09 September 2016 | Cerpen | 1325 hits

Ikan Kering dan Listrik Bocor

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Cerpen Takashi Atoda

Nyonya Sugita tengah menyerap air untuk membersihkan kulkasnya ketika bel rumah berdering. Tidak heran kalau ia tak mendengarnya karena dapur dan pintu masuk rumah tua ini terpisah, tidak seperti kondominium modern, memang. Sering membersihkan adalah salah satu cara mengasyikan, lalu dia memandang tajam ke dalam kulkas.

“Oh, tidak. Apa yang benda ini lakukan di sini?” Dengan ujung jemari tangan dia mengangkat sebuah keganjilan, benda kering itu muncul dari pojok tengah dari rak. Dia membauinya dengan seksama. Benda itu membuat sulit, bau yang tak disadari―amis, maupun layaknya sayur-sayuran layu, juga sesuatu yang sudah diawetkan. Menarik sebuah ingatan yang agaknya samar dia terpejam. Benda di ujung jari-jarinya sudah mengkerut kedalam bentuk yang berubah, namun dia menebak bahwa rupa benda itu adalah ikan Shishamo.

Mulutnya lebar menganga, dan dangat dingin, kedua mata putihnya membelalak setengah terpejam. Shishamo adalah ikan yang hanya ada di Hokkaido, sewaktu Nyonya Sugita pindah ke rumah ini anak perempuannnya, Eiko, membawa ikan itu dari Hokkaido sebagai hadiah. Ikan Shishamo itu lebar, panjangnya kira-kira enam inci, persis seperti mackerel[1]. Rongga perutnya membengkak layaknya wanita hamil.

Sejenak ia mengingat bahwa sebelumnya terdapat dua ikan, namun saat ia tidak menemukan salah satunya untuk digunakan makan siang dia berasumsi bahwa kedua-duanya telah dimakan. Benda ini pasti keluar dari tas, terjatuh, dan tersangkut di dalam kulkas. Mengingat kembali, Nyonya Sugita menganggukan kepala, benda yang telah dibungkus taplak pembersih.

Alat penghilang lembah di dalam kulkas cukup bagus. Selama tiga bulan bahwa sebagian ikan Shishamo kering sudah berada di dalam, menciut menjadi bentuk yang aneh. Kepalanya berputar seolah terpukul, lalu dengan sudut pandang itu tampak seperti mencela. Tubuhnya sudah menciut menjadi setengah dari panjangnya kemudian terpilin ke dua lipatan. Hanya saja isi perutnya telah dikeluarkan, keras dan kering. Di sana-sini bintik-bintik agak kuning di kulitnya tampak, dan mengeluarkan usus-usus yang sebelumnya menempel di sisik. Ketika ia mendapatkan ikan itu dari arah pintu kulkas yang berlawanan membuat bunyi dengan tajam. Benda itu kerasnya seperti porselin sumpit.

Hal itu pastinya sangat buruk. seperti orang lain, Nyonya Sugita telah memiliki penderitaan selama tahun-tahun peperangan. Baginya kesederhanaan telah menjadi bagian alam kedua. Shishamo segar merupakan ikan yang mewah, menurut artikel gourmet[2]. Sejak ikan itu berada di kulkas, mungkin saja tidak termanjakan. Tidak, hal itu pastinya sangat buruk. Dia membaunya lagi. Telapak tangan luarnya hangat di bagian ikan itu tampak lembut. Sebuah aroma beranjak ke arah hidungnya. Melupakan dinginnya ikan, benda itu seperti menjadi bubur lalu tampaknya ditakdirkan menjadi sebuah gumpalan daging menjijikan.

Ikan itu terbelah menjadi dua, dan indung telurnya terjatuh di jamban layaknya beberapa serangga berwarna abu. Telur-telur kecilnya mengeluarkan sebuah celah dalam kantungnya.

Nyonya Sugita gemetar. Ikan itu, salah satu hidangan favorit, dengan sangat tiba-tiba seperti mayat hidup.

“Menjijikan,” gerutunya pada diri sendiri.

