22 Juli 2016 | Kaki Langit - Cerpen | 518 hits

Aksara di Angkasa

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Cerpen Kamila Cahyaningrum

Terimakasih untukmu, untuk seluruh jasa-jasamu.
Walaupun kutahu, bahwa diriku tak bisa lagi melihatmu,
melihat indahnya matamu,
mendengar senandungmu,
dan mengucapkan terima kasih padamu.
Maka, kisah ini kupersembahkan untukmu.
Belahan jiwaku,
yang kini sedang menunggu berhentinya waktu.

***

Aku berusia dua puluh tahun ketika bertemu denganmu. Kuingat betul, bahwa saat itu, saat kita pertama bertemu, saat kepindahanmu ke desaku. Saat itu, Bapak Kepala Desa memerintahkanmu untuk membawa barang-barangmu ke dalam sebuah rumah kecil dengan beberapa ranjang untuk tempatmu melakukan pengobatan. Ya, saat itu kau tak lebih hanyalah seorang calon dokter yang sedang melakukan pengabdian di desaku.

Kau adalah orang yang terpelajar, tidak seperti diriku. Seorang tunaaksara yang sejak kecil hidup sebatang kara. Kau masih memiliki orangtua yang teramat menyayangimu. Tetapi aku, aku belum pernah melihat wajah ibuku secara langsung. Lalu, ayah meninggalkanku saat memperbaiki jembatan penghubung antara desaku dengan desa yang lainnya. Walau begitu, kita memiliki persamaan. Yakni ingin meraih impian dan cita-cita kita. 

Saat aku pertama melihatmu, kutahu bahwa kau adalah orang yang baik. Kau tidak hanya menghijabi rambutmu, namun hatimu juga suci. Teringat percakapan kita pertama kali saat itu.

“Hai, Dok.  Boleh kenalan?” kataku sambil mengangkat tanganku, siap untuk berjabat tangan.

Namun apa yang kau lakukan?

“Boleh, Mas,” katamu sambil bersalaman secara tidak langsung denganku. “Hana,” katamu sambil melempar senyum indahmu padaku.

“Oh. Mamad,” kataku sambil membalas senyumanmu.

Semua itu terekam jelas di benakku hingga saat ini. Lalu kau bertanya apakah aku kuliah. Tentu saja saat itu aku menjawab tidak. Aku berterus terang bahwa aku tida bisa membaca, berbeda denganmu, seorang yang sebentar lagi akan mendapat gelar Dokter.  Lalu, kau bertanya apakah aku bisa membaca Al-Qur’an. Kujawab bahwa aku tidak bisa membaca huruf alfabet, bagaimana aku bisa membaca huruf Al-Qur’an? Kau hanya diam sambil tersenyum. Lalu, kau melontarkan pertanyaan yang membuatku tercengang.

“Mau kuajari membaca dan baca Al-Qur’an? Gampang, kok. Tenang aja.”

Jujur, pada saat itu aku bingung setengah mati. Haruskah aku nemerima tawaranmu? Tentu, itu adalah kesempatan emas bagiku. Namun, aku merasa malu. Saat itu, rasa gengsi menguasai diriku. Kau memang lebih tua dariku, namun bagaimana bisa seorang pria sepertiku diajar oleh wanita yang lemah lembut sepertimu. Maka, kutolak tawaranmu saat itu.

“Maaf, Mbak Hana, saya banyak kerjaan di sini. Saya mbantu Pak Kades.”

