22 Juli 2016 | Kaki Langit - Cerpen | 622 hits

Perjalanan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Kali ini aku memilih memasuki perkampungan. Tempat yang jauh dari keramaian dan kebisingan. Kampung ini memang sangat sepi. Tak seorang pun yang kutemui di sepanjang jalan. Pintu-pintu rumah tertutup. Ini baru pukul 09.30. Kabar dari temanku, mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 16.00 sore hari, rumah-rumah akan kosong karena penghuninya membanting tulang di ladang. Mungkin hanya anak-anak mereka yang belum bisa bekerja yang tinggal di dalam rumah.

Kupelankan laju motorku. Di kanan-kiri jalan pepohonan menghadang terik matahari pada bumi. Perumahan di sini bentuknya hampir sama semua. Tapi, tak ada yang menarik untuk kuperhatikan. Hanya beberapa anak kecil yang sedang bermain kelereng di salah satu halaman rumah terlihat memperhatikanku dengan heran. Ya, kumaklumi keheranan mereka.

Seorang lelaki yang menggunakan jaket hitam, berkacamata hitam melaju dengan pelan di jalan sesempit ini. Aku masih terus melaju, hingga mataku menemukan rumah yang berbeda dari yang lainnya. Rumah ini bercat kuning. Bangunannya tinggi dan berhalaman luas. Oh, ini yang menarik perhatianku.

Seorang gadis muda dengan lincahnya membersihkan dan menyapu halaman. Rok selutut yang bermotifkan bunga-bunga dipadukan dengan kaos panjang berwarna putih. Rambutnya dibiarkan tergerai. Gadis ini sungguh menarik dengan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Dapat kudengar gemerincinh gelangnya di tangan kirinya. Jari-jarinya yang indah semakin dipercantik dengan cincin permata. Di lehernya melingkar sebuah kalung yang menurutku beratnya mencapai kira-kira 5 gram. Aduhai, antingnya menyentuh pipinya dengan lembut.

Aku berhenti di bawah pohon rindang yang berjarak 10 m dari halaman rumahnya. Aku mengeluarkan catatan kecil dari saku jaketku. Dengan diam-diam aku mengamati gadis itu. Sepertinya gadis itu tersadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Dari jarak yang tidak terlalu dekat, mata kami beradu. Gadis itu kelihatan kikuk, lalu menunduk. Dengan tergesa ia menyelesaikan pekerjaannya dan menoleh sekali lagi padaku, lalu bergegas memasuki rumah. Aku tersenyum kecil.

Jack, kita langsung ketemu di warung biasa, aku telah berhasil mengenai sasaran. Bagaimana denganmu? Satu pesan singkat memasuki ponselku.

Kunyalakan lagi motorku, balik kanan. Aku melaju dengan lebih cepat. Segera aku menuju warung yang dimaksud temanku. Temanku telah tiba di sana lebih dulu dariku.

“Di perkampungan lebih sulit, kan?” Roy menyambutku dengan santai.

“Ya, begitulah!” aku menjawab singkat.

“Seharusnya kamu tadi ikut kami. Yakin pasti dapat. Sekarang mana hasilmu?”

“Santai saja. Kupastikan besok aku akan mendapatkannya.”

“Mas kerja apa sih?” Tiba-tiba Ipah, anak pemilik warung ini, memecah percakapan kami.

“Tadi ada yang menanyakan Mas Jack,” lanjutnya.

“Siapa, Ipah?”

“Tidak tahu,” Ipah menjawab pertanyaanku sambil sibuk dengan pekerjaannya. 

Ya, teman-temanku memang selalu menanyakanku ke warung ini. Karena, salah satu tempat yang sering aku diami adalah warung ini.

“Jack, aku pergi dulu. Besok ketemu di sini lagi.” Roy bangun, dan meninggalkanku.
***

“Sudah punya sasaran, Jack?” Alex, teman seprofesiku, tiba-tiba muncul di sampingku.

“Ah, kamu! Sudah ada,” jawabku kaget.

“Di mana lokasinya?”

“Kali ini aku mencoba di perkampungan. Tidak jauh dari sini.”

“Di perkampungan? Kau gila? Kau akan sulit menghilang, Jack!”

“Tidak, Lex. Kau tidak tahu keadaan kampung itu.”