Bel pintu berdering kembali. Kali ini ia mendengarnya dengan mudah. Sekarang bunyi itu jelas-jelas mengganggu.

“Masuk!” Dia berlari membawa air di kedua tangan, menyekanya dengan celemek, dan menuju pintu masuk dengan tergesa. “Siapa ya?” Tanyanya sembari mengawasi secara seksama di pintu.

“Petugas penagihan listrik.” Sebuah wajah merah terlihat dari kaca pintu. Penampilan bajunya, juga dapat dibedakan, memang tampak seperti seorang penagih.

“Ya. Sebentar lagi aku akan menghampirimu,” balasnya, berbalik, dan pergi menuju ruang tamu. Dia membuka laci dalam meja. “Ehm, ini dia!” Laci itu selalu tersusun. Secara langsun di bagian depan sudah ada sepuluh kuitansi dijepit semua. Mengangguk-angguk, dia kembali ke pintu masuk sembari membawa kertas-kertas itu, kemudian dengan percaya diri seorang ibu yang telah menemukan lelucon anaknya itu, membuka pintu. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Listrik bulan lalu sudah tercatat.” Dia menjulurkan sebuah kertas.

“Berapa?”

“¥ 3,269,” katanya dengan nada senang.

Setelah menggerak-gerakan tanda bukti itu di tangannya, Nyonya Sugita berkata, “Anda dari Perusahaan Listrik T, kan?” dengan cara mengecam pada laki-laki itu.

“Ya,” jawabnya dengan agak curiga. Sewaktu dia mengangkat topi, keningnya terlihat, sebagian botak.

“Kupikir meterannya rusak.”

“Semuanya akan baik-baik saja.”

“Tidak. Pasti ada masalah. Aku pindah dari Setagaya ke sini empat bulan yang lalu.”

“Apa?”

“Perusahaan Listrik T mengurusi daerah Setagaya, bukan?”

“Ya.”

“Laju penghitungannya sama, bukan?”

“Ya. Tentu saja.”

“Terus, pasti ada yang aneh. Ini, lihat ini. Di akhir tahun tagihanku ¥ 2,480, bulan Juni ¥ 2,399, Juli ¥ 2,231, Agustus . . . . oh, kuitansi untuk bulan Agustus hilang, tapi aku tak bermaksud untuk menyembunyikannya. Di bulan September ¥ 2,310, Oktober ¥ 2,440. Tagihannya pasti pasti dalam batas ¥ 2,000. Betul, kan? Dan setelah aku pindah ke sini bulan lalu saja sudah ¥ 3,328, di bulan sebelumnya ¥ 3,210, lalu sebelum itu ¥ 3,387. Kisaran semuanya ¥ 3,000. Tidak masuk akal.”

Dengan tatapan kosong di wajah seorang penagih itu mendengarkan si ibu rumah tangga, namun kali ini akhirnya dia paham akan inti permasalahan. “Nyonya Sugita, wajar saja tagihan anda akan berubah saat anda pindah. Aliran listrik anda juga berubah.”

“Tidak. Penghitungan arus pastinya sama. Kau tidak tahu perumahan Setagaya, kupikir begitu, tapi jumlah kamar dan lampu di rumah ini sama persis. Rancangan rumah ini agaknya berbeda akan tetapi . . . .” Perumahan Setagaya sudah disewa. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa kereta bawah tanah melewati tetangganya, dan tampaknya bahwa tuan tanah menginginkan bangunan kondominium diharapkan pada jalur yang baru. Nyonya Sugita telah meminta untuk meninggalkan rumah itu beberapa tahun lalu.

Ia telah mendatangi rumah seberang yang sesuai hanya saja perpindahan menjadi sesuatu yang perlu. Mungkin karena Nyonya Sugita berkata bahwa ia harus membayar tunai, permintaan harga agaknya rendah daripada harga pasar; juga, tempatnya dikabarkan tidak membawa nasib baik. Sewaktu kabar pembelian itu kembali terdengar, dan lagi setelah ia pindah. Tukang gosip setempat, seorang perempuan di toko manapun, mengatakan padanya tentang cerita yang tidak pernah ia dengar.

