determine their own fate, regardless of race, ethnicity, or sex. Finally, there is the aesthetic legacy of these texts as contributions to the develop- ment of “modernist” literary forms: They question the perception of reality with which their characters grow up and the values guiding their lives.

Dalam katrologi Bumi Manusia dilema yang dihadapi oleh Nyai Ontosoroh digambarkan sangatlah kompleks. Ia membangun, memelihara, dan membesarkan perusahaannya dengan sepenuh hati. Ia mencintai perusahaannya seperti ia mencintai anaknya sendiri. Ia mengorbankan sekolah Annelies demi kelanjutan hidup perusahaannya. Tetapi ketika dihadapkan pada hukum Eropa ia harus menyerahkan semuanya kepada anak tuan Mellema, putrinya dan perusahaan yang sudah dibangunnya selama ini. Dalam Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah,  ia selalu tampil sebagai tokoh yang memberi kehidupan kepada banyak orang dengan memberi mereka pekerjaan dan naungan. Ia memberi perlindungan rumah, dan merestui Minke menikah dangan putrinya, membayari hutang-hutang Minke kepada Gubernemen di STOVIA. Ia juga memberikan perlindungan kepada teman-teman Minke seperti,  Khouw  Ah Soe, Panji Darman alias Jan van Dapperste, dan Trunodongso, (Apsanti, 2004:74-77).

Selain menggambarkan sosok perempuan pribumi seperti Nyai Ontosoroh yang perkasa itu, katrologi ini juga menggambarkan kepahlawanan golongan pribumi lain seperti orang Aceh yang gagah berani melawan Belanda. Informasinya diperoleh Minke dari cerita pertempuran Tuan Tellinga dan Jean Marais ketika menjadi pasukan Belanda dalam Perang Aceh. Pada pertempuran itulah Jean Marais kehilangan sebelah kakinya seperti yang termaktub dalam katrologi Bumi Manusia. Pertempuran orang Bali melawan Belanda disampaikan oleh sahabat Minke seorang wartawan Belanda bernama Ter Haar yang ikut bersama pasukan Belanda ke Bali.  Pribumi lainnya yang disebut dalam katrologi ini adalah Betawi,  Minangkabau, Madura, Makassar, Menado, dan Sunda.  Tokoh Darsam dan Marjuki adalah  sosok pribumi  Madura yang selalu disebut dalam katrologi ini. Keduanya merupakan pengawal setia dan supir andong Nyai Ontosoroh di Wonokromo.  Kita juga menemukan tokoh Minem yang kontroversial dan genit yang memberi seorang cucu kepada Nyai Ontoroh; hasil hubungan gelapnya dengan Robert Mellema. Selain Minke, dalam Jejak Langkah kita menemukan tokoh-tokoh pribumi terdidik yang bukan berasal dari kelompok priyayi yakni, Sadiman dan Wardi yang menjadi pembantu Minke  dalam pergerakan dan penerbitan majalah Medan di Batavia.

Satu watak priyayi Jawa yang sangat khas digambarkan dalam katrologi ini adalah sikap yang sangat menjunjung tinggi kesopan-santunan yang kerap disebut dengan budaya unggah-ungguh, (Apsanti, 2004: 125-126). Menantu misalnya, dipilih atas pertimbangan sopan-santun dan asal-usulnya. Ketidaksopanan nyaris merupakan suatu kejahatan dalam hubungan orang-orang Jawa. Beberapa kali masalah sopan santun sikap Minke dikritik oleh kedua orang tuanya terutama oleh ibunya yang menilai anaknya tidak lagi menjadi orang Jawa karena pendidikan Eropanya. Tidak menjadi Jawa berarti tidak lagi memiliki kesopanan dalam perspektif Jawa tadi. Demikian juga ketika Minke harus berjalan ndhodhok (merangkak) menghadap ayahandanya sebagai bupati sangat menyiksa batin Minke yang menilai tatacara kesopanan yang berlebihan itu sebagai tatacara hierarkis yang membeku dan tidak sesuai dengan  perkembangan zaman pada masa itu yang sudah mulai menuntut keterbukaan dan kecekatan.

Priyayi Jawa juga memiliki watak moral yang khas. Moral priyayi Jawa adalah menyadari kedudukan dan derajatnya dan menempatkan diri sesuai dengan kedudukan atau derajat itu. Harga diri dan penghargaannnya kepada orang lain ditegakkan di situ. Tak ada masalah kemanusiaan seperti memperhatikan nasib kawula (rakyat kecil), menolong, atau memperbaiki kehidupan mereka. Itulah  sumber kemandegan sebagaimana dijelaskan secara panjang lebar oleh Tuan L. kepada Pangemanann dalam Rumah Kaca.