Tampak di wajahmu wajah penyesalan. Maafkan aku, namun saat itu aku sedang tak ingin berurusan denganmu. “Enggak apa deh, Mas,” katamu dengan nada menyesal. “Oh ya, Mas Mamad, sering main ke sini ya. Saya masih belum banyak kenal sama warga sini. ”

“Iya, Dok, rumah saya enggak jauh, kok. Di depan situ, terus belok kiri. Yang rumah cat coklat itu rumah saya. Kalau ada apa-apa langsung ke rumah ya,” kataku. Lalu aku pergi meninggalkanmu. Seperti yang kukatakan, urusanku tidak hanya denganmu saja.
***

Semenjak kedatanganmu, aku sering menghampiri rumah kecilmu. Saat itu, aku mengajakmu salat Subuh di masjid yang berjarak lima ratus meter dari rumahku. Aku melihat apa yang kau bawa. Dua Al-Qur’an yang memiliki sampul yang sama.

“Mas Mamad....”

“Panggil Mamad aja, Mbak,” potongku.

“Kalau begitu, kamu panggil aku Hana aja ya.”

“Hmmm.... Oke. Tadi Hana mau ngomong apa?”

“Nanti habis salat enggak ada kerjaan kan?”

Saat itu aku bisa menerka maksudmu. Namun, kali ini aku tak bisa menolaknya lagi. Maka kuputuskan bahwa aku menjawab, “Enggak, kenapa, Hana?”

“Aku mau ngajak kamu mbaca Al-Qur’an. Bisa, kan?”

Aku mengangguk pelan. kulihat dirimu sangat riang. Lalu kau tak berkata apa-apa lagi. Kita berdua menyusuri rumah demi rumah untuk mencapai masjid yang dimaksud. Alangkah indahnya pagi itu. Jika saat itu aku telah mengetahui takdir yang menimpa dirimu setelah itu.

***

Benar katamu. Tidak sampai tiga minggu aku telah menghafal seluruh huruf hijaiyah. Bahkan, aku telah mengetahui beberapa tajwid. Kini, aku lebih mantap untuk membaca Surah Al-Fatihah. Semenjak itu, Pak Kades sering menyuruhku untuk mengumandangkan azan Zuhur dan Asar. Aku senang sekali. Aku juga melihatmu sangat senang.

“Tahu,enggak, kalau aku berhasil buat kamu pinter, aku juga dapet pahala?”

“Tahulah.”

“Tapi, kamu tahu enggak, bahwa nanti pahalanya ngalir terus sampai aku meninggal?”

“Hah? Masa?”

“Iya, semua amal manusia akan terputus saat mereka meninggal. Kecuali riga perkara.  Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak salih. Itu hadis Nabi, lho. Shahih, lagi. ”

“Bunyinya?”

“Jangan, ah. Sama aja kamu enggak ngerti artinya.”

“Berarti enggak hapal, nih?

“Enak saja, aku hapal, dong!”

Lalu, kita tertawa bersama. Subhanallah, kau memang benar-benar cerdas. Kau adalah wanita paling cantik, baik, dan cerdas yang kutemui di muka bumi ini. Terimakasih banyak atas jasamu. Bahkan, setelah bertahun-tahun, aku masih ingat perkataanmu itu. Semoga saja itu benar. Saat ini, amalanmu itu tidak akan terputus.

Perlahan aku menitikkan airmata. Mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang kualami bersamamu.

***

“Cita-citamu apa, Mad?”

“Aku malu. Enggak mau ah.

“Ayolah, Mad....”

“Oke, deh, aku pengen jadi pengarang cerita. Bapak dulu sering nyeritain dongeng. ”

“Berarti kamu harus bisa baca-tulis dong!

Aku diam seribu bahasa. Kata-kata itu sangat singkat. Namun, entah mengapa aku langsung merasa tertusuk. Itu adalah kata-kata paling menyakitkan yang pernah kau ucapkan. Aku tahu bahwa kau sangat pintar. Tetapi, kau tak perlu menghardikku seperti itu.

“Mad? Mamad?”

Aku masih terdiam. Aku terdiam sambil memandangmu.

“Ya Allah, Mad. Kamu tersinggung ya?

Rupanya kau bisa membaca pikiranku. Kau memang wanita yang hebat.

“Astagfirullah, maaf kalau aku tersinggung. Maafin aku ya.”

Tak ada jawaban dariku.

