Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Silir Selaras menghias wajahnya di depan cermin. Sungguh wajahnya menampakkan aura kecantikannya. Celak hitam memberi coretan di bagian garis matanya. Lentik bulu matanya dihias rona merah di kelopak mata dan paduan eyeliner di pinggir matanya. Kemudian diusapkan rona merah di pipi semerah warna bunga mawar yang merekah. Lalu dioleskan lipstik merah di bibir semerah buah strawberry yang menyegarkan. Kini aura kecantikannya terpancar di bingkai cermin pojok kamarnya.

Temaram senja telah tiba. Matahari merah mulai menampakkan bayang-bayang. Para niyaga mulai memainkan alat musiknya. Suara gong, kenong, kendang, saron, gambang, rebab, dan siter mulai terdengar. Suara merdu sang sinden pun mulai menyanyika lagu-lagu Jawa seperti sinom, pangkur, dandang gula, asmarandhana, gambuh, dan kinanti, mulai mendayu sanubari.

Ketika laras slendro pathet enem dimainkan oleh para niyaga mengiringi asmarandana, Silir mulai mengawali tariannya. Jari-jemarinya yang lentik mulai mengayunkan sampur. Keelokan tubuhnya mulai menari gemulai. Geolan tubuhnya mempesona semua mata. Gerak cantik Silir terus mengikuti alunan gending Jawa yang dimainkan oleh para niyaga.

Kelentikan jari-jarinya terus mengayunkan sehelai sampur yang melekat di tubuhnya. Tubuhnya yang elok mulai memperlihatkan gerakan tarian Gambyong Mari Kangen, Kinayakan, Selendro, Mayar Sewu, dan Senggot. Tubuhnya yang tinggi semampai dan kecantikan wajahnya yang terpancar mengalihkan perhatian para penonton, seakan mereka terhipnotis takjub melihat Silir yang merupakan lengger Randegan yang mempesona.

Sepoi-sepoi angin malam sudah begitu terasa menusuk tubuhnya. Rasa dingin sampai menusuk tulang rusuknya hingga badannya mulai menggigil. Menit berganti menit, jam berganti jam telah terlalui olehnya. Kini waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Aksinya menari dan menghibur para penonton telah selesai. Bergegas dia pulang ke rumah, karena sudah tak tahan lagi menahan kantuknya dan rasa lelah yang mendera. Silir pun bergegas masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Belum lama Silir tertidur pulas, terdengar suara ketukan pintu di kamarnya berkali-kali, membuyarkan mimpinya. Azan subuh telah berkumandang terdengar hingga ke telinga Silir. Silir pun bergegas bangun mengambil air wudu, lalu melakukan shalat subuh. Setelah itu Silir pun menuju ke dapur mengambil air minum dan ternyata ada simbok di dapur.

Mbok tadi yang bangunkan aku ya?” tanya Silir.

“Lah iya... apa koe masih ngelengger tadi malam?” tanya simbok.

Koe  harusnya tahu bapak wis ngelarang, nanti bapak marah lho!”

“Ya, Simbok jangan cerita ya, Mbok.”

Simbok diam tidak menjawab. Simbok hanya pasrah pada Yang Kuasa.

Silir ke kamarnya kembali tidur. Ia masih merasa mengantuk. Untungnya hari ini Minggu. Dia tidak sekolah.

***


Sinar matahari pagi mulai menembus jendela kamarnya. Suara ayam berkokok mulai membuyarkan mimpinya menari lengger di suatu acara. Memang lengger itu sudah mendarah-daging bagi Silir. Sepertinya ada panggilan jiwa untuk menggerakkan jari-jemari dan tubuhnya untuk melengger.

Silir terbangun. Dilihatnya jam dinding yang tertancap di dinding kamarnya. Ternyata waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Silir menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya dengan pita. Leher yang jenjang, wajah jelita, kulit kuning langsat, gemulai tubuh dalam geraknya melengger yang mempesona itulah yang membuat Silir terkenal sebagai bunga Desa Randegan.  