Lubang hidungnya melebar, penjaga toko senang sekali bisa bercerita, “Seharusnya anda juga hati-hati. Anda bisa menyebutnya sebagai tahyul, tapi awalnya dari seorang guru sekolah menengah dengan istrinya yang muda. dulu dia ramah, cantik, tapi tidak bergaul maupun bercinta dengan suaminya. Tiba-tiba lenyap. Setelah suaminya tertabrak mobil, di sebelah kanan depan toko ini. Saat itulah pertanyaan tentang kepemilikan semakin tidak jelas. Untuk sementara waktu hak kepemilikan diberikan pada saudara perempuan si suami yang tinggal di Miyazaki, dan dia menyewakan ke sejumlah orang lain. Dengan begitu rumah itu menderita. Lagi pula, ada perbedaan besar antara cara mengelola sewa tempat dan menjadi pemilik. Selanjutnya datanglah seorang manajer toko kantor cabang, lalu tidak lama kemudian dia mati karena kanker. Setelah itu, kedua pasangan dengan seorang anak yang menderita lumpuh sejak bayi, kemudian, mari kita lihat, Takayagi-san membeli benda ini sebelum anda. Dia pindah dengan selamat, tanpa celaka sedikitpun. Tapi kalau dihitung dari awal anda adalah penyewa kelima dari rumah itu.” Maka tampaknya bahwa tiga dari keempat keluarga telah tertimpa tertimpa nasib buruk si tukang gossip benar-benar telah membuat bencana jadi kenyataan.

Sayangnya Nyonya Sugita bukan orang yang percaya dengan cerita karma semacam itu. Dia merupakan orang yang keberatan apabila rumor membuat harga rumah lebih murah dia akan menyambut cerita-cerita yang lebih buruk lagi.

Rumah itu memang dekat dengan rumah anak perempuannya. Tempat ini terlihat sangat besar bagi Nyonya Sugita. Dia sudah terbiasa tinggal sendiri, tapi dipikir-pikir perpindahan  ini membuat perasaannya lebih nyaman karena dekat dengan keluarga. Harga tanah terus beranjak naik dan keuntungan dari anak laki-lakinya yang berada di Amerika dia merasa rencana terbaiknya adalah mengambil warisan suaminya dari bank kemudian membeli tanah dengan uang itu. Kelak ia akan tinggal bersama anak laki-lakinya dan kadang mengunjungi anak perempuannya; dengan mantap ia putuskan. Sebagai akibatnya, sebuah kecelakaan maut sepuluh tahun lalu atau, sebuah kehancuran pernikahan, kemudian seseorang yang mati dari penyakit sama sekali tak ada hubungannya dengan Nyonya Sugita. Jujur saja, dia tak akan gegabah.

Sebagai bukti bahwa rumah Setagaya dan saat ini mempunyai jumlah kamar yang sama memang sebuah ketidak sengajaan dan hal yang tidak dia cari sebelumnya. Hal itu terjadi begitu saja tentunya dalam pencarian tempat yang mirip. Dengan singkat Nyonya Sugita menceritakan tempat tinggal pribadinya di masa lalu pada si penagih itu.

Di luar rasa hormat, pria yang sekali waktu tengah mendengarkan apa yang perempuan itu katakan namun lambat laun menjadi melelahkan. “Tapi pada dasarnya perbedaan arus tergantung pada ammeter.” Menggunakan kata-kata profesional dia mencoba mengelak dari gangguan pertanyaan dari si wanita tua.

Bagaimanapun, dia bukan orang yang mudah diberi penjelasan. Meski wanita tua itu dengan jelas memberitahukan tentang kesulitan merawat rumah. “Ya, betul. Tapi rumah ini mempunyai konsumsi arus listrik dua puluh amper. Sama halnya dengan meteran Setagaya lainnya. Di setiap jalur semuanya sama. Empat lampu pijar tiga puluh watt, tiga ruang tatami[3] dan satu di dapur. Lalu bola lampu empat puluh watt di kamar mandi, dan bola lampu di pintu masuk dan lorong dua puluh watt. Di Setagaya aku pernah menggunakan bola lampu pijar lebih dari dua puluh watt di kamar mandi tapi . . . .”

