21 Juli 2016 | Cerpen | 1024 hits

Danau

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Cerpen Lily Yulianti Farid

"CERUK besar itu mengundang kumbang, capung dan burung, juga menggoda angin mempercepat pertemuan serbuk sari dan putik rumput liar di sekitarnya. Cahaya yang terpantul di permukaan air yang tenang dan kesejukan yang menyebar membuat orang bergegas membawa kayu-kayu tua tapi masih cukup kuat, untuk mendirikan bangku sederhana di tepinya.

Setelah beberapa bulan berlalu, saat tanah yang terkikis dari lereng-lereng gunung mulai mengeras, orang-orang semakin sering datang ke tepi danau itu mengenang longsor dan menghitung-hitung berapa persisnya orang yang mati dan hilang, berapa luas ladang yang lenyap, berapa panjang jalan beraspal yang pecah berantakan dan membuat desa terisolasi. Seperti sebuah tempayan raksasa yang dihadiahkan alam dalam semalam, yang dipenuhi air, yang kelak ditumbuhi teratai, dihuni ikan, dilapisi alga di dasarnya. Gunung dan bukit menjaganya. Danau yang lahir setelah prahara gempa itu, bertahun-tahun kemudian menjadi tempat orang-orang membasuh sedih mengenang segala yang ditelan bencana.”

Kurang lebih seperti inilah Zara ingin menulis bagian awal ceritanya untuk Fayza. Mungkin sebuah novel, bisa jadi sebuah trilogi yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dituntaskan.

Sudah lama ia menyusun rencana ini, meluangkan waktu bercerita tentang danau-danau yang terbentuk setelah gempa atau longsor. Zara membayangkan kisah seorang peneliti penyendiri yang bertemu perem­puan pemberani seperti Fayza. Juga barangkali tentang masa tua nan sepi seorang mantan diktator yang menimbang-nimbang kembali keza­limannya, yang suatu hari saat melamun di tepian, ditenggelamkan ke danau oleh perawat setia yang mendorong kursi rodanya.

***

DI meja makan kayu yang dipenuhi remah roti dan butiran gula yang disendok tergesa, Zara membisikkan rencana itu. Ini bukan pertama kalinya ia bicara tentang keinginannya menulis sebuah cerita yang sangat panjang.

Restoran hotel kecil di pinggiran kota Amsterdam itu seolah milik mereka, sekelompok peneliti yang baru saja mengakhiri sebuah per­jalanan jauh. Dan seluruh perhatian tertuju pada rencana Zara yang terasa ganjil di tengah percakapan tentang perubahan ekosistem akibat penimbunan, pendangkalan dan evaporasi danau. Pagi masih terlalu muda, tetamu lain belum ada yang muncul untuk sarapan. Pelayan yang menata menu buffet berkali-kali menghalau kantuk dan memasang senyum semasam yogurt.

Seorang teman menghentikan kesibukan mengaduk kopi demi mendengar keinginan yang diungkapkan Zara. Yang lainnya tetap meneruskan mengoles selai kacang di atas roti panggang yang hangat, saat mendengar Zara membuka percakapan perpisahan itu dengan pertanyaan, “Adakah di antara kalian yang memiliki kisah cinta atau kehidupan yang menarik, di sini? Aku ingin mulai menulis sebuah novel untuk mengenang kakakku…”

Perjalanan yang jauh telah membuat mereka begitu dekat. Satu sama lain membagi apa saja yang ada di kepala dan di hati, ketika jurnal penelitian telah ditutup, ketika kantung-kantung tidur dibuka, padang di kaki bukit gelap terbentang, suara-suara serangga malam menjadi latar cerita-cerita yang mereka lontarkan sebelum tidur. Zara mendengar teman-teman yang berkisah tentang suami, istri, kekasih, anak atau rumah yang dirindukan. Yang lain mengenang kegagalan masuk dinas militer. Sementara dirinya sendiri mengingat Fayza dengan penuh keri­sauan, juga membayangkan sebuah cerita panjang yang begitu ingin ditulisnya.

“Aku ingin mulai menulis setelah ekspedisi ini..” Zara berbisik kepada temannya yang ternyata telah terlelap. Di kejauhan ia mendengar burung malam seolah menyahuti rencananya itu.