Penggambaran moralitas orang Jawa dalam katrologi ini juga dapat kita temukan pada sosok Bunda (ibu Minke).  Tokoh Bunda merupakan tokoh pilihan Pramoedya untuk menyampaikan moral orang Jawa dalam katrologinya ini. Moral dalam priyai Jawa menurut Apsanti (2004: 130) didasarkan pada suatu kontradiksi yang kuat antara (kesadaran akan keterbatasan dan ketakterbatasan (diambil dari konsep Albert Camus).  Falsafah yang didasari oleh kesadaran akan batas itu bukan hanya tampak pada fatalisme Trunodongso dan petani lainnya, tetapi juga pada priyayi yang disampaikan berkali-kali oleh Bunda kepada Minke. Pembicaraan mengenai moral pribumi Jawa yang priyayi ini dibahas oleh tokoh Bunda yang menjelaskan perbedaan antara orang Jawa dan Eropa kepada Minke. Menurutnya perbedaan itu terletak pada kesadaran akan keterbatasan dan ketakterbatasan. Ketakterbatasan adalah “penyakit”. Orang Jawa, berpegang pada keterbatasan ‘hidup sederhana’. Tokoh Bunda selanjutnya menjelaskan bahwa orang Jawa melakukan segalanya karena sekedar hanya menjalani (mlakoni). Perintah-perintah datang dari Tuhan, dewa, dan  raja. Orang jawa tidak menginginkan sesuatu secara berlebihan. Sebaliknya orang Eropa menurut Bunda “mempunyai penyakit untuk mendapatkan segala-galanya: yang pandai ingin menjadi lebih pandai, yang kaya ingin lebih kaya”, (Jejak Langkah hlm.56). Dalam dunia paternalistik yang fatalis dan pesimis pada masa itu, orang Jawa melihat penderitaan adalah hukuman. 

Celakanya, sebagaimana pernah disampaikan oleh Ajip Rosidi (2006) bangsa Indonesia setelah kemerdekaan mewarisi mentalitas Eropa yang negatif  sebagaimana disampaikan oleh Bunda kepada Minke. Ajip juga mengkritik  sikap pemerintah Indoensia setelah merdeka yang masih mewarisi sistem pendidikan Eropa untuk pribumi yang rendah mutunya dan bukan mengambil sistem pendidikan Eropa untuk Eropa yang tinggi mutunya.


2.  Tionghoa

Terdapat dua golongan masyarakat Tionghoa yang dibicarakan dalam katrologi ini. Kelompok etnis Tionghoa yang pertama dimasukan ke dalam kelompok kaum tua (tradisional) yakni yang lebih dahulu dan lebih lama berdiam dan menetap di Hindia Belanda. Kelompok pertama ini digambarkan sebagai etnis Tionghoa yang masih menjunjung tinggi cara hidup orang Tionghoa tradisional seperti masih memelihara kuncir pada laki-laki dewasa yang disebut thau-chang dan setia pada kerajaan Tiongkok. Kelompok angkatan tua  atau tradisional ini adalah masyarakat Tionghoa yang sudah lama menetap di Hindia Belanda. Mereka umumnya hidup sebagai pedagang dan memiliki perkumpulan etnis Tionghoa yang menyerupai mafia trans-nasional yang disebut dengan perkumpulan Thong, seperti yang ditemukan di kota Surabaya, Batavia, dan Semarang. Rumah plesiran salah satu usaha yang banyak dimiliki oleh Tionghoa di Hindia Belanda seperti yang dijalankan oleh tokoh Babah Ah Tjong (Bumi Manusia hlm.145-150)  yang menjadi tetangga Nyai Ontosoroh di Wonokromo.

Kelompok kedua merupakan generasi muda Tionghoa yang datang secara ilegal ke Hindia Belanda dan menggerakan perjuangan bawah tanah membawa Tiongkok menuju negara Republik.  Kelompok ini sudah meninggalkan gaya rambut dikuncir bagi laki-laki dan disebut juga sebagai angkatan muda (modernis). Khouw Ah Soe, Ang San Mei, si tukang kunci dan kawan-kawannya merupakan  tokoh-tokoh kaum muda Tiongkok yang melakukan perjuangan bawah tanah untuk Republik Tiongkok di Hindia Belanda. Mereka bergerak secara diam-diam dan rahasia di Hindia Belanda karena masuk secara illegal dan ideologi yang mereka bawa berseberangan dengan kelompok  tua dan organisasi Thong di Surabaya. 

Babah Ah Tjong pemilik rumah candu dan pelacuran di Surabaya memiliki keterkaitan dengan keluarga Nyai Ontosoroh dalam urusan kriminalitas. Di tempatnya Tuan Herman Mellema ditemukan tewas dan kemudian Robert Mellema pula  dijeratnya ke dalam rumah plesirannya sehingga tertular penyakit kelamin di sana. Tokoh Tinghoa lain yang muncul dalam katrologi ini adalah Si Gendut yang digambarkan sebagai sosok misterius yang  sering mematai-matai perusahaan Nyai Ontosoroh. Ia sempat berkelahi dengan Darsam tetapi berhasil lolos dan tidak pernah dijelaskan secara rinci perannya dalam katrologi ini.  Sosok dan perannya dibiarkan menjadi lacune ‘lubang’ dalam teks novel ini. 