“Bagaimana dengan kulkas dan mesin cuci?”

“Keduanya masih mesin-mesin yang sama. Aku membawa mereka bersamaku.”

“Alat pendingin udara dan microwave?”

“Aku tidak suka dengan pendingin udara. Tidak baik untuk tulang anda. Anda juga seharusnya tidak menggunakannya juga. Seperti microwave, aku heran kenapa para wanita sekarang mempunyai pikiran untuk menggunakan benda semacam itu.”

“Apakah keluarga anda menanam? Atau melakukan banyak hiburan?”

Dengan bersikeras Nyonya Sugita menggelengkan kepala. “Tentu saja tidak. Saya selalu tinggal sendirian. Kebiasaanku tidak berubah sama sekali.”

“Tapi kapan anda pindah, sesuatu . . . .”

“Anda mengatakan sesuatu yang sangat aneh. Apabila tempat tinggalku berubah bukan berarti aku menjadi orang yang tiba-tiba berubah. Semenjak suamiku meninggal aku menjalani aturan hidup sendiri.”

“Ketika perkakas listrik anda menjadi buruk alat-alat itu mengambil listrik lebih banyak.”

“Bedanya hanya ¥ 1,000, bandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Apabila benda itu tiba-tiba rusak saat kepindahan, tolonglah jadi saksiku. Aku akan membiarkan orang pindahan tahu. Benar, benda-benda itu cukup membebaniku.”

“Sewaktu tagihan di atas ¥ 2,400, pajaknya 5%. Dengan begitulah tarifnya naik.”

“Hanya 5%, kan? Berapa harga 5% dari ¥ 2,400?”

“Ehm . . . .”

“Tapi sekarang tarifnya di atas ¥ 1,000 dari bulan ke bulan.” Si ibu rumah tangga itu melempar-lemparkan tumpukan tagihan ke udara di hadapan hidung si penagih. “Kupikir meterán rumah ini rusak. Putarannya agak cepat.”

“Meterannya tidak rusak. Benda ini hanya dipasang setelah pemeriksaan.”

“Sekalipun di bank-bank membuat kesalahan. Aku punya uang yang sudah berkurang di bank dan ditambah lagi dengan angsuran ke beberapa orang tak dikenal. Anda jangan terlalu berhati-hati. Lagipula, aku akan memanggilkan petukang untuk memeriksa meteran,” nada tegas Nyonya Sugita seolah-olah tak ada jalan untuk menyelesaikan masalah.

Dengan acuh tak acuh si penagih mengangkat bahunya. “Baiklah, seseorang akan segera datang. Kadang-kadang, tarif bulan listrik bulan lalu . . . ,” katanya membelokkan pokok pembahasan.

Wanita itu menggelengkan kepla lagi. “Aku tidak bisa menerima itu. Selalu saja kalian mengatakan‘segera, segera’. Aku tidak hanya sedang bertabiat buruk, ini nyata. Lalu setelah petukang reparasi membereskan dengan semerta-merta aku harus membayar. Aku tidak akan berhenti berkata. Mereka selalu berkata, ‘Nyonya Sugita adalah wanita sangat kekeh.’”

“Namun setiap instansi itu berbeda. Tagihan harus dibayar melalui bagian penagihan.”

“Aku tidak berkata aku tidak akan bayar karena aku tidak punya uang. Tapi bukan miskin.”

“Aku bisa mengerti itu.”

“Sejak aku tidak memahami persoalan untuk membayar jumlah tagihan, lalu melunasinya, bukan? Aku hanya mengatakan bahwa aku benar-benar diselidiki, hanya itu.”

Dia bukanlah wanita yang mudah untuk membuat bukti.

“Aku mengerti!” Kata laki-laki itu dengan keras lalu membanting pintu.

