24 Juli 2016 | Cerpen | 2663 hits

Komedi Si Bugil dan Spanduk Lusuh

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Cerpen Ahmad Tohari

Kebanyakan anak muda di kampung kami gemar akan orkes dangdut. Namun tidak ada yang seperti Sontokliwon. Anak muda yang satu ini bukan gemar, dia maniak. Maka Sonto selalu di sana bila ada pentas. Sonto akan berdiri paling depan. Saat yang paling ditunggu adalah ketika penyanyi berdiri di tubir panggung, agak jongkok, dan menawarkan tangan untuk disalami penonton. Kepuasan Sonto tercapai ketika dia menengadah sambil meraih tangan penyanyi. Pada saat seperti itu betis penyanyi hampir menyentuh wajah Sonto. Demikian, Sonto pernah bilang tubuh perempuan adalah keindahan ciptaan Tuhan. Jadi, tidak salah memandangi ke semua bagiannya. Itu pendapat Sonto.

Kemarin ketika sedang memperbaiki motornya Sonto diuji: benarkah tubuh perempuan selalu menarik dipandang karena ia ciptaan Tuhan? Pagi itu ada perempuan terlantar lewat. Dia muda dan hampir bugil. Tetapi wajahnya tanpa citra jiwa. Tatapan matanya kosong. Semua pejalan kaki yang berpapasan dengan dia menunduk atau membuang muka. Sonto juga menatapnya sepintas tetapi kemudian membuang muka. Ternyata Sonto  tidak setia dengan pendapatnya sendiri selama ini. Entahlah, Sonto merasa tidak nyaman ketika melihat tubuh bugil perempuan terlantar; beda ketika dia melihat tubuh penyanyi dangdut.

Si Bugil terus ke utara, melenggang bebas. Dia tak mengerti orang kampung kami menghendaki dia menutup satu bagian tubuhnya dengan telapak tangan. Dia malah menggunakan tangan untuk memunguti botol plastik di pinggir jalan, lalu membuangnya lagi sambil tertawa. Agak di depan sana perempuan terlantar itu berhenti. Mungkin karena angin dari timur tiba-tiba bertiup lebih kencang. Dahan pohon kenari di dekatnya bergoyang. Sebuah spanduk yang sudah lepas sebelah talinya ikut berayun dan terjurai hampir mencapai tanah. Orang kampung kami tahu spaduk itu sudah berbulan-bulan demikian. Tak ada orang yang mau menyentuh. Semua merasa segan terhadap pemasang spanduk itu, sebuah organisasi politik yang punya barisan pemuda berseragam loreng.

Tentu hanya orang seperti Si Bugil yang tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu siapa pemasang spanduk itu. Dia juga tidak tahu beda pakaian loreng dan pakaian biasa. Maka Si Bugil tidak hanya berani menyentuh spanduk lusuh itu, tetapi bahkan menariknya hingga putus menjadi dua bagian. Satu bagian yang ada di tangan Si Bugil sepanjang dua meteran dan tertera lambang organisasi politik itu. Sesungguhnya lambang itu sudah baur. Namun orang kampung kami pasti tahu lambang organisasi apa gambar itu.

Di kampung kami para perempuan dan gadis menyukai iklan dengan model artis cantik yang tubuhnya hanya bertutup lilitan handuk. Kakinya hampir terbuka penuh. Di atas, dadanya juga setengah terbuka. Syahdan, apakah Si Bugil yang terlantar itu juga ingin secantik model iklan? Apakah dia pernah mengalami suatu masa menjadi perempuan normal yang tentu ingin secantik artis? Seorang gadis kampung kami muncul. Maka dia menjadi saksi bahwa Si Bugil mungkin benar ingin seperti artis cantik dengan handuknya. Gadis kampung kali ini menyaksikan Si Bugil membalutkan potongan spanduk lusuh itu ke tubuh sendiri. Seperti model cantik dengan handuknya, tubuh Si Bugil terbalut dengan spanduk lusuh dari tengah paha naik sampai tengah dada. Di bagian perut Si Bugil ada gambar lambang organisasi politik.