Persahabatan dan perlindungan Nyai Ontosoroh kepada seorang angkatan muda Tionghoa di rumahnya tertulari oleh simpati dan persahabatan yang diberikan Minke kepada Khouw Ah Soe. Tokoh angkatan muda Tiongkok ini telah memberikan sebuah pengertian kepada Minke makna sebuah perjuangan dan semangat patriotisme yang juga dihargai tinggi oleh Nyai Ontosoroh. Setelah Annelies meninggal, Minke memutuskan pindah ke Batavia melanjutkan sekolahnya ke Stovia. Di Batavia ia bertemu dengan perempuan Tionghoa yang dititipi surat oleh Khouw Ah Soe sebelum meninggal di Surabaya. Perempuan tersebut bernama Ang San Mei yang kemudian dinikahinya selama lima tahun. Namun, setelah kematian Ang San Mei dan perkawinannya yang singkat dengan perempuan Tionghoa itu, ia mendapat pelajaran yang berharga yakni semangat patriotisme yang diperlihatkan oleh Ang San Mei hingga akhir hayatnya. Baik Annelies maupun Ang San Mei tidak sempat memberinya keturunan. Kedua perempuan ini terlalu cepat dimatikan oleh pengarang.  Kenangan terhadap kedua perempuan itu disimpannya dalam dua bentuk lukisan yang dimilikinya.


3.  Indo

Selain bangsa Eropa totok, terdapat juga komunitas Eropa campuran di Hindia Belanda (biasanya ibu pribumi dan ayah Eropa). Kelompok ini disebut dengan istilah Indische Nederlanders tetapi lebih dikenal di tengah masyarakat dengan sebutan Indo-Eropa. Menurut (Colombijn, 2006: 78) perbedaan antara Eropa totok dengan Indo-Eropa lebih pada perbedaan keadaan, bukan perbedaan keturunan; sebagai contoh para pendatang baru yang menikah dengan wanita pribumi dan menetap untuk selamanya, pindah dari kelompok totok ke kelompok Indo-Eropa. Kelompok Indo merupakan kelompok masyarakat kelas dua dalam strata sosial di Hindia Belanda. Status sosial anak-anak Indo di masyarakat akan sangat ditentukan oleh nama Eropa bapak  yang melekat pada nama belakang si anak. Meskipun seorang anak bukan hasil dari perkawinan campuran tetapi  jika dia memiliki nama Eropa di belakangnya seperi  tokoh Jan Dapperste dalam katrologi ini maka dia berhak dimasukan ke dalam golongan Indo.

Beberapa ciri khas dari budaya ini adalah kemegahan (terlihat dalam rumah-rumah yang luas), keramah-tamahan, gaya hidup yang santai, dan keluarga besar seperti keluarga Suurhof yang beradik kakak tujuh orang. Umumnya mereka bekerja sebagai pegawai rendahan atau menengah dan meremehkan pekerjaan kasar. Ketakutan utama mereka adalah “terperosok ke derajat penduduk asli” (Van der Veur dalam Colombijn, 2006: 79).  Pandangan Van der Veur ini agak terkesan sinis tetapi ketika kita cocokan dengan watak protagonis yang diperankan oleh Robert Suurhoff dan Robert Mellema sebagai representasi golongan Indo dalam katrologi Pramoedya ini tidak jauh meleset. Robert Mellema secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya kepada pribumi dan memandang rendah pribumi seperti Minke.  Ia menyayangkan sikap Annelies yang jatuh hati kepada Minke dan dengan terus terang menyampaikan keberatannya tersebut kepada Minke dalam sebuah percakapan yang tidak bersahabat di kamarnya (Bumi Manusia hlm.92).

Ciri lain dari masyarakat Indo-Eropa ini menurut Rusli Amran (1988:60) adalah kemampuan mereka dalam hal menguasai media massa pada ketika itu. Dengan demikian, mereka merupakan suatu kekuatan yang cukup berpengaruh. Pengaruh yang mereka miliki di Hindia Belanda pada masa lalu itu menurut Rusli Amran (ibid) digunakan untuk kepentingan berikut:

Tidak banyak beda dengan Indo di daerah-daerah Indonesia lainnya, dalam garis besarnya, ada dua tujuan yang ingin mereka capai. Pertama: agar pemerintah di Negeri Belanda jangan terlalu banyak ikut campur dalam pemerintahan di Hindia Belanda. Mereka ingin mengambil sebanyak mungkin kedudukan penting yang biasanya diisi oleh orang- orang totok (Belanda) yang datang ke Hindia Belanda sebagai pegawai untuk kemudian kembali lagi ke negeri mereka. Kedua: dengan gigih sekali mereka menentang segala usaha pemerintah memajukan pendidikan modern di kalangan penduduk pribumi. Kedua tujuan ini tentu saja berkaitan. Makin banyak anak pribumi mendapat pendidikan barat, makin sedikit kesempatan terbuka bagi mereka. Kalau anak-anak pribumi juga bisa berbicara dalam bahasa Belanda dan mempunyai pendidikan yang sama, untuk apa pemerintah memakai tenaga golongan Indo yang lebih mahal? Jadi jelas, karena terancam dari bawah, sedangkan kedudukan-kedudukan atas dimonopoli kaum totok, ruang gerak mereka makin terasa menyempit. Soal-soal kemerdekaan tentu saja belum dibicarakan waktu itu karena memang belum ada.

Demikianlah gambaran Indo dengan pengaruh yang dimilikinya pada masa Hindia Belanda berdasarkan pandangan sejarawan. Dengan membaca argumentasi yang disampaikan oleh Rusli Amran tersebut, dapat dipahami sikap merendahkan Robert Mellema  kepada Minke.  Meski alasannya yang  paling dalam  sangat bersifat  pribadi  yakni  kekecewaannya  kepada  mamanya yang tidak bersedia menuruti semua  keinginannya. Juga kecemburuannya  kepada Minke  yang  iba-tiba berhasil  merebut   perhatian   serta  kasih sayang    adik dan   ibunya   secara bersamaan.   Ini pula  yang menjadi penyebab dendam tak berkesudahan  Robert  Suurhof  kepada  Minke   sehingga ia  mencoba berkali-kali  mencelakai Minke.  Baik  secara sendiri  maupun  bersama  kelompok  tukang  pukul  Indo yang di sebut De Knijpers (Rumah Kaca : 22) . Tentu tidak semua Indo digambarkan  berwatak  jahat  dan bermoral  bejat  seperti  Suurhof  dan  gerombolannya .  Tuan Suurhof senior  memperlihathatkan sikap  terhormat dan  menolak   menerima   permata c urian dari putranya yang diserahkan   Minke   kepadanya, . meski  pada saat itu kondisi  keuangan keluarganya sedang  susah  (Anak Semua Bangsa:  14).  

Ciri lain dari masyarakat Indo-Eropa ini menurut Rusli Amran (1988: 60) adalah kemampuan mereka dalam hal menguasai media massa pada ketika itu. Dengan demikian, mereka merupakan suatu kekuatan yang cukup berpengaruh. Pengaruh yang mereka miliki di Hindia Belanda pada masa lalu itu menurut Rusli Amran (ibid) digunakan untuk kepentingan berikut:

Tidak banyak beda dengan Indo di daerah-daerah Indonesia lainnya, dalam garis besarnya, ada dua tujuan yang ingin mereka capai. Pertama: agar pemerintah di Negeri Belanda jangan terlalu banyak ikut campur dalam pemerintahan di Hindia Belanda. Mereka ingin mengambil sebanyak mungkin kedudukan penting yang biasanya diisi oleh orang- orang totok (Belanda) yang datang ke Hindia Belanda sebagai pegawai untuk kemudian kembali lagi ke negeri mereka. Kedua: dengan gigih sekali mereka menentang segala usaha pemerintah memajukan pendidikan modern di kalangan penduduk pribumi. Kedua tujuan ini tentu saja berkaitan. Makin banyak anak pribumi mendapat pendidikan barat, makin sedikit kesempatan terbuka bagi mereka. Kalau anak-anak pribumi juga bisa berbicara dalam bahasa Belanda dan mempunyai pendidikan yang sama, untuk apa pemerintah memakai tenaga golongan Indo yang lebih mahal? Jadi jelas, karena terancam dari bawah, sedangkan kedudukan-kedudukan atas dimonopoli kaum totok, ruang gerak mereka makin terasa menyempit. Soal-soal kemerdekaan tentu saja belum dibicarakan waktu itu karena memang belum ada.

Demikianlah gambaran Indo di Hindia Belanda dalam pandangan sejarawaran. Namun, dalam Jejak Langkah (hlm.275-276) golongan Indo mendapatkan penggambaran yang positif  dari seorang tokoh bernama Hans alias Haji Moeloek. Ia menjelaskan jasa-jasa Indo kepada pribumi sebagaimana yang terdapat dalam kutipan di bawah.

“Begini Tuan, orang Eropa membawa alat-alat musiknya ke Hindia. Orang Indo belajar menggunakan, memainkan lagu-lagu Indo, kemudian Pribumi belajar dari golongan Indo dan menyebarkannya pada bangsanya. Salahkah aku?

“Tuan benar,” kataku memberanikan.

