23 Juli 2016 | Cerpen | 750 hits

Dalam Badai

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Cerpen Yuni Kristyaningsih

Angin menderu-deru, membawa suara serupa jeritan binatang yang terluka. Itu suara mengerikan yang membuat Utari terjaga sepanjang malam. Ada hukuman Tuhan dalam angin itu. Dia mempercayainya dan suara itu lebih meresahkannya lagi. Tapi rumah itu terbuat dari batu, telah berdiri kokoh selama hampir seratus tahun, tentu saja angin yang biasa datang di musim dingin itu tak berpengaruh apa-apa padanya.

Utari sedang duduk di sofa di dekat perapian, menyulam gambar bunga mawar pada sebidang kain satin. Dia membenci suara angin itu dan segala-galanya tentang musim dingin. Dia tahu Tuhan meletakkan keindahan pada tempat-tempat yang tepat dan itu tidak dapat diragukan lagi tapi hatinya yang muram hanya sanggup memandang hal-hal dengan cara yang sama muramnya dengan hatinya.

Dia mendengar suara pintu terbuka. Dia mengira itu pelayannya yang datang membawakan obat untuknya. “Aku tidak berpikir obat itu ada manfaatnya,” katanya. Dia telah mengatakan itu setiap malam dan mendengar jawaban yang sama dari pelayannya.

Tapi malam itu dia tidak mendengar jawaban itu. Dia begitu terkejut sampai jarinya tertusuk jarum. Dia melihat pria itu berjalan masuk ke kamarnya. Pria itu tidak mengenakan pakaian tidur tapi celana dan kemeja biasa. Sepertinya dia baru pulang kerja, baru akan berganti pakaian tapi kemudian terganggu oleh suatu pikiran tertentu, kemejanya tidak dikancingkan. Dia membawa nampan berisi mangkuk obatnya dan beberapa butir buah delima.

Pria itu meletakkan nampan itu di meja. Dia melihat pada Utari yang menghisap ujung telunjuk tangan kirinya lalu pada sulaman bunga mawar yang sangat indah terbingkai lingkaran kayu di pangkuannya. “Kau menyibukkan dirimu sendiri dengan hal-hal yang tidak berguna,” katanya. “Tidak heran kesehatanmu tidak juga membaik.”

“Ini untuk acara amal,” kata Utari dengan gugup. Dia membuat hiasan-hiasan yang cantik bersama teman-temannya dan melelangnya. Uang yang mereka hasilkan disumbangkan untuk membantu korban bencana alam dan tragedi perang.

“Kalau kau meminta padaku aku mungkin akan memberikan uang sepuluh atau seratus kali lebih banyak dari yang kau hasilkan dengan pekerjaanmu itu.”

“Aku membuatnya sambil berdoa,” sahut Utari sambil meletakkan sulamannya di meja. “Itu yang membuatnya berharga. Tapi di dunia yang buruk ini hal-hal ironis memang sering terjadi. Seperti kau yang bisa menghasilkan lebih banyak uang dari orang lain yang bekerja lebih keras. Tapi aku tidak mau menari untukmu.”

“Menari?”

“Sepuluh atau seratus kali lipat itu bukannya menyangkut harga yang harus kubayar?”

Pria itu tertawa. “Aku tidak tahu kau suka menghubungkan aku dengan hal-hal yang kotor dan mesum. Itu menarik sekali. Tadinya aku cuma mau kau duduk di pangkuanku sementara aku menandatangani ceknya.”

Utari merasa pipinya panas. “Ada perlu apa kau datang kemari?”

“Pertanyaan seperti itu melukai hatiku.” Pria itu telah tidak mengunjungi kamarnya selama berbulan-bulan. Utari menikmati malam-malam yang tenang selama itu meskipun tahu malam ketika pria itu datang kembali akan tiba cepat atau lambat. Dia duduk, nyaris dengan cara seperti melemparkan tubuhnya di dekat Utari tadi duduk. “Minumlah obatmu selagi masih hangat,” katanya. “Aku curiga kau membuang obat itu diam-diam. Kau sangat kurus seperti batang seledri.”