Pagi itu suasana Desa Randegan sudah sepi, hanya terdengar suara ibu-ibu yang sedang membeli sayur-mayur di jalan desa. Silir yang baru terbangun mengambil handuk dan segera mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, Silir keluar rumah dan duduk di bawah pohon mangga depan rumahnya.

Kini badannya terasa bugar kembali. Sinar matahari pagi menerangi bumi memberi tanda kehidupan di dunia. Semangatnya terpancar kembali bagai kobaran api yang membara.

Tampak dilihatnya serombongan lelaki tua dan muda berjalan menuju sebuah tobong bata yang ada di sepanjang rel kereta api yang sudah tidak digunakan lagi. Salah satu dari orang-orang itu adalah Pak Kartono, bapaknya Silir. Semua orang itu pergi ke satu tujuan dan yang pasti memiliki satu harapan yang sama, yaitu mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya dari tanah liat yang diolah menjadi batu bata.

Maklum saja, tanah liat di daerahnya sangat bagus. Tak heran jika tanah liat itu dimanfaatkan para warga sekitar untuk memproduksi batu bata. Desa Randegan memang terkenal dengan produksi batu bata yang bagus dan berkelas di Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara dan sekitarnya. Ditambah lagi, letak desanya yang berada di ujung timur Kabupaten Banjarnegara ini mempunyai wilayah yang masih asri. Hijaunya pepohonan memberi warna bak permadani hijau yang membentang, memberi keindahan alam dan udara yang sangat sejuk.

Para warganya pun masih menggunakan tradisi gotong-royong dengan sesama. Jalinan tali silaturrahim dan kerukunan masih terjaga dengan baik. Sikap blaka suta apa adanya, menjadi pedoman bertutur sapa penduduk Desa Randegan.

***    


Hari mulai siang. Kicauan burung mulai terdengar di telinga Silir. Silir mulai bangkit dari tempat duduknya tadi dan melangkahkan kaki menuju Sungai Serayu yang berada di ujung desanya. Sungai Serayu itu menjadi tempat Silir melepas rasa lelah dan hatinya yang gundah setiap kali sehabis pentas.

Beberapa menit kemudian Silir sampai di Sungai Serayu. Silir duduk di batu yang terhampar di pinggir Sungai Serayu itu. Hijaunya sawah yang membentang di seberang sungai memberi pemandangan indah di matanya. Suara gemericik air menenangkan hatinya, tiupan udara yang sejuk memberi ketenangan jiwanya menghilangkan rasa lelah yang menderanya. Silir terus memandang aliran sungai, sepertinya ia menyimpan sejuta harapan di setiap air yang mengalir.

Matahari berada tepat di atas kepala Silir. Sengatan matahari panas mulai menerpa kulitnya. Silir pun bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki pulang ke rumah. Ketika ia melewati gang-gang kecil, dari kejauhan telihat ibu-ibu sedang duduk berbincang di bawah pohon mangga depan rumahnya. Namun itu tidak menghambat langkah kakinya pulang ke rumah.

Lesung pipinya terlihat memberi senyuman dan sepotong perkataan terucap dari mulutnya.

Klamet, Bu,” kata Silir menyapa.

“Iya Klamet. Soko ngendi to, Nduk?” sahut salah satu ibu tadi.

Niki mlampah-mlampah saking Kali Serayu, Bu,” jawab Silir.

“ Oh...,” jawab ibu tadi sambil memberi senyuman pada Silir.

“Lah, anak cantik seperti itu kok jadi lengger, kasihan nanti masa depannya, apa tidak malu ya? Bagaimana harga dirinya dan masa depannya kelak kalo jadi lengger terus ya?” kata ibu- ibu lain yang sedang ngobrol di situ.

