04 Juli 2016 | Cerpen | 1481 hits

Kerapu Macan

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Cerpen Made Adnyana Ole

Suara HP melengking saat aku baru saja bangun pagi. Pada layar HP muncul nama kontak Made Wianta. Tumben pelukis kondang itu meneleponku, bahkan sepagi ini. Tapi saat kupencet tombol jawab, suara yang keluar ternyata milik Umbu Landu Paranggi – penyair yang dijadikan guru segenap penyair muda di Bali.

“Kita mau ke Buleleng, keliling-keliling. Ini bersama Made Wianta. Tolong ya, kerapu macan. Carikan tempat makan ikan bakar, ikan kerapu macan!” suara Umbu, seperti biasa, nadanya berat seakan menindih seluruh jawaban yang hendak dilontarkan lawan bicara.

“Ya, Bung Umbu, ya, ya!” Aku tergagap. “Jam berapa kira-kira tiba di Buleleng?”

“Ini masih di Denpasar. Bisa mampir-mampir dulu di mana. Jadi, siang. Siang-lah, ya! Yang terpenting itu kerapu macan!”

“Ya, Bung, ya!”

Telepon ditutup. Kusempatkan ngopi dulu sebelum mencari rumah makan ikan bakar yang punya menu olahan kerapu macan. Begitu ketemu, tinggal pesan tempat. Kupikir ini gampang. Sebagai wartawan yang sudah sepuluh tahun bertugas di Buleleng, aku tahu kabupaten ini pengekspor ikan kerapu terpenting di Indonesia. Aku lumayan sering menulis beritanya di koran. Tapi, setelah berkeliling ke sejumlah rumah makan di Singaraja dan Lovina, dua kawasan paling ramai di Buleleng, baru aku sadari tak ada satu pun rumah makan kutemukan punya menu khusus ikan kerapu bakar. Ikan lain banyak, semisal ikan kasap dan cakalan.

“Kerapu mahal. Harga jual lokal sama dengan harga ekspor. Sekilo bisa lima ratus ribu. Itu pun harus dipesan di perusahaan budidaya. Setelah dibakar atau digoreng lengkap dengan bumbu, berapa satu porsi harus kujual? Pasarku lokal, bukan turis!” kata seorang teman, pemilik warung makan di pinggir kota.

Awal pencarian gagal. Umbu dan Wianta, dua figur seniman idola, tak boleh kecewa. Begitu mereka tiba, sudah harus kupastikan tersedia ikan kerapu macan. Maka, aku teleponi satu per satu pemilik restoran ikan laut yang kukenal di seantero Buleleng. Tak ada jawaban bikin lega. Kuhubungi setiap teman, tapi rata-rata jawabannya jauh dari harap. “Aku sering jumpa pers di restoran, tapi tak pernah tersaji kerapu macan!” kata teman wartawan. “Di sini tak ada restorannya, di Eropa banyak!” ujar kawan enterpreneur. “Itu barang ekspor, dijualnya ke luar negeri!” omongan teman pejabat di kantor pemerintah daerah. “Apa? Kerapu macan? Mana lebih enak dibanding pecel lele?” seorang sahabat penyair balik bertanya. 

Umbu memang punya selera unik jika menyangkut soal makanan. Minatnya yang besar terhadap ikan kerapu macan kuyakini bukan semata karena ikan itu enak dan berkualitas ekspor. Ia kukira hanya ingin memberi tanda pada setiap tempat istimewa di Bali dengan menggunakan ingatan tentang rasa sebagai parameter nilai. Misalnya, jika berkunjung ke Desa Marga di Tabanan, Umbu minta gonda. Gonda itu semacam gulma yang dibudidayakan menjadi sayur oleh petani di desa itu. Tentu gonda bukan produk ekspor. Sayur itu lembek, cepat busuk. Jangankan dikirim keluar negeri, dibawa ke Denpasar yang jarak tempuhnya hanya sekitar satu jam, sayur itu akan kucel. Jika tak cepat-cepat dimasak pasti akan cepat masuk tong sampah.

Gonda paling enak direbus setengah matang dengan lumuran minyak kelapa. Taburi garam, parutan bawang putih dan tetesan jeruk limau. Maka gonda siap memberi sensasi rasa yang tak ditemukan pada sayur jenis apa pun di dunia. Pahit tapi gurih. Dengan rasa semacam itu, Umbu seperti ingin memberi tanda tentang sebuah desa agraris dengan gerak ulet para petani yang mampu mengubah gulma jadi sayur dan menyamarkan pahit jadi gurih.