Pria itu menatapinya sedemikian rupa sehingga Utari meraih mangkuk obatnya. Pria itu memotong dasar buah delima dengan pisau buah dan mengiris buah itu dengan cara seolah itu adalah buah jeruk dengan juring-juringnya. Dia mengulurkan potongan buah itu kepada Utari. Utari ingin memalingkan wajah tapi obat itu sangat pahit dan dia suka buah delima jadi dia memungutnya dari tangan pria itu dan memakannya.

“Itu obat untuk rahimmu. Aku tidak tahu kenapa kau meminumnya dengan enggan begitu. Bukankah bagi wanita rahim adalah harta yang berharga? Atau lebih tepatnya senjata yang berbahaya?”

Utari memandangnya. Pria itu mengangkat bahunya. “Aku mengenal banyak pria yang terjebak dalam drama domestik yang membosankan dan tidak bisa melepaskan diri dari hubungan dengan wanita yang sebenarnya mereka benci hanya karena wanita-wanita itu telah melahirkan anak-anak mereka. Kau tahu, pria biasanya selalu terjebak dalam delusi bahwa dia adalah seorang raja dan hartanya adalah kerajaannya, dia meyakini bahwa seorang raja tidak harus memiliki seorang ratu tapi dia wajib memiliki seorang pewaris. Biasanya wanita membuat ulah karena tidak bisa menerima itu. Dalam delusinya wanita berpikir bersama seorang pewaris seorang ratu bisa menganulir kekuasaan seorang raja. Begitulah bagaimana neraka seorang pria dimulai.”

“Tapi kalau kau bertanya apa pendapatku,” pria itu melanjutkan, “aku mau-mau saja berada di dalam neraka itu selama kamu yang menarikku ke dalamnya. Sayangnya kau bahkan tidak berpikir untuk menggunakan rahimmu untuk menjerat kakiku.”

“Yang lahir dari rahim itu adalah seorang manusia, bukan? Apakah pantas seorang manusia lahir dari seseorang seperti kau dan aku? Itu hanya akan melukai nilai-nilai kemanusiaannya saja.”

“Seseorang seperti kau dan aku itu seperti apa?”

“Orang yang jiwanya dirusak kebencian.”

“Apa katamu?”

Mereka telah lama berada dalam hubungan dimana mereka tidak lagi merasa perlu menyembunyikan apa pun yang ada di dalam pikiran mereka. Mereka menganggap itu sebagai kebencian tanpa menyadari kalau hubungan seperti itu jauh lebih menarik dari hubungan lain yang lebih stabil.

“Aku akan menganggap kau mengatakan itu atas nama kesedihanmu karena kematian bayimu,” kata pria itu. Itu pertama kalinya sejak hari yang menyedihkan itu dia membahasnya. “Itu kecelakaan yang menyedihkan. Seandainya aku mendapat pemberitahuan lebih awal soal bayimu.”

“Bukankah aku sudah memintamu untuk menjauhiku?”

“Bagaimana aku bisa menghubungkan antara penolakanmu, sesuatu yang kau lakukan padaku setiap hari, dengan seorang bayi? Lagipula apa yang membuatmu berpikir aku akan menjauhimu hanya karena seseorang memintanya? Itu mustahil.”

“Kau tidak mengerti apa-apa selain membela dirimu sendiri.”

“Kuharap suatu saat kau punya minat lain selain membenciku.”