Melihat ulah Si Bugil mata gadis kampung kami membulat dan menyala. Mulutnya terbuka dan kelihatan dia berhenti bernafas. Namun sesaat kemudian dia tergelak keras sambil menekan perut dengan kedua tangan, berbalik dan lari. Boleh jadi dia ingin memanggil teman-teman agar ikut menyaksikan pemandangan yang baginya amat mengesankan. Tetapi yang kemudian datang bukan hanya para gadis melainkan juga orang dewasa laki-laki dan perempuan, juga Sontokliwon. Sonto bahkan langsung mendekati Si Bugil di bawah pohon kenari. Mungkin karena orang-orang mengelilinginya, Si Bugil tak bergerak. Wajahnya tetap tanpa citra jiwa. Matanya yang hampa tak pernah menatap siapa pun.

Sonto yang kelihatan amat bersuka-cita, berjingkrak dengan gerakan semaunya. Dia seperti menahan kegembiraan yang siap meledak. Kedua tangan naik ke atas dengan acungan kedua ibu jari. Sonto berjoget irama dangdut.

“Ini baru bagus, benar-benar bagus, keren banget,” seru Sonto entah ditujukan kepada siapa. “Yang kemarin keluyuran berbugil sekarang sudah bertutup. Apa tidak keren? Iya, kan?”

Tak ada tanggapan. Orang-orang kampung kami membisu. Atau ada satu orang yang tersenyum samar. Semua orang diam dan menunggu. Mata mereka tertuju ke arah Si Bugil yang terus mematut-matut diri dengan potongan spanduk lusuh itu. Ada orang kampung kami yang jakunnya turun-naik. Menelan ludah. Kemudian, diawali dengan satu orang, warga kampung kami mulai berbalik mau meninggalkan tempat. Namun mereka berhenti dan menoleh. Ada motor menderu dan mendadak berhenti hanya setengah meter dari kaki Sonto. Seorang pemuda dengan helm cakil dan celana loreng terburu-buru memarkir motornya. Dia warga kampung kami juga.

“Ada apa ini?” tanya Si Cakil sedetik setelah melepas helmnya. Gerak dan langkahnya amat sesuai dengan celana loreng yang dipakai.

Mulut semua orang kampung kami diam belaka. Kecuali mulut Sonto yang cengar-cengir lalu bersuara rendah dan pelan. “Lah, Cakil sahabat kami, kamu bisa lihat sendiri, bukan?”

Seperti mendengar perintah kepala regunya, pemuda bercelana loreng itu patuh kepada Sonto. Matanya yang tajam kemudian mengarah lurus ke batang pohon kenari kira-kira tujuh langkah di depannya. Di sana Si Bugil masih bergerak mematut diri dan bersikap seperti tak ada siapa pun di sekelilingnya. Sementara orang-orang kampung kami menatap wajah Si Cakil dengan seksama. Wajah yang amat tegang dan merona tetapi seakan buntu. Tangan kanan Si Cakil mengepal seperti mau bertinju. Urat rahangnya menggumpal. Untung suasana yang tegang bisa dimentahkan oleh Sonto. Dia berjoget goyang dangdut dengan asyiknya tepat di belakang punggung Si Cakil.

“Brenti!” Teriak Si Cakil setelah berbalik badan. Wajahnya bertambah merah. “Ini bukan perkara main-main. Kalian jangan anggap enteng. Ini pelecehan terhadap organisasi kami. Siapa yang menyobek spanduk itu? Ayo, siapa?” Leher Si Cakil tegang. Matanya merah menyorot sekeliling.

“Lah, sahabat kami Cakil, sabarlah,” jawab Sonto pelan. “Dia sendiri yang menjambret spanduk itu untuk menutup tubuhnya. Itu bagus kan? Artinya, organisasimu telah menolong menutup aurat satu perempuan terlantar. Iya kan? Jangan tuduh kami. Di sini tidak ada orang yang peduli terhadap spanduk lusuh itu kecuali kamu.”

“Cukup! Aku tidak peduli. Yang jelas martabat organisasi kami sedang dipertaruhkan; simbol kami dijadikan penutup aurat perempuan gila. Kamu Sonto, ambil spanduk itu dari tubuh itu!” Perintah Si Cakil sambil berkacak pinggang. Lagi, sikap Si Cakil sesuai benar dengan celana lorengnya. Tetapi Sonto tetap tenang, sangat tenang.