“Maksudku, kalau kamu mau jadi pengarang cerita, jangan cuma impian dong, Mad.  Kamu harus bangkit. Kamu harus usaha. Capai cita-citamu di angkasa.”

“Hmmm....”

“Masyaallah, masih marah ya? Kalau begitu, besok setelah salat Subuh, kamu ke rumahku ya!”

Ngapain, Hana?”

“Ada deh. Datang ya.”

Aku mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkanmu. Bodoh kau, Mamad! Andai saja malam itu kau menghargai niat baik Hana. Namun, kutahu, kata-kata tidak bisa ditarik kembali. Sungguh, saat ini, saat kutulis kisah ini, aku merasa menyesal.

Maaf, kali ini aku tak bisa membendung airmataku. Biarkan aku melampiaskan ini terlebih dahulu. Baru kulanjutkan kisah ini.

***

Kala itu, kau tidak bisa menepati janjimu sendiri. Karena, saat itu kau membantu persalinan isteri Pak Hussain. Kau menyuruhku untuk duduk di depan rumahmu hingga persalinan selesai.  Aku menunggumu hingga jam tujuh lebih. Baru Pak Hussain ke luar sambil membawa anaknya yang kedua, seorang perempuan.

“Lihat ini, Nak. Dia cantik sekali,” katanya dengan wajah penuh haru.

Aku mengucapkan selamat padanya. Lalu, ada hal yang membuatku merasa takjub.

“Mad, aku akan menamai anak ini Hana. Sama kayak dokter itu. Biar nanti anakku bisa pandai macam dia.”

Setelah berbincang-bincang dengan Pak Hussain, aku masuk ke dalam. Di sana terdapat Bu Hussain yang tampak kelelalahan, bersama dirimu. Aku mengucapkan selamat pada Bu Hussain. Lalu, kau mengajakku ke ruang tengah. Aku menceritakan hal tadi.

“Han, Pak Hussain namain anaknya itu Hana, lho!”

“Jangan bohong, Mad!”

“Ih. Ngapain aku bohong, Hana? Tanya sendiri ke Pak Hussain.”

“Iya, aku percaya,” katamu sambil tertawa. “Sori ya, jadi lama nunggu.

Aku menggelengkan kepalaku. Menandakan tak masalah jika aku lama menunggumu untuk menyelamatkan nyawa dua orang sekaligus. Menurutmu, ini adalah salah satu aksi heroikmu dari sekian juta aksi yang kau lakukan untuk menjadikan desa kami lebih baik. Termasuk untuk diriku.

Ternyata, saat itu kau mengajarkanku membaca. Jujur, saat itu aku sangat lelet. Karena, ini adalah hal baru untukku. Namun, dengan sabar kau mengajarkanku membaca. Kau tak mengeluh sedikit pun. Tuhan, terima kasih kau telah mendatangkan bidadari untuk meraih aksara yang para hamba-Mu telah tuliskan di angkasa-Mu. Andai saja waktu itu kembali terulang. Masa-masa di mana kau belum merenggut bidadariku.

Namun, dia pernah berkata padaku bahwa semua yang ada akan kembali pada-Mu. Jika itu benar adanya, maka kurelakan dia untuk-Mu, ya Rabb.
***

“Coba tulis satu paragraf cerita untukku.”

Saat itu, kau memintaku untuk menulis satu paragraf saja. Namun, aku merasa menulis adalah suatu hal yang adiktif. Sehingga tanganku tak berhenti menulis dua, tiga, bahkan lebih dari lima paragraf.

“Sudah, Mad. Sudahlah, ini sudah malam. ”

“Bentar lagi, Han. Nanggung. ”

Jika kutahu apa yang akan terjadi setelah itu, maka aku hanya menulis satu paragraf saja. Aku tahu, bahwa maksudmu adalah untuk mengujiku, bukan menyuruhku untuk menulis cerita. Ya Tuhan, mengapa kau hadirkan rasa penyesalan ini saat bertahun-tahun setelah peristiwa ini?