Dan pagi ini, ia mengulang lagi keinginannya itu di sela sarapan yang dikunyah tergesa.

Seorang teman lainnya memandang Zara prihatin, menganggap perempuan itu tengah mengidap depresi serius setelah berhari-hari berkutat dengan pencatatan fluktuasi suhu, kemasaman tanah dan daftar vegetasi. Atau barangkali ia terkena pengaruh buruk udara dingin yang selalu saja menemukan cara paling lihai menembus tenda dan kantung- kantung tidur mereka. Atau, jangan-jangan petualangan bermil-mil menelusuri danau dan padang di Finlandia sebelum mengunjungi bekas- bekas danau di Belanda yang telah lenyap, membuat Zara merasa men­dapatkan ilham untuk menyampaikan kabar mulia seperti layaknya orang-orang suci seusai menuntaskan semedi yang panjang.

Rombongan peneliti itu berkemas-kemas sejak subuh. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil menuju tempat liburan. Satu dua orang memilih langsung pulang ke negara masing-masing. Ini lazim mereka lakukan saat sebuah ekspedisi berakhir.

Zara menyeduh secangkir teh earl grey dan tergesa melahap semang­kuk sereal di makan pagi yang dijadikan acara perpisahan itu.

“Hendak ke mana Zara?”

“Ke Jakarta …”

Zara pamit. Teman-temannya melambai, mengucapkan bermacam jenis salam lalu meneruskan sarapan dan percakapan.

“Kita ketemu di konferensi Montana, Zara! Hati-hati dan jangan lupa bawa novelmu!”

Ini seruan selamat jalan yang paling melekat di kepalanya saat taksi membawanya ke bandara. Terdengar seperti olok-olok.

(Oh, tunggu saja! Bukankah Galileo juga menulis puisi di sela kesibukannya membuat teleskop, mengamati jagat raya dan mempelajari aliran sungai?)

***

ADA gereja di dasar danau itu. Juga ada rumah-rumah yang lenyap secara misterius tujuh puluh tahun yang lalu. Danau itu sendiri hilang dalam waktu semalam. Seperti sebuah bak mandi raksasa yang dikuras, disedot oleh kekuatan gaib. Seorang nelayan yang terkantuk-kantuk di pagi hari, memutuskan menelepon polisi mengabarkan lenyapnya danau di Desa Bolotnikovo.

Penduduk desa berkerumun. Ada yang membatalkan kegiatan hari itu, memilih berdoa. Ini bukan pertanda baik. Sebaiknya jangan pergi jauh-jauh. Dua anak muda yang bangun kesiangan sehabis mabuk-mabukan di bar di desa sebelah, mengigau sambil sempoyongan. “Hantu danau beraksi lagi, kali ini mencuri semua air!”

Wartawan dan peneliti datang hampir bersamaan, mendapati dasar danau yang berlumpur. Seorang pejabat Rusia memberi keterangan pers, ada aktivitas gua-gua di bawah tanah. Ada celah yang tiba-tiba melebar di dasar danau dan menghisap semua air yang ditampung selama ini. Tapi bagaimana nasib ikan, lumut, alga dan berudu? Di mana lagi kita harus berenang dan berperahu? Rengek kanak-kanak yang menarik-narik ujung gaun ibunya. Seorang nenek berujar apatis, “Ah, ini ulah Amerika!”

Zara juga ingin bercerita tentang Danau Beloye yang tiba-tiba mengering lenyap, menyisakan takhayul seperti yang ditemuinya di Desa Bolotnikovo. Hikayat yang seram tentang gereja dan sederetan rumah penduduk di sekitar danau yang tiba-tiba hilang puluhan tahun lampau, membuat orang-orang bergidik.

Apakah Fayza senang pada kisah-kisah mahluk misterius yang tinggal di danau yang dikabarkan kerap menculik manusia?

Kakak, mahluk seperti apakah yang menyekapmu?

