17 September 2016 | Cerpen | 1299 hits

Darling

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Cerpen oleh Padrika Tarrant

Aku selalu mendorong kereta bayi hingga kini, karena mungkin saja aku bakalan menemukan orok. Di kesempatan lain aku akan mendapatkan keberuntungan lantaran mengadopsinya, tapi bukankah mereka akan kehilangan momennya? Aku ini orang sadik, dan pernah berbuat sabar; bagiku bayi tidaklah terlalu buruk, aku pikir begitu.

Aku mengambil dan menyimpan benda yang tak seorang pun mempedulikannya, terserahlah Yesus membimbingku seperti apa. Walau kegelapan menyekap hati, aku ingin menjadi malaikat dan Yesus pun tak melarangku mempunyai segala sesuatu, perihal remeh-temeh itu berbentuk permen karet dan botol-botol pecah apalagi kata-kata. Agar terbebas dari bahaya maka aku membungkus mereka dengan kertas tisu, kecuali kata-kata, yang mudah pecah dan memang harus dikendalikan dari dalam hati.

Lantas, perihal aku menemukan anjing bukanlah sesuatu yang mengejutkan; ketika itu aku merasa puas, dan menyampaikan beribu-ribu kali terimakasih kepada surga, karena anjing itu hampir mirip dengan bayi. Warna hitam putihnya dilumuri darah, dengan mudahnya aku iba ketika ia diserang dan terluka. Aku memanggilnya Darling. Tampaknya nama itu pantas untuk seseorang yang kau cintai.

Ketika menggendong Darling dari tepi jalan, aku terkejut karena tubuhnya melorot dan menjatuhkannya. Kepalanya tampak lunglai dari sudut pandang yang menyedihkan; ia seperti tanpa tulang dan seluruh rangka persendiannya terkulai. Tak heran kalau ia membutuhkanku. Aku meletakannya ke dalam kereta bayi, rahasia Tuhan seolah datang lalu hujan mulai turun.

Aku membawanya ke dalam rumah; tidak buruk juga aku tinggal di atas ruang bawah tanah. Wanita pemilik rumah ini rambutnya berwarna dan tak percaya Tuhan, ia membenciku lantaran aku menyakiti nuraninya. Aku menyimpan barang-barang itu dari puing-puing dan menyimpannya di dalam kamar; wanita itu dengki akan profesiku.

Sewaktu menyulut api dari gas dan menghidupkan lampu, aku menghampiri Darling. Ia seperti merasa bersalah, karena di seberang bangunan-bangunan rumah susun itu ban mobil telah menggilasnya, tampak lucu memang, karena tangan dan kakinya seperti melekat sampai belakang.

Dari sekeliling kamar aku memungut kantung-kantung plastik, melalui benda itulah aku dapat menyanggah Darling ke dalam bentuk yang lebih baik, dari segala sisi sampai bawah dagu, sampai-sampai mulut dan hidungnya tergantung di cakar-cakar kaki depannya. Darling mempunyai telinga yang besar seperti segitiga dan ekornya yang pendek.

Melalui jemari ini aku membelai dada malangnya dan menolongnya untuk lebih baik, dan akhirnya aku harus membantalinya dengan sebuah tas Sainsbury, yang aku isi melalui sebuah celah panjang yang telah kubuat di dalam kulitnya. Aku khawatir itu akan membuatnya sakit, namun Darling tampak tak takut, ia juga tak mengeluh sekali pun dan terlentang tenang dan membiarkanku menolongnya.

Aku telah menyelesaikan pekerjaan itu sampai jam tiga, namun aku cemas, karena ada petugas pengumpul sampah di hari Jumat, biasanya aku pergi dari rumah ke rumah untuk memastikan bahwa ada benda bekas yang tertinggal dari debu truk itu. Sebenarnya, aku mulai berkeliling dari rumah ke rumah mulai dari pukul lima, dan akhirnya aku lelah dengan segera. Pekerjaan ini berdosa karena jiwaku berenang-renang bersama cinta.

Aku tertidur sampai jam sembilan, tapi mimpiku itu aneh. Dalam mimpi aku mendengar Darling; yang juga ikut bermimpi, isi ceritanya mengenai lampu depan sebuah kendaraan dengan lengkingan rem, lalu ia merengek selama berjam-jam. Di dalam kamar itu aku mencari-cari Darling, tapi gagal; dan semua yang kuraih dalam genggaman merupakan serumpun rambut anjing.

Kala menyambut Darling dengan ucapan selamat pagi di hari berikutnya, aku terkejut dan bergeming di hadapannya. Bulu-bulunya digumpali darah dan tidak bisa dibersihkan dengan langir maupun pemutih. Akhirnya, sebuah ide melabrakku, aku merobek koran dan membuatkannya kulit baru dengan lapisan lem. Di dalam bulu itu ia sudah kaku, ia sama sekali tidak keberatan mempunyai kulit kertas. Beberapa lekukan penyok di atas permukaan bagian bawah telah rata, lantas aku membuatkanya ukiran panggul dan pangkal paha yang berotot layaknya seekor anjing nabi. Ia membutuhkan ekor yang lebih bermartabat, lalu aku membawanya dimana ia ditinggalkan, dan mengulung Darling seperti sebuah cambuk dari segala sisinya.

Butuh waktu lama untuk mengeringkan Darling walau dengan api yang tidak merata, tapi ia mendengking di kala malam hari. Aku mulai khawatir dengan pemilik rumah, tapi kegaduhan itu sepertinya tak akan mengganggu seseorang pun. Di hari berikutnya tempurung anjing itu hampir mengeras, sayangnya Darling mulai miris dan ternoda; bagaimanapun juga ia tak seperti tertutupi kabar buruk dalam tulisan kertas, lalu memandang tumpukan-tumpukan benda dan kotak-kotak cat. Aku melapisinya dengan jas hitam berlapis porselen, dan merengas matanya yang telah kucungkil agar ia mampu melayang pandang.

