22 Juli 2016 | Kaki Langit - Cerpen | 632 hits

Langit Jingga Ibu

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Cerpen Ayesha Kamila Rafifah

Rinai-rinai hujan tersingkap
Gerimis minggir mengucap permisi
Awan-awan hitam bergerak
Berarak meninggalkan kampung
Dalam keheningan aku menatap
Sinar jingga kemerahan lembut
Menyongsong roda hidup baru
Yang bahagia, bahagia, selamanya.

***

“Ibu?” Aku melongokkan kepala ke dalam bilik dapur yang sempit. Ibu sedang sibuk mengukus kue-kuenya ketika menoleh padaku dengan tatapan bertanya.

“Tempat pensilku yang lama sudah rusak. Bisa tolong belikan yang baru?” Aku mengangkat tempat pensil putihku yang sudah kecokelatan, memperlihatkan bagian resletingnya yang rusak.

Ibu tersenyum kecut. “Belum bisa, Sayang. Uang yang kita punya habis untuk biaya sekolahmu dan adikmu. Lagipula, kemarin kan kamu sudah dibelikan tas baru,” ujar beliau, menata beberapa kue ke tampah —nampan besar yang biasa digunakan ibu untuk menjajakan kuenya.

“Tapi teman-teman Rieska banyak yang sering gonta-ganti tempat pensil! Lagipula wajar dong Rieska minta dibelikan lagi tempat pensil, yang satu ini rusak resletingnya,” balasku kesal, menunjukkan resleting tempat pensilku.

“Nanti ya, Nak. Sekarang pakailah dulu tempat pensil yang ini. Kalau ada uang akan langsung Ibu belikan,” kata ibu menatapku.

Aku mendesah kesal, berbalik arah, lalu masuk ke kamar tidurku dan adikku.

Namaku Rieska Alvani, dan aku punya keluarga yang begitu miskin.
***

“Lho, masih belum diganti, Ries?” tanya Qiran, memiringkan kepalanya menatap tempat pensilku. “Kamu belum bilang kepada ibumu?”

“Oh, sudah kok,” jawabku buru-buru. “Katanya besok mau dibeli. Aku sudah pesan dibelikan yang gambar Hello Kitty lho, yang kantongnya ada dua. Keren banget, deh!” tambahku berbohong, berusaha kelihatan ceria.

“Wah, iyakah? Nanti aku juga mau deh yang seperti itu,” Qiran tampak berpikir. Aku tertawa kecil, buru-buru mengalihkan topik pembicaraan sebelum Qiran membahas lebih banyak lagi.

Huh, gara-gara ibu, aku terpaksa harus berbohong pada Qiran. Kenapa sih ibu sebegitu pelitnya sampai membelikan tempat pensil saja tidak bisa?

Namaku Rieska Alvani, dan aku adalah sang pemakai topeng.
*** 

Aku melangkah gontai memasuki pekarangan rumah. Kutendang satu-dua kerikil yang menghalangi, membuat batu abu itu terlontar-lontar kecil, lantas terjatuh di selokan kering.

“Baru pulang, Nak?” suara khas ibu menyapaku dari pintu depan.

Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sekadarnya lalu masuk rumah. Kulempar tasku ke atas kursi, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ketika keluar kamar mandi, kulihat ibu sedang berdiri di teras, bersandar pada salah satu tiang rumah. Tatapannya lurus ke atas, sama sekali tak bergerak. Aku mengikuti arah pandangannya. Langit di luar jingga kemerahan, sinar mataharinya tidak menyengat seperti saat siang hari. Malah sebaliknya, seperti menentramkan perasaan. Awan-awan tipis bergerak perlahan melintasi semburat itu. Langit sesaat tidak berwarna biru, melainkan jingga, tampak sekilas seperti emas.

Ibu terus berdiri di situ, terdiam sampai perlahan langit menggelap, matahari tenggelam di antara tumpukan awan dan lenyap di balik bangunan-bangunan kampung. Ibu berbalik, lalu tersenyum melihatku sedang memperhatikan beliau.

“Indah langitnya ya?” ujar ibu, tersenyum sekilas lantas berbelok ke kamarnya.

Aku mengernyit. Untuk apa ibu menonton langit? Tidak berguna. Aku tidak suka hal-hal aneh. Dan aku tidak mau tahu tentang itu.

Namaku Rieska Alvani, dan aku tak suka ketika ibu mulai menonton langit jingga kemerahan yang tak berarti apa-apa.
***

“Ini lagi?” aku berdecak kesal ketika lagi-lagi ibu menyorongkan sepiring nasi dengan tempe kepadaku. Rasanya aku sudah ribuan kali menjumpai lauk ini.