”Jacky, seaman apa pun perkampungan, tetap saja itu bahaya.”

“Bagaimana jika hari ini aku berhasil? Kau akan tergiur untuk melakukan hal yang sama.”

“Kau yakin akan berhasil?”

“Tentu.”

“Aku harus berangkat lebih pagi hari ini. Jadi, aku pergi dulu.” Aku memang harus berangkat lebih pagi dari kemarin ke kampung itu.
***

Entahlah! Ini aneh sekali. Tak biasanya dadaku bergemuruh jika akan melakukan hal ini. Ini sudah pekerjaanku sejak pindah ke kota. Aku terbiasa melakukannya dengan mulus. Ah, tapi kutepiskan kebimbanganku.  

Seperti kemarin, dari jalan ini aku belok kiri, lalu memasuki jalan yang hanya cukup dilalui oleh dua kendaraan motor. Memang tak ada yang berbeda dari kemarin. Hanya saja, di jalan aku berpapasan dengan para petani, yang hendak pergi bekerja. Tiba-tiba wajahku gugup. Ini mungkin terlalu pagi. Mengapa tiba-tiba perasaanku kacau begini?

Demi mengatasi kegugupanku kupelankan laju motorku dan menghampiri salah satu petani yang hendak berangkat.

“Maaf, Pak,” sapaku sambil mengeluarkan kertas kecil dari sakuku.

“Ada apa, Mas?”

“Bapak tahu alamat ini ndak?”

“Oh. Terus saja lurus, nanti di ujung sana belok kiri.”

“Terima kasih, Pak.” Aku sebenarnya tak terlalu peduli dengan penjelasan bapak itu. Aku sudah tahu di mana letak rumah yang kumaksudkan.
***

Jalanan ini sudah seperti kemarin lagi. Sepi. Anak-anak yang bermain kelereng itu masih belum ada. Aku fokus pada tujuanku. Rumah yang bercat kuning, dengan seorang gadis yang menyapu halaman yang luas itu. Aku berharap gadis itu masih belum keluar, sehingga aku dapat mengetahui bagaimana ia membuka pintu. Dan aku akan punyak banyak waktu untuk mengintainya.
***

Aku memilih tempat yang kemarin. Aku semakin merapatkan tutup kepalaku. Sedangkan kacamata hitamku sudah melekat sedari tadi. Gadis itu keluar tepat saat aku tiba di tempat ini. Dapat aku melihatnya bagaimana ia mengambil sapu. Dia membungkukkan badan. Mataku tertuju  pada dadanya, kalung yang melingkar di lehernya, bergerak kian kemari mengelus dadanya.

Aku memperhatikan keadaan sekitar. Sepi. Tak ada gunanya aku membuang waktu. Ini waktu yang tepat. Dari saku jaketku aku mengambil kertas kosong, lalu mencoret-coret sembarang alamat di kertas itu.

Kunyalakan motorku. Dengan hati-hati aku menghanpiri gadis muda itu.

“Permisi, Mbak.”  

Gadis itu menatapku curiga.

“Ini, Mbak, anda tahu enggak alamat rumah ini?” Kuulurkan kertas itu dan dia pun menerimanya.

“Oh ini?”  

Tepat saat dia menerima kertas yang aku suguhkan, dengan sigap aku menarik kasar kalung yang melingkar di lehernya itu. Sempat aku melihat keterkejutannya sebentar. Lalu memacu motorku dengan cepat.

“Tolong! Saya dirampok!” Itulah ratapan yang kudengar dari mulutnya. Namun motorku melaju tak kalah cepatnya dengan suara si gadis yang merambat cepat ke udara. Aku melepas tutup kepalaku dan segera aku tiba di jalan kota yang ramai. Ah! Ini mudah sekali. Aku akan segera mengirimi anak dan istriku uang di kampung.  

“Maafkan Bapak, Nak. Bapak terpaksa tidak menjadi Joko, tapi Jacky.” Aku hanya bisa bergumam dalam hati.[]

 


Noer Hamima, siswi Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Mathla’ul Amien, Grujugan, Gapura, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Aktivis Sanggar Sastra Mathla’ul Amien (SSM) dan redaktur buletin CapsLock. Puisi-puisinya dimuat di Kakilangit, sisipan majalah sastra Horison.