Nyonya Sugita mengangkat bahunya dan memperhatikan laki-laki itu pergi. “Kasihanilah aku,” katanya sembari menurunkan nafas. Kemudian dia cepat-cepat menuju dapur. Dia belum kelar membersihkan kulkas. Shishamo kering yang dia lempar tenggelam dan terserap dalam air lalu mengambang. Ketika dia menjumput hati-hati terasalah tipis benda itu untuk disentuh dan meninggalkan bau di ujung jari-jarinya.

 

Dulu suami Nyonya Sugita pegawai bank dan dia orang yang terlalu sistematis. Dalam kaitan itu, kedua-duanya memang serupa. Bisa dibilang bahwa salah satu dari masing-masing tabiatnya menambah kuat pada yang lainnya.

Pernikahan mereka berlangsung dalam kurun waktu 21 tahun, 160 hari, 5 jam, dan 37 menit, dan semuanya karena uang, bukanlah untuk sesen yang tak bisa jelaskan selama kurun waktu itu.

Hampir tidak ada perbedaan dalam cara hidup mereka yang di dalam seluruh tahunnya terdapat 365 hari. Umumnya hari Minggu adalah hari yang berbeda dengan hari-hari lainnya, sebaliknya setiap Minggu sama halnya dengan hari-hari Minggu lainnya. Pasangan itu bangun  pada pukul enam dan tidur jam sepuluh. Waktu untuk menonton telah diatur, dan waktu mandi di setiap hari mereka selalu konsisten. Kedua anak mereka lahir di bulan April, terlahir dengan perencanaan yang tepat di beberapa musim yang baik.

Setelah Tuan Sugita meninggal tidak satu hal pun berubah terhadap kehidupan Nyonya Sugita. Jika apa pun, hidupnya sendiri menjadi lebih resmi daripada masa lalu. Hal itu lebih mudah untuk mengikuti sistem sendiri daripada dengan orang lain.

Sekalipun ia telah pindah dari Setagaya ke tempat yang sekarang tidaklah alasan untuk mengubah kehidupan keseharian yang dijalani. Semenjak tagihan gas, air, dan telepon tidak berbeda dari salah satu periode di Setagaya dulu, Nyonya Setagaya tidak bisa mengerti mengapa hanya tarif listrik yang terus naik. Selagi dia diberitahu oleh si penagih, sebenarnya hampir tak ada bedanya dengan jumlah lampu-lampu di antara kedua rumah. Buktinya, kamar mandi di Setagaya mempunyai lampu bohlam berkekuatan dua puluh watt. Semenjak dia menggunakan peralatan listrik yang sama dan sekalipun tak ada gaya hidup yang berubah, dia tidak dapat mengukur mengapa hanya tagihan listrik naik setelah kepindahannya.

Meski dia mendesak, bahwa tukang meteran tidak akan mucul, apa yang dia harapkan. Lalu ketika hari pemungutan datang kembali di bulan depan Nyonya Sugita melakukan dialog yang sama. Sebenarnya dia tidak membayar tagihan kali ini.

“Jika anda tidak membayar tagihan, listrik anda akan diputus.” Si penagih mengancamnya, sekalipun Nyonya Sugita menolak keras untuk membayar. Tanpa menghiraukan permasalahan meteran dia menghargai keyakinan dari keputusannya, secara metode membiayai diri yang berumur di atas enam puluh lebih, memang begitulah adanya.

“Bagaimanapun juga, pemeriksaan meteran itu datang lebih awal. Aku bisa membawakanmu uang kapan pun.”

Sekali lagi si penagih menutup pintu di belakangnya dengan kasar dan pergi. Sekitar tiga hari kemudian menunggu kemunculan tukang reparasi. Seorang teknisi, mengenakan seragam biru, memegang sebuah kotak yang tampak seperti alat pijat listrik dan menyodok sana-sini. “Maaf, nyonya, maukah anda menempelkan segel ini di sini.” Panggil laki-laki itu dengan riang.

“Bagian rusaknya di mana?”

“Tidak. Tidak ada masalah.”