“Iya. Akhir-akhir ini pembeli kue di pasar agak menurun, Ries. Pesanan kue dari ibu-ibu kampung juga tidak begitu banyak,” ibu mengusap tangannya yang basah dengan handuk. “Kalau ada rezeki, nanti Ibu buatkan makanan yang enak,” tambahnya sembari duduk di sebelahku dan adikku, Laira, kelas 2 SD. Memang selama ini ibulah yang bekerja menafkahi kami, setelah ayah meninggal 3 tahun yang lalu.

“Dari kemarin jawabannya ‘kalau ada rezeki’ terus! Rieska bosan!” sanggahku.

“Rieska, bukannya kemarin Ibu sudah membelikanmu tas baru, seperti yang kamu minta? Banyaklah berdoa, agar kita diberi rezeki yang banyak dan Ibu bisa belikan kalian perlengkapan sekolah, makanan yang enak, dan semua permintaan kalian,” balas ibu, mengernyitkan alisnya.

“Rieska sudah berdoa! Sudah berdoa! Tidak pernah dikabulkan!” bantahku, mendorong keras kursi meja makan agar aku bisa berdiri. Aku berjalan masuk ke kamar, membanting pintu. Menangis dalam serat-serat kain bantal yang lusuh, berharap aku bisa tertelan dalam kapas ranjang kecil di rumah kecilku ini.

Namaku Rieska Alvani, dan aku sungguh ingin menghilang dari dunia ini.
***

Sudah pukul 5 lewat. Dan ibu belum pulang juga.

Kuketukkan jemariku ke atas meja kayu tempat kami makan bersama selama ini. Adikku duduk di depanku, menatapku penuh tanda tanya dan khawatir. Sayangnya aku tidak mahir menenangkannya. Biasanya ibu yang selalu menemani Laira kalau dia sedang sedih. Aku memang kakak yang payah. Ah, lagipula, bagaimana mau menenangkannya jika aku sendiri juga dalam keadaan kalut?

Berkali-kali aku keluar masuk rumah, mengintip dari teras berharap melihat sosok ayunya sedang berjalan di jalan setapak perkampungan ini. Tapi ibu tak kunjung datang.

Menjelang maghrib, aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kusuruh Laira untuk menjaga rumah, mengunci pintu dan memakan makanan yang sudah disiapkan. Aku buru-buru melangkah keluar, mengikuti jalan arah biasa ibu pergi ke pasar. Menelusuri setiap gang, menanyai pelanggan-pelanggan ibu yang suka memesan kuenya.

Nihil.

Kulanjutkan pencarianku ke pasar. Ibu tidak ada di kios. Kata ibu-ibu yang punya kios di sebelahnya, ibu sudah pulang dari tadi. Tidak tahu ke mana. Setengah menangis putus asa, kuputari pasar itu. Mungkin ibu sedang membeli sesuatu.

Nihil.

Kali ini aku benar-benar panik. Aku berlari menuju arah jalan pulang, kembali menanyai setiap orang di jalanan apakah ada yang melihat ibu-ibu membawa tampah kue. Mereka menjawab sama: tidak. Aku mendengar sedikit nada kasihan terselip dalam nada bicara mereka. Tentu saja, kondisiku sekarang sudah mulai menangis. Tapi jawaban dari orang-orang itu tak cukup membantu.

Kususuri lagi jalan berbatu-batu itu. Terisak kecil. Menatap jalanan dengan nelangsa.

Tiba-tiba sebuah sinar jingga menerpa wajahku.

Aku menoleh kaget. Memandang langit.

Langit sempurna keemasan. Antara warna jingga, kemerahan, dan kuning berpadu indah, ditemani awan-awan putih yang melenggok lembut di angkasa. Aku tertegun melihatnya. Larik cahaya itu menyapa wajahku, dan seketika airmataku mengering perlahan. Sesuatu yang hangat menyentuh hatiku, jauh di lubuk hati. Sesuatu yang nyaman.

Ini momen kesukaan ibu.

Apakah ibu —entah di mana ibu sekarang— juga ikut menyaksikan momen ini?

Perlahan semangatku bangkit kembali. Aku harus menemukan ibu, apa pun yang terjadi. Kembali kutanyai setiap orang yang melintas. Selang beberapa menit, aku menemukan jawaban: seseorang melihat beliau berjalan ke lokasi pasar malam.