Tiba-tiba, ayahmu datang dengan Pak Kades. Saat itu, di rumahmu hanyalah aku dan dirimu. Ayahmu adalah pribadi yang religius. Tentu saja dia tak terima bila putrinya berduaan dengan yang bukan mahramnya.

“Hana!” teriak ayahmu dengan keras.

A... Abi..., ” katamu dengan nada gugup.

“Astagfirullahalazim, kalian cuma berduaan?”

“Maaf, Abi. Hana enggak bermaksud untuk zina....”

“Lalu? Siapa laki-laki ini?”

Aku dan Pak Kades tak mengucapkan satu kata pun.

“Percuma Abi menyekolahkanmu dari ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah. Kalau tahu begini, Abi tidak akan pernah mengizinkan kamu menjadi dokter!!”

Kau mulai menangis. “Abi, Hana tidak berzina. Hana berani sumpah Al-Qur’an....”

“Dan kamu, anak muda.” Abi beralih padaku. “Berani sekali kau menodai kehormatan putriku! Apa yang telah diajarkan orangtuamu!?”

Aku merasa tersinggung, ”Maaf, Pak. Saya yatim piatu. Saya bukan orang terpelajar seperti anak Bapak. Tetapi saya mumayiz. Saya tahu yang mana yang benar, Pak!?”

Sayangnya, ayahmu tak mendengarkan perkataan kita. Dia membawa paksa dirimu untuk pulang ke kota. Itu terasa cepat sekali. Bahkan, ayahmu tak memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.

Setelah salat Subuh, aku melihat rumahmu. Sudah tidak berpenghuni. Aku menangis saat itu juga. Aku masuk ke dalam rumahmu. Peralatan medismu sudah tak ada lagi. Aku berteriak sekencang-kencangnya saat itu.

Tanpa sadar, aku telah mencintaimu. Mencintai segenap kelebihan dan kekuranganmu.  Bahkan, jika ayahmu memberi kesempatan, maka aku akan melamarmu. Hana, kaulah yang paling kucinta. Kau mengajariku banyak sekali bekal kehidupan. Belum sempat aku membayar semua itu, kau telah pergi meninggalkanku.

Tuhan, apa ini adil untukku? Apa aku telah melakukan zina? Aku berani sumpah atas nama-Mu bahwa aku tidak melakukan hal bodoh itu. Namun, mengapa kau tega memisahkan kami berdua?
***

Setelah kepergianmu, hari-hariku dipenuhi dengan kesedihan. Setelah berminggu-minggu kau pergi, hidupku terasa hampa. Tak ada lagi yang menemaniku mengaji; tak ada lagi yang mengajariu membaca dan menulis. Bahkan, kau belum menyelesaikan ajaranmu. Sungguh, hatiku hancur saat itu.

Setelah salat Jumat, aku mengaji di rumah. Tiba-tiba, sebuah mobil parkir di depanku. Aku tahu mobil itu. Mobil yang telah membawamu pergi dari desa ini. Ya, itu adalah mobil ayahmu.  Entah ada kepentingan apa padaku. Aku sedang tidak ingin berbicara dengannya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Nak Mamad....”

Waalaikumsalam, mari, Pak. Maaf berantakan,” kataku dengan santai.

“Nak, sebelumnya, maafkan saya karena telah salah paham dengan Nak Mamad. Hana sering mengajarkan Nak Mamad mengaji dan membaca serta menulis ya?”

Aku hanya terdiam.

“Saya telah mengetahui semuanya dari Pak Kades, Nak. Saya baru bisa memahami maksud baik Hana.”

“Bagus kalau begitu, Pak.”

“Maafkan saya, Nak Mamad. Saat itu saya tidak berpikir panjang. Saat itu saya sedang ada masalah pekerjaan sehingga terbawa emosi....”