“Itu . . . .” kata selanjutnya tidak keluar. Dia sudah yakin bahwa sesuatu ketidakserasian akan ditemukan. Semenjak penilik dari Listrik T laki-laki itu pasti bersekongkol dengan perusahaan. Dimana lagi dia bisa menyerahkan ini? Persidangan keluarga?

Bagi Nyonya Sugita cukuplah sulit untuk di malam itu. Pasti ada suatu masalah di beberapa tempat, pikirnya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak puas.

Betul! Dia beranjak dari futon[4]. Mengapa tidak terpikirkan dari tadi? Dia membereskan pakaiannya dan mengambil lampu senter dari laci. Tidak ada sinar di dalam tiga kamar itu; di dapur tampak gelap. Menggunakan sinar senter dia menarik kabel kulkas. Kemudian dia berdiri di tengah-tengah dapur dan melihat sekeliling. Pot listrik itu tak digunakan, namun dia menarik juga kabel itu. Alat pembuat jus yang dia terima dari anak perempuannya berada di atas rak. Tak ada lagi benda-benda di dapur.

Dia kembali pergi ke ruang tamu dan menarik kabel teve. Jam besar itu menggunakan baterai; alat pemanas tidak sedang ia gunakan.

Atas keputusan bahwa tidak satupun listrik yang hidup di rumah Nyonya Sugita seperangkat pengganjal kaki terkumpul di luar pintu masuk. Berdiri di atasnya menyikat jaring laba-laba dan mengulurkan lehernya. Meteran itu terletak di pojok sorotan senter. Awalnya dia tidak dapat membedakan antara satu benda dengan lainnya, namun matanya mulai menjadi terbiasa dia dapat melihat kotak itu. Di dalam benda persegi empat, setengah jelas terlihat wadah sebuah lempengan logam terdengar sunyi dan berputar lambat.

“Seperti yang saya pikir,” bisiknya dengan sepenuh hati. Dia pun merasa sedikit tak suka terhadap dirinya sendiri. Dengan rasa senang dia kembali ke dalam rumah dan sekali lagi berdiri di tengah-tengah tiap ruangan dengan seksama memeriksa tiap kamar.

“Aku heran apabila aku mencari sesuatu di bawah. Akankah aku menggunakan listrik tanpa diketahui? Kalau tak salah, ini pasti ada di dapur,” pikirnya. Untuk sementara ia tidak menggunakan mesin pemanggang roti. Kabel, tentu saja, tidak tersambung. Cahaya untuk kompor minyak menggunakan baterai. Memeriksa kembali seluruh rumah dia keluar dan melihat meteran lagi. Seperti sebelumnya berkeliling dengan melangkah setapak demi setapak.

Tak ada tanya mengenai hal itu. Seseorang telah mencuri listriknya. Kalau tidak, meteran ini menjadi alat bohong-bohongan.

Paras dari tetangga itu tiba-tiba masuk ke dalam benaknya. Laki-laki tua aneh yang cara bicaranya benar-benar mengganggu ketika bertemu. Rambutnya masih hitam meski bertahun-tahun, dan puncak kepalanya botak. Ada yang aneh mengenai dirinya. Kebunnya berdekatan dengan punya Sugita, dan di antara perbatasan mereka pria itu telah membangun sebuah rumah kaca yang memelihara beberapa bunga dan sayur mayur khusus.

Mungkin karena rumah kaca itu. Nyonya Sugita pergi melalui gerbang di sekitar kebun. Walau di kala tengah malam terdapat sinar lampu yang redup dari rumah kaca. Dia menghidupkan senter selama di tepi pagar, namun di dalam kegelapan tampaknya sulit sampai mendapatkan bukti untuk mendukung kecurigaannya.

Pasal 245 mengenai surat ketetapan hokum kriminal bahwa “Listrik adalah suatu kepemilikan.” Saat di akhir masa Meiji, sewaktu listrik menjadi persediaan utama untuk publik, beberapa orang mengambil listrik diam-diam, tanpa membayar ke perusahaan. Perusahaan menuduh mereka mencuri, namun semenjak benda curian itu ditetapkan “merampas milik orang lain” kemudian saat listrik tak kelihatan dan tanpa bobot, hal ini tidaklah pantas untuk keterangan “sebuah hak milik”. Saat seorang advokat mendeklarasikan bahwa mencuri sesuatu adalah bukan “hak milik” yang tidak membuat barang curian, kekacauan di ruang sidang telah pecah. Pasal 245 menjadi hukum untuk mencegah pencurian listrik dari mengambilan secara bebas.