***

Bandara Schipol

DI sebuah lounge yang senyap, benak Zara sibuk menyusun sejumlah cerita. Tiga sofa biru tua yang empuk dan lembut, dua layar televisi plasma yang menyiarkan iklan wisata tanpa henti, seorang perempuan dengan dandanan meriah duduk dengan posisi kepala tertunduk menahan kantuk, seorang lakilaki dengan kemeja lusuh yang lengannya ditarik hingga ke siku, menyelonjorkan kaki di atas koper kecil bermerk Samsonite abu-abu, ia membaca buku yang di sampulnya tertulis The World is Flat. Di sampingnya, duduk seorang gadis dengan ransel The North Face yang begitu besar. Zara membayangkan gadis itu bakal sempoyongan saat berjalan menuju kabin pesawat memanggul ransel yang seolah menampung setengah dari isi Bumi.

Lihatlah, orang-orang dengan penampilan yang berbeda-beda, tapi dengan tujuan yang sama: menunggu penerbangan paling pagi.

Belum pernah Zara secermat ini membuka lebar-lebar matanya dan mengamati dengan seksama setiap orang. Begitu banyak bandara, pelabuhan dan tempat-tempat ramai yang telah didatanginya, baru kali ini ia meluangkan waktu memperhatikan dengan sepenuh hati segala gerik-gerik orang di sekelilingnya.

Ia telah membayangkan dua danau di tempat yang berbeda. Yang satunya tercipta sekejap seusai guncangan gempa dan hantaman longsor. Yang lainnya ditelan seketika oleh gua-gua rahasia di perut Bumi yang menganga dan menghisap semua isinya, menyisakan dasar ceruk yang berkerut-kerut seperti kulit jeruk.

Kisah dan orang-orang seperti apa yang hendaknya kuciptakan untuk mendampingi cerita Fayza yang begitu mencekam?

Sebuah rumah kecil yang sesak dengan kenangan. Di situlah mereka berdua menghabiskan masa kecil. Di mata Zara, langit selalu terlihat sangat dekat, seperti sengaja ditarik turun beberapa meter untuk men­jadi latar pemandangan danau kecil di kejauhan yang tampak dari jendela rumah mereka. Danau tempat Fayza mengajaknya berperahu, berenang, menjaring ikan dan memetik biji teratai. Bertahun-tahun kemudian setelah ia menjelajah satu demi satu danau di belahan Bumi utara, yang beku di musim dingin dan cemerlang beriak tenang di musim panas, barulah Zara sadar bahwa langit memang kadang terasa sangat dekat, bahkan kerap seakan pindah ke permukaan danau, memantul-mantul jelas. Langit seperti bercermin mematut diri. Pernah sekali pemandangan menakjubkan itu membuat Zara yakin bahwa danau dengan permukaan sebening kristal membuat teratai dan bunga bakung seolah tumbuh di pantulan bayang-bayang awan yang berenang.

Fayza dan seribu kenangan yang melintas silih berganti.

“Ada teori baru apa lagi, Nona peneliti danau?”

Zara dengan penuh semangat bercerita tentang danau-danau di Utara, tentang laju evaporasi di danau tertutup, tentang pendangkalan, tentang pencemaran, tentang danau buatan yang bentuknya tampak aneh.

“Zara, apa yang kusuka dari sebuah danau, karena kita tahu pasti ia hanyalah sebuah ceruk di tengah-tengah daratan luas. Ia bukan sungai yang mengalir ke laut, ia juga bukan samudra yang membuat kita cemas membayangkan di manakah pantai terdekat untuk berlabuh. Danau adalah hamparan air yang bisa kita nikmati tanpa perlu mencemaskan angin yang bisa tiba-tiba menjadi sangat kencang, tanpa perlu meng­khawatirkan gelombang pasang dan badai. Tepi danau yang tampak, meski hanya bayang-bayang yang samar, membuat kita tidak bakal merasa kehilangan arah dan menebak-nebak jalan pulang…”

Fayza jugalah yang membuat Zara menumbuhkan cintanya pada danau, hingga akhirnya ia menegaskan sebuah cita-cita: limnologist. Nama yang tak akrab untuk sesuatu yang begitu dekat dengan masa kecil mereka. Ia menjelajahi danau, telaga, waduk dan segala ceruk di daratan yang menampung air. Fayza sendiri memilih jalan hidup di balik spanduk-spanduk perlawanan, meninggalkan kehidupan setenang danau, melupakan masa kecil menyenangkan, mengabaikan angin yang men­dorong perahu dan keriangan mengumpulkan biji-biji teratai.