Bertram tidak mau mengakui bahwa hubungan mereka adalah cinta sepihak. Wanita itu mungil dan manis, seperti seorang malaikat belia, ketika mereka pertama kali bertemu. Di dalam dunianya wanita yang seperti malaikat seperti dia tidak ada. Demikian juga di dalam dunia Utari pria yang seperti setan sepertinya tidak ada. Utari akan terkejut kalau tahu Bertram menghabiskan banyak waktu memikirkan bagaimana cara memiliki dirinya. Bahkan Bertram sendiri pun terkejut. Dia melakukan segala cara agar mereka memiliki hubungan. Dan apa yang lebih nyata dibanding seorang bayi? Ketika diberitahu bahwa sikapnya yang sembrono telah menyebabkan Utari keguguran dia menjadi setengah gila. Para pelayan butuh waktu lama membersihkan pajangan-pajangan yang pecah dan benda-benda berharga yang dirusaknya. Ketika dia tidak dapat tidur di malam hari dia mulai minum minuman keras. Dokter-dokter didatangkan untuk merawat Utari. Rahimnya lemah dan kesehatannya juga tidak begitu baik. Tapi Bertram tidak datang menjenguknya. Tidak ada yang bisa mengira kalau kehilangan bayi itu telah mematahkan hatinya.

Ada suara mengerikan seperti suara kuku-kuku menggaruk di kaca-kaca jendela. Barangkali ranting-ranting pohon. Biasanya ada satu atau dua dahan pohon yang patah dalam badai semacam itu. Angin membuat suara gaduh yang tidak menyenangkan.

Di hari dengan badai yang serupa mereka kehilangan bayi itu. Mengikuti dorongan hatinya pria itu bergerak untuk memeluknya. Secara refleks Utari meraih mantel yang seharusnya melapisi gaun tidurnya. Gaun tidurnya terbuat dari bahan renda yang mahal. Meskipun sangat nyaman dipakai tapi gaun itu tidak menyembunyikan apa pun dan itu mengganggunya.

“Bagaimana mungkin kau berpikir selembar kain akan bisa melindungimu dariku?” Wajah pria itu menyiratkan ekspresi geli. Dia mengangkat tubuh Utari dan meletakkannya di pangkuannya. Pada malam-malam yang meresahkan hati, hanya dalam keadaan itulah, dengan wanita itu dalam pelukannya, dia bisa tidur.

“Ini sedang badai. Bukankah seharusnya kau tidak memikirkan hal lain selain Tuhan?” kata Utari ketika menyadari dia tidak dapat menghindar dari hasrat pria itu.

“Aku memikirkan Tuhan. Bukankah Dia yang memberikanmu kepadaku? Kenapa aku dicela karena menikmati pemberian-Nya?”

Utari dan penolakannya sudah seperti semacam ritual. Laki-laki terhormat biasanya akan kehilangan minat pada sesuatu yang tidak menerimanya. Tapi memang tidak ada hal terhormat yang dapat ditemukan pada dirinya. Dan lebih parah lagi karena dia mengakuinya. Kepada Utari dia tidak pernah menyembunyikan maksud dan tujuannya. Utari menganggapnya mengerikan. Tapi pria itu menikmati reaksi Utari atas semua tindakannya. Dia merasa dirinya diberkahi dengan selera humor yang luar biasa.

Sepertinya memang ada pohon yang tumbang karena badai ―rumah itu dikelilingi kebun dengan pepohonan yang telah berusia puluhan tahun―  dan angin yang bertiup kencang menghempaskan pohon itu sehingga sebagian rantingnya mengenai jendela. Suara yang ditimbulkannya terdengar menyedihkan.

Pria itu meraih satu juring delima dari meja dan mengulurkannya ke mulut Utari. “Makanlah lebih banyak. Bibirmu masih menyisakan rasa pahit obat,” katanya. Juring delima itu berada begitu dekat di mulutnya sehingga sebelum Utari menyadarinya, butiran buahnya telah pecah di lidahnya.

“Aku sangat senang setiap kau memakan buah delima,” ucap pria itu lagi. “Aku terdorong untuk percaya buah itu mengandung sihir.”

“Kenapa?” Mengajaknya berbicara kadang berhasil mengalihkan perhatian pria itu meskipun tidak sering.

“Apa kau tahu cerita tentang Hades dan Persephone?”

“Aku tidak suka cerita-cerita tentang laki-laki yang menipu wanita.”