Begitu juga dalam soal-soal lain, Tuan. Misalnya: pakaian, pertukangan, malah dalam soal pakaian bukankah Pribumi miskin sekali dalam soal pakaian? dari golongan indo juga pribumi mengambil alih lungsuran pakaian dan nama-namanya. Istilah jahit-menjahit, wah, semua dari Belanda, dan penjahit pribumi belajar dari penjahit golongan kami. Termasuk kata pisak itu.” ”Pieszak.” Haji Moeloek menjelaskan. Rumah orang Indolah yang mula-mula menggunakan jendela, kemudian pribumi meniru. Kan Tuan-tuan tidak tersinggung?”

“Begini, Tuan-tuan sibakan rambut pun berasal dari golongan Indo. Dan memang Indo hanya meniru-niru dari Totok.” Kurang ajar orang satu ini! Sampai sibakan rambut tidak pernah asli pribumi. “Juga penggunaan jambul, Tuan-tuan.” Dia semakin menjadi-jadi. “Tapi juga dalam hal-hal yang sangat penting golongan Indo berjasa sebagai perantara tanpa pamrih antara Eropa dan Pribumi Hindia. Barangkali di kemudian hari, kalau Hindia sudah semaju Eropa, orang akan mendirikan tugu peringatan untuk jasa golongan Indo sebagai perantara peradaban yang tidak pernah dibayar. Mungkin juga sebagai pengadab Pribumi itu sendiri.” Ia tertawa senang. “Bagaimana pendapat Tuan-tuan?

Pertemuan Minke dengan Haji Moeloek terjadi ketika ia berkunjung ke Jogyakarta untuk menghadiri Konges Pemuda B.O. (Boedi Oetoemo).  Pertemuan dengan Haji Moeloek itu memberikan sebuah pengalaman baru padanya dalam menilai dan memandang Indo. Haji Moeloek seorang keturunan Indo yang  berkopiah haji tetapi berpakaian Eropa, lengkap dengan sepatu hitamnya yang mengkilat, dan jelas bukan buatan dalam negeri (Jejak Langkah hlm.273). Ia hadir bersama Mas Sadikoen seorang priyayi Jawa temannya semasa di Stovia dan ikut  dalam organisasi pergerakan B.O. Haji Moeloek menunjukan kepada Minke masyarakat dan sejarah Hindia yang berbeda dengan yang selama ini ia ketahui;  arti dunia Indo dalam perkembangan negerinya, khususnya peran sastra yang ditulis oleh orang Indo di Hindia Belanda. Haji Moeloek  merupakan seorang pengarang cerita yang terkenal berjudul Hikajat Siti Aini yang kemudian diterbitkan ceritanya dalam surat kabar Medan yang dikelola Minke.


4.  Totok

Penamaan totok diberikan kepada orang Eropa atau kulit putih yang berada pada tataran paling atas dalam sistem sosial yang sangat rasialis pada masa Hindia Belanda. Dalam masyarakat kolonial seperti ini setiap orang sadar akan posisinya dan senantiasa mempertimbangkan statusnya. Begitulah, tuan Tellinga sangat gusar ketika membaca berita di surat kabar mengenai Jepang yang sudah memiliki status sosial yang sama dengan Eropa.

Coba, gerutunya Tuan Tellinga, bagaimana jadinya dunia ini kalau bangsa Eropa harus duduk sederajat dengan dengan bangsa kulit berwarna, yang memang sama sekali belum patut duduk sama tinggi? Néééé! Selama ini kepala kita tunduk takluk pada pisau dan gunting para pemangkasnya; perut kita dibelai-belai oleh restorannya, dan daya biak pun mungkin dirampas oleh pelacur-pelacurnya….Dan orang Indo kurang cukup banyak di Hindia! (Anak Semua bangsa: 41)

Pernyatan Tuan Tellinga itu memperlihatkan sikap memandang rendah golongan totok kepada bangsa kulit berwarna seperti Jepang dan tentunya juga pribumi, termasuk juga kepada Indo. Namun, kita juga akan menemukan sikap empati dari Eropa totok kepada pribumi seperti yang diperlihatkan oleh tuan Herbert de la Croix kepada Minke. Tetapi biasnya sebagai totok tetap muncul ketika menilai dan menyampaikan pandangannya terhadap pribumi yang disebutnya sebagai kejiwaan pribumi belum mencapai tingkat setaraf bangsa Eropa. Pribumi terutama laki-lakinya terlalu mudah kehilangan pertimbangan yang baik dan mudah terpedaya oleh rangsangan birahi. Pendapat ini tentu sangat stereotip dan sulit dipahami kebenarannya tetapi jika melihat kembali penggambaran sosial pada Hindia Belanda, pendapat Herbert de la Croix cukup beralasan dengan kepemilikan selir dan gundik para priyayi Jawa pada masa itu.