“Walah-walah, Cakil sahabat kami, sampean ini bagaimana? Aku kamu suruh melepas spanduk itu dari tubuhnya? Menyuruh aku menelanjangi perempuan? Ya tidak lah. Kami tidak mau lagi melihat tubuh itu kembali telanjang. Lagi pula, mengapa bukan kamu sendiri? Spanduk lusuh itu milik organisasimu kan? Ayo, ambillah. Nah, kami akan menyaksikannya.”

Si Cakil mendesis-desis sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki. Matanya selalu menghindar dari pohon kenari. Di sana Si Bugil sudah diam. Tetapi tadi dia tersenyum aneh ketika Sonto bergoyang joged di belakang Si Cakil. Barangkali joget Sonto memang amat buruk bahkan di mata orang yang telah hilang kesadarannya. Suasana terasa hambar dan bisu. Kemudian ada perempuan kampung kami yang pergi meninggalkan kerumunan di bawah pohon kenari. Dia berjalan cepat menuju halaman rumah sendiri lalu menarik selembar kain batik dari galah jemuran. Balik lagi ke bawah pohon kenari dan langsung mendekati Si Bugil. Ada irama keibuan keluar dari mulutnya. Lembut sekali.

“Sini, Nak. Sinik, Nak. Kamu pakai kain ini. Yang itu buruk, dilepas saja, ya?”

Semua orang menunggu. Dan semua orang melihat mata Si Bugil tidak bergerak. Ketika permintaan itu diulang, Si Bugil menoleh, tetapi sambil memiringkan badan pertanda menolak. O, perempuan kampung kami itu seorang penyabar dan sangat lembut. Maka dia ulangi lagi permintaannya.

“Pakai kain ini, Nak, nanti kamu akan cantik seperti pengantin baru yang pagi-pagi mandi keramas. Ayo, Nak, sini.”

Demi dahan-dahan kenari yang terus bergoyang ditiup angin dari timur, Si Bugil memberi tanggapan. Matanya yang semula mati tiba-tiba ada percik setitik cahaya jiwa. Ada senyum, senyum apa pun namanya. Kedua tangannya bergerak meraba tepian spanduk yang tergulung di bagian dada. Seperti anak kecil yang mau melepas semua pakaiannya, Si Bugil bergerak apa adanya. Spanduk lusuh mulai melonggar di dada dan kemudian nyaris jatuh. Orang-orang kampung kami menundukkan kepala. Si Cakil membalikkan badan sambil mendesis dan menghentakkan kaki. Hanya Sonto yang lain. Barangkali dia ingin mengembalikan pendapat bahwa tubuh perempuan adalah keindahan ciptaan Tuhan dan tentu boleh dipandang bagian-bagiannya. Tetapi harapan Sonto melihat keindahan itu gagal. Perempuan kampung kami lebih cepat bergerak menutup tubuh Si Bugil dengan kain batik yang dibawanya. Dan benar, Si Bugil tampak lebih pantas meski tidak secantik pengantin baru yang pagi-pagi harus mandi keramas.

 Perempuan kampung kami menarik keluar spanduk lusuh yang berlambang organisasi politik itu dari bawah kedua selangkang Si Bugil lalu menjulurkannya ke pada Si Cakil.

“Ambil ini. Kami, bahkan Si Bugil tidak membutuhkannya.”

Si Cakil hanya menatapnya dengan sudut mata, mendesis, lalu mengambil motornya, dan pergi. Orang-orang kampung kami bubar sambil membawa tawa masing-masing. Hanya Sonto yang tinggal. Ia bergoyang joget begitu asyik di hadapan Si Bugil yang entah mengapa kali ini dia bisa tersenyum. []

 


AHMAD TOHARI

Seorang novelis terkemuka. Menulis cerpen, novel, dan esai. Lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Dia telah menerbitkan paling tidak 13 karya, berupa novel dan kumpulan cerpen. Yang sangat terkenal tentu saja novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini telah diadaptasi ke dalam film. Karya-karyanya diterbitkan juga dalam berbagai bahasa seperti Jepang, Tionghoa, Belanda, Inggris, dan Jerman. Dia mendapat sejumlah penghargaan, di antaranya SEA Write Award, 1995. Kini tinggal di Banyumas, Jawa Tengah.