Mendengar perkataan ibu-ibu di depan rumahnya itu, hati Silir seperti teriris dan matanya berkaca-kaca dan berlari masuk ke rumahnya.

Silir terus menahan airmatanya yang akan jatuh membasahi pipinya. Diambilnya segelas air minum untuk menenangkan hatinya. Azan duhur telah berkumandang. Bergegas ia wudu dan melaksanakn solat duhur. Ia berdoa dan mengadukan semua rasa sakit hatinya pada Allah SWT pemilik kerajaan langit dan bumi.

Setelah selesai solat, bapak yang baru pulang dari musola dekat rumah, tiba-tiba memanggil Silir. Suara bapak menggelegar memanggil namanya, bagaikan petir siang bolong menyambar telinganya. Bapak kemudian menuju ke ruang tengah rumah.

“Silir!” suara bapak menggelegar memanggilnya.

Dalem, Pak,” jawab Silir sedikit gugup.

Rene ngadep Bapak!” jawab bapak.

Inggih, Pak. Wonten nopo?” tanya Silir dengan muka binggung, dan segera menghampiri bapak ke ruang tengah.

“Duduk dulu, Nduk,” kata simbok yang sudah duduk di ruang tengah juga. Silir pun duduk di samping simbok sambil menatap bapak dengan wajah bingung

Koe, dikasih tahu orangtua mengerti tidak ya! Bapak sudah mengatakan berkali-kali, Koe harus berhenti ngelengger! Harga diri lengger itu dianggap orang rendah! Apa koe memang ingin memalukan simbok dan Bapakmu?!”

Koe, kalau sudah tidak menurut sama Bapak dan simbokmu, sudah sana pergi dari rumah saja!”

Kata-kata bapak begitu menusuk jantungnya.

Simbok hanya bisa menangis, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Silir tak bisa berucap apa pun. Ia pun berlari masuk kamarnya dengan airmata yang akan tumpah membasahi pipinya.

Tiba-tiba rinai hujan turun seperti bulir-bulir airmatanya yang deras membasahi pipi. Dia teringat akan kata-kata bapak barusan, dan kata-kata ibu-ibu tetangga sebelum duhur tadi, yang menikam lubuk hatinya. Bagaikan gelas jatuh pecah berkeping-keping. Itulah perasaan Silir saat ini.

Tiba-tiba simbok datang ke kamar dan mencoba untuk menenangkan hati Silir dengan berbagai kata-kata. Tapi Silir mengabaikan dan menyuruh simbok untuk keluar dari kamarnya. Dalam hati ia berkata, ia ingin segera pergi meninggalkan rumah dan kedua orangtuanya. Ia berfikir dan bertekad, hari itu juga harus pergi dari rumah.

Lalu Silir menutup rapat-rapat pintu kamarnya dan ia mengemasi beberapa baju dan peralatan untuk melengger, dimasukkan ke dalam tas ransel. Silir mengambil telpon genggam dan menelepon sahabatnya sesama penari lengger, Larasati. Beberapa potong perkataan ia ucapkan pada Larasati lewat telepon, yang intinya ia akan datang ke rumahnya. Larasati pun memperbolehkan dan menyuruh Silir segera ke rumahnya.

***


Rintik air hujan setelah magrib menemani kepergian Silir yang melompat lewat jendela kamarnya meninggalkan rumah. Silir berjalan kurang lebih lima belas menit dari rumahnya menuju pangkalan ojek di desanya. Waktu yang dibutuhkan Silir untuk menempuh jarak dari Randegan ke Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, rumah Larasati, lama dan jauh sehingga ia harus mengojek.

Kurang lebih empat puluh lima menit telah terlewati olehnya. Jalan yang berliku dan berkelak-kelok ia tempuh menuju ke rumah Larasati.

Tok... tok... tok.... Ketukan tangan Silir.

“Assalamu’alaikum,” Silir mengucapkan salam.

“Wa’alaikum’salam,” jawab Larasati dari balik pintu rumah. Dia pun membuka pintu.