Jean Marais (Perancis), Tuan dan Nyonya Tellinga (Belanda) adalah  dua orang dari golongan totok yang banyak berinteraksi dengan Minke pada bagian pertama dan kedua katrologi ini.  Selain itu, juga terdapat seorang totok guru bahasa dan sastranya di H.B.S. yakni  Juffrouw Magda Peters, seorang penganut aliran liberal dalam mayarakat kulit putih di Hindia Belanda. Magda Peters sangat banyak membantu Minke dan membelanya di saat-saat di sekolahnya. Untuk pembelaan itu, Magda Peters harus menerima pengusiran ke negeri Belanda oleh penguasa di Hinda Belanda.

Diantara kelompok totok yang menjadi sahabat-sahabat baik Minke, Eropa yang berdarah Perancis ternyata sangat banyak seperti, Jean Marais, Miriam, dan Sarah de la Croix. Di dalam katrologi Jejak Langkah akhirnya Nyai Ontosoroh menikah dengan Jean Marais dan memilih seniman Prancis berkaki buntung itu daripada sekian banyak laki-laki Eropa lainnya. Apsanti (2004:4-5) melihat simpati Pramoedya sebagai pengarang kepada Prancis dengan kehadiran sejumlah tokoh Prancis atau dengan nama Prancis ini. Orang-orang Prancis ini mendorong Minke untuk berjuang memimpin bangsanya menuju kemandirian atau kemerdekaan, seperti Herbert de la Croix, Asisten Residen di B dengan kedua putrinya Sarah dan Miriam. Juga Dokter Martinet yang menjadi dokter keluarga Nyai Ontosoroh yang memberinya keyakinan untuk menjadi dokter yang baik bagi Annelies yang pernah mengalami trauma psikologis akibat diperkosa oleh abangnya sendiri.

Pangemanann yang berdarah Menado itupun ternyata memiliki ayah angkat seorang Perancis, yakni Tuan de Cagnie, seorang apotoker Perancis yang simpatik dan menyekolahkan Pangemanann hingga ke Sorbonne. Istri Pangemanann bernama Paulette juga seorang perempuan Prancis yang digambarkan sangat baik, berbakti kepada suami dan anak-anaknya dan sangat membenci minuman keras.

Juga terdapat beberapa tokoh Perancis lain di pihak kolonial yakni Tuan R., atasan Pangemanann di Algemeene Secretarie di Buitonzorg. Dan juga konsul Perancis yang muncul secara singkat di akhir novel keempat digambarkan sebagai lelaki Perancis yang galant ‘sopan’ ketika melayani dan memberi keterangan atas sebab-sebab kematian Minke kepada Madame Le Boucq alias Nyai Ontosoroh yang datang dari Perancis untuk menemuinya.

Di pihak Belanda, Minke berkenalan dengan lebih banyak totok lagi seperti Tuan Herman Mellema, Tuan besar kuasa pabrik gula Frits Homerus Vlekkenbaaij (Plikemboh), Marten Nijman yang memiliki hubungan yang erat dengan pengusaha Belanda di pabrik gula. Melalui Minke pula pembaca mengenal kehidupan totok di Batavia seperti perkumpulan rumah bola di Harmonie yang hanya boleh dimasuki oleh kulit putih. Minke termasuk sedikit pribumi yang berhasil menjejakan kaki di rumah bola tersebut ketika diajak oleh Ter Haar bertemu dengan seorang politisi dari Belanda yang sedang berkunjung ke Hindia Belanda dan membawa politik etisch (balas budi). Persahabatan Minke juga terjalin dengan Gubernur Jendral Van Heutsz. Berkat persahabatannya dengan Gubernur Jendral pula ia berkesempatan menaiki otomobil ketika alat transportasi ini mula-mula beredar di Batavia dan dibawa dari Inggris (Jejak Langkah: 216).

Jasa golongan Totok Belanda yang paling besar kepada Minke adalah menanamkan kesadaran keberaksaraan pada seorang pribumi seperti Minke. Ia mempelajari keberaksaraan tinggi hingga berhasil menjadi wartawan dan pemimpin redaksi di surat kabar S.N.v.D di bawah asuhan Marten Nijmann di Surabaya. Ia juga belajar berfikir kritis dari Magda Peters, Kommer, dan Ter Haar. Keterlibatannya sebagai penulis di surat kabar itu kemudian mengantarkannya menjadi wartawan profesional dan pemilik surat kabar Medan di Batavia. Termasuk menjadi seorang pribumi yang berfikir kritis, manusia yang berpandangan modern yang diperolehnya melalui pergaulan, dan peradaban cara barat atau Eropa.   


