04 Juli 2016 | Cerpen | 1267 hits

Nasi Kuning

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Cerpen Desi Puspitasari

Ini kulakukan tiap pagi. Bangun sekitar pukul lima. Duduk setengah mengantuk sambil menguap lebar dan mengucek mata hingga sadar penuh. Istriku masih tidur. Rambutnya kusut masai. Namun, ia masih terlihat cantik. Saat aku bergerak turun dari kasur, ia akan menggumam. ”Kau sudah bangun lagi. Pagi-pagi. Akan berlari?“ Tangannya menggapai udara kosong.

”Seperti biasa.“ Tanganku menangkap dan mengecup punggung tangannya.

”Ada yang aneh darimu, kau berlari tapi malah bertambah gemuk.“

”Hanya sedikit.“ Aku meletakkan kembali tangan itu dengan hati-hati.

Kepala istriku bergerak pelan. Ia kembali terlelap.

Menjelang pukul enam. Keadaan masih agak remang meski matahari mulai bersinar terang. Permulaan pagi yang baik. Aku menghirup napas panjang. Melepaskannya perlahan. Menggerak-gerakkan tangan dan kaki untuk pemanasan. Lalu, berlari. Ini yang aku suka dari lari pagi. Udara segar. Keadaan sepi. Belum banyak yang bangun. Pintu-pintu masih tertutup.

Awalnya beberapa bulan lalu. Putra pertamaku berkunjung saat akhir pekan. Cucuku, putranya, 6 tahun, gemas menusuk perutku dengan ujung jarinya yang mungil. Lalu, putraku berkata, ”Sudah saatnya kau berolah raga, Pa.“

”Tidak terlalu gendut,“ kataku.

”Hanya untuk kesehatan. Apa salahnya.“

Hari pertama berlari, napasku ngos-ngosan setengah mati. Sesampai di rumah, seluruh bagian tubuhku linu. Aku mengeluh. Dasar tulang jompo. Tidak mampu lagi menahan beban berat. Anakku di telepon berkata, ”Itu hanya reaksi pertama, Pa. Kau tidak boleh berhenti.“

Aku kembali berlari esok pagi. Istriku? Ah, perempuan pemalas (aku bercanda di sini). Tubuhnya masih ramping. Ia menjaga pola makan dengan baik.  Bahkan saat telah paruh baya. Jadi, mudah saja ia berkata tidak mau berlari.

Sebulan pertama, napas dan staminaku membaik. Tapi aku mulai bosan. Aku sudah berniat akan berhenti berlari, setidaknya untuk seminggu atau dua minggu ke depan, tapi batal karena bertemu Maria. Seorang perempuan muda. Waktu itu ia berdiri di tangga depan rumah. Aku berlari dari arah selatan. Ia menatapku. Lalu, menengok ke arah lain. Sepertinya sedang bingung. Melihatku lagi. Menengok lagi. Aku terus konsentrasi. Tidak akan berhenti berlari hanya untuk hal sepele. Napasku sudah stabil —tidak mudah menyetabilkan napas bagi seorang tua seperti aku.

Aku semakin mendekat. Perempuan itu mengenakan apron. Rambutnya cokelat ikal di atas bahu. Kulit wajahnya putih jenis pucat dengan bintik-bintik di hidung. Tangannya digenggam-genggam gelisah.

”Pagi, Pak,“ sapanya.

”Ya,“ jawabku singkat dan segera berlalu.

”Pak!“ serunya. ”Pak, tunggu!“

Gadis itu mengejarku. Aku melambatkan laju lari baru kemudian berhenti. ”Ya?“ kataku dengan napas terengah.

”Aku tahu ini kedengarannya aneh. Tapi, aku ingin minta tolong padamu. Aku sedang memasak dan....“

”Aku akan kembali setelah satu putaran.” Lari ini tidak bisa dihentikan di tengah jalan begitu saja.

”Maaf.“ Perempuan itu mengangguk mengerti. ”Aku akan menunggu.“ Ia berbalik. Aku melanjutkan berlari.

Setelah menyelesaikan satu putaran, aku kembali ke rumah Maria. Ia menunggu di tangga.

”Aku tidak pernah percaya diri dengan hasil masakanku.“ Ia menghadap kompor. ”Aku sedang memasak... nasi kuning.“

”Nasi kuning.“

”Seperti risotto. Hanya tanpa kuah.“

Jendela dapur terbuka separuh. Di dalam ruangan mungil ini tercium aroma jeruk yang begitu kuat. Agak menyengat. Sepertinya bukan sekadar jeruk. Istriku yang pandai memasak. Aku tidak tahu apa-apa.