Bertram tidak mempedulikan ucapannya. “Ketika Hades disuruh berpisah dari Persephone dan dia tidak punya cara lain untuk menghindarinya, dia memetik buah delima dari kebunnya untuk gadis itu. Persephone memakannya tanpa curiga. Karena buah itulah kenapa setiap musim dingin gadis itu akan selalu kembali kepada Hades tak peduli seberapa jauh pun dia telah pergi.”

“Pria yang licik,” gumam Utari sibuk menghindari ciumannya. “Dalam seni, Persephone selalu digambarkan berwajah murung.” Dia mungkin saja akan mengatakan hal-hal lain kalau pria itu tidak menciumnya. Ciumannya seperti angin badai yang menghempaskan Utari ke arah yang tidak dia kehendaki.

Bertram melepaskan ciumannya sesaat setelah menyadari Utari kehabisan nafas. “Aku menerima surat dari kakakmu,” kata pria itu tiba-tiba.

“Surat untukku atau untukmu?”

Utari tahu suaminya membaca semua surat yang datang untuknya, bahkan kadang menyembunyikan satu atau dua surat. Tentu saja dia melakukan itu hanya untuk mengganggunya.

“Kakakmu mengembalikan pinjamannya. Dia mengirimiku cek.”

Ayah Utari menjalankan perkebunan dan perusahaannya nyaris seperti badan amal. Dia mempertahankan para pegawainya, orang-orang yang telah dia kenal sejak kecil, dan memberikan gaji yang layak tanpa mempedulikan kenyataan bahwa mereka hanya menghasilkan sedikit keuntungan untuknya. Ketika perusahaan itu diwariskan kepada kakaknya mereka berada di ambang kebangkrutan. Karena itu aset yang dimiliki keluarga mereka sejak beberapa generasi, ide untuk menjual perusahaan itu sama sekali tidak bisa diterima. Kakaknya meminjam uang dari pria itu. Anehnya pria itu tidak tertarik pada upaya pengembaliannya. Dia mengatakan akan memberi jangka waktu yang tidak terbatas asal mereka menjadikannya keluarga. Siapa yang menduga kalau yang diinginkannya adalah pernikahan. Utari sama sekali tidak mengenal pria itu tapi mendengar hal-hal buruk mengenainya sehingga rencana pernikahan itu menyakitkan hatinya. Tapi itulah yang kemudian terjadi. Pria itu membawanya ke negaranya. Utari mengira setelah satu atau dua tahun kakaknya akan menyelesaikan urusan hutang itu sehingga dia bisa pulang tapi itu hanya angan-angannya saja.

“Kakakmu bilang minggu ini aku harus menyelesaikan pemindahan kepemilikan perkebunan dan perusahaan keluargamu. Dia juga bilang aku harus segera menyelesaikan urusanku denganmu. Sudah menduga reaksimu akan seperti itu. Kau begitu gembira sampai-sampai kegembiraan itu mungkin bisa membunuhmu. Sudah jelas kau tidak menunggu semenit pun untuk pergi dariku.”

“Aku, seperti yang kau harapkan, akan merusak kegembiraan itu. Aku mungkin akan mengembalikan tanah pertanian dan perusahaan keluargamu, aku tidak memerlukannya, tapi aku tidak akan mengembalikanmu.”

“Kenapa?”

“Kenapa kau bertanya kenapa?”

“Hubungan kita sangat rumit dan itu menyusahkan kita berdua. Bukankah seharusnya kau senang kita punya cara untuk menyelesaikannya?”

“Aku tidak ingin ada yang selesai di antara kita.” Pria itu membenamkan wajahnya di lekukan leher Utari. Rambut-rambut kasar di wajahnya menyentuh nadinya. “Aku ingin, ah, tidak, aku bermaksud, dan jelas aku akan memastikan maksudku tercapai, untuk bertengkar denganmu dan memelukmu setiap hari, seperti ini, dari sekarang hingga seribu tahun yang akan datang.”

Utari terganggu dengan caranya berbicara. Saat bersamanya pria itu punya kebiasaan berbicara dengan mulut berada di kulitnya. Pada malam-malam tertentu saat pria itu bepergian dia mengingat hal-hal seperti itu dan membuatnya luar biasa resah.