“Oh kamu Silir... sini masuk,” kata Larasati mempersilahkan Silir masuk rumahnya.

“Kamu dari mana, Nduk? Malam-malam begini, gerimis lagi. Sini masuk, Nduk,” ibu Larasati bertanya dan menghampiri Silir.

“Dari rumah saja, Bu,” jawab Silir lirih.

Mereka bertiga pun duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang. Silir menceritakan semua yang telah terjadi pada Larasati dan ibunya, dan minta izin untuk sementara waktu diperbolehkan menginap di rumah Larasati.

Mendengar semua cerita Silir sambil terisak-isak, Larasati dan ibunya pun terharu dan merasa kasihan pada nasib Silir. Mereka memperbolehkan Silir tinggal di rumah mereka.

***


Beberapa hari telah berlalu. Silir tinggal di rumah Larasati. Pagi begitu cerah dan Silir mendapatkan kabar dari teman Paguyuban Lengger Wala Budaya, bahwa akan ada Festival Serayu Banjarnegara 2015. Di dalam festival itu ada beberapa kegiatan dan lomba. Di antaranya Parak Iwak, Parade Budaya, Serayu Expo, Kongres Sungai Indonesia, Banjarnegara Bersholawat, dan Gelar Seni Budaya.

Pada kegiatan Gelar Seni Budaya diadakan lomba lengger se- Kabupaten Banjarnegara. Hal itu membuat hati Silir dan Larasati sebagai penari lengger berbunga-bunga karena paguyuban mereka ikut serta dalam lomba itu. Paguyuban yang mendapatkan juara pertama akan ditampilkan di Istana Negara di Jakarta dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-70. Kabar itu merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan Silir dan Larasati. Terutama Silir, karena peristiwa itu adalah salah satu jalan yang bisa mengantarkannya pada impiannnya untuk menari lengger dan bertemu presiden dan para pejabat negara.

Hari demi hari telah dilalui Silir dan teman-temannya untuk latihan. Silir dan para rombongan Paguyuban Wala Budaya sibuk latihan dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dari jauh-jauh hari, hingga rela mengorbankan waktunya setiap siang pulang sekolah sampai malam. Mereka bekerja keras dan berlatih agar saat tampil nanti bisa tampil dengan maksimal dan meraih kejuaraan.

Setiap hari simboknya selalu datang ke tempat latihan dengan membawakan bekal makan, dan selalu mengajak Silir pulang ke rumah, tapi Silir menolak karena masih merasakan sakit hati kepada bapaknya. Jadi akhirnya simbok yang setia mengunjungi Silir latihan dan berpesan untuk selalu hati-hati dan menjaga dirinya tinggal di rumah Larasati.

Hari perlombaan pun tiba. Silir dan rombongan Paguyuban Wala Budaya telah bersiap menampilkan keahliannya menari lengger. Lomba diikuti oleh 20 group paguyuban se-Banjarnegara di Pendopo Dipayudha Adhigraha, Banjarnegara.

Penonton bersorak dan bertepuk-tangan, terpesona melihat penampilan Paguyuban Wala Budaya ketika tampil. Silir, Larasati, dan teman-temannya, serta para niyaga bersemangat dalam menampilkan tarian lengger terbaik. Perpaduan harmonis para niyaga memainkan gending Jawa mengiringi para penari lengger, begitu mempesona bagi semua yang hadir saat itu.

Perlombaan telah usai. Pengumuman juara segera akan diumumkan. Silir, Larasati, dan teman-teman paguyuban berpegangan tangan bersama merasakan debar jantung berdetak kencang dan gelisah menunggu hasil pengumuman juara. Suara jeritan dan tangis haru bercampur menjadi satu setelah diumumkan Paguyuban Wala Budaya mendapatkan juara pertama.