”Serai,“ kata Maria. ”Pacarku memintaku belajar memasak nasi kuning. Kalau aku ingin menikah dengannya. Ibunya ningrat Jawa —sangat suka nasi kuning.“

”Kau juga pakai daun jeruk?“

”Ya.“

”Kau beri apa untuk warna kuningnya?“

”Kunyit asli.“ Maria membalik. Ekspresi wajahnya mengerut tidak suka. ”Di kuku dan jari-jariku tertinggal bekas kuning hingga dua hari. Pacarku melarang menggunakan kunyit bubuk. Tidak sedap. Tapi, ini baru latihan. Aku kembali menggunakan yang bubuk.“

”Santan?“ Mataku menangkap kotak santan instan di dekat panci.

”Ya. Bubuk. Kuencerkan dengan air sebelum dituang. Sebenarnya dilarang juga. Tapi, aku tidak mau setiap pagi bolak-balik ke pasar untuk membeli parutan kelapa segar. Kenapa memasak nasi bisa begitu merepotkan!?“

”Kau memasukkan apa lagi?“

”Lengkuas. Daun salam. Garam.“

”Apa lagi?“

”Itu saja.” Maria masih cemberut. Ia membuka tutup pemasak nasinya. Aroma wanginya yang sedikit menyengat turut keluar bersama uap. ”Aku minta tolong padamu, Pak. Cicipi masakanku.”

”Aku bukan ahli kuliner yang baik.”

”Kalau menurut lidah Anda masakan ini terlalu banyak bumbu dan tajam, itu berarti sudah tepat.” Maria mengangkat bahu. ”Aku juga telah memasak lauk pendamping. Dengan cara yang kurang lebih sama merepotkannya.”

Sepiring nasi kuning dan sambal goreng hati sapi tersaji di depanku. Nasi kuning porsi kecil. Berwarna cantik. Seperti stabilo kuning mencolok. Supaya cerah, Maria menambahinya dengan kucuran jeruk nipis saat mengaduk santan hingga mendidih.

Aku menyendok nasi. Sedikit di ujung. Membauinya sebentar. Aromanya lebih pada kesan gurih. Lalu, kusuap masuk ke dalam mulut. Lidahku mencecap-cecap. Kemudian mengunyahnya biasa.

”Bagaimana, Pak?” Maria duduk di seberang dengan wajah menunggu.

”Ini... tidak hambar.“ Aku tidak mampu mendefinisikannya dengan tepat. ”Asin. Tidak begitu asin. Rasa yang lain tidak kukenal. Tapi, lumayan.“

”Lumayan karena Anda tidak ingin mengecewakanku?“ Maria tertawa.

Sekarang aku mencoba sambal goreng hati. Maria memotongnya jadi kotak-kotak kecil. Warnanya hitam kemerahan dan mengkilat karena minyak. Aku menyuap sesendok kecil. Mengunyahnya perlahan. Rasa pedas langsung menyerbu. Seperti api yang menjalar pada jalan bensin. Wooosh! Aku terbatuk. Maria segera menyodorkan segelas air dingin tambahan sambil meminta maaf. Aku meneguknya cepat.

”Aduh, terlalu pedas. Aku harus membuang biji di dalam lombok merah.”

”Pedasnya gila,“ kataku sambil masih ber-sshh sshh.

”Ya. Cinta memang gila.“ Maria memundurkan kursi.

”Bukan gila. Hanya sedikit rumit,” kataku kemudian setelah pedasnya mereda.

”Ah, Pak. Cintaku pada laki-laki itu memang rumit. Ia telah dijodohkan dengan seorang gadis. Tapi, malah jatuh cinta padaku. Aku jatuh cinta padanya. Ia pulang. Akan membatalkan pertunangan. Di bandara ia membisikiku satu resep rahasia. Seumpama aku bisa memasak nasi kuning yang sedap, dan sambal goreng hati sapi, pasti bisa mengambil hati ibunya.“

”Ibunya pasti gembrot.“

Maria terpingkal-pingkal. ”Ya! Ya! Suka sekali makan nasi kuning; terlalu banyak karbohidrat, dan santan. Dan, jeroan! Duh!“ Setelah tawanya reda, ia berkata, ”Seharusnya aku berpikiran simpel: putus dan meninggalkan ia. Tapi entah mengapa, tidak bisa.“

Itu pertemuan pertama kami. Bila istriku tidak minta diantar ke pasar, pulang berlari aku mampir ke rumah Maria. Hampir setiap hari ia belajar memasak nasi kuning. Seminggu kemudian, atas saranku, Maria mulai menggunakan kunyit segar. Aku bilang, ia tidak akan tahu takaran tepat kunyit segar saat memasak di hadapan ibu pacarnya bila tidak belajar dari sekarang. Blender saja sekalian yang banyak.