“Tetapi, apa Bapak sadar bahwa emosi Bapak bisa membuat kami menderita? Kami difitnah oleh orang yang kami hormati, yakni Bapak. Hana telah banyak menceritakan tentang Bapak. Seketika itu saya kagum dengan sosok Abi yang Hana ceritakan. Namun sayangnya....”

“Maka dari itu, Nak. Saya ke sini untuk meminta bantuan. Saya harus bertanggungjawab atas apa yang telah saya lakukan?”

“Apa yang Bapak minta dari saya?”

“Sepulang kami dari sini, saya mengurung Hana hingga tiga hari lamanya....”

Aku terkejut mendengar apa yang barusan dikatakan oleh ayahmu.

“Apa?! Bapak tega mengurung putri Bapak satu-satunya?!”

“Sebentar, Nak. Walau begitu, saya tetap memberinya makanan dan minuman. Namun, ia selalu menolak. Ia bilang bahwa ia sedang berpuasa. Yang ia lakukan hanyalah salat dan membaca Al-Qur’an. 

“Lalu, saya bebaskan dia. Tetapi, tetap saja dia tak beranjak dari kasurnya. Wajahnya sangat pucat. Saya sangat khawatir. Saya mohon Nak Mamad untuk membujuk Hana....”

Apa? Ayahmu telah tega kepadamu! Jujur, saat itu aku tak bisa memaafkannya. Namun, aku tak bisa mementingkan amarahku saat ini. Yang kubutuhkan hanyalah dirimu.

“Tunggu apa lagi, Pak? Ayo kita berangkat!”

Lalu, kami menuju rumahmu. Untuk menyelamatkanmu. Tunggu aku, Hana. Aku akan menyelamatkan dirimu. Dan kita akan hidup bahagia. Selamanya.
***

“Nak, perkenalkan ini ummi-nya Hana.”

Kami bersalaman secara tidak langsung. Lalu kami memasuki rumahmu. Rumah yang sangat indah dan luas. Seketika, aku merasa hina di sana. Apa bisa aku menjadikanmu isteriku? Sedangkan keluargamu adalah keluarga yang lebih dari mampu. Aku merasa tak pantas bahwa aku adalah temanmu, sebab ternyata kau punya segalanya.

Lalu, ayahmu menyuruh ibumu untuk memanggilmu. Jantungku berdetak tak karuan.  Setelah sekian lama, akhirnya aku akan bertemu denganmu, Hana. Hana milikku. Jangan pernah pergi lagi meninggalkanku. Ayahmu telah memaafkan kita. Maka, kita akan hidup bersama lagi.  Seperti dulu lagi. Ayo, Hana. Bersama kita meraih mimpi-mimpi kita. Mimpi kita yang berada di angkasa sana.

Namun, ibumu kembali dengan tidak membawamu. Apa yang terjadi? Mengapa?Apa kau telah membenciku? Mengapa kau membenciku?

“Kayaknya Hana ketiduran sambil membaca Al-Qur’an. Gimana kalau abi-nya sama Nak Mamad langsung masuk saja?”

Aku memiliki perasaan tak enak. Ayahmu beranjak dari sofa, lalu melangkah. Disusul oleh diriku. Firasat apa ini? Apakah kau akan menolakku? Tapi bukankah kau berderai airmata saat terakhir kali aku melihatmu?  

Ayahmu membuka pintu kamarmu. Aku melihat dirimu membelakangi kami, sedang tertidur sambil memegang Al-Qur’an yang terbuka. Ayahmu memanggilmu, tetapi kau tak menjawabnya. Bahkan, saat ayahmu menyebut namaku, kau sama sekali tak bergerak dari tempatmu. Lalu, ayahmu semakin mendekat padamu. Ayahmu menggenggam tanganmu. Lalu, kata-kata yang akan ia ucapkan bagai sambaran petir di siang bolong ini.

“Nak! Hana! Bangun, Hana! Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun....