“Kalau menurut teori, tempat bermain kita dulu itu bukan danau, tapi hanyalah telaga luas, Kakak…”

“Apa bedanya danau dan telaga? Ah, Nona peneliti jangan sok serius begitulah! Kenapa harus kaku menggunakan definisi…”

Fayza kembali turun ke jalan, mengepalkan tangan, membentang spanduk. Zara terbang kembali ke Montana bergabung dengan sebuah tim ekspedisi. Ia menenggelamkan diri dalam penelitian bertahun-tahun, juga mengadakan perjalanan ribuan mil mendatangi danau-danau di Bumi utara, yang putih beku di musim dingin, dan yang cemerlang di musim panas.

“Kakak hati-hati ya.”

“Kau yang harusnya hati-hati di negeri orang, Zara.”

Bandara Schipol yang lengang, dengan beberapa petugas yang ter­kantuk-kantuk di pagi yang belum merekah. Gerai-gerai toko masih tutup. Satu-satunya kesibukan tampak dari sebuah kafe kecil yang menebar bau kopi. Fayza melintas-lintas di benak Zara seperti cahaya berwarna warni yang berkejaran. Kenangan demi kenangan menyala terang. Ah, tiba lagi waktu itu. Sebuah peringatan yang selalu mem­bawanya pulang ke Jakarta, bertemu orang-orang bernasib sama.  

Kakak, bandara ini adalah sebuah danau masa lalu. Orang menyebutnya Herlemeer. Bukan danau yang tenang dan menyejukkan seperti yang kita kenang. Ini adalah medan pertempuan laut yang sangat sengit, antara pasukan Belanda dan Spanyol. Siapa yang membayangkan ratusan tahun kemudian ia dapat ditimbun dan diubah menjadi hamparan lantai keramik berkilau, di atasnya dibangun dinding-dinding kaca, ramai didatangi orang-orang yang hendak pergi dan pulang? Kakak, dulu kau bilang, danau bukan tempat yang menandakan penjelajahan jauh seperti halnya samudra. Di seberang, kita selalu pasti menatap tepian, katamu. Kau yakin, orang-orang mengarungi danau untuk sekadar mengitarinya, bukan merencanakan perjalanan yang jauh. Dan karenanya kau pernah bersikeras berperahu sendiri dan memintaku melambai di tepian.”

(“Kakak pasti pulang. Zara, jangan khawatir. Bila Kakak tiba di seberang, lambaianmu masih terlihat di sana…”)

“Kakak,orang-orang memang sejak dulu melenyapkan danau demi melancarkan rencana-rencana yang semakin jahat dan serakah. Di negeri ini, danau ditimbun menjadi tanah pertanian. Rawa-rawa disulap menjadi lahan pabrik dan jalan bebas hambatan. Tapi danau yang hilang itu juga melenyapkan kemilau lanskap, membuat sedih para pemburu cahaya di dataran rendah ini. Para pelukis Eropa di abad-abad lampau yakin bahwa cahaya di sekitar danau adalah hadiah alam tiada tara. Ia terentang di garis langit, diselubungi titik-titik air yang sangat halus. Sungguh, keindahan yang subtil.”[1]

***

Jakarta

PULUHAN wajah tertunduk. Ada air mata yang berkilau diterangi cahaya lilin, ada karangan bunga dengan pita belasungkawa, juga ada doa yang dilambungkan ke angkasa malam. Sebuah spanduk besar dengan sembilan gambar wajah, terentang bersama renungan yang dituturkan dengan suara bergetar. Delapan tahun sudah orang-orang ini terperangkap dalam terowongan misterius yang begitu panjang dan tak menunjukkan tanda cahaya di ujungnya. Setiap tahun, saat mereka berkumpul untuk mengingat hari tragis itu, langit-langit terowongan itu memang terang benderang dengan kenangan. Tapi hanya sekejap. Selebihnya adalah gelap. Di dinding terowongan itu terpahat luka, sakit hati dan dendam. Udara yang memenuhi rongga dada mereka mengandung amarah sekaligus sikap pasrah dan putus asa. Menyesakkan.

“Hari itu tak ada yang aneh. Orang-orang di rumah tak ada yang memiliki firasat buruk. Fayza pamit seperti biasa dan hanya berpesan kamar tidurnya dibersihkan sebelum ia pulang.”

