23 Juli 2016 | Catatan Kebudayaan | 897 hits

Setengah Abad Horison

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Oleh Jamal D. Rahman

Pada bulan Juli 2016 ini Horison genap setengah abad. Alhamdulillah. Dan terimakasih sedalam-dalamnya atas bantuan, dukungan, dan simpati semua pihak: sastrawan, kritikus sastra, akademisi sastra, indonesianis, semua relasi mulai birokrasi pemerintah sampai sponsor (baik pribadi maupun lembaga), pelukis, ilustrator, distributor, para pelanggan, dan pembaca sekalian. Terimakasih juga kepada mereka yang pernah mengelola majalah ini, baik di jajaran redaksi, artistik, maupun manajemen. Berkat dukungan mereka semua, majalah ini bisa mencapai usia 50 tahun, usia cukup tua untuk pers Indonesia apalagi untuk jenis majalah sastra.

Dalam 50 tahun perjalanannya, secara garis besar sejarah Horison dapat dibagi menjadi dua babak. Babak pertama adalah masa pembentukan dirinya sebagai majalah sastra, dengan semangat yang dicanangkan sejak awal berdirinya: sastra adalah arena untuk memperjuangkan nilai-nilai demokratis, kemerdekaan manusia, dan martabat manusia. Semangat itu dikatakan Mochtar Lubis, pendiri paling senior majalah ini, dan termaktub dalam Horison edisi perdana, Juli 1966. Mochtar melanjutkan, “Majalah Horison kami harapkan akan dapat mendorong kegiatan-kegiatan kreatif dan pemikiran-pemikiran kreatif yang penuh kebebasan dan nilai-nilai konstruktif.”

Sudah tentu Horison berusaha mewujudkan harapan itu atas dasar semangat yang melandasinya. Hasilnya adalah munculnya percobaan-percobaan kreatif di bidang sastra dan pemikiran segar di bidang kebudayaan dari para sastrawan, kritikus, dan pemikir kebudayaan. Para penulis berlomba-lomba untuk mengumumkan karya mereda di sini. Terutama para sastrawan dan kritikus yang muncul di tahun 1970-an dapat dikatakan lahir dari majalah ini. Horison pun tampil seakan sebagai kiblat sastra Indonesia, suatu kehormatan namun juga ―dilihat dari kemampuan Horison sendiri— merupakan tugas yang sangat berat. Itulah yang dicapai Horison dalam 30 tahun pertama usianya, yang mengukuhkan posisinya sebagai majalah sastra.

Di tahun 1980-an, berbagai koran baik yang terbit di ibukota maupun di daerah membuka halaman sastra-budaya. Demikian juga beberapa majalah terutama yang terbit di Jakarta. Fenomena tersebut berlanjut pada dekade 1990-an. Secara relatif rutin mereka mengumumkan puisi, cerpen, esai, dan kritik. Memang, tidak semua halaman sastra-budaya baik di koran maupun di majalah itu bertahan lama. Mereka patah tumbuh hilang berganti. Tapi bagaimanapun, dengan munculnya halaman-halaman sastra-budaya tersebut, Horison telah berbagi tugas dengan media-media lain dalam menjalankan tugasnya mendorong daya-daya kreatif sastra.

Pada titik itulah sejarah Horison memasuki babak baru. Dengan terus menjalankan tugas lamanya, yakni mendorong daya-daya kreatif sastra, sejak 1996 majalah ini secara formal melakukan suatu gerakan budaya, yaitu menumbuhkan budaya membaca dan menulis, atau menanamkan cinta membaca dan suka menulis. Dalam bahasa kita sekarang: gerakan literasi. Sudah tentu gerakan ini dilakukan atas kesadaran tentang rendahnya budaya-baca masyarakat Indonesia dan bahayanya di masa depan. Gerakan tersebut dilakukan dengan sasaran utama dunia pendidikan di seluruh Indonesia, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Mula-mula dibukalah sisipan Kakilangit sebagai bacaan siswa dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Di samping memperkenalkan sastrawan-sastrawan terkemuka, secara rutin sisipan ini memuat karya-karya siswa baik setingkat SMP maupun SMA. Dengan demikian, ia merupakan bacaan sekaligus tempat siswa mengumumkan karya tulis mereka.

Lalu, sejumlah program terencana diadakan dengan sasaran-sasaran yang lebih khusus: Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) untuk siswa dari SD sampai SMA; Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) untuk siswa SD dan SMP; Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca (SBMM) untuk mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonsia; Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) untuk guru SMA; Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) untuk guru SMA; Apresiasi Sastra Daerah (Apresda) untuk guru SMA; pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) untuk guru SD, SMP, dan SMA. Di samping itu, sanggar sastra dibentuk di beberapa daerah, berbasiskan siswa (di sekolah) dan remaja (di luar sekolah).

Yang tak kalah penting, majalah Horison dan berbagai buku dipasok untuk sanggar, perpustakaan sekolah, dan peserta semua program. Di antara buku yang secara cuma-cuma disumbangkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah adalah 4 jilid buku Horison Sastra Indonesia dan 2 jilid buku Horison Esai Indonesia. Sedari awal disadari bahwa masalah utama rendahnya budaya-baca adalah tidak tersedianya bahan bacaan di mana-mana. Maka, menyediakan bahan bacaan ―seperti Horison dan buku-buku sastra— merupakan suatu hal yang mutlak.

Di tengah semua program itu, sekali lagi Horison tetap menjalankan tugas lamanya: mendorong karya-karya kreatif dengan memuat puisi, cerpen, esai, dan kritik. Juga secara insidental mengirimkan sastrawan ke forum-forum sastra, mengadakan lomba menulis karya sastra, dan memberikan penghargaan. Tapi bagaimanapun, dalam 20 tahun terakhir Horison telah mendedikasikan diri bagi dunia pendidikan dalam gerakan literasi, bukan saja gerakan menumbuhkan budaya membaca, melainkan juga gerakan menumbuhkan budaya menulis. Inilah babak kedua sejarah Horison dalam 50 tahun usianya.

Dan, di akhir tahun 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi meluncurkan Gerakan Literasi. Salam. []