Bertram menyentuh sisi wajahnya. Utari selalu heran kenapa pria itu selalu memperlihatkan ekspresi yang memilukan saat bersamanya atau berbicara dengannya, ekspresi yang sama yang dia lihat dalam lukisan-lukisan mengenai sepasang kekasih.  “Aku tahu dalam kehidupan ini kau memberikan cintamu padaku itu hal yang tidak mungkin. Tapi kita cuma hidup satu kali. Kau disini. Bukan di tempat lain. Kau menjalani kehidupan ini denganmu. Bukan dengan orang lain. Itu sebuah kesempatan bagiku, bukan?” Pria itu selalu memeluknya seperti bagaimana Bernini menggambarkan kisah Persephone.

 “Kadang-kadang,” kata pria itu, “yang benar-benar kuinginkan adalah kau menemukan kenyataan bahwa pelukanku adalah satu-satunya tempatmu untuk tidur.”

Angin musim dingin menderu-deru di luar. Dan kelihatannya tidak akan berhenti untuk waktu yang lama. []

 


Catatan

  • Dalam leganda Yunani Persephone diculik saat dia sedang mengagumi satu rumpun bunga daffodil yang secara aneh memekarkan seratus kuntum bunga. Hades muncul dengan keretanya dari dalam tanah dan membawa gadis itu pergi ke tempat yang tidak disinari matahari. Penculikan itu membuat repot semua orang. Ketika Hades terpaksa harus mengembalikannya karena desakan semua orang, dia memberi Persephone buah delima. Persephone sempat memakannya sedikit tanpa menyadari bahwa siapa pun yang memakan makanan dari tempat tinggal Hades harus menghabiskan waktu di sana untuk selamanya. Akibatnya, dalam setahun, di musim dingin, dia terpaksa harus meninggalkan rumahnya yang dipenuhi bunga-bunga untuk bersama Hades tinggal di tempat yang muram
  • Gian Lorenzo Bernini memahat The Rape of Proserpina sepanjang tahun 1621 hingga tahun 1622. Patung bergaya baroque itu terbuat dari marmer setinggi 89 inchi. Menggambarkan dengan begitu dinamis peristiwa penculikan Persephone. Bernini memahat dengan detail kulit, helai-helai rambut dan air mata Persephone. Hades digambarkan melingkarkan lengannya ke pinggang gadis itu ketika Persephone berusaha untuk melepaskan diri, jari jemarinya yang berada di kulit Persephone dipahat begitu detail, sehingga dianggap menggambarkan perpaduan yang begitu mengagumkan antara kelembutan dan kekejaman yang kontras. Patung itu kini disimpan di Galleria Borghese di Roma, Italia.

 


YUNI KRISTYANINGSIH

Nama lengkapnya, Rr Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat. Lahir di Ponorogo pada tanggal 16 April 1979. Selepas SMA melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, di Fakultas Pertanian Jurusan Hortikultura, lulus pada tahun 2001. Sempat tertarik pada jurnalistik sehingga mengikuti kuliah melalui program e-learning di University of Southern California, lulus pada tahun 2006 dengan tesis mengenai politik media. Melanjutkan pendidikan di University of Heidelberg pada tahun 2007 dengan penelitian tentang biopestisida. Bercita-cita mendirikan sekolah untuk anak-anak kurang beruntung dan mereka yang membutuhkan perlakuan istimewa dengan model seperti SD Tomoe Gakuen. Sangat menikmati membaca buku mengenai bermacam-macam topik terutama sastra. Mulai menulis sejak SMA. Cerpen pertamanya “Lukisan Senja” dimuat di majalah sastra Horison pada tahun 2003. Cerpen-cerpen berikutnya dimuat di majalah sastra Horison, harian Kompas, tabloid Nova, harian Tribun Jabar dan Jurnal Cerpen. Dia juga menerjemahkan karya Ernest Hemingway , The Old Man And The Sea, diterbitkan oleh Penerbit Serambi di tahun 2009.