Nyonya Sugita tidak punya alasan untuk mengetahui seluk beluk sejarah yang rumit itu, meski begitu tanpa meninjau isi dari hukum pidana dia sudah tahu bahwa listrik adalah “hak milik.” Merupakan permasalahan yang sederhana akan putaran meteran kendati semua listrik mati, sebuah persoalan yang mencuri haknya.

Aku tidak bisa membiarkan persoalan ini begitu saja, pikirnya. Dia menunggu matahari terbit di hari selanjutnya dan telah mulai menginvestigasi dengan segera. Serta merta, rumah kaca itu menjadi bukti tambahan. Dia bergelimang-geliutkan paha-paha lebarnya terbuka kecil di antara rumah itu dan pagar lalu dengan rajinnya memulai mencari tahkik dari si pencuri. Namun di rasa sesalnya dia akan mencari kekosongan untuk disamakan dari jalannya pangkal kawat. Selain itu, dua kawat listrik berkelir abu yang dipanjangkan dari sebuah bagian berdinding putih rumah utama tetangga ke rumah kaca dan menimbulkan sumber listrik untuk rumah kaca. Dia telah bimbang akan langkah awal dari penyelidikan itu.

Mungkin saja hal itu diperoleh dari atas atap. Dia membawa sebuah tangga dan memanjat untuk melihat-lihat tapi tidak ada catatan penting di wilayah ini. Bukti dari si pencuri “hak milik” yang tak berbentuk dan berbobot akan sulit dihasilkan.

Wanita itu menghubungi kantor perusahaan listrik. “Listrikku dicuri.”

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Meterannya terus berputar ketika alat-alatku mati.”

“Tidak mungkin.”

“Ini benar. Aku bisa membawakan eksperimen yang masuk akal.”

Setelah banyak pertanyaan dan jawaban, semuanya mempunyai maksud yang berlawanan, seseorang di bagian pojok sambungan lain menggerutu, “Mungkin arus pendek.” Arus pendek bisa menyebabkan kebakaran dan luka badan. “Lagipula, aku akan memerintahkan seorang  teknisi segera.”

Dalam hari yang sama dua teknisi yang mengenakan seragam biru telah tiba.

“Anda siap?” Dia mendongakkan kepala, melagakan hidung yang memanggil dengan halus sewaktu dia muda. “Aku harus mematikan semua listrik di rumah.”

Namun meterannya masih berputar. Seorang teknisi pergi ke satu kamar ke kamar yang ditunjukkan bahwa listriknya sedang digunakan.

Hidung Nyonya Sugita sedikit meninggi. “Betul, kan? Bukankah hal ini tampak ganjil?”

“Aneh.”

“Kupikir rumah kaca tetangga adalah yang harus dicurigai. Mereka telah membangunnya di sebelah kanan pagar, dan listriknya selalu hidup. Kemudian, tetanggaku―aku seharusnya tidak mengatakannya―namun dia orang yang sangat tidak menyenangkan. Anda tahu ketika anda pergi ke kebun binatang―bukankah itu semacam sangkar luak? Uh, ini bukan musang. Tidak, itu heyna. Ya, licik, tampak cerdik. Orangnya adalah tetangga si tua itu.”

Para teknisi menset sebuah tangga dan mendingkik ke kebun tetangga, namun mereka segera menggelengkan kepala. “Masalahnya bukan itu.”

“Terus apa?”

“Kita akan melihat tiap stop kontak.” Di kala itu, sebuah pengusutan skala besar dimulai. Mereka memanjat tiang listrik. Mereka memasuki ruang kecil di langit-langit dan atap. Nyonya Sugita mencatat kecerdasan mereka yang jadi harapan. Kedua laki-laki itu tampan; dia heran apabila mereka sudah menemukan istri. Dia melakukan perjalanan khusus ke toko kue setempat membeli kue-kue ringan, untuk menandakan betapa ramahnya dia.