Di sepanjang malam itu aku khawatir dengan mata Darling. Ibu macam apa aku ini, tandasku, tapi apakah aku berbuat salah? Maka dengan begitu Tuhan tidak akan mempercayaiku lagi. Mungkin lebih baik ia menggunakan salah satu mata baru, tampakkah ia elok sekarang? Dalam mimpi itu aku mencoba menangkapnya, tapi dagingnya terasa halus dan terlepas begitu saja seperti kapas wol basah walau jemariku terus menggapainya.

Akhirnya aku beranjak sebelum jendelaku ditumbuhi sinar. Mata Darling berwarna coklat dan menggua. Panik aku berlari, dengan menumpuk tutup botol dan kancing juga lima buah koin pence[1], meski demikian tampaknya ada yang tak beres. Lalu sebuah gagasan tepat menghampiriku, tanpa pikir panjang aku memereteli urutan kalungku. Darling menatapku dengan bola mata yang berwarna kuning sawo, ketika itu aku merasa senang karena akan terbang menuju surga.

Seperti kilau gemerlap di hari Natal; aku menemukan kelir emas perada untuk menyepuh ujung kupingnya dan mengoles hidung birunya yang menggulung dengan kuas cat kecil. Dengan lihainya aku lekatkan secarik kertas timah untuk membentuk kuku-kuku kaki Darlingku, tiap bentuk kisi di atas tulang punggungnya bergambarkan dawai. Rasa letih itu membuat enak tidur dan membiarkan apinya membesar agar ia segera kering.

Dalam ketakutanku itu Darling menggonggong sepanjang malam dan udara kamarku dipenuhi dengan bau busuk. Kala tidur aku merasa tercekik; terbatuk-batuk dan bangkit lalu muntah kali beberapa. Sewaktu bangun di pagi hari, aku menumpuk bantal-bantal itu di bawah celah pintu untuk menyumbat aroma Darling yang merangkak ke dalam gang, kemudian aku meletakkan sebotol bunga violet di atas Darling.

Aku memutar otak untuk membuat kondisi Darling baikkan; aku mengelem kertas berhiaskan bintang di sepanjang kuku kaki depannya dan mendendang lagu agar anjing itu tampak ceria. Aku membiarkan Darling mengenakan gelang indahku yang mengelilingi leher anjingnya yang gagah, dan menghias kereta bayi dengan kertas kakus berkelir mawar yang tampak seperti tandu jenazah. Aku memotong wajah-wajah bahagia itu dari majalah dan menempelkan penggalannya di atas tubuh Darlingku yang berlumur darah.

Tampaknya ia tak bahagia; ia menggonggong dan mendengking di malam itu, berusaha menyerang dan mengoyak-moyak hatimu. Aku masih berusaha untuk menggapainya selagi tidur, namun kedua tanganku agaknya mendekati tulang-tulang itu. Keluhannya begitu keras melebihi suara radio yang full, saking kerasnya aku tidak bisa mendengar si wanita pemilik rumah itu yang mendekat di balik pintu. Para tetangga sudah menghubungi polisi; begitulah bunyi secarik surat yang kudapati itu, pantas saja aku tidak bisa melihatnya karena benda itu berada di bawah bantal-bantal.

Darlingku berbicara dalam kegelapan. Suaranya mirip dedaunan basah; ia berkata bahwa ia benci padaku. Aku tak percaya itu, mustahil, tapi sebuah kearifan menghampiri dan aku tahu apa yang mesti aku lakukan. Aku memaksa membahagiakan diri, ini semua demi Darlingku, sebelum jam pagi lima aku beranjak dari rumah, bersama Darling yang tampak seperti pangeran anjing yang memandang sekeliling dari kereta bayinya.

Di sepanjang sisi jalan aku berhenti, karena di sekelilingnya terdapat pemandangan yang indah, aku mengisi jarak kedua kaki Darling dengan bunga-bunga dari taman dan bungkusan kering serta segenggam rumput hijau segar, sampai-sampai ia menyerupai patung suci dari Walsingham yang dirangkai di jalan pada waktu hari besar.

Darling dan aku menyaksikan terbitnya matahari, kami berdiri di atas bahu jalan sebuah tempat dimana pertama kali aku menemukannya. Darling tidak membalas cintaku meski aku menyayanginya, aku tahu bahwa itu semacam cara untuk mengembalikannya di tempat aku menemukannya. Walau demikian, di dalam hati ini aku benar-benar tak bisa mengetahui dan mengupasnya untuk segala kemuliaan anjing itu, tentu saja cinta adalah perkara yang sempurna, sekalipun sia-sia?

Selama satu jam kami menunggu di tempat itu, dan di pagi harinya bahwa kengerian yang dibarengi dengan lantunan burung itu terjadi. Sampai akhirnya sebuah mobil lewat dan aku mendorong Darlingku ke arah kendaraan yang melaju itu.

 


Padrika Tarrant lahir tahun 1974 di Norwich. Wanita ini belajar seni pahat di Norwich of Art. Cerpen ‘Darling’ ini berasal dari antologi cerpen yang berjudul Broken Things —dipublikasikan oleh Salt Publishing cetakan pertama tahun 2007, yang menggambarkan antara surealisme dan psychosis. Penerjemah ‘Darling’ adalah Eka Ugi Sutikno, sekarang ia sedang menyantri di Kubah Budaya.

 

[1] (Penerjemah) pence : uang sen Inggris.