5.  Bangsa Asing Lainnya

Situasi perkembangan dunia yang terjadi di beberapa negara seperti  Jepang, Fillipina, Tiongkok, dan Afrika Selatan juga dijelaskan dalam katrologi ini dan mendapat perhatian yang penting sehubungan dengan situasi politik yang berkembang di masing-masing negara serta implikasinya pada kondisi sosial di Hindia Belanda. Tapi Minke tidak memperoleh informasi itu secara terbuka dalam surat kabar di Hindia Belanda karena berita seperti itu diharamkan; melainkan melalui beberapa teman Eropa yang simpati kepadanya maupun bangsa Asia Timur Jauh yang pernah berkenalan langsung dengannya seperti Khouw Ah Soe dan Ang San Mei yang membawa kesadaran perjuangan nasionalisme pada dirinya.

Kelima kelompok masyarakat ini tidak hanya merepresentasikan berbagai masalah sosial-budaya yang terjadi pada masa itu tetapi juga saling berkontestasi antara masing-masing  golongan di ranah publik maupun di ranah domestik. Apsanti  (2004: 10) melihat keempat roman ini memiliki kemiripan dengan “roman fleuve” yakni roman-roman kolosal di Perancis yang mencakup berbagai aspek kehidupan para tokohnya. Kelima golongan yang disampaikan dalam katrologi ini  saling memperkaya peran dan tugas masing-masing tokoh. Minke sebagai tokoh utama pribumi sekaligus narator yang terlibat dengan masing-masing golongan yang disebutkan di atas berperan sebagai tokoh sekaligus sebagai informan kepada pembaca andaiannya.  Melalui Minke pembaca mendapat informasi yang lengkap mengenai masing-masing tokoh dari kelompok sosial tersebut. Minke menjadi subjek sekaligus objek ketika posisinya sebagai narator digantikan oleh Pangemanann dalam Rumah Kaca. Jika sebelumnya Minke menjadi subjek pencerita, maka dalam Rumah Kaca posisi itu digantikan oleh Pangemanann. Peralihan sudut pandang pencerita ini menurut Teeuw (1994) dan Apsanti (2004) adalah kecerdasan pengarang yang berhasil memberikan peristiwa sejarah ke dalam fiksi tanpa menjadi kering dan membosankan.  


C.  Kesimpulan

Sebagaimana selalu ditekankan oleh Teeuw (1997:229) bahwa karya-karya Pramoedya sangat kuat membicarakan kemanusiaan, kebebasan, baik kebebasan pribadi maupun kebebasan nasional  yang merupakan sebagian dari tujuan kemuliaan manusia dan tujuan akhirnya, dan tidak menceritakan tokoh-tokoh dalam ceritanya sebagai hitam putih, baik buruk. Ada orang Belanda yang berperikemanusian dan tak berperikemanusian demikian pula ada orang Indonesia yang berperikemanusiaan dan tak berperikemanusian. Dan juga Indo yang merupakan campuran antara keduanya (tambahan dari penulis).

Multikulturalisme yang digambarkan dalam katrologi Pramoedya tidak hanya memperlihatkan keragaman suku bangsa yang hadir seperti pribumi, Tinghoa, Indo, Totok, Jepang, Filipina, Arab, Afrika Selatan, dan Perancis. Multikulturalisme dalam katrologi ini juga memperihatkan sikap kosmopolitan manusia di Hindia Belanda. Sikap kosmopolitan itu didukung oleh tempat yang menggambarkan melting pot beragam suku bangsa di tempat-tempat dan kota pelabuhan besar seperti di Surabaya, Semarang, dan Batavia. Kota-kota pelabuhan ini menjadi pintu gerbang bagi segala unsur kemodernan dan kemajuan, seperti kehadiran mesin cetak, mesin zinkografi yang mampu mencetak foto berlembar-lembar dalam waktu singkat, kehadiran kereta api, dan kemudian dilanjutkan dengan otomobil. Sikap kosmopolitan juga didukung oleh kehadiran mesin cetak yang memungkinkan terbitnya surat kabar sebagai jendela penghubung masyarakat di Hindia Belanda dengan perkembangan yang terjadi di dunia lain seperti, perubahan di Tiongkok dari kerajaan menjadi republik; semangat kebangsaan di Filipina, kemenangan Jepang melawan bangsa asing, dan bahkan kekalahan Belanda di Afrika Selatan menjadi informasi yang berdampak besar bagi  pribumi terdidik seperti Minke.