Apa? Kalimat apa yang diucapkan ayahmu barusan? Apakah aku salah dengar?

Ummi, apakah Hana tertidur dari tadi pagi?”

“Enggak, Abi.  Tadi pagi Ummi lihat dia masih mengaji.”

Lalu, ayahmu mempersilahkan aku dan ibumu masuk. Alangkah terkejutnya aku melihat dirimu menyunggingkan senyummu untuk terakhir kalinya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Saat itu, kau telah tiada. Kau sudah tidak ada di dunia ini.

Sambil menahan airmataku, aku mengambil Al-Qur’an yang berada di genggamanmu.  Terbuka di sana Surah Al-Mulk.

“Mad, kamu tahu, enggak? Kalau kita sering membaca Surah Al-Mulk, kita terhindar dari siksa kubur. Makanya, aku paling suka Surah Al-Mulk. Kamu sering-sering baca Surah Al-Mulk juga, ya....

Aku masih ingat ketika dirimu mengatakan itu. Aku sudah tak tahan lagi. Aku tak ingin menangis di hadapan ragamu. Aku berlari, meninggalkan kamarmu. Aku masih membawa Al-Qur’anmu. Al-Qur’an yang sama seperti kau bawa saat pertama kali kau mengajariku mengaji.

Hana, mengapa kau meninggalkan kami secepat ini? Bahkan, belum dua tahun aku mengenalmu. Belum juga kau meraih cita-citamu sebagai dokter yang akan mengabdi di tempat-tempat terpencil. Aku tak ingin maju sendirian, Hana. Aku ingin bersamamu. Aku ingin bersamamu meraih cita-cita kita yang kau katakan masih di angkasa.

Namun, betapa mulia dirimu. Kau meninggalkan kami pada Hari Jumat dengan keadaan membaca Al-Qur’an. Kau meninggalkan kami dalam keadaan husnulkhatimah. Insyaallah, semua amalmu akan diterima di sisi-Nya.
***

Hujan deras menemaniku menulis kisah ini. Hujan itu turun bersama memori yang tak bisa kulupakan. Memori sepuluh tahun yang lalu itu bahkan tak bisa kubuang begitu saja. Hujan yang turun bersamaan dengan butiran airmata. Bukannya aku laki-laki lemah. Tetapi, jika kalian memiliki masa lalu yang seperti itu, kalian takkan setangguh diriku.

Sekarang, aku telah menjadi novelis terkenal. Bahkan, aku dipercaya sebagai penulis skenario beberapa film terkenal saat ini. Saat aku menulis, aku merasa bahwa jiwa Hana menyertaiku. Mendukungku, hingga aku berhasil seperti sekarang.

Saat ini, sebuah produser film meminta saran cerita padaku. Maka dari itu, kutulis pengalaman pribadiku untuk film itu. Aksara di Angkasa. Perjalanan seorang pemuda yang buta huruf, lalu menemukan seorang gadis yang siap menerima pemuda itu sebagai muridnya. Sekaligus cinta pertamanya.

 

           Aksara di Angkasa
Turun setahap demi setahap
Melalui seorang bidadari surga
Tak cantik, tak sempurna
Tetapi ia memiliki kemampuan
Yang tak dimiliki oleh bidadari lainnya

           Aksara di Angkasa
Tuhan telah memilih bidadari yang tepat
Untukku seorang yang hina
Bahkan untuk mengeja saja tidak bisa
Namun, berkat bidadari yang dikirim
-Nya
Aku bisa seperti sekarang

           Aksara di Angkasa
Sampaikan salamku untuknya
Bilang padanya
Terimakasih atas semua yang telah dilakukannya
Lalu, kututup kisah tentangnya
Dengan sebuah doa dan harapan untuknya.
[]

 


Kamila Cahyaningrum, biasa dipanggil Mila, lahir di Malang, 2 Agustus 2001. Siswa MTsN 1 Malang, Jl. Bandung 7, MalangJawa Timur.