Paling mengharukan dan membahagiakan bagi Silir adalah ia dinobatkan menjadi penari lengger terfavorit di ajang lomba tersebut. Dengan terharu dan berkaca-kaca Silir berkata dalam hati, “Aku bisa membuktikan pada bapak dan simbok, dengan semangat dan kerja kerasku, lengger bisa berprestasi, dan lengger tidak serendah seperti yang dikatakan orang-orang itu!”

Silir berpelukan dengan Larasati sambil berlinang air mata.

Silir dan teman Paguyuban Wala Budaya pun dipanggil ke panggung untuk menerima piala, piagam, dan uang pembinaan yang diberikan langsung oleh Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo. Bahagia, haru, berbaur menjadi satu.

***


Senja mulai temaram. Silir pun melangkahkan kaki untuk pulang ke rumah dengan membawa piala, piagam, dan uang, ingin ditunjukkan kepada orangtuanya. Setelah tiga puluh menit, Silir sampai di rumah. Ia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Belum sempat berkata apa-apa, bapak yang membuka pintu langsung memeluk Silir erat sambil terisak-isak. Dengan terbata-bata bapak menyampaikan penyesalan atas sikap bapak selama ini terhadap Silir. Bapak juga tahu bahwa Paguyuban Lengger Wala Budaya mendapatkan juara karena berita itu sudah menyebar dari bapak kepala desa. Warga Desa Randegan pun merasa bangga akan peristiwa kemenangan Paguyuban Wala Budaya yang bisa mengangkat nama baik Desa Randegan. Orang-orang yang tadinya tidak suka dan menghina Silir pun merasa malu, dan  mereka sekarang bangga pada Silir.

Kini bapak dan simbok sangat mendukung Silir dan menyuruh ia untuk tetap nguri-uri kabudayaan lengger di Banjarnegara. Bapak dan simbok sangat bangga. Bapak-simbok dan anak itu tidak bisa berkata banyak, hanya bisa merasakan kebahagiaan yang membuat hubungan mereka semakin erat, dan sepertinya tidak akan terpisahkan oleh ruang dan waktu. Kini, Silir dikenal sebagai Mutiara Desa Randegan. []

           

Glossarium

  1. Niyaga : para pemain gending Jawa           
  2. Sinom, pangkur, dandang gula, asmarandana, gambuh, kinanti  : lagu-lagu Jawa
  3. Laras slendro pathet enem : pengaturan nada gamelan Jawa
  4. Gambyong Mari Kangen, Kinayakan, Selendro, Mayar Sewu, dan Senggot : tarian-tarian lengger
  5. Gong, kenong, kendang, saron, gambang, rebab, dan siter  : alat-alat musik gamelan Jawa.
  6. Sampur : selendang untuk menari
  7. Simbok/ Mbok : panggilan untuk ibu dalam bahasa Jawa
  8. Kowe : kamu
  9. Ngelengger : menari lengger
  10. Sikap blaka suta : sikap bertutur kata apa adanya
  11. Klamet : permisi
  12. Genduk/ Nduk : panggilan anak perempuan Jawa
  13. Soko ngendi to, Nduk : Dari mana ya, Nak
  14. Kali Serayu Saking : Dari Sungai Serayu
  15. Niki mlampah-mlampah  : Ini baru jalan-jalan
  16. Dalem, Pak : Ada apa, Pak
  17. Rene ngadep Bapak : Ke sini menghadap Bapak
  18. Inggih, Pak : Iya, Pak
  19. Wonten nopo : Ada apa
  20. Bapak wis nglarang : Bapak sudah melarang
  21. Nguri-uri kabudayan : melestarikan kebudayaan

 


Cerpen “Mutiara di Balik Randegan” di atas adalah Juara Kedua Lomba Menulis Cerita untuk siswa setingkat SMP yang diselenggarakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di tahun 2015.

Renti Fatonah, lahir di Banjarnegara, Jawa Barat, 7 Juni 2000. Siswa SMP Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Barat.