“Sekarang, istirahat dan minumlah segelas teh.”

“Terimakasih, tapi . . . .” Kepala mereka masih terjebak di langit-langit yang retak suara mereka tidak jelas. Mereka pun tidak istirahat.

“Hey! Ini datangnya dari sini.”

“Di bawah sana, di bawah sana. Kabelnya tersambung.” Penyelidikan berpindah dari loteng ke bawah beranda.

Seketika Nyonya Sugita tidak menduga apa yang sedang berkembang. Saat laki-laki yang sudah memegang lampu senter yang merayap keluar dari bawah beranda dia menggenggam lilitan kabel di tangan seperti menarik keluar akar ubi. Sisi lain dari kabel yang menyambungkan ke bawah beranda, yang lainnya dipendam ke tanah.

“Nyonya Sugita, anda punya sekop?”

Wanita itu berlari ke gudang dan membawa sekop tua dan cangkul. Jantungnya berdetak melaju kencang.

Para laki-laki itu mengikuti kabel dan menggali di dalam taman. Benar-benar menggali di dekat taman bunga. Pekerjaan itu berlanjut sekitar satu jam. Dengan mata bengkak Nyonya Sugita menatap para laki-laki itu. Sulit rasanya bernafas karena dia telah menemukannya. Lubang menjadi besar dan besar.

Satu persatu orang-orang yang tinggal dalam rumah menjadi ingat. Karena wanita tua di toko kelontong telah mengulang-ulang semua, Nyonya Sugita hampir mengingat semuanya. Adanya pasangan pekerja terhormat yang sudah terlebih dahulu untuk pindah. Sebelum itu, pasangan dengan seorang bocah yang telah mempunyai penyakit lumpuh. Sebelum itu, pria yang menjalani perawatan medis selekas-lekasnya sesudah pindah. Dan awalnya, pasangan yang tinggal di sini di atas sepuluh tahun yang lalu; seorang istri itu telah punya hubungan di luar perkawinan dan si suami telah meninggal dalam kecelakaan. Dulu dia cantik, istri yang ayu, lalu walau begitu untuk beberapa alasan mereka adalah pasangan yang tidak bahagia.

Dari luar tanah muncullah sebuah benda lebar, kulkas tua. Sewaktu dia merasa tegang dia dapat mendengar deruman kecil dari mesinnya. Rupanya benda itu hidup di dalam tanah lebih dari sepuluh tahun. Mengapa? Siapa?

Si istri ayu yang benar-benar tak dikenal; ikan shishamo yang sudah kering dan menyusut hanya tiga bulan. Sebuah suara senyap yang mengganggu pikiran Nyonya Sugita. Kulkas berpintu karat diayun. Dengan segera bau busuk yang sama seperti ikan mengeluyur keluar; putih, udara dingin mengalir keluar. Sebuah cahaya menyinari seluruh bagian dalam dari kotak panjang itu.

 


Takashi Atoda lahir di Tokyo 1935. Cerita-cerita pendeknya lebih dari lima puluh dan mendapatkan Penghargaan Naoki, sebagai Penulis Misteri dari Assoxiation of Japan. Judul asli cerita pendek di atas adalah Dried Fish and an Electrical Leak yang ditzerjemahkan oleh Millicent M. Horton dalam antologi The Square Persimmon and Other Stories. Pengarang Dried Fish and an Electrical Leak adalah Eka Ugi Sutikno. Sekarang ia menjadi salah santriwan Kubah Budaya.

[1] Sejenis ikan di Samudera Atlantik Utara, berwarna hijau kebiru-biruan, digunakan untuk dimakan.

[2] (Perancis) orang yang ahli menilai makanan.

[3] Pengesat kaki Jepang yang terbuat dari jerami.

[4] Sebuah matras tidur Jepang, yang bisa gulung menjadi dua lipatan.