Tapi, dibanding gonda Tabanan, Umbu sebenarnya lebih suka gonda Karangasem di Bali Timur. Berbeda dengan di Tabanan, gonda Karangasem kebanyakan tumbuh pada lahan kering bertebing-tebing, di sela batu-batu besar bekas letusan Gunung Agung. Dalam bahasa Umbu, gonda Karangasem hidup di lahan marginal. Sehingga rasa pahitnya kadang sangat keterlaluan. Dan rasa pahit itu seakan menjadi tanda tentang satu tempat dengan hamparan lahan kering yang memprihatinkan.

Tentang kerapu macan, tanda apa yang hendak dibubuhkan Umbu? Aku tahu, Umbu punya kesan istimewa terhadap Buleleng. Ia paling senang ketika tahu aku dipindahtugaskan ke kabupaten ini sepuluh tahun lalu. Beberapa kali ia rela menumpang Isuzu dari Denpasar, menyelinap diam-diam ke daerah pesisir ini, menemui sejumlah penyair muda untuk diberi tular semangat dalam menulis puisi.

“Buleleng memang lain!” kata Umbu seringkali.

Buleleng memang lain. Dibanding daerah lain di Bali, kabupaten ini menyendiri, seakan tak tersambung dengan daerah lain karena dibatasi hutan panjang di selatan, barat dan timur, serta disekat laut luas di utara. Namun kabupaten ini punya gengsi tersendiri. Orang-orangnya fanatik dan jarang tunduk pada mode umum. Jadi, kupikir, dengan sensasi rasa ikan kerapu yang berkualitas ekspor, Umbu seperti ingin membubuhkan tanda tentang sebuah tempat maritim yang tersisih, panas dan terpencil, namun punya gengsi untuk menantang dunia.      

Masalahnya, aku belum menemukan ikan kerapu. Kulirik HP. Cemas jika ada nada panggil. Kubayangkan Umbu dan Wianta ngobrol di mobil dalam perjalanan naik-turun bukit dari Denpasar. Siang sudah menjelang. Teringat sesuatu, aku genjot motorku ke pasar ikan di Anturan. Mungkin di pasar itu terselip dua atau tiga ekor ikan kerapu macan. Syukur-syukur dapat lebih dari tiga ekor. Ikan itu bisa dibawa ke restoran yang pemiliknya kukenal, lalu minta untuk dibakarkan dan dihidangkan di meja makan. Tapi, jangankan dapat satu ekor, bahkan ekornya saja tak ada.

“Kenapa kerapu macan, Pak?” sergah seorang pedagang. “Ini ada ikan kasap, bano, tompek, racah, sulih dan cakalan!”

“Kerapu macan paling enak!” kataku.

“Saya beritahu ya. Ikan enak atau tidak itu tergantung bumbu. Carilah ikan sembarangan, lalu racik dengan bumbu yang tepat, Bapak akan tahu jika inti segala rasa itu adalah bumbu. Banyak orang tergila-gila pada ikan teri. Itu karena bumbu, bukan karena ikannya!” Pedagang itu mengajari.

“Tapi kerapu macan itu ikan kualitas terbaik!”

“Itu berlebihan!” semprot si pedagang. “Kerapu macan terkenal karena banyak pujian digembar-gemborkan pejabat di koran. Mereka bilang kerapu macan andalan ekspor kita. Itu ikan paling enak, paling berkualitas. Semua itu promosi untuk keuntungan pengusaha budidaya dengan modal besar. Setelah kerapu macan, entah ikan apa lagi yang akan dipromosikan secara berlebihan!”

Aku menghela nafas. Perempuan pedagang itu seakan dapat peluang menumpahkan rasa iri, dengki dan kesal pada pengusaha ikan bermodal besar.

“Ikan tangkapan nelayan di laut tak ada yang peduli. Harganya murah dan hanya dijual di pasar lokal oleh pedagang-pedagang lokal seperti saya ini. Sesekali memang ada nelayan berhasil menangkap kerapu di laut lepas, tapi harganya tetap murah karena kami tak menganggap kerapu lebih baik dari ikan lain!” ujarnya, kali ini dengan nada tegas.

Pedagang itu kemudian memalingkan wajahnya ke pembeli lain. Aku tinggalkan pasar. Di tengah upaya pencarian yang gagal, aku ingat penggalan data yang sempat kukutip jadi bahan berita, sekitar dua tahun lalu ketika gubernur dan menteri berkunjung ke pusat budidaya kerapu di Buleleng.     