”Ini akan membuat satu pisauku tumpul,“ katanya saat mengupas ruas-ruas kunyit. Setelah diblender halus ia menyimpan ke dalam toples kaca. Disimpan di almari es. Saat memasak ia tinggal mencongkel sedikit dan mencampurkannya dalam santan. Diaduk hingga rata.

Untuk santan, Maria tetap ngeyel menggunakan bubuk. ”Laki-laki itu harus membisikiku takaran santan yang tepat saat memasak di rumahnya nanti!“

Masakan Maria mulai lumayan. Rasa gurih yang tajam dari nasi kuningnya mulai pas.

***

 

Hari ini seperti biasa aku menuntaskan rute lari sebelum mampir ke rumah Maria. Tak disangka ia sudah berdiri di tangga depan. Wajahnya murung. Matanya sembab.

”Pacarku memutuskanku,” katanya di dapur. Ia menyuguhkan air dingin dalam gelas. ”Tunangannya tidak mau diputus. Keluarga tunangannya mengamuk. Mereka bahkan mengancam akan mengacaukan kehidupanku jika ia tetap nekat. Jadi, pacarku memutuskanku.”

”Haruskah mereka melakukan itu?”

”Mereka?”

”Keluarga tunangan pacarmu. Berlebihan sekali reaksinya.”

”Tidak tahu. Mungkin itu watak keluarga ningrat. Menikah tidak hanya mengenai perkara dua orang yang saling mencintai. Tapi juga menjaga hormat dan harga diri dua keluarga besar.” Maria mulai sesenggukan. Tangannya menyabet sehelai tisu dari kotak. ”Semalam laki-laki itu meneleponku. Ia bilang, ’Tunanganku bahkan memaksa meminta laki-laki itu berhubungan seksual dengannya.‘ Aku bilang, ’Apa yang aneh?‘ Lalu katanya, ’Penyerahan keperawanan seorang perempuan itu peristiwa sakral. Hanya akan dilakukan setelah pernikahan. Jadi, kalau sampai perempuan itu menghiba sedemikian rupa, ….“

”Apa artinya?“

”Perempuan itu benar-benar cinta dan tidak mau kehilangan laki-laki itu.“

”Naif.“

Maria sesenggukan lagi. ”Itu tidak penting. Tapi, ini. Pacarku bilang, 'Tidak perlu menangis seperti itu. Kau pasti bisa menemukan laki-laki pengganti. Yang tidak begitu peduli dengan peristiwa sakral yang hanya boleh dilakukan setelah pernikahan.‘ Aku bilang, ’Setiap kali melakukannya denganmu kuanggap itu sebagai peristiwa sakral! Ia bilang, ’Maaf, aku hanya tidak bisa!‘ Enak betul!“

”Tapi kau cinta padanya.“

”Tidak lagi! Ucapannya menyakitkan sekali! Laki-laki dangkal! Berotak kadal! Berengsek!“

Pagi itu aku tidak mendapat sarapan nasi kuning. Aku berkata semuanya akan baik-baik saja. Laki-laki itu yang tidak pantas baginya, bukan sebaliknya. Maria tidak membutuhkan penghiburan macam itu. Tapi, ia tetap mengucapkan terima kasih.

Satu minggu kemudian, setiap kali aku lewat berlari, rumah Maria selalu tertutup. Tidak ada lagi bau masakan. Tidak ada lagi sapaan dari perempuan muda berambut cokelat. Istriku bertanya kenapa akhir-akhir ini aku pulang lebih cepat dari biasanya. Aku bilang, ini karena aku begitu merindukannya. Tidak bisa berlama-lama berjauh-jauh dengannya. Istriku tertawa. Lalu, mengecupku di bibir. []

 


DESI PUSPITASARI
Novelis dan cerpenis kelahiran Madiun, 7 November 1983. Beberapa novelnya telah diangkat ke layar kaca dan layar lebar. Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku diadaptasi dalam FTV-Religi tahun 2010. Dan, The Strawberry Surprise diadaptasi ke dalam layar lebar pada tahun 2014. Cerpen dan cerbernya telah dimuat di berbagai media massa. Novel terbarunya Jogja Jelang Senja terbit Mei 2016. Tinggal di Yogyakarta.