Aku berlari begitu mendengar jawaban itu —tentunya setelah berterima kasih. Berlari, tidak berhenti barang sejenak. Berlari menuju lokasi yang disebutkan orang tadi. Di pikiranku hanya satu: ibu.

Langit menggelap. Angin malam mulai datang. Beberapa musolla mulai melantunkan azan magrib dengan syahdu. Area kerlap-kerlip riuh pasar malam mulai terlihat olehku. Aku tidak memelankan langkah, walaupun ulu hatiku mulai terasa sakit.

Begitu sampai, kucari sosok itu. Kuterobos segerombol anak-anak yang menjerit-jerit senang menunjuk komidi putar. Aku berlari melewati sekelompok remaja yang sedang bercanda tertawa. Aku menyelip di antara dagangan para penjual. Mataku jeli menyapu seluruh orang yang ada di situ.

“Kue, kue! Kue, kue!”

Aku menoleh cepat. Kudapati seorang ibu-ibu paruh baya sedang duduk di emperan trotoar, menjajakan kue di atas tampah lebar. Suaranya makin lama makin parau. Kulihat kue di atas tampahnya. Tampah itu masih terisi setengah. Wajah wanita itu lelah, tapi dia tak henti-hentinya berteriak pada pengunjung yang lalu lalang.

Lututku lemas mendekati. Gentar melihatnya berjuang. Dadaku bergemuruh, rasanya seperti dipanah berkali-kali. Bulir kristal dengan cepat membuat pandanganku kabur. Dengan sisa energi, kuteriakkan namanya, membuatnya menoleh dan mendekatiku.

Namaku Rieska Alvani, dan aku menemukan ibuku.
***

Panas. Dahinya panas. Berkeringat. Kucelupkan lagi handuk kecil ke baskom air dingin, kuperas dengan terguncang-guncang karena isakanku masih belum berhenti, lalu kutaruh dengan lembut di atas dahinya.

“Rieska.”

Aku mendongak. "Ya, Bu.”

“Kamu ingat saat kamu masih kecil?” ibu tersenyum kecil. “Ibu harus selalu menyanyikanmu lagu pengantar tidur, barulah kamu akan tertidur. Kamu masih ingatkah lagunya?” tanya beliau, menatapku lembut.

Aku terdiam. Aku lupa.

Rinai-rinai hujan tersingkap

Gerimis minggir mengucap permisi,” ibu mulai bersenandung.

Dan simpul itu bekerja. Tersambung dengan sesuatu, sesuatu dari masa lalu. Sesuatu dari masa kecilku. Aku mengingatnya. Setiap baitnya. Setiap momen ketika aku merengek meminta dinyanyikan lagu itu. Setiap momen ketika kepala kecilku ikut mengangguk mengikuti irama lagunya. Lagu sederhana, lagu yang pendek, tapi sekaligus lagu yang berarti.

Awan-awan hitam bergerak

Berarak meninggalkan kampung,” aku mengikuti pelan.

Ibu tersenyum, mengangguk.

Dalam keheningan aku menatap

Sinar jingga kemerahan lembut,” aku mulai terisak lagi. Aku sungguh merindukannya.

“Ingatkah Rieska, saat kamu masih kecil, kita menyanyikan lagu itu bersama saat petang. Saat matahari akan terbenam. Saat langit sempurna berwarna jingga kemerahan, momen keindahan yang memberi ketentraman. Kamu duduk di pangkuan Ibu, ikut bersenandung mendengar iramanya. Ibu ingin sekali bisa seperti itu lagi. Sayang, Ibu lihat sepertinya sekarang kamu sudah tidak tertarik lagi,” ujar ibu.

Aku menggeleng. “Tidak Ibu. Maafkan Rieska. Rieska mau seperti itu lagi. Rieska... Rieska sayang Ibu.” Aku sempurna menangis.

“Maaf, Ibu tidak selalu bisa mencukupi segala kebutuhan Rieska dan adik Laira. Tapi Ibu berjanji akan terus berusaha, demi kalian.”

“Tidak, bukan Ibu, tapi kita. Aku akan selalu membantu Ibu, mulai sekarang,” aku mempererat pelukanku pada ibu.

“Menyongsong roda hidup baru

Yang bahagia, bahagia, selamanya.” []


Cerpen “Langit Jingga Ibu” di atas adalah Juara Ketiga Lomba Menulis Cerita untuk siswa setingkat SMP yang diselenggarakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di tahun 2015. Ayesha Kamila Rafifah, lahir di Jakarta, 3 November 2002. Siswa SMP Negeri 49, Jalan Raya  Bogor, KM 20, Kramat Jati, Jakarta Timur.