Tahun 2012 Bali mengumpulkan devisa sebesar US$ 9,79 juta atau sekitar Rp 94,4 miliar dari ekspor ikan kerapu. Dari segi volume, jumlah pengiriman ikan kerapu meningkat tajam dari 1.831,8 ton tahun 2011 menjadi 3.705,2 ton tahun 2012. Diperkirakan akan meningkat berlipat-lipat hingga tahun 2015 dan tahun-tahun berikutnya. Ikan itu diekspor antara lain ke AS, Jepang, Australia dan negara-negara di Eropa, dalam bentuk benih, ikan segar dan ikan beku. Mata dagangan itu berasal dari sentra budidaya ikan kerapu di pesisir utara Bali, terutama di wilayah Kecamatan Grokgak, Buleleng.

Suara HP melengking. “Kita sudah di Singaraja ini. Di tempat makan mana kita bertemu?” suara Umbu.

“Di Lovina, Bung. Lovina lewat ke barat sedikit, di kanan jalan ada Rumah Makan Tanjung Alam. Tempatnya gampang dicari. Pak De Wianta pasti tahu!” sahutku tanpa ragu.

Aku memutuskan mengajak mereka makan di rumah makan di pinggir pantai itu karena kutahu ikan bakarnya enak. Meski aku juga tahu di tempat itu tak ada ikan kerapu. Tadi pagi, pada awal pencarian, tempat itulah yang kudatangi pertama kali. Ketertarikanku terhadap tempat itu mungkin karena di bawah pelang nama rumah makan terdapat tulisan besar dengan huruf kapital: HARGA LOKAL. Tulisan itu seakan memberitahu orang-orang lokal untuk tidak takut masuk meski rumah makan itu berada di kawasan wisata dengan tata ruang cukup mewah.  

Aku sudah terlebih dulu berdiri di parkiran ketika mobil yang membawa Umbu dan Wianta datang. Setelah parkir mereka keluar mobil dengan wajah khas seniman yang sedang bergembira. Saling sapa sebentar, Umbu kemudian melangkah ke meja makan dekat laut. Belum ada pertanyaan tentang ikan kerapu. Aku juga belum siap dengan pilihan kata untuk menjawab. Dengan diliputi rasa bersalah kuantar Wianta ke tempat pemilihan ikan. Di rumah makan itu pelanggan memang diminta memilih sendiri ikan segar untuk dimasak sesuai keinginan. Rencananya, saat memilih ikan itulah kuberitahu Wianta bahwa tak ada kerapu macan di rumah makan itu dan tak ada juga di rumah makan lain.

Namun di tempat pemilihan ikan aku gelagapan mengucek mata. Pada lantai basah terdapat tiga ekor ikan yang digeletakkan begitu saja di antara tumpukan bak plastik besar. Dari tompel dan tutul pada kulit dan sirip, kutahu ikan itulah yang kuburu sejak pagi.

“Itu kerapu macan!?” teriakku kepada petugas rumah makan sembari menunjuk tiga ekor ikan yang tergeletak di lantai seakan benda tak berharga.

“Ya, baru saja dibawa nelayan, langsung dari laut. Bahkan belum sempat masuk bak es!” sahut petugas itu santai.

“Di mana nelayan itu?”

“Baru saja pergi!”

“Ke mana ia pergi?”

“Tak tahu, Pak. Mungkin ke laut lagi!”

Aku ingin mengejar nelayan itu meski sampai jauh ke tengah laut untuk menyatakan terima kasih dan hormat setinggi-tingginya. Nelayan itu sudah memberkati Umbu. []       


MADE ADNYANA OLE
Lahir di Marga, Tabanan, Bali. Sempat bergabung dalam komunitas penyair Bali di Sanggar Minum Kopi (SMK) dan kemudian mendirikan Yayasan Selakunda di Tabanan. Beberapa kali menjuarai lomba penulisan puisi dan cerpen di Bali maupun tingkat nasional. Puisi dan cerpennya dimuat di sejumlah media massa, antara lain Jawa Pos, Koran Tempo, Kompas, Horison, Minggu Pagi, Rumah Lebah Ruang Puisi, Bali Post, Nusa Tenggara, dan Suara Karya. Puisinya terkumpul dalam berbagai antologi, antara lain Antologi Puisi Indonesia (1997), Amsal Sebuah Patung (1997), Bunga Rampai Puisi Bali (1999), Datang dari Masa Depan (2000), Bali The Morning After (2000), Art and Peace (2000), 100 Puisi Terbaik Indonesia (2008), Singa Ambara Raja dan Burung-Burung Utara (2013), serta Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2012). Satu cerpennya termuat dalam antologi Bali Behind the Seen (1996). Buku kumpulan cerpennya, Padi Dumadi (2007) mengantarkannya mendapat penghargaan Widya Pataka di bidang penulisan dari Gubernur Bali. Beberapa kali terlibat dalam acara Ubud Writers and Readers sebagai pemateri, pembaca puisi dan kurator. Kini tinggal di Singaraja, membangun komunitas penulisan kreatif.