Sistem nilai masyarakat kolonial di Hindia Belanda adalah sistem nilai rasial yang membedakan tinggi-rendah status sosial individu dan komunitas di tengah masyarakat Hindia Belanda. Sistem nilai ini pula yang menempatkan posisi Pribumi sebagai strata sosial yang paling bawah di tengah masyarakat kolonial di Hindia Belanda. Pribumi adalah warga negara kelas tiga. Oleh sebab itu banyak sekali pantang larang dan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh pribumi. Sebagaimana yang diceritakan dengan sangat intens dalam dua novel pertama dari Katrologi ini yakni Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Status sebagai anak jajahan melahirkan sikap mental yang sudah dikonstruksi selama berabad-abad oleh tuannya, seperti kepatuhan dan kesetiaan. Sebaliknya sang tuan (totok) boleh berlaku sekehendak hatinya dan bahkan dapat menentukan hidup mati seorang pribumi atas nama Hukumkolonial Hindia Belanda. Terdapat garis demarkasi yang sangat jelas antara kedua kelompok ini di tengah masyarakat. Sikap kesewenangan golongan totok dan Indo inilah yang kemudian ditentang oleh Minke meski kesadaran itu datangnya terlambat setelah dia mengenal perjuangan Ang San Mei dari dekat. Kesadaran itu menggerakannya mendirikan Syarikat Priyayi dan terlibat dengan gerakan B.O. yang dapat berjalan berkat media cetak yang didirikannya. Surat kabar ternyata menjadi media perjuangan yang paling ampuh di tangan pribumi seperti Minke. Kesenangan pada dunia tulis-menulis pula yang ternyata lebih membebaskan dirinya sebagai manusia daripada menjadi seorang dokter di STOVIA.


Daftar Pustaka

Amran , Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang.
          Jakarta: Sinar Harapan.

Ananta Toer, Pramoedya. 1980. Bumi Manusia.
          Jakarta: Hasta Mitra.

------------------------------  1980. Anak Semua Bangsa.
          Jakarta: Hasta Mitra.

------------------------------ 1986. Jejak Langkah.
          Kuala Lumpur: Wira Karya.

 ----------------------------- 1986. Rumah Kaca.
          Jakarta: Hasta Mitra.  

Bahari, Razif. 2007. Between A Rock And A Hard Place?
          Interstitial Female Subjectivitty in Between Colonialsm 
          and Patriarchy: Women in Pramoedya Ananta Toer’s Buru
          Tetralogy
. Indonesia No. 83 hlm.41-77, April 2007.

Colombijn, Freek. 2006. Paco-Paco Kota Padang.
          Jogyakarta: Ombak.

Derrida, Jaques. 1974. Of Grammatology, translated,
          Gayatri Spivak, Baltimore: The Johns   Hopkins University Press.

Djokosujatno, Apsanti. 2004. Membaca Katrologi Bumi
Manusia Pramoedya  Ananta Toer
. Magelang: Indonesia Tera.

Hellwig,  Tineke . 2003. Bumi Manusia  Masyarakat  Kolonial  dalam
          Bercermin Dalam Bayangan: Citra Perempuan dalam
          Sastra Indonesia
. Jakarta: Desantara.

Jung, C.G. dalam Stevens, Anthony. 2006. “The Archetypes”.
          Ed. Renos Papadapoulos. The Handbook of Jungian Psychology. New York: Routledge.  

Lubis, Akhyar Yusuf. 2006. Dekonstruksi Epistemologi
          Modern
. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.

Parekh, Bikhu.2008. A New Politics of Identity: Political
          Principles for an  Interdependent World
. Palgrave Macmillan.

Rosidi, Ajip. 2006. Sejumlah Karangan Lepas: Korupsi
          dan Kebudayaan
. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sudibyo. 2007. “Di Luar Kuasa Negara: Kuartet Buru Karya Pramoedya
          Ananta Toer sebagai Warga Sastra Dunia”. Makalah Sastra dan Negara,
          Jakarta, 19-20     November 2007.  Hotel Acacia,
          Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.

Teeuw, A. 1997. Citra  Manusia  Indonesia  dalam  Karya Sastra
          Pramoedya Ananta Toer
. Jakarta:Pustaka Jaya.

 


SASTRI SUNARTI
Peneliti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Menyelesaikan S3 di FIB-UI. Di samping menulis puisi, cerpen, dan main teater, peneliti yang juga pemimpin redaksi Horison Online ini melakukan banyak penelitian sastra dan tradisi lisan. Juga menulis di beberapa jurnal ilmiah. Di antara publikasinya: Struktur Puisi Indonesia Dalam Majalah Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan Pedoman Masyarakat Periode 1935—1939 (2000), Komposisi Formulaik dan Pembacaan Semiotik dalam Antologi Puisi Nyanyian Anak Cucu Upita Agustine (2002), Cerita Harimau dalam Kesusasteraan Rakyat Nusantara (2001), Tanggapan Pembaca Terhadap Novel Berwarna Lokal: Sri Sumarah dan Warisan (Erlis Nur Mujiningsih, Sastri Sunarti, dan Yeni Mulyani, [2003]), dan Kejayaan yang Hilang: Sastra Melayu Palembang dalam Adab dan Adat, Refleksi Sastra Nusantara (2003), dan Kajian Lintas Media: Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar dan Majalah Terbitan Awal di Minangkabau 1859-1940 (2013). Tinggal di Jakarta.