Zara mendapat giliran mengenang Fayza. Apa yang dituturkannya adalah kutipan dari buku harian yang murung, yang dibuka sekali setahun untuk dibaca di depan banyak orang. Tahun demi tahun diceritakannya tentang Fayza yang pamit, melambai di pintu. Di pagar, perempuan itu berhenti sejenak, memeriksa spanduk-spanduk unjuk rasa di tas kain yang menggantung di bahu kanannya. Lalu tubuhnya hilang di ujung jalan.

Di samping Zara, ayah dan ibunya memeluk foto sang demonstran yang tersenyum sangat manis itu. Kaca bingkai foto itu berkilau ditimpa tangis, seperti dedaunan yang cemerlang sehabis hujan.

Zara kemudian mundur, memberi tempat bagi orang-orang lainnya membeberkan kenangan mereka.

Dan saat doa dan renungan dituntaskan, lilin-lilin meleleh, bunga duka cita ditabur di pelataran, seorang panitia acara renungan mene­riakkan kemarahan. “Besok kita akan serukan lagi desakan baru. Ini sudah delapan tahun! Bahkan pernyataan maaf secara resmi pun tak sudi mereka berikan! Manusia-manusia tak punya hati itu harus terus ditekan! Kita tidak boleh lengah, harus tetap menuntut! Penculikan ini harus diungkap tuntas!”

Lakilaki berpakaian serba hitam lalu menghampiri Zara, menjabat tangannya sangat erat. “Fayza aktivis yang luar biasa berani. Ia menjadi inspirasi. Kami tak mungkin melupakannya!”

Zara terdiam. Ia teringat danau di Bolotnikovo, yang hilang dalam semalam, seperti Fayza yang juga lenyap begitu saja.

Ingin kutulis cerita tentang danau yang hilang itu untukmu, Kakak…

“Sudah larut. Kita pulang Zara…”

Keranjang bunga yang digenggam ibunya telah kosong. Ajakan pulang itu mengembalikan kesadarannya. Kembang untuk Fayza telah ditabur di pelataran. Aspal hitam yang dipijaknya berhias kelopak ungu dan putih.

Delapan tahun sudah mereka berziarah di pelataran itu. Tak ada makam untuk Fayza, karena mereka semua bersikeras bahwa perempuan berani itu hanya lenyap hilang disekap. Bukannya mati. Meski dalam kenyataan, yang ada hanya kesimpangsiuran, harapan yang makin menipis berendengan dengan kenangan yang semakin menebal.

Taburan kembang di pelataran itu, di sebuah sudut kota yang diyakini menjadi saksi terakhir keberadaan Fayza dan demonstran lainnya, akan hilang besok. Mungkin terbawa angin, atau mungkin disapu petugas kebersihan.

“Kakak, hati-hati…”

“Kau yang harus hati-hati menjelajah negeri-negeri yang jauh, Zara.”

Zara ingin sekali kembali ke waktu di mana percakapan itu terjadi. Ia menyesal tak pernah menegaskan kekhawatirannya dengan sungguh- sungguh.

“Kakak yang seharusnya lebih hati-hati di negeri sendiri….”

 

Tokyo – Munich, Juni 2008


Catatan:

*   Cerita ini dipersembahkan untuk orang-orang yang hilang dalam perjuangan menegakkan demokrasi.

*   Bahan cerita diambil dari berita BBC dan Kantor Berita Pravda tentang White Lake di Desa Bolotnikovo, Rusia yang hilang dalam waktu semalam pada Mei 2005. Cerita ini juga diilhami oleh terbentuknya 23 danau akibat longsor sehabis gempa dahsyat pada 12 Mei 2008 di Provinsi Sichuan, China serta proses terbentuknya danau-danau di Montana, AS, puluhan tahun lalu. Bahan tentang danau di Belanda dan pelukis yang mengabadikan cahaya di atas danau dan permukaan air terinspirasi dari artikel See the Light ditulis oleh Ken Wilke untuk Holland Herald, edisi Juni 2008.

 

[1] Kalimat ini disadur dari latar belakang pembuatan film The Dutch Light, karya sutradara Pieter-Rim de Kroon dan penulis Maarten de Kroon. Pemburu cahaya yang dimaksud adalah para pelukis Belanda abad ke-17 yang terkenal sangat terampil melukis gradasi cahaya, menyamai presisi karya fotografi.